My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 38



Keesokan harinya.


Dengan langkah besar Kevin memasuki kantor Atma Wijaya Group.


Dia menghampiri resepsionis dan menanyakan ruangan Atma Wijaya.


"Apa sebelumnya anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis.


"Saya tidak perlu membuat janji untuk bertemu seseorang yang tidak profesional," ucap Kevin.


"Mohon maaf, anda harus membuat janji terlebih dahulu," ucap resepsionis.


"Telepon saja bos mu itu, katakan padanya. Kevin Bramasta ingin menemuinya," ucap Kevin.


Resepsionis itu pun menyambungkan teleponnya ke ruangan Atma Wijaya.


Selesai bicara, resepsionis itu mempersilahkan Kevin masuk dan memberitahukan ruangan Atma Wijaya.


Kevin bergegas memasuki lift dan menekan tombol paling atas di gedung perusahaan itu.


Begitu keluar dari lift, dia mengedarkan pandangannya dan hanya terdapat satu pintu yang cukup besar, dia pun melangkah mendekati pintu itu.


Terdapat tulisan Atma Wijaya CEO, dia pun mengetuk pintu itu.


Tak lama pintu terbuka otomatis.


Kevin mengembuskan napas kasar saat melihat Atma Wijaya tengah duduk di sofa ruangannya.


"Selamat datang Tuan Kevin Bramasta," ucap papa Prischa.


Tak ingin berbasa-basi Kevin pun langsung menanyakan alasan perusahaan AW Group membatalkan kerja sama dengan perusahaannya.


"Saya pikir, kamu sudah mengerti alasan saya membatalkan proyek ini," ucap papa Prischa.


"Perusahaan ku tak melanggar aturan kerjasama. Lalu, kenapa anda membatalkan kerjasama secara sepihak? Tidak tahukah anda? Banyak karyawan di perusahaan saya yang menggantungkan kehidupan mereka di sana, mereka harus menghidupi keluarga mereka," ucap Kevin.


"Itu bukan urusan saya, itu juga bukan salah saya. Seharusnya, kamulah yang instrospeksi diri," ucap papa Prischa.


Kevin tersenyum kecut mendengar ucapan papa Prischa.


"Anda seorang kepala keluarga juga bukan? Kenapa anda tak memposisikan diri anda di posisi mereka yang juga berjuang demi menghidupi keluarga mereka?" tanya Kevin.


"Saya tak bisa berbuat apa-apa, memohon lah pada putri saya," ucap papa Prischa.


"Apa maksud anda?" tanya Kevin.


"Karena, sekarang perusahaan ini ada di bawah kendaliku," ucap Prischa yang tiba-tiba saja memutar kursi CEO dan tersenyum mengejek pada Kevin.


"Kalian Ayah dan anak benar-benar mirip, benar-benar memalukan," ucap Kevin.


"Terserah kamu mau bicara apa, yang jelas aku akan tetap membatalkan kerjasama itu," ucap Prischa.


"Baiklah, jika keputusan kalian tetap sama, aku akan menuntut perusahaan kalian," ancam Kevin.


"Silahkan, aku tidak takut," ucap Prischa menantang.


"Tapi, sebelum itu lihatlah ini terlebih dahulu." Prischa memutar sebuah rekaman cctv di laptopnya dan terdapat rekaman saat Melika mendorong dan juga menampar wajah Prischa saat di basemant Mall.


Kevin membulatkan matanya, dia menatap tajam ke arah Prischa.


"Tuntut saja perusahaan ku, maka aku akan menuntut Istri buntal mu itu," ucap Prischa dengan santai.


Kevin mengepalkan tangannya, dia benar-benar kesal pada Prischa.


"Jangan menghina istriku !" bentak Kevin.


"Aku tidak peduli, aku muak dengan istrimu itu. Beraninya dia menampar dan mempermalukan ku," geram Prischa.


"Itu semua salahmu, jika saja kamu tidak merayuku seperti jalang, tentu saja Melika tidak akan memberimu pelajaran," ucap Kevin.


Brak.


"Sudah cukup ..! Apapun yang kamu katakan tidak akan merubah keputusan ku ..!" bentak Prischa.


"Baiklah, tapi pikirkan ini, Prischa. Perusahaan mu juga akan kehilangan banyak uang jika kerjasama ini sampai batal, tentu kamu akan rugi juga," ucap Kevin.


Prischa terkekeh mendengar ucapan Kevin.


