My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 89



Melika terdiam mendengar ucapan Kevin. Tak hanya Melika, bahkan teman Prischa pun ikut terdiam.


Puk ...


"Ayolah, kenapa kamu jadi serius seperti itu?" ucapnya sambil memukul bahu Kevin sok akrab.


Kevin tersenyum tipis dan mengusap bahunya. Ada saatnya bercanda, dan jadikan saja objek lain untuk bahan candaannya, janganlah Melika yang jadi bahan candaan. Kevin benar-benar tak suka itu.


"Istriku ini makhluk sempurna. Tak ada satupun dalam dirinya yang pantas untuk dijadikan bahan ejekan. Manusia mengejek manusia? Sungguh menyedihkan, itu sama saja dengan mengejek ciptaan Tuhan," ucap Kevin tersenyum miris.


Pria itu menenggak minumannya, dia pamit menemui Prischa dan meninggalkan Kevin juga Melika.


Kevin melihat Melika yang masih terdiam, entah apa yang Melika pikirkan saat ini.


"Apa aku terlihat keren?" tanya Kevin membuyarkan lamunan Melika.


"Mas!"


"Ya." Kevin melihat Melika yang menatapnya dengan eskpresi kagum.


"Apa yang merasukimu?" tanya Melika.


"Maksudnya?" Kevin tampak bingung mendengar ucapan Melika.


"Kenapa tadi itu, terlihat keren sekali? Seperti bukan dirimu, Mas benar-benar keren sekali," ucap Melika heran.


Kevin terkekeh. Istrinya benar-benar ada-ada saja.


Tuk ...


Kevin menjentik dahi Melika, membuat Melika langsung mengusap dahinya sambil mengerucutkan bibir.


"Jadi, aku keren, ya tadi?" ucap Kevin tersenyum.


"Ah tentu saja. Mas benar-benar Suami idaman," ucap Melika tersenyum.


"Jadi, apa aku akan dapat hadiah untuk yang tadi?" tanya Kevin.


"Hadiah? Memangnya Mas mau apa?" tanya Melika curiga.


"Em ... Apa, ya?" Kevin tampak berpikir.


Sesaat kemudian Kevin merangkul bahu Melika.


"Aku mau kamu dan anak kita sehat. Itu saja cukup," ucap Kevin tersenyum.


"Hm ... Aku pikir Mas mau itu," ucap Melika tersenyum. Mesum sekali pikirannya.


Kevin melihat Melika.


"Pikiranmu terlalu nakal," ucap Kevin terkekeh.


Melika terkekeh. Mereka menyapa Prischa terlebih dahulu sebelum akhirnya meninggalkan hotel.


...Keesokan harinya....


Melika dan Kevin sudah bersiap ke Kantor. Hari ini tumben sekali Kevin dan Jian akan memeriksa lokasi proyek bersama. Setelah itu mereka janjian untuk minum kopi bersama.


Di perjalanan menuju Kantor Jian.


Kevin dan Melika duduk di kursi penumpang. Tak seperti biasa, mereka diantar oleh supir kantornya Kevin. Kevin tengah sibuk dengan gadgetnya, sementara Melika sibuk memeriksa beberapa berkas tentang proyek tersebut.


"Pak, Maaf. Apa kita bisa mampir ke pom bensin sebentar? Maaf, sekali Saya butuh buang air, Pak. Sepertinya, Saya salah makan," ucap sang supir.


"Ya," sahut Kevin tanpa menoleh ke arah supir.


Sang supir mencari pom bensin, dan tak lama menemukannya. Mobil masuk ke area pom dan berhenti di parkiran tepat di depan minimarket. Sang supir bergegas keluar dari mobil.


Melika tak sengaja melihat ke arah luar, jauh di sebrang jalananan. Ada penjual lontong sayur gerobak dorong. Melika menelan air liurnya, dia menginginkan lontong sayur itu, senang sekali rasanya jika bisa memakannya.


"Mas!" Melika menepuk bahu Kevin.


"Aku mau lontong sayur itu," ucap Melika menunjuk penjual lontong itu. Kevin melihat kd arah penjual itu.


"Ya, tunggu supir yang beliin, " ucap Kevin tanpa melihat Melika.


"Sshhh ..." Melika mendesis merasakan kram di perutnya, rasanya sakit.


Kevin sontak melihat Melika.


"Kamu kenapa?" tanya Kevin cemas.


"Perut aku sakit, Mas," ucap Melika memegang perutnya.


"Ha? Belum saatnya melahirkan, kan?" tanya Kevin semakin cemas.


Melika melihat lagi ke arah penjual lontong. Terlihat penjual lontong itu tengah bersiap dan mulai mendorong gerobaknya.


"Yah, Mas. Lontongnya sudah mau pergi," ucap Melika gelisah.


Kevin melihat ke arah penjual itu, benar saja sudah mulai didorong gerobaknya.


"Yah, gimana, dong?" ucap Kevin bingung. Sang supir juga belum kembali. Lama sekali, pikirnya.


