
Sesampainya di kantor Jian.
Melika menghela napas panjang dan melangkah menuju ruangannya. Dia masih kesal pada Kevin, membuatnya jadi tak semangat untuk bekerja.
Melika meletakan tasnya di atas meja dan dia pun duduk. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya terasa pusing, dia tetap saja kepikiran ucapan Kevin yang nyatanya tak pernah ingin dia bekerja. Jika saja sejak awal Kevin jujur padanya, dia tak akan mau bekerja pada Jian sekalipun Jian sudah banyak berjasa padanya juga perusahaan Kevin.
Melika membuka beberapa berkas dan mencoba fokus, bagaimana pun dia tetap harus profesional dalam bekerja. Dia tak ingin membawa masalah pribadinya ke dalam masalah pekerjaannya.
Puk!
Melika tersentak saat seseorang menjentik jidatnya dan ternyata Jian. Entah sejak kapan Jian berada di sana.
"Masih pagi sudah melamun, Saya memanggilmu tetapi kamu diam saja!" ucap Jian heran.
"Maaf, Pak. Ada perlu apa, ya?" tanya Melika.
Jian mengerutkan dahinya dan menghela napas.
"Saya akan bertemu dengan rekan Saya di Bali. Kamu berisaplah, sore ini kita berangkat!" ucap Jian.
Melika mengerutkan dahinya. Seingat dirinya, tak ada perjalanan bisnis ke Bali.
"Tapi, Pak. Tak ada perjalanan bisnis ke sana untuk sore ini. Sebenarnya ada acara apa kita ke sana?" tanya Melika bingung.
"Iya Saya tahu. Tetapi ini masih ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Saya akan bertemu dengan teman kuliah Saya dulu. Saya ingin kamu ikut!" ucap Jian.
"Tapi untuk apa? Kenapa tidak Bapak saja sendiri yang pergi?" ucap Melika.
Jian menghela napas dan mengusap wajahnya.
Wanita ini benar-benar tak berubah. Dia masih saja suka berdebat, gumam Jian.
"Maaf, Pak. Bicara apa, ya?" tanya Melika penasaran karena tak mendengar jelas gumaman Jian.
"Tidak ada, intinya Saya ingin kamu ikut. Kamu adalah asisten pribadi Saya. Bagaimana jika Saya membutuhkan sesuatu? Saya tidak ada waktu untuk menyiapkannya sendiri," ucap Jian.
Melika terdiam sejenak, bagaimana dia akan meminta izin pada Kevin? Sementara Kevin dengan terang-terangan mengakui bahwa tak pernah ingin dia bekerja. Sementara sore nanti, Melika justru harus ikut bersama Jian ke Bali. Melika pun agak sungkan meminta izin pada Kevin karena hubungan mereka sedang tak baik-baik saja.
"Ayolah, profesional lah. Saya yakin Suamimu akan mengerti, karena dia pun pasti memiliki asisten pribadi yang pekerjaannya memang harus ikut kemanapun atasannya pergi," ucap Jian.
"Baiklah, Saya akan bicarakan ini pada Kevin," ucap Melika.
"Hm ..." Jian pun meninggalkan Melika.
Sementara Melika mengacak rambutnya frustrasi.
Di sisi lain.
Kevin sampai di kediaman sang papa. Dengan perasaan kesal dia menutup pintu mobil dengan keras dan masuk ke rumah.
"Kamu datang, Vin?" ucap yang papa begitu melihat Kevin ada di rumahnya.
"Hm ... Aku benar-benar kesal!" ucap Kevin.
"Ada apalagi?" tanya papa penasaran.
"Melika tahu segalanya," ucap Kevin.
"Apa maksudmu? Apa dia tahu tentang kehamilan Prischa?" tanya papa.
Kevin menghela napas dan duduk di atas sofa. Dia mengusap wajahnya frutrasi.
"Prischa mengalami keguguran," ucap Kevin.
"Apa?" sang papa terkejut mendengar ucapan Kevin. Dengan cepat dia menghampiri Kevin dan duduk di dekat Kevin.
"Apa maksudmu? Jelaskan pada Papa," ucap papa. Kevin pun menjelaskan semuanya pada sang papa. Mulai dari kedatangan Prischa ke rumahnya hingga Prischa terjatuh dari tangga dan menyebabkan bayinya menjadi tak selamat. Kevin juga menceritakan tentang Melika yang sudah tahu masalahnya dan tentang pertengkarannya dengan Melika.
"Ya Tuhan, bersabarlah. Papa yakin kamu bisa menyelesaikan semua ini," ucap sang papa.
"Entahlah. Aku pusing, Pa. Bahkan Melika tak ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Aku begitu sulit mengajaknya bicara. Dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada rumah tangga kami," kesal Kevin.
"Mungkin maksudnya tak seperti itu. Melika juga memiliki tanggun jawab dalam pekerjaannya," ucap papa.
"Karena itu aku tak suka dia bekerja," ucap Kevin.
"Bukankah kamu sendiri yang mengizinkannya bekerja?" tanya papa.
"Aku tak pernah ingin dia bekerja, jika bukan karena atasannya yang menolong perusahaanku, aku takan pernah setuju dia bekerja," ucap Kevin.
"Itulah salahmu, karena tak jujur dari awal. Resikomu, dan kamu harus menjadi pria yang berpegang teguh pada ucapanmu sendiri. Jika sejak awal kamu mengizinkannya, maka terimalah resikonya. Bahwa Melika juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya," ucap papa.
"Tapi, apa masalah kami saat ini, juga tidak penting? Aku hanya ingin masalah ini tak berlarut-larut," ucap Kevin.
"Ayolah, kamu sudah bukan anak-anak lagi. Kamu bahkan telah menjadi seorang Suami, dan mungkin akan menjadi seorang Ayah secepatnya," ucap papa.
"Tidak untuk saat ini! Belum memiliki anak saja dia berani mengabaikanku. Bagaimana nanti saat punya anak? Dia mungkin akan lupa padaku!" kesal Kevin dan meninggalkan sang papa menuju kamarnya.
Sedangkan papa Kevin hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir dengan apa yang Kevin pikirkan, jika kebanyakan setiap pasangan ingin segera memiliki momongan tetapi Kevin justru tak ingin memiliki momongan dalam waktu dekat, bahkan pikiran Kevin begitu buruk.