"Uang sekecil itu tidak berarti untukku. Properti keluarga ku banyak di mana-mana, kami masih bisa menjual satu properti untuk menutupi kerugian perusahaan," ucap Prischa dengan bangga.


Kevin mengusap wajah kasar, sepertinya percuma bicara dengan Prischa saat ini.


Kevin dapat melihat kebencian di mata Prischa.


"Hapus rekaman itu, maka aku tidak akan melaporkan kecurangan perusahaan mu," ucap Kevin.


Prischa terkekeh dan menatap sang papa.


"Pa, tolong tinggalkan kami berdua," ucap Prischa.


"Baiklah, Papa keluar dulu," ucap papa Prischa.


Papa Prischa menghentikan langkahnya saat berada tepat di sisi Kevin.


"Kamu pasti mengenal Prsicha, dia sungguh keras kepala. Maafkan saya, saya tak dapat berbuat apapun. Karena, dialah pemegang saham terbesar di perusahaan ini," ucap papa Prischa dengan pelan.


Kevin melihat papa Prischa, dia tak mengerti apa maksud ucapan papa Prischa.


"Apa maksudnya papa Prischa juga tidak menginginkan hal ini?" batin Kevin.


Kevin berpikir, papa Prischa sebetulnya tak menyetujui keputusan perusahaan untuk membatalkan kerjasama itu, hanya saja kini perusahaan sudah berada di bawah kendali Prischa.


Kini hanya tinggal Kevin dan Prischa di ruangan itu.


"Ada satu hal yang dapat membuatku berubah pikiran," ucap Prischa yang sontak membuyarkan lamunan Kevin.


"Apa itu?" tanya Kevin.


Prischa mendekati Kevin dan memeluk leher Kevin.


"Nikahi aku," ucap Prischa.


Kevin membulatkan matanya.


"Apa kamu gila? Aku tidak bisa menikahi mu, aku tidak bisa meninggalkan Melika," ucap Kevin.


"Aku tidak memintamu untuk meninggalkannya," ucap Prischa dengan santai.


Kevin mengerutkan dahinya.


"Aku tidak keberatan menjadi istri keduamu, asalkan kamu menjadi milikku dan aku hanya menjadi milikmu," ucap Prischa.


Kevin terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


Prischa benar-benar sudah tidak waras, pikirnya.


"Aku hanya akan menjadi milik Melika," ucap Kevin.


"Ya, hanya di atas kertas," ucap Prischa.


"Tidak, Melika memang sudah memiliki ku sepenuhnya," ucap Kevin.


"Apa maksudmu?" Prischa menatap Kevin dengan bingung.


"Ya, tentu saja kami sudah melewatinya," ucap Kevin sambil tersenyum mengejek menatap Prischa.


"Apa maksudmu, ha?" Prischa mulai menaikkan nada bicaranya.


"Apalagi yang biasa dilakukan suami istri? Kami bahkan baru selesai menikmati bulan madu," ucap Kevin.


Kevin sengaja memanasi Prischa agar Prischa sadar dengan tingkah konyolnya.


Plak !


"Kurang ajar ! menjijikan ! Kamu keterlaluan ! Kamu benar-benar tidak waras, Vin ! Kamu menyentuhnya? Itu maksudmu?" Prischa meradang, emosinya meledak begitu mendengar orang yang dia cintai menyentuh wanita lain.


Kevin mengepalkan tangannya, dia merasakan pipinya begitu perih terkena tamparan Prischa, namun sebisa mungkin dia tak menunjukkan rasa sakitnya.


"Kenapa kamu marah? Aku dan Melika sepasang suami istri, kami bebas melakukan apapun," ucap Kevin dengan santai.


"Sudah cukup ! Keluar dari sini !" bentak Prischa.


Kevin menghela napas perlahan.


Dia menatap iba pada Prischa.


Prischa benar-benar terisak, Kevin bisa merasakan apa yang Prischa rasakan. Namun Prischa memang harus mengetahui semua kebenarannya, bahwa dia sudah menjadi milik orang lain dan tak akan pernah menjadi miliknya.


"Maafkan aku, Prish. Dulu kita kenal dengan baik-baik, dan kamu yang membuat masalah sehingga hubungan kita menjadi tidak baik. Kamu yang memulai segala masalah, harusnya kamu menyelesaikannya dengan baik-baik dan memakai akal sehatmu. Jangan melibatkan banyak orang dalam masalah pribadimu, lihatlah mereka yang hidupnya tak seberuntung kita, mereka juga memiliki keluarga. Tolong, pikirkan lagi keputusanmu," ucap Kevin.


