
"Menikahlah denganku, maka tak hanya apartemen itu. Bahkan apapun yang aku miliki, akan menjadi milikmu juga!" ucap Bryan.
Prischa tersenyum getir mendengar ucapan Bryan. Bryan masih saja kerasa kepala, bahkan membujuknya dengan sebuah apartemen. Sekali lagi Prischa melihat berkas kepemilikan apartemen itu. Dia menutupnya kemudian dan melemparkannya tepat di atas lemari kecil di samping brankarnya.
"Kamu pikir, bisa membeliku dengan hanya menggunakan apartemen seperti itu?" ucap Prischa remeh. Meski Prischa tahu kekayaan Bryan pun tak sedikit, tetapi dia sama sekali tak tertarik untuk menikah dengan Bryan.
"Kamu mau apa? Bilang saja!" ucap Bryan.
"Apa kamu akan mengabulkannya, jika aku mengatakan keinginanku?" tanya Prischa.
"Tentu saja!" ucap Bryan yakin.
"Kalau begitu, pergilah dari hadapanku! Jangan pernah menggangguku lagi! Aku benar-benar muak melihat wajahmu!" geram Prischa.
Bryan terdiam sejenak dan tersenyum seakan tak menghiraukan ucapan Prischa. Semenjak kenal dekat dengan Prischa, Bryan memang sudah mengenal Prischa memiliki watak keras kepala.
"Baiklah! Namun, suatu saat nanti, jangan pernah menyesal dengan keputusanmu! Kamu tahu, hidup tanpa uang, kamu tak akan dianggap oleh siapapun, bahkan seluruh dunia sekalipun takan mau melihatmu! Kita lihat saja nanti!" tegas Bryan.
Bryan mengambil berkas itu, dan melangkah menuju pintu keluar. Belum sepenuhnya keluar dari ruangan itu, Bryan pun berbalik dan mengangkat berkas itu sambil melihat ke arah Prischa.
"Kamu tahu, aku pria yang baik. Jika berubah pikiran, apartemenku selalu terbuka untukmu. Sama saat seperti kamu dengan suka rela membuka apa yang terbalut ditubuhmu demi untuk agar aku menikmatinya," ucap Bryan tersenyum menyindir dan pergi dari ruangan itu.
Prischa mengepalkan tangannya. Dia benar-benar geram dengan tingkah Bryan yang menurutnya sudah melampaui batas. Penyesalan mungkin tak berguna saat ini. Namun, ucapan Bryan belum lama tadi kembali terngiang di telinga Prischa. Prischa tahu dunia begitu kejam, orang-orang menghormatinya karena dirinya memiliki uang sebelumnya. Namun, berbeda dengan saat ini, dia tak memiliki apapun. Bahkan uang simpanannya dari hasil dirinya bekerja menjadi seorang model takkan terus bisa menanggung biaya hidupnya mengingat saat ini dirinya pun sudah tak begitu aktif di dunia modeling.
*****
Kessokan harinya.
Pagi-pagi sekali Melika sudah terbangun dari tidurnya. Dirinya memang terbiasa bangun pagi dan menyiapkan keperluan Kevin. Sayangnya, kini dirinya tak bisa melakukan rutinitasnya tersebut dikarenakan tengah berada di Bali bersama Jian untuk urusan pekerjaan. Sebetulnya, Melika sendiri tak mengerti untuk urusan pekerjaan apa di Bali. Dirinya yang bekerja sebagai sekretaris pribadi Jian pun bahkan tak menemukan jadwal kerja Jian di Bali.
Ketukan terdengar dari pintu kamar Melika, Melika melihat ke arah ponselnya, di mana di sana terlihat jam menunjukan pukul enam waktu setempat.
''Apa itu sarapanku?' gumam Melika dan melangkah menuju pintu. Dia membuka pintu dan merasa bingung melihat seorang pria tengah berdiri di depan pintunya. Bukan pekerja hotel yang mengantar sarapan untuk dirinya, melainkan Jian lah yang berdiri di depan pintu kamarnya. Meski awalnya Melika melihat ada hal yang berbeda dari Jian. Jian tak seperti biasanya yang memakai pakain formal, kali ini Jian tampak berpenampilan lebih santai dengan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek dengan tetap memakai sepatu pastinya. Namun, sepatu yang lebih santai.
"Apa ada pekerjaan sepagi ini? Oh, jangan bilang akupun harus menyiapkan handuk mandi Bapak," ucap Melika.
Jian mengerutkan dahinya. Dia mengusap wajahnya.
"Apa Aku terlihat belum mandi?" tanya Jian.
Lagi-lagi Melika merasa bingung. Ucapan Jian pun tak seformal biasanya. Apa katanya? 'Aku?' Sejak kapan Jian memanggil dirinya yang biasa dia panggil dengan kata 'Saya' lalu berubah menjadi kata 'Aku?'
"Ada apa? Kenapa terlihat bingung?" tanya Jian yang juga dibuat bingung melihat ekspresi Melika.
Melika menggelengkan kepalanya. "Jadi, kenapa Bapak mengetuk kamar Saya sepagi ini? Jam kerja bahkan belum dimulai," ucap Melika bingung.
"Sarapan," ucap Jian.
