My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 66



Jian menenggak habis minuman dinginnya. Namun, tidak. Hasratnya tak juga mereda.


Astaga! Bagaimana ini? gumamnya.


Kebodohannya, dia harus melakukan semua itu di dalam ruangannya. Shubuh tadi, sepulangnya dia dari salah satu klub, dia tak pulang ke rumahnya dikarenakan paginya akan ada tiga bulanan bersama beberapa client-nya di kantornya. Tentu, waktunya akan terbuang habis jika dia harus pulang ke rumah. Bodohnya, dia membawa seorang wanita ke kantornya untuk memuaskan hasratnya. Tak sampai di situ, tak memikirkan resiko yang akan dia dapat, dia justru melakukannya dengan terburu-terburu tanpa melihat situasi. Dia pun melupakan sesuatu.


Ya, dia melupakan hari ini adalah hari pertama Melika kembali bekerja. Sudah tak heran jika Melika akan nyelonong masuk ke ruangannya. Tentu saja dia sudah mengenal Melika, sejak dulu saat masih bekerja dengannya, Melika memang selalu datang lebih awal dari pada dirinya.


Jian menghela napas berat, kepalanya terasa pusing. Dia pun memilih pergi dari pantry dan kembali ke ruangannya.


Sesampainya di ruangan, dia melihat Melika tengah merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


"Apa habis ada angin ****** beliung? Berkas-berkas ini berantakan sekali," ucap Melika sembarang. Pagi itu, memang tak ada cleaning service yang membersihkan ruangannya, dikarenakan dia sempat membuat pesan pada security agar tak ada yang menganggunya. Hanya saja, sepertinya security lupa menyampaikannya pada Melika.


Jian mendudukan dirinya dikursi kebesarannya. Kemejanya dibiarkan acak-acakan dengan tiga kancingnya yang dibiarkan terbuka.


"Kepala Saya sakit sekali," ucap Jian sambil memijat kepalanya.


"Sepertinya, Bapak butuh menyegarkan tubuh," ucap Melika.


Jian menghela napas lelah. Tidak bukan karena hasratnya, hasratnya bahkan sudah mulai mereda. Namun, dia merasa pusing karena tak tidur semalaman. Tanpa mengatakan apapun, Jian pergi menuju ruang pribadinya dan membersihkan tubuhnya yang sempat berkeringat akibat aktivitasnya tadi.


Sedangkan Melika yang sudah selesai merapikan berkas-berkas di meja Jian pun memilih duduk di kursinya dan mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada Kevin, memberitahu Kevin bahwa dia sudah berada di kantro Jian. Namun, ponsel Kevin mati. Sehingga pesan itu hanya berstatus centang satu.


Beberapa menit berlalu, Jian pun keluar dengan stelan kantornya. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat penampilannya tampak sempurna. Dia memang tampan, tentu orang tampan akan tetap tampan menggunakan apa saja, terlebih jika memakai pakaian formal.


Jian duduk dikursinya, tubuhnya sudah segar, pikirannya pun menjadi segar. Dia memanggil Melika dan memberikan sebuah tab pada Melika.


"Di dalam tab itu, adalah jadwal kerja Saya. Kamu bisa pelajarinya. Pukul sembilan nanti, akan ada meeting bersama para investor. Pelajari juga laporan perusahaan selama tiga bulan kemarin," ucap Jian.


Melika mengambil tab itu, dan melihat jam yang mingkar ditangannya. Sudah pukul delapan lewat lima belas menit, itu artinya dia hanya memiliki waktu setidaknya 45 menit untuk mempelajari semua berkas laporan itu.


Melika pun kembali ke mejanya dan mulai mempelajari berkas yang Jian berikan.


*****


Kevin membuka matanya saat tidurnya terganggu oleh pantulan sinar matahari yang menembus kaca jendela kamarnya.


Siapa yang mengganggu tidurku? gumam Kevin. Seingatnya, Melika sudah pergi ke kantor, dan asisten rumah tangganya tak akan berani masuk ke kamarnya jika tanpa izinnya.


Dengan perlahan Kevin membuka matanya, kepalanya terasa sakit karena dia baru tidur sebentar. Kevin mengerjapkan matanya dan melihat seorang wanita tengah berdiri menatapnya yang masih terbaring di tempat tidur.


"Surprise!" ucap wanita itu sambil menunjukan sebuah paper bag kecil ke hadapan Kevin.


Sontak Kevin terkejut melihat wanita itu. Ya, siapa lagi jika bukan Prischa?


"Ngapain kamu di rumahku? Lancang sekali masuk ke kamarku!" bentak Kevin.


"Ayolah, Sayang. Aku datang baik-baik membawakan mu sarapan," ucap Prischa.


Kevin menghela napas kasar. Prischa benar-benar sudah gila, pikirnya. Berani sekali Prischa datang ke rumahnya. Beruntunglah pagi itu Melika sudah tak berada di rumah. Jika tidak, Melika akan tahu masalahnya dan dia tak tahu akan menjelaskan apa pada Melika. Sungguh, saat ini dia belum siap memberitahu Melika tentang masalahnya.


"Jangan diulangi lagi, atau aku akan melaporkan mu ke Polisi karena sudah mengganggu ketenangan orang lain!" tegas Kevin.


Prischa mengerucutkan bibirnya, dia pun meletakan paper bag yang ada di tangannya di meja dekat sofa.


"Aku merindukanmu," ucap Prischa dengan nada manja.


Kevin menghela napas berat.


"Ayolah, jangan seperti anak kecil, dan pergilah dari rumahku!" tegas Kevin.


Prischa menggelengkan kepalanya dan justru mendekat ke arah Kevin lalu memeluk Kevin dengan erat.


Prank!


Kevin dan Prischa terkejut saat tiba-tiba terdengar sesuatu terjatuh dan ternyata pintu kamar itu terbuka. Terlihatlah seorang wanita melihat ke arah Kevin dengan terkejut.