
Halo, teman-teman semua. Apa kabarnya? Lama tidak mampir ke novel ini. Semoga teman-teman sehat selalu, dan dimudahkan segala urusannya.
Author mau numpang promosi novel baru Author, ya, di sini. Judulnya 'OH, GRESS' Jika teman-teman berkenan mampir, bisa dibaca di aplikasi Novel L*i*v*e ... Maaf ya, harus di sela-sela pakai bintang. Hehe
Ini penampakan novel dan sinopsisnya. Author publish 2 bab awal di sini ya, jadi kalau mau baca kelanjutannya bisa dibaca di aplikasinya langsung. Di sana sudah 43 bab.
Untuk membaca dengan kupon baca gratis. Teman-teman bisa login setiap hari, dan akan dapat kupon baca gratis yang bisa ditukarkan ke koin untuk baca. Seperti ini contohnya
Oke, selamat membaca ya👏
PART 1 (AWAL PERTEMUAN KEMBALI)
Sebuah mobil sedan hitam dengan label 'M' berhenti di area parkir kantor pengadilan umum di Jakarta.
Selang beberapa detik, seorang wanita dengan pakaian rapi dan memegang tas kerja hitam di tangannya muncul dari pintu pengemudi tepat setelah pintu terbuka.
Dia Gresslyn Raharjo. Wanita cantik berdarah Indonesia, berusia 25 tahun. Memiliki tubuh idaman wanita, seksi bak gitar spanyol. Tak perlu memperlihatkan tubuhnya dengan mengenakan pakaian seksi, siapapun akan melihat keseksiannya meski hanya dari pesonanya. Pria tidak akan bisa menolak kecantikannya jika dia muncul di hadapan mereka.
Ya, dia terlihat seperti wanita yang sempurna. Namun, siapa sangka dibalik kecantikannya, ada masa lalu pahit yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Gresslyn, atau wanita yang biasa disapa Gress itu mulai berjalan memasuki kantor pengadilan. Ini bukan pertama kalinya dia memasuki kantor pengadilan, tapi ini pertama kalinya dia bekerja sebagai pengacara dan akan membela seseorang yang juga menjadi klien pertamanya. Ada rasa grogi karena kasus yang menimpa kliennya adalah kasus sengketa tanah antara dua perusahaan besar.
Ya, klien Gress yang juga teman Gress ini merupakan pewaris perusahaan konstruksi yang namanya cukup terkenal di Jakarta, dan lawannya juga adalah perusahaan konstruksi. Bahkan Gress mendengar perusahaan tersebut menggunakan jasa pengacara handal dan ternama.
"Gress!"
Gress berbalik ketika seseorang memanggilnya dan senyum muncul di bibir Gress.
"Kapan kamu sampai?" tanya Gress.
"Baru saja, apakah kamu siap? Kamu sudah mempelajari semuanya 'kan?" tanya orang itu yang tak lain adalah teman Gress yang juga klien pertama Gress.
Stefan Richard, atau pria yang biasa disapa Richard ini adalah pria tampan berkulit putih, berdarah campuran Indonesia-Jerman. Bertubuh tinggi, tegap, dan terlihat dewasa meskipun dia seumuran dengan Gress. Dia adalah pewaris AR construction atau Antonio Richard Construction, sebuah perusahaan konstruksi yang didirikan oleh ayahnya, Antonio Richard.
"Ya, tentu saja. Aku akan melakukan yang terbaik, dan tidak akan mengecewakanmu," kata Gress.
"Oke, kalau begitu aku ke toilet sebentar. Tunggu aku di sini, masih ada waktu untuk memulai mediasi," kata Richard sambil melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.
"Ya, aku juga akan menemui resepsionis," kata Gress. Keduanya kemudian berpisah.
Gress mulai berjalan menuju resepsionis. Hari ini akan dilakukan proses mediasi antara kedua perusahaan konstruksi tersebut.
"Saya akan ke resepsionis dulu, Pak. Anda bisa menunggu di kursi tunggu," kata seorang pria kepada pria lain di sampingnya yang kemudian mengalihkan perhatian Gress.
Pria itu hendak pergi ke kursi tunggu, tetapi dia melihat ke arah Gress, membuat Gress membeku seketika.
