My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 45



Kevin tersenyum saat tahu cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Dia bahagia, untuk kedua kalinya dia merasakan perasaan itu setelah cukup lama tak bisa berpaling dari masa lalunya.


"Terimakasih," ucap Kevin sambil tersenyum.


Melika tersenyum, entah sudah berapa kali Kevin mengucapkan kata terimakasih padanya. Meski begitu, dia pun bahagia karena akhirnya dia mendapatkan cinta Kevin.


"Melika ..!"


Seseorang menghampiri Melika dan Kevin.


"Pak Jian?" Melika melihat ke arah Jian yang ternyata ada di restauran yang sama dengannya. Namun Melika merasa aneh karena Jian tidak datang dengan seorang wanita, melainkan hanya sendiri. Melika tahu betul Jian tak akan bisa makan malam jika tak ditemani seorang wanita.


"Dia suamimu?" Jian menunjuk ke arah Kevin.


"Iya, Pak. Perkenalkan, dia suami saya." Melika melihat Kevin dan Jian bergantian.


Kevin pun bangun dari duduknya dan menyodorkan tangannya.


"Kevin," ucap Kevin.


"Saya Jian," ucap Jian sambil menyambut tangan Kevin.


"Senang bertemu dengan anda," ucap Kevin sambil tersenyum.


"Terimakasih, kalian lanjut saja" ucap Jian.


"Kenapa tidak bergabung saja? Kita bisa sambil mengobrol," ucap Kevin.


"Benarkah? Apa saya tidak akan mengganggu acara makan malam kalian?" tanya Jian.


"Tentu saja tidak," ucap Kevin.


Jian tersenyum dan menarik kursi, dia pun duduk bersama Kevin dan Melika.


"Saya sudah mendengar banyak tentang anda dari Melika, saya sungguh senang, karena kita akan bekerja sama," ucap Kevin.


"Benarkah? Apa Melika juga mengatakan bahwa saya pernah menggodanya, dulu?" tanya Jian sambil menatap serius ke arah Kevin.


Kevin mengerutkan dahinya dan menatap Melika. Melika tak pernah mengatakan semua itu. Melika pun ikut bingung dengan apa yang Jian katakan, seingatnya dia tak pernah mendengar Jian menggodanya.


Jian terkekeh melihat ekspresi Kevin dan Melika.


"Kalian lucu sekali, terlihat tegang. Padahal, saya hanya bercanda," ucap Jian.


Kevin tersenyum tipis, Melika pun ikut tersenyum. Dia memang mengetahui sisi lain dari mantan atasannya itu. Selain tegas, Jian pun terkadang senang bergurau.


"Ternyata, anda orang yang senang bercanda," ucap Kevin.


Jian mengangguk sambil tersenyum.


Dia pun memanggil pelayan dan memesan makan malam.


"Jadi, jam berapa kita akan bertemu besok?" tanya Kevin.


"Setelah jam makan siang, datanglah ke Kantor saya bersama Melika," ucap Jian.


Kevin mengangguk.


"Oh, ya, Mel. Jadi, kapan kamu bisa mulai kerja di Kantor saya?" tanya Jian.


Melika menatap Jian dan Kevin bergantian, Jian justru membahas semua itu di saat dia bahkan belum mengatakan apapun pada Kevin.


"Maksud anda?" Kevin menatap bingung ke arah Jian.


"Loh, Melika belum mengatakan apapun? Apa dia tidak bilang? Saya memintanya untuk bekerja kembali di Kantor saya," ucap Jian.


Kevin menatap Melika, seolah meminta jawaban dari apa yang dia dengar dari Jian.


"Kesepakatan apa?" tanya Kevin dengan bingung.


Jian menghela napas perlahan.


"Biar saya yang akan menjelaskan," ucap Jian.


Jian pun menjelaskan maksudnya meminta Melika untuk bekerja kembali di perusahaan nya, dia juga mengatakan akan membantu Kevin menyelesaikan masalahnya dengan Prischa.


"Maaf, Pak Jian. Saya  merasa keberatan. Istri saya bukan barang yang bisa dijadikan alat untuk sebuah kesepakatan," ucap Kevin.