"Maksudnya?" Melika semakin bingung. Jian pun merasa gemas sendiri mendengar Melika seperti seseorang yang terlihat bodoh.
"IQ mu berapa?" tanya Jian.
"Kenapa menanyakan IQ?" tanya Melika.
"Ya, pikir saja sendiri. Menurutmu, Saya datang sepagi ini untuk apa, selain untuk mengajak sarapan?" tanya Jian gemas.
"Saya?" ucap Melika. "Tadi aku, sekarang Saya," ucap Melika sambil menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Jian ke dalam kamar hotel.
Seketika Jian menyadari satu hal. Melika masuk tanpa mengatakan apapun dan justru membiarkannya berdiri di depan pintu kamar hotel yang masih sedikit terbuka.
Jian melangkah akan masuk ke kamar Melika, tetapi Melika tiba-tiba saja muncul dibalik pintu dan mengejutkan Jian. Jian bahkan sampai mengelus dada saking terkejutnya.
"Mau apa? Mau diam-diam masuk, ha?" ucap Melika curiga.
Jian memundurkan langkahnya dan melihat ke arah kaki Melika. Jian pun mengerti, sepertinya Melika mengganti sandal hotelnya dengan sandal miliknya sendiri saat masuk ke kamar tadi.
"Sudahlah. Masih pagi, jangan membuat darah tinggi Saya menjadi kumat. Temani Saya sarapan di bawah!" ucap Jian dan melangkah menjauh dari Melika. Melika menahan tawanya sambil menutup pintu.
'Aku pikir, peyakit orang kaya itu identik dengan penyakit jantung, cancer. Nyatanya, darah tinggi,' gumam Melika.
"Kenapa tidak bisa membedakan, mana bercanday dan mana yang serius? Mana mungkin Saya memiliki riwayat penyakit darah tinggi!" ucap Jian dengan nada sedingin mungkin. Seolah menununjukan ketidak sukaannya terhadap gumaman Melika yang masih bisa didengar olehnya.
Melika menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Sedangkan Jian hanya menghela napas panjang dan kembali melanjutkan langkahnya. Keduanya pun pergi bersama menuju restoran yang masih berada di dalam hotel tersebut untuk sarapan bersama.
Sesampainya di restoran.
Jian dan Melika mengambil sarapan yang sudah terhidang di restoran tersebut dan dilanjutkan sarapan bersama di meja yang sama. Keduanya sarapan tanpa mengatakan apapun. Namun, seketika suasana terasa canggung saat Jian tak sengaja melihat ke meja lain dan terlihat seorang pria tengah disuapi makanan oleh seorang wanita. Yang membuat Jian merasa risih, pria itu bersikap manja dan justru meminta sendiri untuk disuapi.
Melika yang menyadari Jian hanya mengacak-ngacak sarapannya sambil sesekali meminum minumannya pun merasa terganggu. Pasalnya, makanan Jian menjadi tak enak dilihat karena tangan Jian yang terus saja mengacak-acak makanan tersebut layaknya anak kecil yang tengah malas makan.
Jian tersentak saat tiba-tiba ada yang menarik piringnya dan membuatnya repleks melihat ke arah Melika. Benar saja, Melika yang mengambil piring miliknya.
"Kalau nggak mau makan, nggak usah makan. Sayang, kan. Mubazir yang ada," ucap Melika.
Jian meletakan sendok yang sebelumnya dia pakai di atas tisu dan meminum air putih miliknya.
"Saya jadi tak berselera setelah melihat pria jadi-jadian," ucap Jian sambil sekilas melihat ke arah pasangan yang masih saja prianya disuapi itu. Melika sontak mengikuti arah pandang Jian dan terkekeh.
"Bilang saja iri. Makanya, Bapak cepatlah menikah, agar bisa disuapi Istri," ucap Melika.
"Apa kamu juga seperti itu? Maksudnya, apa kamu juga pernah menyuapi Kevin?" tanya Jian.
"Tentu saja pernah," ucap Melika sambil tersenyum.
Seketika Melika teringat pada Kevin. Pagi ini, Melika belum menghubungi Kevin. Melika mencari ponselnya dan tak menemukannya. Dia lupa tak membawa ponselnya yang tertinggal di kamar hotel.
"Mencari apa?" tanya Jian.
"Ponsel Saya, sepertinya ketinggalan di kamar," ucap Melika.
Jian mengambil ponselnya dan memberikannya pada Melika. Melika sontak mengambil ponsel Jian dengan ekspresi bingung.
"Pakai saja jika ingin menghubungi Kevin," ucap Jian.
"Ha? Benarkah boleh Saya pakai?" tanya Melika memastikan.
"Ya, tidak usah banyak bertanya lagi. Sebelum Saya berubah pikiran," ucap Jian.
Melika tersenyum lebar dan mengetik nomor telepon Kevin. Belum sempat menekan tombol panggilan, Melika menghapus kembali nomor Kevin yang sebetulnya sudah tersimpan di ponsel Jian. Melika pun mengembalikan ponsel Jian dengan meletakan ponsel Jian di meja tepat di hadapan Jian.
Jian mengerutkan dahinya, dan melihat wajah Melika yang menampakkan perubahan ekspresi. Ekspresi Melika terlihat muram.