"Mas cepetan, Mas. Nanti keburu jauh," ucap Melika tak sabar.


"Apa? Jadi, aku yang harus beli?" tanya Kevin terkejut.


"Lho, kamu kan Bapaknya anak yang ada di perutku. Dia yang mau lontong sayurnya, lho. Masa kamu tega nggak mau beliin. Perutku sakit, itu karena anakmu marah liat penjual lontong itu sudah mau pergi," ucap Melika memasang wajah sedih.


Mendengar ucapan Melika, Kevin sontak melempar gadgetnya dan bergegas keluar dari mobil. Dia melihat kiri kanan jalanan, dan menyebrang. Ada empat jalanan yang harus Kevin sebrangi. Di mana Kevin berada tepat di pom bensin dekat jalur lambat. Sedangkan penjual lontong itu berada di jalanan sebrang jalanan di ujung jalur lambat.


Kevin berlari, dan penjual lontong itu semakin jauh.


Melika yang melihat suaminya itu berlari pun menjadi terkekeh. Dia mengusap perutnya.


"Maaf, Nak," ucap Melika.


Tak lama sang supir masuk dan mereka menunggu Kevin kembali.


***


"Mas!" teriak Kevin memanggil penjual lontong sayur itu. Namun, sepertinya penjualnya tak mendengar teriakan Kevin.


Jalanan cukup padat, apalagi di jalur bebas di mana mobil banyak sekali yang melaju, membuatnya harus hati-hati menyebrang. Pagi itu adalah saatnya orang-orang pergi ke kantor. Jadi jelas saja jalanan cukup ramai.


"Ah, benar-benar!" kesal Kevin karena penjual itu semakin jauh.


Begitu Kevin sampai di sebrang, dia kembali berteriak.


"Mas lontong!" teriak Kevin sontak mengalihkan perhatian beberapa orang di sekitar sana. Suara Kevin benar-benar kencang, tetapi itu berhasil menghentikan si penjual lontong. Dengan napas terengah Kevin menghampiri penjual lontong itu.


"Mas, dipanggil diam saja! Saya mau beli, kenapa terus saja pergi?" ucap Kevin sedikit kesal.


Dia merasa dikerjai, tubuhnya juga menjadi tak nyaman karena berkeringat. Bayangkan saja, dia berlari sambil memakai stelan formal kantornya. Di mana dia memakai kaus dalam, lalu kemeja panjang, dan dibalut lagi oleh jas. Belum lagi sebuah dasi melilit di lehernya. Membuatnya benar-benar berkeringat. Kevin bahkan sampai melonggarkan dasinya karena napasnya benar-benar sesak.


"Oh, maaf, Pak. Saya nggak dengar," ucap penjual lontong.


"Hm ... Tolong bungkus satu, ya," ucap Kevin.


"Baik, Pak." penjual itu pun mulai menyiapkan lontong sayur pesanan Kevin.


Kevin mengibaskan tangannya ke lehernya, panas sekali rasanya.


"Pak, Saya terharu, lho. Bapak sampai berlari mengejar lontong sayur Saya, padahal sepertinya Bapak pembeli baru, bukan langganan lontong sayur Saya. Dan sepertinya juga, Bapak bukanlah orang biasa," ucap penjual lontong.


"Itu, saat Saya dan Istri Saya di mobil tadi, dia minta dibelikan lontong sayur ini," ucap Kevin.


"Wah, perhatian sekali Bapak ini," ucap penjual lontong.


"Dia sedang hamil, dari pada dia marah-marah karena nggak dapat lontong ini, mendingan Saya belikan," ucap Kevin tersenyum.


Ha-ha-ha ...


Penjual lontong itu tertawa.


"Memang harus begitu, Pak. Kalau tidak, nanti anaknya ngeces kalau tidak keturutan," ucapnya.


"Oh, begitu ya?" Kevin membayar lontong itu begitu sudah siap. Kevin membawanya menuju mobil.


Sesampainya di mobil, Kevin memberikannya pada Melika. Pakaian Kevin acak-acakan, karena berlari tadi. Kemeja dalamnya bahkan sampai keluar dari celananya.


Kevin melihat Melika saat mendengar Melika tertawa.


"Kenapa?" tanya Kevin bingung.


"Mas sampai kusut begini, padahal hanya beli lontong sayur, lho," ucap Melika terkekeh.


Kevin menghela napas.


"Ini semua karena ulahmu, yang benar saja aku harus mengejar penjual lontong sayur itu. Aku sampai ngos-ngosan. Aku kegerahan," ucap Kevin sedikit kesal.


"Itu mungkin faktor U," ucap Melika terkekeh.


"Apa faktor U?" tanya Kevin tak mengerti.


"Faktor Usia, sudah berumur mungkin," ucap Melika terkekeh.


Kevin melotot. Bisa-bisanya Melika mengatakannya sudah berumur. Kevin tak lagi bicara, capek sekali rasanya. Dia menyandarkan kepalanya di kursi dan mobil pun kembali melaju menuju Kantor Jian.