My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 80



Pagi-pagi sekali Melika sudah sampai di Jakarta. Dia izin pulang lebih dulu karena memang tak ada lagi pekerjaan untuknya. Jian pun tak keberatan dirinya pulang lebih dulu. Dan seperti biasa, Jian akan tinggal terlebih dahulu di Bali, tempat kesukaannya.


Taksi yang mengantar Melika sudah sampai di depan rumah, dia bergegas masuk ke rumah mencari keberadaan Kevin. Begitu akan menaiki anak tangga, pandangan Melika terarah ke kolam renang. Terlihat di sana Kevin tengah duduk menyesap secangkir minuman hangat. Melika menyimpan kopernya dengan sembarang dan bergegas menghampiri Kevin.


"Mas!" panggil Melika.


Kevin sontak melihat Melika dan mengerutkan dahinya. Benarkah istrinya itu sudah pulang?


"Kamu sudah pulang?" tanya Kevin.


Melika mengangguk dan memeluk Kevin. Lagi-lagi dahi Kevin berkerut. Ada apa tiba-tiba saja Melika memeluknya?


"Kamu kenapa?" tanya Kevin heran.


"Maaf," ucap Melika menyesal mengingat dirinya sudah mendiamkan Kevin.


"Untuk?" tanya Kevin.


Melika melepaskan pelukannya dan menatap Kevin.


"Untuk semuanya. Maaf jika aku tidak bisa menjadi Istri yang baik. Bukannya mendukungmu dimasa-masa sulitmu, aku justru membiarkanmu menanggung masalahmu sendiri," ucap Melika.


Kevin menghela napas, dan memeluk Melika.


"Aku pikir, kamu akan terus marah sama aku," ucap Kevin.


"Nggak. Aku minta maaf, karena tidak bisa mengerti dirimu, Mas. Jahat sekali ya, aku," ucap Melika sendu.


"Sudahlah, aku juga minta maaf untuk semuanya. Aku bersyukur kamu mau maafin aku," ucap Kevin.


"Dalam setiap hubungan, masalah apapun sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik dan secepat mungkin, kan, Mas? Jangan sampai berlarut-larut. Maafkan aku untuk itu," sesal Melika.


"Hm ... Jadi, apa yang membuatmu tiba-tiba saja mau memaafkan aku?" tanya Kevin.


"Ada orang yang telah berjasa, yang akhirnya membuka pikiran aku," ucap Melika tersenyum.


"Benarkah? Aku harus berterima kasih padanya," ucap Kevin tersenyum.


"Tentu saja. Mas bisa melakukannya saat bertemu dengannya," ucap Melika.


Mereka saling melepaskan diri, dan masuk ke rumah.


"Bagaimana perjalananmu?" tanya Kevin.


Kevin tak ingin lagi menyinggung rasa keberatannya terhadap Melika yang bekerja. Dia tak ingin ada masalah lagi. Benar apa yang dikatakan sang papa. Dialah yang sejak awal mengizinkan Melika bekerja, karena itu dia harus menanggung resikonya.


"Begitulah. Oh, ya. Aku mendapatkan libur dua hari karena sudah menemani Jian dalam perjalanan bisnisnya, jadi apa kita bisa pergi ke suatu tempat?" tanya Melika.


Mereka pergi menuju kamar, Kevin pun membantu membawakan koper Melika.


"Suatu tempat?" Kevin tampak berpikir.


"Ya, menghabiskan waktu bersama," ucap Melika tersenyum.


Kevin tersenyum. Ternyata dia tak perlu bersusah payah mengajak Melika untuk menghabiskan waktu bersama sesuai saran sang papa. Nyatanya, Melika justru mengajaknya lebih dulu.


"Bagaimana kalau nanti malam, kita dinner di luar?" tanya Jian.


Melika tersenyum dan mengangguk penuh antusias.


"Ah, aku rindu senyummu itu," ucap Kevin.


"Aku juga rindu dirimu, Mas," ucap Melika tersenyum.


"Benarkah? Aku ragu," ucap Kevin sambil memasang wajah tak percaya.


"Kenapa ragu? Aku serius, lho," ucap Melika mencoba meyakinkan Kevin.


"Ngomong-ngomong, berapa lama kita tidak melakukannya?" tanya Kevin.


"Melakukan apa?" tanya Melika bingung.


"Melakukan nganu loh, Mel," ucap Kevin sambil menyunggingkan seringai penuh arti.


Melika membulatkan matanya dan mencubit gemas perut Kevin, membuat Kevin mengaduh karena merasakan ngilu akibat cubitan Melika.


"Masih pagi, aku baru datang sudah ditagih kayak gitu," ucap Melika.


"Aku hanya bertanya," ucap Kevin beralasan.


"Aku tahu maksud, Mas," ucap Melika tersenyum.


Kevin pun tersenyum dan kembali memeluk Melika.


"Aku benar-benar merindukanmu, Mel. Aku merindukan segalanya tentang dirimu. Candamu, tawamu, perhatianmu, aku merindukan semua itu. Jangan pernah lagi mendiamkan aku, Mel. Sungguh, aku tidak sanggup diabaikan seperti sebelumnya," ucap Kevin.


