
Hai, hai, kesayangan-kesayangan Author 😍
Mohon maaf, ya, Author hanya bisa update satu bab dulu. Jangan marah, ya, nanti Author kasih lollipop lagi 😌😍😍
Salam sayang, dan peluk, cium dari jauh untuk kalian 😍😍😍
******
Melika mendudukkan dirinya di tempat tidur. Pinggangnya masih terasa sakit karena hempasan tadi.
"Loh, loh. Kamu, kok, bangun? Bukannya tulang punggungmu patah?" tanya Kevin dengan cemas.
Melika memutar bola matanya.
"Pinggangku hanya sakit, bukan patah," ucap Melika.
"Apa? Tapi, tadi kamu bilang patah," ucap Kevin dengan bingung.
"Aku mengatakan pinggangku rasanya akan patah, bukan patah," ucap Melika.
Kevin menghela napas lega karena Melika ternyata baik-baik saja.
"Istirahatlah dulu, jangan banyak bergerak. Aku sudah meminta bibi untuk memanggilkan tukang pijat," ucap Kevin.
Melika mengangguk, dia teringat saat Kevin berteriak memanggil bibi tadi.
Dia pun terkekeh, suaminya itu benar-benar sangat lucu.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tanya Kevin dengan bingung.
Melika tak menjawab pertanyaan Kevin, dia masih terkekeh karena terus teringat kejadian tadi.
"Ayolah, apanya yang lucu?" tanya Kevin dengan mulai kesal.
"Mas, lucu," ucap Melika.
Kevin lagi-lagi dibuat bingung, entah apa yang lucu.
"Mas tahu, saat Mas memanggil bibi, tadi?" tanya Melika.
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Mas sudah seperti melihat kebakaran saja, benar-benar membuat gempar seisi rumah," ucap Melika.
Kevin memutar bola matanya.
"Aku panik, Mel. Harusnya kamu memakluminya," ucap Kevin.
Melika mengangguk, dia senang karena Kevin mencemaskan nya. Namun begitulah Kevin, terkadang suka berlebihan.
Beberapa saat kemudian.
Bibi datang bersama tukang pijat. Seperti permintaan Kevin tadi, bibi membawa tukang pijat perempuan untuk Melika.
"Maaf sebelumnya, katanya Istri Bapak patah tulang? Kenapa tidak di bawa ke Rumah Sakit saja? Bukankah akan lebih baik jika melakukan pemeriksaan sinar x?" ucap tukang pijat.
Kevin tersenyum kikuk dan menatap Melika yang tengah menatap malas padanya.
"Saya pikir, tadinya begitu, ternyata Istri saya baik-baik saja. Dia hanya merasakan sakit. Tolong, pijat dia," ucap Kevin.
Tukang pijat tersenyum dan mengangguk.
"Saya tinggal dulu, kalian bisa mulai pijat," ucap Kevin dan keluar dari kamar.
Melika mulai membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
Dia pun tidur telentang dengan dibalut selimut tipis. Tukang pijat itu pun mulai memijat kaki Melika terlebih dahulu.
"Badannya keras sekali, terlalu kaku. Apa Ibu jarang olahraga?" tanyanya.
"Iya, betul, Bu. Saya jarang olahraga," ucap Melika.
"Oh, pantas,"
Tukang pijat itu pun melanjutkan memijat seluruh tubuh Melika.
Saat memijat bagian perut, tukang pijat itu dapat merasakan sesuatu.
"Bu, sudah berapa lama kalian menikah?" tanyanya.
"Ah, kami pengantin baru," ucap Melika.
"Wah, benarkah? Selamat untuk pernikahannya," ucapnya.
Melika tersenyum dan mengangguk.
"Apa ada rencana menunda anak?" tanyanya lagi.
"Tidak, saya tidak memakai alat kontrasepsi apapun," ucap Melika.
"Iya, sebaiknya jangan. Kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya ibu banyak olahraga. Karena, selain membuat Ibu sehat, juga dapat membuat berat badan Ibu berkurang. Karena, jika terlalu berlebihan, itu akan menghambat Ibu untuk memiliki keturunan," ucapnya.
Melika menghela napas.
Dia memang menginginkan berat badannya berkurang, sebetulnya memiliki tubuh besar seperti itu membuatnya tidak nyaman meski selama ini dia pun percaya diri saja.
Selesai di pijat, tukang pijat itu pamit pulang dan Kevin kembali ke kamarnya.
Dia melihat Melika yang sudah memakai pakaiannya kembali.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Kevin.
Melika mengangguk dan membaringkan tubuhnya.
"Sudah lama aku tidak dipijat, rasanya ringan sekali," ucap Melika.
"Baguslah, kamu istirahat saja," ucap Kevin.
Melika mengangguk dan memejamkan matanya. Dia pun tertidur.
Sementara Kevin kembali sibuk dengan pekerjaannya.
