
Sore hari.
Melika dan bibi tengah menyiapkan makan malam di dapur. Di tengah kegiatannya terdengar bel rumah.
Melika tersenyum lebar saat melihat seseorang yang tengah mendekat ke arahnya.
"Mama, Papa!" Melika bergegas menghampiri kedua orangtuanya fan memeluk kedua orangtuanya, dia sungguh merindukan orangtuanya. Pandangannya teralihkan saat melihat sang adik memasuki rumah dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.
"Hai, Mbak," sapa Melvin seraya menyunggingkan senyuman.
"Kalian, kok, nggak ngabarin kalau mau datang?" Melika merangkul gemas bahu sang adik.
"Papa kebetulan sedang libur, dan mengajak kita keluar, tapi Mama bilang mampir ke rumah Melika saja," ucap mama Melika.
Melika mengangguk dan mempersilakan keluarganya untuk duduk di ruang tamu, dia meminta bibi untuk menyiapkan minuman.
"Nih, Mbak." Melvin memberikan paper bag yang ada di tangannya kepada Melika.
"Apa ini, Dek?" tanya Melika.
"Kado pernikahan buat Mbak. Maaf baru kasih kado sekarang, maklum pelajar harus ngumpulin uang dulu buat beli kado," ucap Melvin.
Melika tersenyum dan mengacak rambut Melvin yang sudah tertata rapi itu.
"Thanks, Dek," ucap Melika.
"Mbak apa, sih? Aku bukan anak kecil lagi, ya. Aku sudah besar, Mbak!" kesal Melvin.
"Besar apanya? Masih kecil begini," ejek Melika.
"Si Mbak sok tahu. Aku sudah besar, bahkan sudah besar segala-galanya, Mbak," ucap Melvin ambigu.
"Halah, gaya banget, sih, anak kecil," ejek Melika lagi sambil kembali mengacak rambut Melvin.
"Mbak, cukup! Apa perlu bukti, nih, nanti yang ada Mbak nyesel lagi, karena punyaku lebih besar dari pada punya Mas Kevin," ucap Melvin.
Melika dan kedua orangtuanya terperangah mendengar apa yang Melvin katakan.
"Dek, yang sopan bicaramu!" ucap mama.
"Dari mana nggak sopannya, Ma? Ade rasa bicara ade normal-normal saja," ucap Melvin.
"Itu, jaga bicaramu. Jangan ngomongin besar-besar lagi. Jorok, masih kecil juga!" kesal Melika.
"Lah, kenapa? Otot aku lebih besar, kok, dari mas Kevin. Nih, lihat." Melvin menunjukkan otot tangannya pada semua orang yang ada di ruangan itu.
Wajah Melika memerah, dia sudah salah sangka dan menyangka adiknya itu tengah bicara macam-macam.
"Haduh, aura yang sudah menikah memang berbeda, ya," ucap Melvin.
"Apanya yang berbeda?" tanya Melika dengan bingung.
"Iya, terlihat aura-aura kemesuman tingkat akut," ucap Melvin.
Melika membulatkan matanya, dia merasa malu di ejek oleh adiknya yang masih duduk di bangku SMA itu.
"Aku pulang." Melika melihat ke arah Kevin saat terdengar suara Kevin yang baru saja memasuki rumah.
"Loh, Ma, Pa, kalian ada di sini?" Kevin menghampiri Mama dan Papa mertuanya itu dan menyapa mereka.
"Iya, Nak, kami belum lama sampai," ucap mama Melika.
Kevin mengangguk dan melihat ke Melika tengah tersenyum padanya.
"Aku ke atas dulu, mau bersih-bersih dulu," ucap Kevin dan berlalu menuju kamarnya.
"Aku ke atas sebentar ya, Ma, Pa," ucap Melika.
Mama dan papa Melika mengangguk. Melika pun bergegas menyusul Kevin ke kamarnya dengan membawa serta paper bag yang di berikan oleh Melvin.
Sesampainya di kamar, Melika melihat Kevin tengah duduk di sofa seraya memejamkan matanya. Terlihat sekali raut wajah lelah Kevin.
"Mas!" panggil Melika.
Kevin melihat Melika dan tersenyum kecil.
"Mau mandi sekarang?" tanya Melika.
Kevin menghela napas dan mengangguk.
" Ya sudah, aku siapkan baju dulu," ucap Melika.
Kevin mengangguk, dia terus memperhatikan Melika yang tengah mengambilkan baju ganti untuknya.
"Mel!" panggil Kevin.
"Ya?" sahut Melika.
"Itu apa?" tanya Kevin seraya melihat paper bag yang sudah berada di atas meja rias.
"Oh, itu kado dari Melvin. Katanya dia baru punya uang untuk membeli kado pernikahan," ucap Melika.
"Ya ampun, sepertinya dia sayang sekali sama kamu," ucap Kevin.
"Ya, begitulah, Mas. Kami saling menyayangi," ucap Melika kemudian tersenyum.
