My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Episode 29



Melika tengah menyiapkan sarapan, sementara Kevin baru saja menuruni anak tangga dengan sudah berpakaian kerja.


"Ayo, Mas, sarapan dulu" ucap Melika.


Kevin pun duduk di kursi dan mulai menyantap sarapannya.


"Hari ini, aku akan sibuk di kantor." ucap Kevin.


"Ya. Tapi, jangan sampai melupakan makan siang." ucap Melika.


"Hmmm ..."


"Oh ya, Mas, apa aku boleh pergi ke rumah Papa?" tanya Melika.


"Papa siapa?" tanya Kevin dengan bingung.


"Papa Bramasata, Mas." ucap Melika.


"Tentu, pergilah. Pakai saja mobil aku." ucap Kevin.


"Lalu, Mas pergi naik apa?" tanya Melika.


"Aku bisa pakai mobil satunya." ucap Kevin.


"Oh iya, ya sudah kalau begitu." ucap Melika.


Melika lupa, suaminya itu memiliki mobil lebih dari satu.


"Sampaikan salam aku pada Papa." ucap Kevin.


Melika pun mengangguk dan melanjutkan sarapannya.


Selesai sarapan, Kevin pun pamit untuk pergi ke kantor, sementara Melika mulai bersiap untuk pergi ke Rumah mertuanya.


******


Di kantor.


Kevin memasuki kantor dengan senyum yang tak lepas tersungging di bibirnya, entah apa yang membuatnya begitu bahagia pagi ini. Yang jelas, pagi ini dia merasakan seperti ada sesuatu yang beterbangan di dadanya.


Kevin membuka pintu ruangannya dan mengerutkan dahinya saat melihat Prischa tengah duduk di sofa. Seketika moodnya menjadi buruk.


"Hai," sapa Prischa sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Hmmm ..."


"Apa kamu enggak ada kerjaan? Pagi-pagi sudah berkunjung ke Kantor orang." ucap Kevin.


"Kamu lupa, hari ini kita harus datang lokasi proyek." ucap Prischa.


"Aku bisa urus sendiri," ucap Kevin dengan nada dingin.


"Tapi, aku mau belajar bisnis. Dan, Papa sudah mempercayakan proyek ini padaku." ucap Prischa.


Tanpa menghiraukan Prischa, Kevin pun langsung duduk di kursi kerjanya.


"Ayolah, profesional, dong. Aku tahu kamu enggak nyaman. Tapi, kamu pebisnis profesional, bukan? Harusnya kamu juga bisa profesional saat bekerja dengan mantan kekasihmu." ucap Prischa.


Kevin menghela napas perlahan dan memilih membuka laptopnya untuk mengecek email yang mungkin masuk untuknya.


Papa Prischa dan Kevin memang tengah menjalani kerjasama, Kevin pun awalnya tak tahu jika dia bekerja sama dengan papa Prischa, di karenakan selama ini dia selalu berkomunikasi dengan sekretaris papa Prischa.


Selesai mengecek email yang masuk, Kevin pun bangun dari duduknya dan keluar dari ruangannya dengan Prischa yang mengikutinya.


Begitu sampai di basemant, dia menghentikan langkahnya dan menatap Prischa.


"Naik mobil kamu." ucap Kevin.


Prischa menggelengkan kepalanya.


"Kamu enggak bawa mobil?" tanya Kevin.


"Mobilku sedang di bengkel." ucap Prischa.


Kevin mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Setelah selesai menelepon, Kevin masuk ke dalam mobilnya, dan saat Prischa akan masuk ke dalam mobil Kevin, Prischa justru tak bisa masuk karena Kevin mengunci pintu mobilnya.


"Kok, di kunci?" tanya Prischa.


Sementara Prischa merasa terkejut karena Kevin lagi-lagi menolaknya.


Di dalam mobil, Kevin tersenyum penuh kemenangan.


"Dasar bodoh, mau memodohi orang, tapi, kurang cerdas," gumam Kevin.


Sebetulnya, Kevin tahu jika mobil Prischa tidaklah berada di Bengkel. Saat keluar dari lift basemant tadi, Kevin melihat sekilas mobil Prischa, dia hapal betul dengan mobil Prischa.


"Laki-laki yang sudah dihancurkan, tidak akan pernah kembali pada penyebab kehancurannya." batin Kevin.


*******


Di tempat lain.


Melika baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah papa mertuanya, rumah itu terlihat sepi. Tentu saja, karena yang tinggal di rumah sebesar itu hanyalah papa Kevin seorang.


"Selamat datang, Nyonya Melika." sapa asisten rumah tangga.


Melika mengerutkan dahinya, dia merasa aneh dengan panggilan nyonya yang baru saja dia dengar.


"Siapa nama Bibi?" tanya Melika.


"Lasmi, Nyonya." ucap Lasmi.


"Panggil saya Ibu saja." ucap Melika.


Lasmi tersenyum dan mengangguk. Dia pun langsung mengantarkan Melika menuju taman belakang, tempat di mana mertuanya tengah menikmati matahari pagi dengan ditemani secangkir teh hangat dan koran di tangannya.


"Selamat pagi, Pa" ucap Melika.


Papa Kevin melihat kearah Melika dan tersenyum.


"Kapan datang, Mel?" tanya papa Kevin.


"Baru saja, Pa, Papa apa kabar?" tanya Melika.


"Alhamdulillah, Papa baik, Mel. Bagaimana kabar kamu dan Kevin?" tanya papa Melika.


"Kami baik, Pa." ucap Melika.


Papa Kevin pun mengangguk.


"Jadi, kapan kamu dan Kevin akan berbulan madu?" tanya papa Kevin.


Melika tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya tidak akan bulan madu, Pa." ucap Melika.


"Kenapa? Padahal, Papa ingin cepat-cepat menggendong cucu." ucap papa Kevin.


"Mas Kevin sedang sibuk-sibuknya, Pa." ucap Melika.


Papa Kevin menghela napas perlahan.


"Ya, anak itu memang pekerja keras." ucap Papa Kevin.


"Tapi, apapun itu, usahakan kalian tetap saling mengerti satu sama lain. Dan, jangan lupa meluangkan waktu untuk kalian berdua." ucap papa Kevin.


Melika pun tersenyum dan mengangguk.


"Mel,"


"Ya, Pa," sahut Melika.


"Diet, lah." ucap papa Kevin.


Melika mengerutkan dahinya.


Papa Kevin tersenyum melihat ekspresi bingung Melika.


"Ini demi kebaikan kamu." ucap papa Kevin.


"Selain tak baik untuk kesehatan, wanita gemuk juga akan susah mengandung." ucap papa Kevin.


Melika terdiam, dia mencoba mencerna ucapan papa mertuanya itu yang masih membuatnya kebingungan.


"Apa ini artinya, papa sedang menuntut cucu?" batin Melika.