********
Keesokan harinya di meja makan.
"Hari ini, Mas mau pulang jam berapa?" tanya Melika.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Melika.
"Apa, itu?"
"Apa Mas akan mengizinkan aku, jika aku kembali bekerja?" tanya Kevin.
"Tidak," ucap Kevin dengan cepat.
Melika menghela napas.
Bagaimana cara memulai membicarakan tentang permintaan Jian? Pikirnya.
"Kenapa ingin bekerja? Apa uang yang aku berikan kurang? Katakan saja jika memang iya," ucap Kevin.
"Tidak, bukan begitu. Ya sudahlah, jangan dibahas lagi," ucap Melika.
Selesai sarapan, Kevin pun pergi ke Kantor. Sementara Melika membantu bibi membereskan rumah.
Dia memang malas berolahraga, karena itu dia akan mulai dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Lagi pula itupun sudah sama seperti olahraga, membuat tubuhnya berkeringat.
*******
Sesampaiya di Kantor.
Kevin melangkah menuju ruangannya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Pagi, Pak," sapa Karin.
"Pagi," sahut Kevin sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Karin tertegun, untuk pertama kalinya Kevin tersenyum padanya. Biasanya Kevin hanya akan memasang wajah datarnya dan menganggukkan kepala saat Karin menyapanya.
"Dia benar-benar manis sekali," ucap Karin sambil menyunggingkan senyumnya.
Entah apa yang ada di pikiran Karin. Namun Karin semakin kagum melihat atasannya itu. Selain tampan, ternyata Karin baru mengetahui bahwa Kevin juga memiliki senyum yang sangat manis.
Kevin duduk di kursi kebesarannya dan membuka laptopnya. Dia teringat akan client yang mau bekerja sama dengan perusahaannya. Dia memang sudah tahu perusahaan itu, perusahaan yang besar. Melika benar-benar luar biasa karena bisa menarik minat client besar seperti Jian.
Kevin pun tersenyum sambil membayangkan wajah Melika.
"Istri yang serba bisa, benar-benar langka. Aku tak akan menyia-nyiakannya," ucap Kevin.
Dia pun memulai pekerjaannya.
********
Sore hari.
Kevin memasuki rumah dan bergegas menuju kamarnya.
Hari ini dia pulang lebih awal karena belum banyak pekerjaannya.
Setelah dia menandatangani kerjasama dengan clientnya barulah dia akan mulai sibuk kembali, untuk sementara pekerjaannya memang tidak terlalu banyak, untuk pengerjaan di lapangan pun dia hentikan sementara.
"Mel ..!" panggil Kevin.
"Loh, Mas, sudah pulang? Tumben," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan mendekati Melika.
"Ayo, kita dinner di luar, malam ini," ucap Kevin.
Melika mengerutkan dahinya.
"Dalam rangka apa?" tanya Melika dengan bingung.
"Apa harus selalu ada alasan? Aku hanya ingin dinner denganmu," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu, Mas mandi dulu," ucap Melika.
Kevin mengangguk dan pergi menuju kamar mandi.
Sementara Melika menyiapkan baju ganti untuk Kevin.
Beberapa menit berlalu, Kevin keluar dari kamar mandi. Dia tercengang melihat Melika yang sudah tampak cantik menggunakan dress biru muda di atas lutut.
"Kamu cantik banget," ucap Kevin.
Melika tersenyum tipis.
"Baru sadar, ya?" tanya Melika.
"Iya, aku baru sadar. Selain gemuk ternyata Isriku ini, juga cantik," ucap Kevin sambil tersenyum.
"Bisa tidak, jangan bilang begitu?" Melika menatap Kevin dengan malas.
"Kamu memang cantik, kok," ucap Kevin.
"Iya, aku tahu. Aku memang cantik. Tapi, aku tidak gemuk, aku seksi," ucap Melika dengan bangga.
Kevin menghela napas dan tersenyum.
"Iya, kamu seksi. Karena itu, aku kecanduan," ucap Kevin sambil terkekeh.
Melika membulatkan matanya dan menatap Kevin dengan tatapan tajam.
"Wohhh ,,, kenapa perutku dicubit, sih?" Kevin meringis kesakitan saat Melika mencubit perutnya dengan gemas.
"Mesum," ucap Melika.
"Ya ampun, aku hanya mesum pada Istriku. Apa itu salah?" tanya Kevin.
"Salah, isi kepala Mas harus dikuras," ucap Melika.
"Memangnya bak mandi? Kenapa pakai dikuras segala?" ucap Kevin sambil mengusap kepalanya. Dia merasa bingung dengan ucapan Melika.
Melika terkekeh melihat ekspresi Kevin.
"Sudah sana, pakai baju ..!" Melika memberikan baju ganti untuk Kevin.
Kevin pun mengambilnya dan langsung memakainya.