Prischa masih tetap terisak, dadanya benar-benar sesak. Hatinya hancur berkeping-keping.


Prischa menatap punggung Kevin saat Kevin melangkah menuju pintu keluar.


"Apa ini yang kamu rasakan dulu, Vin? Aku benar-benar hancur, Vin. Aku tak tahan dengan semua ini. Aku benar-benar membencimu, aku benci kamu, Vin." Prischa terduduk lemas di atas lantai dengan tangis lirihnya.


Sementara Kevin bergegas menuju mobilnya, dia memukul stir dengan keras dan meneriakkan nama Prischa.


Kevin memang tak pernah mengatakannya pada siapapun, jika ada yang bertanya apa dia masih mencintai Prischa atau tidak? Kevin selalu mengatakan tidak, Kevin hanya ingin menyangkal perasaannya sendiri. Tetapi jauh di lubuk hatinya dia masih belum sepenuhnya bisa melupakan Prischa. Mungkin tak akan ada yang mempercayainya, Prischa adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat Kevin jatuh cinta. Meski dia pernah dekat dengan beberapa wanita, kedekatan mereka hanya sebatas hubungan saling membutuhkan.


Ya, Kevin membutuhkan teman untuk berbagi dan bercerita, namun hanya Prischa lah wanita yang membuatnya pertama kali merasakan jatuh cinta.


Kevin sudah sejak kecil ditinggalkan oleh sang mama, karena itu wanita-wanita sebelum Prischa bisa membuatnya nyaman, namun nyaman tidaklah berarti mencintai.


Hanya satu hal yang membuatnya menyerah dan melepaskan cintanya pada Prischa, pengkhianatan Prischa lah yang membuat Kevin tak ingin kembali pada Prischa. Luka yang Prischa berikan begitu dalam, dan dia masih ingat betul bagaimana Prischa mencampakkan nya karena pria lain.


Kevin pun melajukan mobilnya ke rumah sang papa.


Dia tak berani bertemu dengan Melika dalam kondisi seperti itu.


Dia tak ingin Melika mengetahui masalahnya, dia yakin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus melibatkan orang rumahnya.


Sesampainya di kediaman sang papa, Kevin bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya, dia benar-benar lelah menghadapi semuanya.


Dia pikir hidupnya akan tenang setelah menikah, namun nyatanya masa lalunya selalu saja mengikutinya, dan lagi-lagi masa lalunya menghancurkan kehidupannya untuk kedua kalinya.


Kevin memejamkan matanya, dia ingin tidur dan berharap setelah bangun nanti dia akan terbebas dari mimpi buruknya.


*******


Di kediaman Kevin.


Melika tengah larut dalam pikirannya, suaminya berubah semenjak bertemu dengan Angga.


Ya, Melika dapat merasakannya.


Namun apa masalah Kevin, Melika pun tak mengerti.


Kevin bahkan tak ingin mengatakan apapun, sikap Kevin pun berubah menjadi dingin.


Tok tok tok ...


Melika melihat ke arah pintu kamar dan ada bibi yang tengah berdiri melihat ke arahnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Melika.


"Ibu mau makan siang apa?" tanya bibi.


Melika mendekati bibi dan terlihat memikirkan sesuatu.


"Apa Bibi tahu sesuatu?" tanya Melika.


"Maksudnya?" bibi terlihat bingung mendengar pertanyaan Melika.


"Bapak sepertinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanya Melika.


"Maaf, Bu. Bibi hanya asisten rumah tangga di sini, Bibi tak tahu apapun," ucap Bibi.


Melika mengangguk dan membiarkan bibi memasak apapun untuk makan siang.


Melika teringat pada papa mertuanya, dia berpikir mungkin mertuanya itu mengetahui sesuatu tentang Kevin.


Dia mengambil tasnya dan memilih pergi ke rumah mertuanya.


*******


Sesampainya di kediaman papa Kevin.


Melika mengerutkan dahinya saat melihat mobil Kevin terparkir di garasi kediaman papa mertuanya itu.


Dia pun bergegas turun dan masuk ke dalam rumah.


Terlihat papa mertuanya tengah menuruni anak tangga.


"Mel, kamu datang?" Papa Kevin menghampiri Melika dan Melika langsung mencium punggung tangan papa mertua.


"Iya, Pa. Apa Mas Kevin ada di kamarnya?" tanya Melika.


"Kevin? Apa dia ada di sini?" Papa Kevin terlihat kebingungan, pasalnya dia tak mengetahui jika anaknya berada di rumahnya.


