
Sepasang suami istri itu masih fokus menyalurkan hasrat bercinta mereka, gairah keduanya semakin menggebu tatkala kegiatan bercinta mereka semakin memanas. Kevin bahkan masih kuat dengan staminanya..
Tring-tring-tring ...
Terdengar suara dering ponsel milik Kevin, tetapi tak menyurutkan hasrat keduanya. Keduanya masih saja asyik bergumul.
Tring-tring-tring ... Lagi-lagi terdengar suara dering ponsel Kevin, kali ini membuat konsentrasi keduanya sedikit membuyar. Kamar Melika memang memiliki ukuran yang tak terlalu besar, bisa dibilang ruangan kamar yang minimalis, sehingga suara dering ponsel Kevin pun sampai terdengar ke kamar mandi.
"Mas, ponselmu berdering terus, jangan-jangan telepon penting," ucap Melika. "Sssttt ... Biarkan saja. Itu bisa nanti saja, yang terpenting kita selesaikan dulu ini," ucap Kevin. Melika mengangguk dan memilih fokus kembali dengan kegiatan bercinta mereka. Konsentrasi keduanya semakin menjadi tak fokus ketika kembali suara dering dari ponsel Kevin. "Ya ampun! Siapa yang iseng sekali menelepon pagi-pagi buta begini?" Keluh Kevin. Melika pun menjadi tak tenang mendengar keluhan Kevin.
"Mau dijawab dulu teleponnya, Mas?" tanya Melika. "Ini tanggung, aku bahkan belum selesai," ucap Kevin. "Terus gimana, dong?" tanya Melika. Kevin menghela napas panjang dan menghentikan kegiatannya. Dia mengambil handuk dan melilitkan di pinggangnya. Dengan perasaan kesal Kevin keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya. Terlihat tiga panggilan tak terjawab dari no telepon di kediaman sang papa, Kevin pun menghubungi balik nomor tersebut.
"Halo, ada apa? Kenapa menelpon pagi-pagi buta begini?" tanya Kevin cemas. "Maafkan Saya, Pak. Tuan besar masuk Rumah Sakit," ucap bibi cemas. "Apa? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Kevin cemas. Melika yang mendengar nada cemas Kevin pun bergegas keluar dari kamar mandi menghampiri Kevin.
"Ada apa, Mas? Siapa yang telepon?" tanya Melika ikut cemas. "Di Rumah Sakit mana? Saya segera ke sana," ucap Kevin. Kevin mematikan telepon setelah mengetahui alamat Rumah Sakit tempat sang papa dirawat. KevinΒ bergegas masuk ke kamar mandi, kemudian membersihkan tubuhnya. Dia terlihat begitu cemas, membuat Melika menjadi kebingungan karena Kevin tak menjawab pertanyaannya. Melika menyusul Kevin menuju kamar mandi dan terlihat Kevin mandi dengan terburu-buru. "Ada apa, sih, Mas? Apa yang terjadi?" tanya Melika cemas. "Papa masuk Rumah Sakit, kita harus ke Rumah Sakit sekarang," ucap Kevin. Melika membulatkan matanya dan tanpa pikir panjang dia segera membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap.
Selesai bersiap, Melika dan Kevin pamit pada papa dan mama Melika untuk pergi ke Rumah Sakit, sementara mereka akan menyusul nanti.
******
Dengan terburu-buru Kevin dan Melika pergi menuju ruang rawat sang papa setelah menanyakannya pada resepsionis, Sesampainya di ruang rawat sang papa, terlihat sang papa yang mulai siuman tengah di periksa oleh dokter. "Papa Saya kenapa, Dok?" tanya Kevin cemas. "Tidak apa-apa, hanya serangan jantung ringan," ucap dokter. "Ya Tuhan, apa yang sebenernya terjadi, Pa? Sejak kapan Papa punya riwayat sakit jantung?" tanya Kevin cemas. "Sejak membuat Papa malu," ucap papa. Kevin mengerutkan dahinya, dia tak mengerti maksud ucapan sang papa. Melika pun ikut tak mengerti dengan maksud mertuanya itu, yang dia tahu suaminya baik-baik saja. "Apa bisa tinggalkan kami, berdua saja," ucap papa pada Melika tersenyum canggung dan mengangguk. Dia pun meninggalkan anak dan ayah itu di dalam ruyang rawat.
Ada apa, ya? Kok, Papa bilang gitu? gumam Melika. Dengan penuh penasaran, Melika melihat sekeliling, tampak beberapa perawat mulai berlalu lalang di depan ruangan tersebut. Dia melihat bibi yang tengah duduk diam di kursi tunggu, dia pun meminta bibi membelikan minuman hangat untuknya juga Kevin. Begitu dilihatnya tak ada siapa pun, Melika mencoba mendekati pintu dan mencuri dengar apa yang tengah ayah dan anak itu bicarakan.
"Melika!" panggil papa dari dalam ruang rawat. Melika yang menyadari aksinya itu diketahui pun sontak membuka pintu dan tersenyum canggung. Sang papa hanya menggelengkan kepalanya, tampak aytah dan anak itu memasang wajah serius, sepertinya dia terlambat mencuri dengar poin penting dari apa yang dibicarakan.
"Tolong, jangan nakal seperti itu. Beri waktu kami untuk bicara," ucap papa. Melika menelan air liurnya, pertama kalinya dia melihat wajah sang papa mertua yang terlihat tak bersahabat. "Maaf, Pa. Aku permisi," ucap Melika dan kembali menutup pintu. Ya ampun, aku malu sekali, gumam Melika. Melika pun memilih duduk dan tak lagi mencoba mencuri dengar. Rupanya, keberadaan Melika terlihat oleh papa Kevin dari kaca yang ada di pintu.
Melika terdiam, teringat kembali ekspresi papa mertua dan suaminya itu yang terlihat begitu serius, Melika pun menjadi semakin dibuat penasaran. Sayangnya dia tak ingin lagi mempermalukan dirinya untuk kembali mencuri dengar. Dia pun memilih menunggu saja hingga mereka selesai bicara.
******
Hai-hai, kesayangan Author π Lama, ya, Author tidak menyapa kalian. Semoga kalian semua sehat selalu dan slalu bahagia. Author mau ucapkan terimakasih pada teman-teman semua, karena masih setia menunggu dan mengikuti kelanjutan dari novel My Lovely Fat Wife ini. Mohon maaf, ya, karena novel ini sempat hiatus cukup lama. Insyaa Allah, dan doakan Author agar bisa update setiap hari seperti sebelumnya. Jangan lupa juga, ya, berikan like, komen, dan poin kalian π₯°π Itu semua menjadi penyemangat Author untuk berkarya. I love you all π₯°π₯°π€π€π€π€