
Kevin tersedak saat tiba-tiba Melika mual di hadapannya. Dia terkejut istrinya itu bisa-bisanya mual seperti itu.
"Ini apaan? Kok nggak enak banget aromanya?" tanya Melika mencoba menutupi hidungnya dan melihat ke arah makanan-makanan tersebut. Melika bahkan memundurkan langkahnya mencoba menjauhi meja yang di atasnya banyak sekali makanan.
"Loh, itukan makanan yang kamu pesan tadi," ucap Kevin bingung.
"Masa, sih? Kenapa baunya nggak enak?" ucap Melika.
"Yang benar saja, ini semua yang kamu pesan tadi," ucap Kevin.
"Tapi baunya nggak enak, aku nggak mau memakannya," ucap Melika.
Kevin membulatkan matanya, bagaimana bisa makanan yang dipesan Melika sendiri, tetapi Melika tak ingin memakannya?
"Lalu, siapa yang akan makan?" tanya Kevin.
"Mas saja yang makan," ucap Melika.
"Ha ... Aku makan sebanyak ini?" ucap Kevin terkejut.
Bayangkan saja, ada beberapa piring makanan dan dia harus memakannya? Dia bukan orang yang rakus, tak mungkin makan sebanyak itu.
"Aku mau minum," ucap Melika.
"Itu minuman kamu," ucap Kevin menunjuk ke arah gelas yang ada di meja.
"Aku nggak mau ke meja itu, baunya nggak enak," ucap Melika.
Kevin menghela napas dan mengambilkan gelas itu untuk Melika. Melika pun langsung meminumnya.
"Mas ... Perutku nggak enak," ucap Melika memelas.
Lagi-lagi Kevin menghela napas.
Ada apa dengan Melika? batin Kevin.
"Pulang yuk!" ajak Melika.
"Apa? Kita belum lama sampai, masa mau pulang," ucap Kevin.
"Ya, gimana dong? Perutku nggak enak, aku mau pulang," ucap Melika sambil mengambil tas tangannya dan meninggalkan ruangan itu.
Kevin menghela napas panjang, dia memanggil pelayan dan meminta membungkus semua makanan yang ada di meja. Setelah itu dia pun membayarnya dan menyusul Melika keluar.
Melika duduk di kursi yang ads di luar ruang vvip, dia menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Pusing, gara-gara makanan tadi," ucap Melika.
"Ya sudah, kamu mungkin kecapekan, kita pulang saja. Kamu istirahat di rumah," ucap Kevin.
Kevin melangkah, tetapi Melika memanggilnya.
"Aku nggak kuat jalan," rengek Melika.
"Ha? Lalu mau gimana? Aku nggak sanggup gendong kamu," ucap Kevin. Kevin tak habis pikir jika harus menggendong Melika, bahkan berat badannya kurang dari berat badan Melika.
"Aku nggak bisa jalan, Mas. Lemas," ucap Melika.
"Ya ampun ... Kamu kenapa, sih? Kamu makannya benar nggak, sih, di Bali kemarin?" tanya Kevin.
Melika mengangguk. Dia teringat pagi tadi telat sarapan.
"Apa aku masuk angin? Tadi pagi aku telat sarapan," ucap Melika.
"Bagus, penyakit dicari sendiri. Lain kali jangan sampai telat sarapan lagi," ucap Kevin kesal.
Melika terdiam dan meminta Kevin mencarikan minyak kayu putih.
"Di mana carinya?" tanya Kevin bingung.
"Aku nggak tahu," ucap Melika.
Kevin memutar otaknya, dia menghampiri kasir dan menanyakan minyak kayu putih. Mungkin salah satu penjaga kasir itu memilikinya.
"Sebentar, Pak. Saya ambilkan dulu," ucap salah satu kasir. Kevin bernapas lega, akhirnya dia tak harus membelinya ke minimarket.
Tak lama penjaga kasir itu datang dan memberikan minyak kayu putih itu pada Kevin. Kevin pun kembali menghampiri Melika dan memberikan minyak kayu putih tersebut.
Melika membukanya dan menghirup aromanya. Dia bernapas lega.
"Sudah lebih baik?" tanya Kevin.
Melika mengangguk dan mereka pun pergi dari restoran tersebut setelah membayar minyak kayu putih penjaga kasir tadi. Ya, Kevin akhirnya membelinya. Meski penjaga kasir tadi tak ingin dibayar, tetapi Kevin memaksanya.
Sesampainya di rumah.
Melika terbaring di tempat tidur. Tubuhnya lemas sekali, kepalanya semakin terasa pusing.
"Aku kok, cemas ya. Kamu mau ke dokter nggak?" tanya Kevin.
"Ya sudah, tidur saja," ucap Kevin.
"Mas ..."
"Ya," sahut Kevin.