Pria berpakaian formal itu seakan membuat Gress menjadi bodoh. Bahkan resepsionis yang memanggilnya tidak membuatnya berpaling dari pria itu
"Hmm..." Suara deheman pria itu membuat Gress menelan ludahnya dan segera mengalihkan pandangannya ke resepsionis.
Tubuh Gress gemetar, dia mengepalkan tangannya erat-erat karena itu mungkin satu-satunya cara untuk menenangkan dirinya saat ini. Bagaimana mungkin reaksi tubuhnya dari dulu hingga sekarang selalu sama saat melihat tatapan dingin pria itu padahal sudah 5 tahun sejak terakhir kali dia melihat pria itu?
Setelah Gress selesai memberikan sebuah berkas ke resepsionis, Gress menarik napas dalam-dalam dan berbalik. Namun, dia tak lagi melihat pria yang dia lihat sebelumnya.
'Di mana dia? Apa aku salah melihat?' Pikir Gress bingung.
Tak lama setelah Richard kembali menemui Gress, keduanya pergi ke ruang mediasi.
Sesampainya di ruang mediasi, hanya ada pengacara dan seseorang yang akan memandu berjalannya mediasi.
'Em... Apakah perwakilan dari perusahaan konstruksi AW hanya pengacara saja?' ucap Gress pelan ketika dia dan Richard mulai duduk di depan pengacara itu.
"Aku tak tahu," ucap Richard.
"Maaf, klien Saya akan datang sebentar lagi," kata pengacara itu.
Semua orang pun menunggu orang itu tiba.
Lima menit kemudian, terdengar suara hentakan sepatu pantofel pria dari pintu masuk ruang mediasi.
"Maaf, Saya terlambat," kata orang itu sambil menarik kursi tepat di depan Gress.
"Maaf!" Gress secara refleks berdiri, membuat perhatian semua orang tertuju pada Gress.
Namun, tidak dengan pria itu. Pria itu hanya duduk begitu tenang, seolah-olah apa yang dilakukan Gress tidak membuatnya merasa terkejut.
"Ada apa, Gress?" tanya Richard.
Gress mengepalkan tangannya, matanya seperti ingin menelan pria di depannya. Dia benar-benar terkejut bahwa pria itu ada di depannya sekarang.
"Apa yang terjadi padamu?" Richard berbisik, membuat Gress duduk kembali dan mendekatkan bibirnya ke telinga Richard.
'Apakah pria ini dari AW Construction? ' bisik Gress.
"Ya, dia pemilik AW construction," ucap Richard.
'Ya Tuhan, aku tak tahu mimpi apa semalam, sehingga aku bertemu dengan pria kejam ini,' pikir Gress.
"Apa kamu baik baik saja?" ucap Richard bingung.
"Ehem, maaf. Kita bisa memulai proses mediasi sekarang. Lebih cepat akan lebih baik," ucap Gress dengan senyum canggung dan kembali duduk.
Proses mediasi pun dimulai, kedua belah pihak menyampaikan keinginan masing-masing dan mediasi tidak memakan waktu terlalu lama. Mediasi itu tidak menghasilkan seperti yang diharapkan oleh perusahaan AR Construction. Oleh karena itu, AR Construction akan melanjutkan proses hukum untuk merebut haknya atas tanah yang telah dibeli oleh perusahaannya yang ternyata tanah tersebut diakui oleh perusahaan AW Construction.
Kedua belah pihak bersikeras bahwa tanah itu milik perusahaan mereka. Jadi proses hukum akan tetap berjalan dan surat panggilan untuk sidang pertama akan dikirim kepada keduanya dalam beberapa hari ke depan.
Pria itu dan pengacaranya meninggalkan ruang mediasi terlebih dahulu, orang yang memandu proses mediasi juga telah meninggalkan ruangan. Sementara itu, Richard menerima sebuah panggilan dan pamit pada Gress untuk keluar dari ruangan itu terlebih dahulu, dia akan menjawab panggilan tersebut.
Kini hanya Gress yang ada di ruangan itu. Dia baru saja akan meninggalkan ruangan, tetapi dia terkejut ketika dia melihat seseorang muncul di pintu.
Orang yang sama, yang tidak lain adalah pemilik perusahaan AW Construction. Pria yang berhasil membuat tubuh Gress membeku tadi, kini kembali berada di hadapan Gress.
Namun, sebelum tangan Gress terangkat, pria itu mengulurkan tangannya di hadapan Gress.