"Iya, mobilnya ada di depan," ucap Melika.


"Benarkah? Papa baru tahu, mungkin dia ada di kamarnya," ucap papa Kevin.


Melika mengangguk dan mengajak mertuanya untuk duduk bersamanya di ruang tamu.


"Ada apa? Apa kalian sedang ada masalah?" tanya papa Kevin.


Melika tersenyum dan menggeleng.


"Tidak, Pa. Hanya saja, sepertinya di Kantor sedang ada masalah. Mas Kevin terlihat murung dari kemarin," ucap Melika.


"Benarkah? Itu mungkin hanya masalah biasa yang terjadi di kantor. Jangan terlalu di pikirkan," ucap papa Kevin.


Tak ada yang tahu papa Kevin pun menjadi cemas mendengar kabar dari Melika.


"Semoga saja bukan masalah buruk," ucap Melika.


"Ya, semoga saja," ucap papa Kevin.


"Aku izin ke atas dulu ya, Pa," ucap Melika dan di angguki oleh papa Kevin.


Melika pun bergegas menuju kamar Kevin.


Dia menghela napas saat melihat Kevin tengah tertidur pulas.


Melika tak pernah melihat Kevin tidur siang, dia menyentuh dahi Kevin namun tak ada yang salah dengan suhu tubuh Kevin. Semuanya terasa normal.


Brugh.


"Auwww ..."


Melika tak sengaja tersandung karpet tebal sehingga membuatnya sampai jatuh ke atas tubuh Kevin. Kevin sampai bangun karena terkejut mendapatkan tubuhnya seperti tertindihh sesuatu.


"Kamu? Ngapain?" Kevin menatap Melika dengan bingung.


"Maaf, Mas. Aku tersandung," ucap Melika dan segera membenarkan posisinya.


"Maaf, Mas. Aku mengganggu tidurmu," ucap Melika.


Kevin mendudukkan dirinya dan mengangguk.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Kevin.


"Aku hanya ingin menjenguk papa, tapi ternyata kamu juga ada di sini," ucap Melika.


Kevin mengangguk dan melihat jam di ponselnya.


"Ya ampun, aku harus kembali ke kantor," ucap Kevin dan segera bangun.


Dia mengambil kunci mobilnya dan melangkah menuju pintu keluar.


"Hati-hati pulangnya, aku mungkin akan pulang terlambat," ucap Kevin sambil melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah Melika.


Melika menghela napas perlahan dia yakin ada masalah lain yang tengah suaminya itu hadapi selain masalah kantor.


Kevin bergegas menuruni anak tangga namun langkahnya terhenti saat melihat sang papa tengah berdiri menatapnya.


"Mau kemana?" tanya papa.


"Mau ke kantor," ucap Kevin.


"Apa ada masalah di kantormu?" tanya papa.


"Tidak, itu hanya masalah biasa," ucap Kevin.


"Kamu tidak bisa membohongi Papa, Vin," ucap papa.


Kevin menghela napas dan duduk di sofa ruang tamu. Dia masih merasa pusing karena terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya papa Kevin.


"Ada masalah di perusahaan, Pa. Perusahaan AW Group membatalkan kerjasamanya," ucap Kevin.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya papa dengan terkejut.


Kevin pun menceritakan awal mula masalah itu bisa sampai terjadi. Dia menceritakan dari mulai pertemuannya dengan Prischa di basemant Mall dan Melika yang mendorong serta menampar wajah Prischa.


"Ya Tuhan, apa kamu ada main dengan Prischa?" tanya papa sambil menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik.


"Tentu saja tidak, Papa jangan bicara sembarangan. Jika aku mau, aku tidak perlu bermain belakang dengan Prischa, aku bisa menerima perjodohan waktu itu jika aku menginginkannya," ucap Kevin.


Papa Kevin mengangguk.


"Bicaralah sekali lagi dengan Prischa, bicara dengan baik-baik tanpa membahas masalah pribadi kalian. Bicaralah dengan profesional dan usahakan hanya membahas masalah perusahaan," ucap papa.


"Dia tidak bisa di ajak bicara profesional, dia selalu membahas masa lalu kami," ucap Kevin dengan kesal.


Papa Kevin menghela napas lelah, dia bisa merasakan kegelisahan putranya itu.


Ayah dan anak itu masih terus membicarakan masalah perusahaan, tanpa mereka sadari sedari tadi Melika mencoba mencuri dengar percakapan mereka.


Melika tak menyangka tindakannya justru membawa masalah untuk perusahaan suaminya sendiri.