My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 40



Keesokan harinya.


Melika mengantar Kevin menuju garasi setelah Kevin selesai sarapan.


"Doakan aku, semoga urusanku lancar hari ini," ucap Kevin.


"Iya, Mas. Hati-hati, ya," ucap Melika.


Kevin mengangguk dan masuk ke dalam mobil, dia pun melajukan mobilnya menuju kantor.


Melika terus memperhatikan mobil Kevin hingga benar-benar tak lagi terlihat oleh pandangannya.


Melika bergegas menuju kamar dan mengambil tas serta proposal yang sudah dia siapkan dan dia print sebelumnya.


Dia pun melajukan mobilnya menuju perusahaan tempat dia bekerja dulu.


******


Beberapa menit berlalu, Melika pun sampai di gedung perkantoran yang berada di Daerah Jakarta Selatan.


Dia bergegas menyerahkan KTP nya pada resepsionis gedung itu dan bergegas menuju lift begitu dia mendapatkan kartu masuk.


Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, Melika sengaja datang lebih awal karena tahu mantan atasannya itu sudah datang di jam tersebut. Melika sudah hafal betul atasannya itu selalu datang on time dan tak pernah terlambat, benar-benar menghargai waktu.


Ting !


Pintu lift terbuka, Melika menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Dia pun melangkahkan kakinya menuju unit kantor tempat dia bekerja dulu.


Tak seperti kantor Kevin, kantor atasan Melika kantor yang lebih luas.


"Hai, Mel ..!" Seorang wanita cukup manis pertama kali menyambut Melika begitu Melika menghampiri resepsionis.


"Hai, Rin," sahut Melika dan mereka pun saling berjabat tangan.


Melika mengenal Arin saat masih bekerja di perusahaan tersebut. Arin adalah resepsionis di kantor tersebut.


"Apa Pak Jian sudah datang?" tanya Melika.


"Kamu ke sini mau ketemu Pak Jian? Dia sedang ada perjalanan bisnis ke Bali," ucap Arin.


Melika menghela napas, dia lemas mendengar mantan atasannya tak ada di kantor.


"Kira-kira, kapan Pak Jian kembali?" tanya Melika.


"Belum tahu, karena dia pun sekalian liburan di sana," ucap Arin.


"Duh, belum pasti, ya?" Melika tak bisa menunggu hal yang tak pasti.


Arin pun mengangguk.


"Biasa, dia mau sekalian lihat bule-bule pakai bikinii," biskk Arin.


Melika pun tersenyum.


Jian adalah pengusaha muda dan tampan. Ya, Jian Baskara. Pria tampan dan memiliki postur tubuh tinggi serta berkulit putih. Dia berusia 35 tahun namun di usianya itu sudah mencapai banyak prestasi di dunia bisnis. Perusahaannya terkenal dan termasuk perusahaan besar. Namun sayangnya dia pria yang mencintai dunia malam dan tak tertarik untuk menikah, karena itu dia hanya senang bermain-main dengan para wanita.


Melika tak mungkin menunggu sesuatu hal yang tak pasti.


Meski pun begitu, dia memang benar-benar tak punya pilihan lain selain pada mantan atasannya itu.


"Memangnya ada urusan apa, Mel?" tanya Arin.


Melika tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, hanya saja aku merindukan wajah tampannya," ucap Melika dengan sembarang.


Arin terkekeh dan baru menyadari bahwa saat ini Melika berpenampilan layaknya seperti dia menjadi sekretaris dulu.


"Apa kamu mau melamar sebagai sekretaris Pak Jian lagi?" tanya Arin dengan tatapan penuh selidik.


"Kenapa emang?" tanya Melika.


"Kamu rapi sekali, aku baru sadar setelah aku perhatikan," ucap Arin sambil terus memperhatikan penampilan Melika.


Melika memang memakai pakaian kasual layaknya saat masih bekerja menjadi sekretaris.


"Memangnya Pak Jian belum dapat sekretaris lagi?" tanya Melika.


"Sudah ada kok," ucap Arin.


Melika mengangguk.


Dia pun pamit pada Arin dan pergi dari kantor tersebut.


*******


Sementara di sisi lain, Kevin tengah berada di salah satu perusahaan.


Dia tengah mengajukan proposal proyeknya pada perusahaan itu, dia pun menjelaskan detail proyek itu.


"Sebetulnya proyek ini bagus sekali, tetapi anda tahu sendiri, bukan? Saat ini proyek lain pun sedang berjalan. Saya tidak bisa fokus dengan beberapa proyek sekaligus. Mungkin, lain kali kita akan bekerja sama untuk proyek yang lebih besar lagi," ucap pemilik perusahaan.


Kevin mencoba merayunya sekali lagi, menjelaskan beberapa keuntungan di dalamnya. Dia berharap perusahaan kedua ini mau bekerja sama dengannya, karena perusahaan yang sebelumnya dia datangi menolak pengajuan proposal proyek kerjasama yang dia tawarkan.