Gress melihat ke telapak tangan pria itu dan melihat ada selembar cek kosong di telapak tangan pria itu.
"Berapa harga tubuhmu untuk satu malam?" pria itu bertanya, membuat Gress terperangah. Dia terkejut pria itu bertanya seperti itu.
"Maaf, apa maksudmu?" tanya Gress.
"Kamu bisa menulis nominalnya di cek ini, dan tidurlah denganku!" ucap pria itu, membuat Gress semakin terkejut.
Plak!
PART 2 (TAWARAN MENGGIURKAN)
Gress menampar wajah pria itu, membuat pria itu terkejut. Namun, pria itu hanya diam. Tubuhnya tetap tegap, wajahnya bahkan tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Tuan. Alexander William! Anda begitu lancang mengatakan hal seperti itu pada saya! Anda pikir Anda siapa?" geram Gress.
William mengusap wajahnya. Tatapannya datar seolah tamparan Gress tidak menyakiti wajahnya.
"Saya memberikan Anda penghargaan dengan memberikan tawaran untuk tidur dengan Saya, bahkan tidak hanya itu, Saya juga meminta Anda untuk menuliskan harga untuk tubuh Anda sendiri. Tidakkah Anda tersanjung, Nona Gresslyn Raharjo?" kata William, membuat Gress terdiam.
Apa yang dia dengar? Apakah dia salah dengar? Pria itu. Ya, pria di depannya itu yang bahkan pernah mengatakan benci meski hanya mendengar suaranya, dan tidak pernah menyebut namanya, sekarang benar-benar menyebut namanya tanpa kesalahan.
Gress bahkan terkejut karena William mengingatnya. Apakah wajahnya tak ada perubahan sedikitpun setelah 5 tahun berlalu? Apakah itu pujian atau hinaan? Dia sungguh tak habis pikir.
Alexander William. Seorang pria berusia 28 tahun memiliki wajah tampan dengan tatapan dingin dan mulut bak belati yang tajam. Founder perusahaan AW Construction yang berkembang hingga negara lain, adalah senior Gress di universitas yang sama tempat Gress menempuh pendidikan dan hanya memiliki jurusan yang berbeda. Saat itu, Gress mengambil jurusan hukum, sedangkan William mengambil jurusan bisnis.
"Seorang mahasiswi di universitas yang sama denganku, bahkan berani menyatakan cinta padaku di depan begitu banyak orang, bukankah seharusnya kamu senang aku membuat tawaran yang begitu menggiurkan untukmu?" ucap William, lalu menyeringai.
Gress mengepalkan tangannya. Dia ingat kejadian 5 tahun lalu ketika dia belajar di universitas yang sama dengan William dan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang pria. Pria itu adalah William, dia jatuh cinta pada William sejak pertama kali melihat William.
Tak diragukan lagi, pesona William memang tak hanya menarik perhatian Gress, melainkan juga menarik perhatian para mahasiswi di sana.
'William, aku menyukaimu sejak pertama kali memasuk kampus ini, maukah kamu menjadi kekasihku?' ucap Gress yang saat itu hanyalah seorang gadis lugu dengan penampilan yang sederhana. Bahkan tidak ada riasan di wajahnya.
'Kamu tahu, seperti apa orang yang tidak tahu malu? Tentu saja sepertimu, wanita bodoh yang berani mengaku cinta padaku! Aku bahkan benci mendengar suaramu. Bagaimana mungkin aku mau menjadi kekasihmu?' ucap William.
Gress menggelengkan kepalanya. Dia mengepalkan tangannya. Penolakan kejam itu membuat Gress tidak bisa melupakan William dan membenci William hingga saat ini. Apalagi setelah apa yang dikatakan William belum lama ini, dia semakin membenci William. Dia berpikir setelah dewasa, pikiran dan ucapan seseorang akan turut dewasa. Tapi tidak, William tetaplah William yang mulutnya setajam belati.
"Aku merasa menyesal pernah menyukai pria yang ternyata bajingan sepertimu!" Gress menggeram dan meninggalkan William.
Gress meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal. Dia ingin mengutuk William, tetapi dia tidak tahan berada di dekat William.
'Dia gila, dia benar-benar bajingan!' Gress bergumam kesal di tengah langkah menuju mobilnya.
