My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 92



Di sebuah Rumah Sakit.


Bibi tengah gelisah saat ini, di ruang sana tepatnya di ruang operasi ada Melika yang tengah bertaruh nyawa, dan juga Dokter yang tengah berjuang menyelematkan seorang bayi dan juga nyawa Melika.


Begitu tak sadarkan diri, bibi langsung membawa Melika ke Rumah Sakit. Melika mengalami pendarahan hebat akibat terjatuhnya dia di kamar mandi.


Eak ... Eak ...


Bibi membulatkan matanya seraya menangis haru ketika mendengar tangis bayi dari dalam ruang operasi.


"Syukurlah. Bayinya selamat," ucap bibi.


Belum selesai kegelisahannya, bibi masih merasa gelisah karena cemas dengan keadaan Melika saat ini.


Belum ada Dokter yang keluar dari ruang operasi. Lampu operasi bahkan belum padam menandakan belum selesainya operasi tersebut.


"Bi ... Bagaimana menantu dan cucu Saya?"


Papa Kevin sampai di Rumah sakit, raut wajahnya tak kalah cemas. Begitu mendapat kabar Melika masuk Rumah Sakit, papa Kevin bergegas menuju Rumah Sakit.


"Bayinya sudah keluar, Pak. Tadi Saya dengar tangisannya," ucap bibi.


"Syukurlah. Lalu, bagaimana dengan Melika?" tanya papa Kevin.


"Bu Melika masih di dalam, Pak," ucap bibi.


"Ya Tuhan! Semoga dia baik-baik saja," ucapnya.


Beberapa saat menunggu, operasi selesai dan Dokter keluar.


"Keluarga pasien?" panggil Dokter.


"Ya, Saya Papa mertuanya. Bagaimana menantu Saya?" tanya papa Kevin cemas.


"Operasinya berjalan lancar, kita tunggu beberapa jam ke depan hingga pasien sadarkan diri. Jika tidak, kemungkinan pasien akan mengalami koma," ucap Dokter.


"Ya Tuhan ... Tolong, lakukan yang terbaik," ucap Dokter.


"Kami akan berusaha. Ngomong-ngomong, di mana Suami pasien? Bayi laki-laki sudah lahir dengan selamat. Berat badannya empat kilogram, dengan tinggi badan 53 centimeter. Bayi itu cukup besar. Beruntunglah, tak terlambat di bawa ke Rumah Sakit. Sekarang, bayi itu membutuhkan Ayahnya untuk di adzani," ucap Dokter.


"Ayahnya sedang melakukan pekerjaan di Luar Negeri. Saya yang akan menggantikannya," ucap papa Kevin.


"Baik jika begitu. Sebentar lagi, bayi itu akan dibawa ke ruang bayi," ucap Dokter.


Tak lama seorang suster keluar membawa bayi Melika dan membawanya ke ruang bayi.


Papa Kevin mengikuti suster menuju ruang bayi dan melihat bayi itu tengah tertidur. Bayi itu begitu merah, tampan, mirip Kevin saat kecil dulu. Papa Kevin ingat sekali, ketika almarhumah sang istri melahirkan Kevin, begitulah wajah Kevin mirip sekali dengan cucunya.


Tak lama, ponsel papa Kevin berdering. Ada panggilan masuk dari Kevin.


'Halo, Vin.'


'Pa, Papa di mana? Aku menghubungi Melika tapi nggak bisa. Telpon ke rumah juga nggak ada yang jawab. Entah pada kemana orang rumah. Aku cemas, Pa," ucap Kevin.


"Vin, ini anakmu sudah lahir,' ucap papa Kevin.


'Apa? Bagaimana bisa? Melika belum saatnya melahirkan,' ucap Kevin terkejut.


'Iya itu. Melika terpeleset di kamar mandi, dia pendarahan, Vin.'


'Ya Tuhan, Istriku!'


Kevin terkejut bukan main. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Melika.


'Vin, kebetulan kamu menghubungi Papa. Ini, alihkan panggilan ke Video. Kamu lihat anakmu, dan adzani dia,' ucap papa.


Tanpa menunggu lagi, Kevin langsung mengalihkan panggilan itu ke Video. Papa Kevin mengganti dengan kamera belakang dan terlihat bayi Kevin tengah tertidur.


'Ya Tuhan ... Itu aku kecil, Pa. Aku ada fotoku saat kecil, dia mirip aku kan, Pa?' ucap Kevin terharu.


Mata Kevin tampak memerah, dia begitu bahagia melihat anaknya meski hanya melalui layar telepon.


'Iya, kamu benar. Dia tak ingin kamu tak mengakuinya, karena itu mirip sekali denganmu,' ucap papa.


Kevin tersenyum. Dia meminta sang papa sedikit mendekatkan ponsel itu ke telinga sang bayi. Kevin mulai mengadzani bayinya.


Begitu selesai, Kevin pun menangis. Untuk pertama kalinya, dia mendapatkan kebahagiaan luar biasa karena bayi itu.


'Papa akan pulang, tunggu Papa, Nak,' ucap Kevin.


******


...Kevin bergegas bersiap, dan meminta Niken untuk memesankan tiket pesawat. Beruntuglah, hari itu ada pesawat yang melakukan penerbangan ke Indonesia satu jam kemudian. Kevin bergegas menuju mobil dan pergi ke Bandara begitu selesai bersiap....