Kevin mengangguk dan bangun dari duduknya.
"Aku akan mandi, kamu temani mama dan papa. Aku nggak lama, kok," ucap Kevin.
"Di mana Kevin?" tanya Papa Melika.
"Lagi mandi, Pa," ucap Melika.
Papa Melika mengangguk.
***
Waktu berlalu, Kevin turun menuju ruang tamu.
"Lho, kalian belum memulai makan malam?" tanya Kevin.
"Nunggu tuan rumah, Mas," ucap Melvin seraya menyunggingkan senyum nyelenehnya.
"Oh ya? Melika pun tuan rumah di rumah ini, kenapa kamu nggak mengajak mama dan papa makan malam duluan?" Kevin melihat Melika seraya mengerutkan dahinya.
"Kami yang mau, memangnya salah kalau kami mau makan dengan menantu kami?" tanya papa Melika.
Kevin tersenyum dan menggeleng.
"Tentu tidak, hanya saja takutnya kalian menunggu terlalu lama," ucap Kevin.
"Tidak, Nak, lagi pula ini masih jam segini," ucap mama Melika.
Mereka pun langsung memulai acara makan malam mereka.
"Oh ya, Vin, apa kalian tidak ada rencana untuk bulan madu?" tanya mama Melika.
Kevin melihat Melika dan menyodorkan gelas minumnya ke arah Melika, meminta Melika agar mengisi air di gelas miliknya. Melika pun menuangkan air minum dan Kevin langsung menenggaknya.
"Kenapa memangnya, Ma?" tanya Kevin.
"Ya, biasanya pengantin baru akan melakukan bulan madu, bukan?" ucap mama Melika.
"Mas Kevin sibuk, Ma," ucap Melika.
"Benarkah? Apa pekerjaanmu sesibuk itu?" tanya papa Melika.
"Ya, cukup sibuk. Ada proyek yang akan segera berjalan, jadi sedang sibuk-sibuknya," ucap Kevin.
"Tidak apa-apa, kamu pun sibuk karena sudah menjadi tuntutan pekerjaan. Yang terpenting, kalian harus tetap menjaga komunikasi dengan baik," ucap mama Melika.
"Tentu, Ma," ucap Kevin.
"Mas, nanti ingatkan Mbak Melika buat pakai kado dari aku, ya," ucap Melvin.
"Memangnya, apa isi kadonya?" tanya Kevin bingung.
"Pokonya, Mas akan suka," ucap Melvin kemudian tersenyum penuh arti.
"Sudahlah anak kecil, habiskan makanmu," ucap Melika.
"Baiklah anak besar, aku akan menghabiskan makananku," ucap Melvin seraya terkekeh geli karena melihat Melika tengah membulatkan matanya.
Kevin pun ikut terkekeh mendengar ucapan adik iparnya itu.
Dugh!
"Aw!"
Kevin meringis kesakitan saat tiba-tiba Melika menendang kakinya. Melika pun menatap Kevin dengan tajam.
"Kenapa?" tanya papa Melika sambil menatap Kevin.
"Habis di seruduk Badak, Pa," celetuk Kevin.
Semua orang mengerutkan dahinya tetapi tidak dengan Melika yang justru menatap Kevin semakin tajam.
Melvin pun terkekeh seolah mengerti dengan apa yang Kevin katakan.
***
Waktu berlalu, orangtua Melika sudah kembali ke rumahnya. Di kamarnya, Melika membuka paper bag yang di berikan oleh Melvin.
'Apaan, nih?' gumam Melika.
Melika membulatkan matanya saat melihat lingerie berukuran jumbo berwarna hitam dan transparan di bagian perutnya.
'Astaga, anak nggak sopan. Dari mana dia punya ide liar begini?' gumam Melika syok.
Dia tak habis pikir pada adik laki-lakinya itu, bisa-bisanya Melvin memberikannya lingerie seperti itu. Melika mengambil sebuah kartu ucapan.
'Jangan lupa di pakai ya, Mbak. Kata Pak Ustadz, menyenangkan suami pahalanya besar, lho...'
Melika menelan air liurnya, dia melihat lingerie itu dan teringat akan kejadian semalam saat dia dan Kevin gagal melakukan malam pertama. Melika menghela napas kasar dan bangun dari duduknya.
"Oke, ikuti saran pak Ustadz," ucap Melika dengan mantap dan bergegas menuju kamar mandi untuk memakai lingerie itu.
Setelah beberapa saat, Melika mulai keluar dari kamar mandi.
"Ya ampun!" Kevin yang baru saja memasuki kamar begitu terkejut melihat penampilan Melika. Melika yang tak kalah terkejut pun segera berlari ke kamar mandi.
"Mas, apa-apaan, sih? Ngagetin saja!" teriak Melika dari dalam kamar mandi.
Sementara Kevin mengusap dadanya yang masih berdegup kencang karena melihat tubuh besar Melika yang hampir polos karena lingerie itu benar-benar transparan.