Namun lagi-lagi perusahaan kedua ini tak berminta bekerja sama dengan perusahaannya.


Sebisa mungkin Kevin mencoba menyunggingkan senyumnya. Dia tak bisa memaksakan perusahaan itu agar mau bekerja sama dengannya. Bagaimana pun dia harus tetap profesional.


Setelah selesai dengan urusannya, dan lagi-lagi ajuan proposal nya gagal Kevin pun kembali ke kantornya.


Kevin menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruangannya. Dia memejamkan matanya, dia teringat saat awal mula dia memulai bisnisnya dan sepertinya sejarah terulang lagi.


Dulu sekali, dia begitu kesulitan mendapatkan partner kerjasama, dia harus mendatangi beberapa perusahaan untuk mengajukan proposal bisnis. Dan itu memang sulit sekali dia lewati, tak mudah untuk berada di titik saat ini.


Apa iya dia harus merelakan perusahaannya hancur begitu saja? Pikirnya.


Kevin benar-benar pusing saat ini, dia bingung harus berbuat apa.


Dia pernah mendengar ada salah satu mantan client nya yang menjadi tidak waras karena perusahaannya bangkrut, entah mengapa dia jadi kepikiran dirinya akan menjadi tidak waras juga jika sampai perusahaannya bangkrut. Pasalnya, dia mendirikan perusahaannya dengan mengorbankan banyak hal. Waktu, pikiran, tenaga, dan uang yang tak sedikit tentunya.


Tapi bukan hal itu yang dia takutkan. Kini dia adalah seorang kepala keluarga. Dia memiliki tanggung jawab lain yang harus dia penuhi.


Kini hidup Melika bergantung padanya, apa mungkin dia harus mengajak Melika hidup susah bersamanya jika perusahaannya memang harus mengalami kebangkrutan?


Kevin mengusap wajahnya dengan kesal. Dia teringat wajah Prischa, sekali lagi wanita itu menghancurkan kehidupannya.


Brak ..!


Kevin menendang meja di hadapannya.


"Sial ..! Wanita macam apa dia itu? Kenapa aku bisa mencintai wanita gila seperti dia?" ucap Kevin dengan kesal.


Penyesalan memang tak datang di akhir. Meski terlambat untuk menyesali semuanya, tapi Kevin memang menyesal telah mencintai wanita yang salah.


Dulu dia terpikat karena kecantikan dan kecerdasan Prischa. Namun nyatanya Prischa tidak secantik parasnya, hatinya benar-benar jahat.


Setidaknya itulah yang kini ada di pikiran Kevin. Dia benar-benar membenci Prischa, dia pun berharap setelah itu perasaannya untuk Prischa akan benar-benar menghilang di hatinya dan bisa mencintai Melika sepenuhnya.


********


Pukul enam sore.


Dengan langkah malas Kevin memasuki rumah, dia menghampiri Melika yang tengah menyiapkan makan malam di meja makan.


"Huh." Kevin mengembuskan napas lelahnya, dia memijit kepala yang terasa berat.


"Eh, Mas. Sudah pulang?" Melika mengambilkan air minum dan memberikannya pada Kevin.


"Mas lelah sekali kelihatannya," ucap Melika.


"Benarkah?" Kevin menenggak air minumnya hingga tak tersisa.


Melika menatap suaminya itu dengan kasihan.


Dia sedih melihat Kevin terlihat begitu lelah, sebagai istri, tentunya dia tak ingin diam saja melihat keadaan suaminya itu. Namun saat ini tak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu atasannya itu kembali ke perusahaan.


"Masih ada esok hari," ucap Melika sambil mencoba tersenyum.


Kevin tersenyum tipis dan mengangguk.


"Aku lapar, mau makan," ucap Kevin.


Melika mengangguk dan menyiapkan makan malam untuk Kevin di piring.


"Suapin," ucap Kevin sambil tersenyum lebar.


Melika terkekeh dan menyendokkan makan ke mulut Kevin.


Kevin pun menyambutnya dengan antusias.


"Kamu wanita kedua yang menyuapiku makan," ucap Kevin.


Melika mengerutkan dahinya.


"Jadi, siapa yang pertama? Apa mbak Prischa?" tanya Melika sambil menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik.


Kevin pun menggelengkan kepalanya.


"Mama, dia wanita pertama menyuapiku. Aku tidak ingat pasti, tapi papa bilang mama selalu menyuapiku saat kecil dulu," ucap Kevin.


Kevin memang tak ingat pasti moment-moment dengan sang mama, karena dia masih kecil saat itu. Mamanya bahkan meninggal saat dia masih berusia tiga tahun.


"Aku yang akan menggantikannya mulai sekarang, aku akan menyuapi kamu terus kalau kamu mau," ucap Melika sambil tersenyum.


Kevin menatap dalam ke arah mata Melika.


"Apa kamu akan tetap tinggal jika aku tidak memiliki apapun lagi?" tanya Kevin.