"Saya tidak menganggapnya seperti itu, saya hanya meminta jasanya. Tidak lama, hanya sampai urusan saya selesai. Setelah itu, dia bebas jika ingin keluar dari perusahaan saya," ucap Jian.


Kevin bangun dari duduknya, dia menghela napas berat.


"Maaf, tetapi masalah ini, saya akan selesaikan sendiri," ucap Kevin.


"Anda yakin? Saya hanya menawarkan kesepakatan yang sama-sama menguntungkan untuk kita," ucap Jian..


"Apapun itu, saya tidak bisa membiarkan Istri saya menjadi alasan kesepakatan kita," ucap Kevin.


"Saya bisa melenyapkan barang bukti saat Melika membuat masalah dengan mantan kekasih anda," ucap Jian.


Kevin mengerutkan dahinya, dia tak menyangka ternyata Melika justru menceritakan masalahnya kepada Jian.


"Saya bisa menyelesaikan masalah ini, sendiri," ucap Kevin.


"Benarkah? Saya rasa, tidak," ucap Jian dengan yakin.


"Anda meremehkan saya?" Kevin menatap tajam ke arah Jian.


Melika yang dapat merasakan aura panas dari ekspresi Kevin pun mencoba menenangkan Kevin.


"Mas, tenang dulu, oke," ucap Melika sambil memegang tangan Kevin.


"Dengarkan dulu penjelasan Pak Jian," ucap Melika.


Kevin duduk kembali, dia mencoba bersikap tenang dan tak terbawa emosi. Jujur saja, dia tak dapat menerima jika Melika harus menjadi alasan dari kesepakatan mereka.


"Baiklah, karena kita akan menjadi partner bisnis. Saya akan mengatakan ini," ucap Jian.


Kevin dan Melika saling tatap, entah apa yang akan Jian katakan.


"Saya memiliki saham cukup besar di perusahaan yang di pimpin oleh mantan kekasih anda, Prischa Atma Wijaya. Di antara pemegang saham lainnya, sayalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaan AW group. Saya bisa dengan mudah mendapatkan bukti-bukti itu. Dengan begitu, mereka tak akan memiliki bukti tentang kekerasan yang Melika lakukan. Bukannya ingin meremehkan anda, tetapi anda tidak punya akses ke perusahaan AW group, karena saya yakin, hubungan anda dan Prischa tidaklah baik, saat ini. Bayangkan saja, kapan saja Prischa bisa menggunakan bukti itu, dan sudah bisa dipastikan Melika akan masuk penjara," ucap Jian.


Kevin menarik napas dalam. Dia merasa apa yang dikatakan Jian memanglah benar. Dia tak mungkin mengambil bukti rekaman itu dari Prischa. Jangankan bertemu dengan Prischa, mendengar namanya saja sudah membuatnya kesal.


Kevin menatap Melika, dia tak ingin Melika sampai berakhir di penjara.


"Bagaimana denganmu?" tanya Kevin pada Melika.


"Aku takut masuk penjara, Mas. Aku tahu, aku salah, waktu itu. Tapi, aku tidak akan melakukannya jika dia tidak memancingku duluan," ucap Melika dengan lemas.


Sejujurnya tak hanya takut di penjara, Melika pun ingin memberikan pelajaran pada Prischa, karena sudah membuat Kevin kesulitan saat itu. Melika bahkan ingat betul saat Kevin mengabaikannya karena masalah yang Kevin hadapi.


"Pikirkan baik-baik, saya tahu kalian pengantin baru. Akan sangat tidak lucu, jika Melika harus berakhir di penjara dan anda harus tidur sendiri di ranjang pengantin," ucap Jian sambil tersenyum tipis.


Kevin menarik napas dalam, dia benar-benar bingung saat ini.


"Tolong, berikan saya waktu," ucap Kevin.


"Pikirkan lah malam ini, besok saya tunggu jawaban anda," ucap Jian.


Kevin hanya diam, dia benar-benar tak tau harus berbuat apa. Dia tak ingin Melika bekerja lagi, tetapi dia pun tak ingin Melika berakhir di penjara.