"Aku juga, Mas. Aku rindu kamu. Maaf, ya," ucap Melika.


Kevin melepaskan pelukannya dan mencium bibir Melika. Melika pun membalas ciuman Kevin.


"Vin!" panggil seseorang yang tiba-tiba saja masuk tanpa permisi. Sontak Melika dan Kevin pun terkejut dan saling melepaskan ciumannya.


"Ya Tuhan! Maafkan Papa, Papa pikir, hanya ada Kevin di kamar ini."


Orang itu ternyata papa Kevin. Entah kapan sang papa datang ke rumah mereka.


Melika dan Kevin tampak malu, pipi Melika bahkan memerah. Keduanya masih tetap diam karena masih mengatur detak jantung keduanya. Meski sudah menikah, dipergok tengah berciuman oleh orang lain sungguh membuat mereka menjadi jantungan. Terlebih, sang papa yang memeregokinya.


"Itu, kalian lanjut. Kalau udah selesai, Papa tunggu di bawah," ucap sang papa.


Brak!


Lagi-lagi Melika dan Kevin terkejut mendengar suara pintu yang tertutup begitu keras. Tak lama, pintu itu kembali terbuka dan sang papa muncul kembali.


"Papa nggak sengaja, pintunya kurang ajar tidak bisa diajak kompromi. Papa bukannya emosi, sungguh," ucap sang papa mencoba menjelaskan dan menutup kembali pintu kamar Kevin dengan perlahan.


Melika dan Kevin saling tatap dan terkekeh.


"Aku pikir, hanya aku yang malu. Aku rasa, Papa pun lebih malu," ucap Kevin terkekeh.


Melika pun ikut terkekeh.


"Kasihan Papa, apa dia tidak ada niatan untuk menikah lagi?" tanya Melika.


"Ha? Mana mungkin Papa mau. Jika dia mau, sudah sejak dulu dia menikah lagi, mencarikanku seorang Ibu. Nyatanya, dia tidak menikah lagi, dia justru merawatku sendirian," ucap Kevin.


"Hm ... Dia mencintai Mendiang Mama mertua," ucap Melika.


"Begitulah," ucap Kevin. Mereka pun kembali berciuman, melanjutkan kenikmatan yang sempat tertunda tadi, sekaligus melepaskan rindu satu sama lain.


Sementara di sisi lain.


Papa Kevin tampak senyum-senyum sepanjang langkahnya menuju meja makan. Bibi yang melihatpun tampak bingung melihat Tuannya senyum-senyum sendiri.


"Akhirnya, mereka baikan juga. Aku jadi tidak sabar menggendong cucuku," ucap papa Kevin.


"Cucu?" bibi bergumam dalam hati mendengar ucapan papa Kevin yang terdengar olehnya.


Apakah mungkin Ibu sedang hamil? batin bibi.


Bibipun ikut tersenyum sendiri, dia bahagia jika memang benar Melika tengah hamil.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya papa Kevin.


Bibi terkejut karena ternyata diperhatikan oleh papanya Kevin. Namun, sesaat kemudian bibi menghampiri papa Kevin.


"Apa di rumah ini akan kedatangan anggota keluarga baru, Pak?" tanya bibi.


"Maksudmu?" papa Kevin tampak bingung mendengar ucapan bibi.


"Oh, maksudmu, apa Saya akan tinggal di sini, begitu?" ucap papa Kevin salah paham.


"Tentu tidak, Saya hanya datang berkunjung," lanjutnya.


"Bukan, Pak. Maksud Saya, apakah akan ada bayi di rumah ini?" tanya bibi.


"Bayi? Apa Melika tengah hamil?" tanya papa Kevin.


"Loh, kenapa Bapak bertanya seperti itu?" tanya bibi bingung. Bukankah papa Kevin sendiri yang bicara, lalu mengapa harus bertanya?


"Kamu sendiri, kenapa bertanya seperti itu?" tanya papa Kevin semakin bingung.


Keduanya tampak bingung satu sama lain. Tak mengerti apa yang sebetulnya tengah mereka bahas.


"Loh, Saya melihat Bapak," ucap bibi.


"Melihat Saya? Memangnya ada apa dengan Saya?" ucap papa Kevin bingung sambil menyentuh wajahnya. Mungkinkah ada sesuatu di wajahnya?


Bibi semakin dibuat bingung melihat tingkah papa Kevin.


"Apa ada sesuatu di wajah Saya? Noda mungkin," tanya papa Kevin.


"Tidak, Pak..Maksud Saya, tadi Bapak bicara sendiri, bahwa Bapak sudah tidak sabar menggendong cucu Bapak. Apakah Ibu Melika hamil? Jika iya, Saya pun turut bahagia," ucap bibi tersenyum.


Ha-ha-ha ...


Papa Kevin pun tertawa keras, membuat bibi semakin bingung.


'Apa Tuan Bram baik-baik saja?' batin bibi.