Melika menatap Kevin dengan tatapan sedih, dia tahu arah pembicaraan Kevin.


"Ya, aku akan tinggal selamanya di sisi Mas," ucap Melika.


"Sungguh? Walau aku tidak memiliki perusahaan dan banyak uang lagi?" tanya Kevin.


Melika mengangguk dan tersenyum.


"Uang bukan segalanya, meski segalanya membutuhkan uang. Tetapi keluarga yang paling penting, dan Mas yang terpenting saat ini. Aku akan mendukungmu apapun keadaan mu," ucap Melika dengan penuh keyakinan.


"Aku pikir semua wanita ingin selalu hidup enak dan bergelimang harta," ucap Kevin.


"Ya, tidak munafik. Semua orang tentu ingin seperti itu. Tapi, aku terbiasa hidup sederhana sejak kecil. Papa mendidik kami anak-anaknya dengan kesederhanaan, jadi aku tidak akan terkejut dengan semua itu," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan mengusap pipi Melika.


"Maafkan aku," ucap Kevin.


"Maaf untuk apa?" tanya Melika dengan bingung.


"Maafkan aku belum bisa memberikan cinta yang sepenuhnya," batin Kevin.


"Maaf jika aku belum bisa membahagiakan mu," ucap Kevin.


"Tidak, aku bahagia. Aku sangat bahagia bisa hidup dengan Mas," ucap Melika.


"Aku juga," ucap Kevin.


Melika pun tersenyum dan kembali menyuapi Kevin.


********


Pukul sepuluh malam.


Kevin masih sibuk dengan pekerjaannya, dia mencoba merevisi proposal yang dia buat kemarin. Mungkin proposal nya itu kurang menarik sehingga perusahaan-perusahaan yang dia datangi tadi siang tidak tertarik untuk berkerjasama dengannya.


Sementara Melika pun sibuk dengan laptopnya, dia mengirimkan berkas proposal yang dia buat kemarin kepada mantan atasannya melalui email. Dia tak bisa menunggu sampai atasannya itu kembali karena tidak ada kepastian kapan akan kembali.


Melika menghela napas lega begitu selesai mengirimkan proposal itu, dia pun menutup laptopnya.


*******


Keesokan harinya.


Melika dan Kevin tengah sarapan, di tengah kegiatan mereka, terdengar suara dering dari ponsel Melika.


Jantung Melika berdegup kencang begitu melihat nama atasannya yang ternyata menghubunginya.


"Maaf, Mas. Aku angkat telepon sebentar," ucap Melika.


Kevin mengerutkan dahinya, karena Melika mengangkat telepon itu setelah menjauh darinya.


Namun Kevin tak ingin berpikir yang tidak-tidak, dia pun melanjutkan sarapannya.


"Halo, Mel," ucap Jian.


"Halo, Pak. Apa kabar?" tanya Melika.


"Kabar baik, itu proposal yang kamu kirim semalam, apa dari perusahaan suami kamu?" tanya Jian.


"Betul, Pak. Apa Bapak tertarik?" tanya Melika.


"Datanglah ke Kantor dua hari lagi dan bawa salinan persentasi nya. Saya akan pulang ke Jakarta," ucap Jian.


"Baik, Pak. Saya akan datang tepat waktu," ucap Melika dengan antusias.


"Ya sudah, sampai bertemu dua hari lagi," ucap Jian.


Selesai berbicara di telepon, Melika pun kembali ke meja makan.


"Sudah?" tanya Kevin.


"Sudah," ucap Melika.


"Telepon dari siapa?" tanya Kevin.


"Bukan dari siapa-siapa," ucap Melika sambil tersenyum.


Melika tak ingin memberitahu Kevin terlebih dahulu, dia tak ingin memberikan harapan pada Kevin karena semuanya masih belum pasti. Dia belum tahu mantan atasannya itu akan tertarik atau tidak.


"Aku berangkat ke Kantor dulu, tapi aku mau mampir ke lokasi proyek dulu," ucap Kevin.


"Iya, semoga beruntung ya, Mas," ucap Melika dan mencium punggung tangan Kevin.


Cup.


Melika tertegun saat Kevin mencium pucuk kepalanya.


"Sampai ketemu nanti malam," ucap Kevin dan bergegas menuju mobilnya.


Melika masih diam dengan pandangan tak lepas dari Kevin yang mulai melajukan mobilnya.


Pertama kalinya Kevin menciumnya saat akan pergi ke Kantor.


Melika pun tersenyum lebar dan merapikan meja makan sambil bernyanyi-nyanyi layaknya orang yang tengah kasmaran.


"Apa ini jatuh cinta? Rasanya indah sekali," batin Melika.


Sepertinya semakin hari dia mulai menyadari akan perasaannya sendiri. Dia yakin telah jatuh cinta pada Kevin meski sebelumnya sempat ragu dengan perasaannya sendiri.


Namun semakin hari melihat sikap Kevin yang begitu manis padanya, dia pun tak bisa menolak datangnya perasaan itu.