"Aku lapar," ucap Melika.
"Nah, kebetulan makanan tadi dibawa pulang. Kamu makan itu saja," ucap Kevin.
Akhirnya makanan itu tidak mubajir, pikir Kevin.
"Aku nggak mau makan makanan tadi," ucap Melika.
"Lalu, mau makan apa? Apa bibi masak?" ucap Kevin.
"Aku mau makan rainbow cake, Mas. Diatasnya ada taburan kacang gitu, duh enaknya," ucap Melika sambil membayangkan kue tersebut.
"Jam segini apa masih ada toko kue yang buka?" tanya Kevin.
"Aku nggak tahu," ucap Melika.
"Oke, aku pesan online saja," ucap Kevin dan membuka ponselnya.
"Mas saja yang pergi, belikan untukku," ucap Melika.
"Ha? Kita baru sampai, masa aku keluar lagi," ucap Kevin.
"Tapi aku maunya Mas yang belikan, so sweet nggak, sih, Istri makan kue yang dibelikan langsung sama Suaminya?" ucap Melika tersenyum penuh harap.
So sweet apanya? Yang ada aku jadi bolak balik, batin Kevin.
Tak habis pikir, Melika seharusnya mengatakan keinginannya saat masih di luar tadi, dengan begitu Kevin tak keluar dua kali.
"Mas ..." rengek Melika.
"Mel kenapa, sih? Pagi tadi kamu nggak semanja ini," ucap Kevin heran.
"Aku lapar. Masa lapar dibilang manja. Katanya jangan sampai telat makan lagi," ucap Melika.
Kevin mengehela napas kasar, dengan kesal dia keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil. Dia pun menggerutu hingga sampai di mobil. Melika benar-benar mengerjainya.
Kevin pergi ke salah satu toko kue, di sana ternyata tak ada rainbow cake. Kebetulan stok saat itu sudah habis. Akhirnya, Kevin pun membeli red velpet dan bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah.
Kevin membawa kue itu dan meletakannya di atas meja makan. Dia naik ke atas memberitahu Melika kuenya sudah datang. Dengan penuh antusias Melika turun menuju meja makan dan membuka kotak kue itu. Dia mengerutkan dahinya karena bukannya rainbow cake, tetapi justru red velpet di dalamnya.
"Ini apa? Kok, red velpet? " ucap Melika heran.
Kevin tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Rainbow cake-nya habis. Dari pada nggak ada, aku belikan red velpet," ucap Kevin.
"Hah ... Mas gimana, sih! Memangnya toko kue hanya satu? Kenapa nggak coba cari di tempat lain?" kesal Melika.
"Mel, bisa nggak, sih. Ngomongnya biasa saja? Aku pikir, karena kamu mau makan kue, jadi aku belikan yang ada. Aku sudah coba belikan kue, kalau kamu menghargai usahaku, kamu makan kue itu saja. Jangan aneh-aneh," ucap Kevin kesal.
Dia tak habis pikir, Melika bisa marah seperti itu hanya karena tak mendapatkan rainbow cake yang dia mau.
"Aku nggak mau makan red velpet, aku mau rainbow cake. Kalau Mas nggak mau beliin, ya sudah aku cari via online saja," kesal Melika dan pergi menuju kamar untuk mengambil ponselnya.
'Dia benar-benar mengerjaiku. Kenapa nggak dari awal saja dia pesan via online? Dari awal aku bahkan sudah menyarankannya,' batin Kevin.
Kevin meminta bibi memasukan red velpet itu ke lemari es, dia pun pergi ke kamar.
"Aku sudah pesan rainbow cake-nya," ucap Melika girang.
"Hm ..." Kevin mengganti pakaiannya dengan pakaian lebih santai. Dia pun tak banyak bicara dan duduk di meja kerjanya yang ada di belakang tempat tidur.
Sementara sambil menunggu rainbow cake-nya datang, Melika pun mengganti pakaiannya dengan piyama.
Beberapa saat berlalu ...
Pesanan rainbow cake Melika akhirnya sampai, Melika pun membukanya dan benar kali ini rainbow cake yang datang.
'Suami memang terkadang tak mengerti keinginan Istri' gumam Melika.
Melika memotong kuenya dan memakannya.
"Enak banget, duh ..." ucap Melika ditengah kunyahannya. Lagi dan lagi dia memakan kue tersebut.
Tak lama Kevin turun menuju meja makan. Mengingat Melika memesan rainbow cake, rasanya enak juga jika dia ikut memakannya.
"Mel! Bagi Mas dong rainbow cake-nya. Tadi Mas juga belum sempat makan malam," ucap Kevin.
"Abis ..." ucap Melika sambil tersenyum tanpa merasa bersalah karena tak menyisakannya untuk Kevin.