Gress memasuki mobilnya dan menutup pintu mobil cukup keras. Dia mengendarai mobilnya keluar dari area parkir kantor pengadilan umum tersebut.
Sementara itu, William baru saja keluar dari ruang mediasi. Dia kembali ke mobilnya dan meminta sang sopir untuk mengantarnya kembali ke perusahaan AW Construction.
Dalam perjalanan ke perusahaan AW Construction, ada panggilan masuk ke ponsel William. Terlihat kontak Gabriel menghubunginya.
Gabriel adalah teman William di universitas yang sama dan satu-satunya teman yang masih berkomunikasi dengan William hingga saat ini. Pertemanan keduanya sangat dekat.
'Halo,' ucap William.
'Halo, William. Bagaimana kabarmu? Apa beberapa hari ini kamu sibuk? Kenapa kamu tak menghubungiku?' kata Gabriel.
'Ya, aku sudah mengatakannya 'kan? Kasus tanah milik perusahaan baru saja dimulai, jadi saat ini aku sedang fokus mengurusnya,' kata William.
'Tapi kamu tak boleh terlalu lelah. Bagaimana jika kita bersenang-senang?' tanya Gabriel.
'Hmm... Apa yang akan kamu lakukan? ' tanya William.
'Apa kamu tak tahu apapun? Di grup alumni, universitas kita akan mengadakan reuni besok malam. Reuni ini untuk alumni jurusan bisnis dan hukum. Bagaimana jika kamu datang? Kamu tak pernah datang ke reuni universitas setelah kita lulus 'kan? Mungkin reuni ini akan baik untukmu,' ucap Gabriel.
'Hmm... Aku tak pernah masuk ke grup alumni, dan aku juga tak tertarik,' kata William.
William ingat dia mendapat undangan dari salah satu kliennya, dan undangan itu untuk besok malam. Dia tak mungkin mengabaikan undangan tersebut.
'Tapi apa kamu tak ingin bertemu teman-teman kita yang lain? Kita sudah lama tak bertemu mereka 'kan? ' kata Gabriel.
'Aku tak bisa membuat janji, aku ada pekerjaan besok malam,' kata William.
'Kamu benar-benar membosankan! Baiklah, aku tak akan mengganggumu lagi. Semoga masalahmu segera selesai,' kata Gabriel dan mengakhiri telepon.
William terdiam, tiba-tiba dia terpikir sesuatu yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran dan merasa ingin datang ke reuni itu. Bukan karena apa yang dikatakan Gabriel tentang alumni jurusan hukum, tetapi William memikirkan sesuatu yang langsung membuatnya tertarik untuk menghadiri reuni tersebut
William tersenyum kecil. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
'Apa dia datang? Dia alumni jurusan hukum 'kan?' Gumam William.
***
Sore hari.
Gress baru saja sampai di kediamannya. Kediaman berlantai dua dengan di dominasi warna cream itu dia tinggali sendiri lantaran orangtuanya kini berada di Yogyakarta.
Ya, keluarganya menetap di sana. Semenjak Gress menempuh pendidikan di salah satu universitas di Jakarta, sejak saat itulah Gress tak lagi tinggal bersama orangtuanya.
Gress mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Di mana di sampingnya, dia juga mendaratkan tasnya. Pekerjaan hari ini tidak terlalu melelahkan, tapi entah kenapa dia merasa lelah.
Gress mengambil ponselnya dari dalam tasnya, dia memeriksa beberapa pesan masuk. Terlihat di grup alumni angkatannya sangat ramai. Entah apa yang mereka bicarakan.
Gress mencoba memeriksa grup itu dan melihat pengumuman bahwa akan ada reuni untuk jurusan bisnis dan jurusan hukum besok malam.
Gress duduk di tepi tempat tidur.
'Reuni? Apakah dia datang? ' pikir Gress memikirkan William.
Sesaat kemudian, Gress menggelengkan kepalanya.
'Astaga, kenapa aku harus mengingatnya lagi? Karena dia, hari ini moodku hancur, aku tak menyangka aku harus bertemu dengan pria bajingan sepertinya, aku bahkan tak percaya aku pernah menyukainya!' Gress bergumam kesal karena tiba-tiba wajah angkuh William melintas di kepalanya.
Gress bergegas ke kamar mandi. Mungkin dengan mandi dia akan merasa segar kembali dan tidak akan mengingat wajah William lagi.