Kevin meminta sang supir taksi untuk menyingkir, dan dia membawa mobil tersebut sendiri. Sang supir hanya terdiam melihat cara mengemudi Kevin yang seperti kesurupan. Begitu cepat bahkan tak sampai satu jam mobil itu sudah sampai di Bandara. Normalnya, perjalanan dari hotel tempat dia berada saat ini adalah satu jam perjalanan.


Ya, pagi tadi. Begitu selesai meeting Kevin kembali ke hotel. Karena itu dia dapat dengan mudah langsung membereskan barang-barangnya begitu mendapatkan kabar bahwa Melika sudah melahirkan.


'Sorry, I have to do this because it's an emergency. My wife recently gave birth, and I must return to Indonesia immediately,' ucap Kevin.


'It's okay, Sir. I hope you arrive in Indonesia safely, and can meet your wife and baby,' ucap supir taksi.


'Thank you, Sir." Kevin membayar biaya taksi dan keluar dari taksi.


Karena penerbangan sebentar lagi, pemberitahuan sudah mulai terdengar agar para penumpang diharapkan masuk ke dalam pesawat. Kevin pun bergegas menuju pesawat.


*****


Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta.


Kevin langsung menuju Rumah Sakit. Jalanan di luar tol cukup padat hari itu. Membuatnya merasa kesal karena tak sabar ingin segera bertemu dengan anak dan istrinya.


"Pak, apa tidak ada jalan lain selain jalan ini? Saya harus cepat sampai di Rumah Sakit," ucap Kevin.


"Ada nanti di depan, kita bisa melewati jalan alternatif, Pak," ucap supir.


"Ya sudah, kita lewat sana saja," ucap Kevin.


"Baik, Pak."


Kevin memandang keluar jalanan. Senja sudah mulai terlihat. Mendekati waktu bertemunya dengan sang anak membuat jantungnya tak karuan. Rasanya ini lebih gila dari detak jantung saat jatuh cinta pertama kalinya pada ibu bayi itu. Ya, pada Melika.


Saat pertama kali menyatakan cinta pada Melika, jantung Kevin tak berdetak sehebat ketika akan bertemu pertama kalinya dengan sang bayi.


Sesampainya di Rumah Sakit.


Kevin menanyakan keberadaan Melika pada resepsionis. Melika sudah berada di ruang rawat.


Begitu memasuki ruang rawat Melika, dia melihat Melika yang masih tak sadarkan diri. Sakit sekali rasanya melihat pemandangan itu. Rasanya, dari selama dia hidup tak ada yang lebih menyakitkan dari ini. Di mana melihat wanita yang begitu dicintai dan di sayangi terbujur lemah seperti itu.


"Vin!" sang papa memanggil Kevin. Mendekati Kevin dan memegang bahu Kevin. Di sana juga sudah ada orangtua Melika. Melvin pun ada di sana.


"Melika akan baik-baik saja. Sekarang, temui dulu anakmu," ucap papa.


Kevin melihat semua keluarganya. Mama Melika mendekati Kevin dan tersenyum.


"Kita semua akan menjaga Melika di sini. Temui dulu bayi itu," ucap mama Melika.


Kevin tersenyum dan pergi menuju ruang bayi.


Dia melangkah mendekati box bayi itu, di mana di sana terdapat sebuah nama 'Bayi Ibu Melika' dan detail informasi tentang kelahiran bayi itu.


Kevin menatap lekat wajah bayi itu, kini dia dapat melihatnya dengan jelas. Bayi itu tampan mirip dirinya saat kecil, hidungnya begitu mancung, kulitnya merah.


"Kamu terlihat lebih besar, Ibumu benar-benar merawatmu dengan baik saat di perutnya," ucap Kevin tersenyum.


Kevin menyentuh pipi bayi yang tengah tertidur itu. Tiba-tiba saja bayi itu menangis dan membuatnya terkejut.


"Ini Papamu, bukan penjahat. Ayolah, jangan menangis. Aku nggak mungkin menyakitimu," ucap Kevin mencoba menenangkan bayi itu.


Seketika bayi itu terdiam dan tertidur kembali seolah mengerti dengan ucapan Kevin. Padahal, bayi sekecil itu belumlah dapat mendengar jelas suara di sekitarnya.


Beberapa jam berlalu.


Kevin duduk di sisi brankar Melika. Tubuhnya lelah, tetapi dia tak peduli. Istirahat bukanlah saat yang tepat, dia terjaga sepanjang malam hanya menatap wajah lelap Melika.


Tak lama Dokter masuk dan memeriksa keadaan Melika. Setelah itu, Dokter meminta Kevin keluar ikut dengannya.


"Ada apa, Dok? Bagaimana Istri Saya?" tanya Kevin.


"Ini sudah melewati masa di mana seharusnya Istri Anda siuman. Tetapi belum ada tanda-tanda Istri Anda siuman. Sejak awal, kami sudah membuat kemungkinan akan terjadinya koma pasca melahirkan jika melewati masa siuman," ucap Dokter.


"Jadi, Istri Saya koma? Begitu maksud Dokter?" tanya Kevin terkejut.


"Mohon maaf. Semoga anda tabah," ucap Dokter.


Kevin terdiam. Dia melangkah lemas memasuki ruang rawat Melika.


Dia terduduk lemas dan menundukan kepalanya. Air matanya menetes tanpa di sadari.


Bagaimana aku akan mengurus anak itu tanpamu, Mel? gumam Kevin.