My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 23



Kevin merasa bingung dengan sikap Melika, memangnya apa kesalahannya? Pikirnya.


"Tolong buatkan makanan, dong, Bi. Perut saya lapar sekali." ucap Kevin sambil duduk di kursi makan.


Bibi pun mengangguk dan mulai membuatkan makan malam untuk Kevin.


"Pak," panggil Bibi.


"Hhmmm ..."


"Maaf, sebelumnya. Bagaimana untuk uang belanja bulan ini?" tanya Bibi.


"Kenapa?" tanya Kevin sambil mengerut kan dahinya.


"Iya, bulan ini, kan, Bapak belum memberikan uang untuk belanja bulanan. Bibi pikir, karena sekarang kalian sudah menikah, tentunya semua keuangan di rumah ini, Ibu yang mengaturnya." ucap Bibi.


Kevin terdiam dan berpikir sejenak.


Dia melupakan bahwa saat ini Melika sudah menjadi Istrinya, tentu saja urusan rumah sudah seharusnya di urus oleh Melika, apalagi sekarang Melika sudah tidak bekerja lagi.


Kevin pun menghela napas perlahan.


"Iya, Bi, sepertinya akan begitu mulai dari sekarang. Lagi pula, sekarang sudah ada nyonya di rumah ini." ucap Kevin.


"Oh ya, apa bahan makanan ini Bibi yang beli? Saya bahkan belum memberikan uang belanja pada Bibi." ucap Kevin.


"Bukan, Pak. Ibu belanja bulanan menggunakan uangnya sendiri, karena bahan makanan sudah habis, tadi. " ucap Bibi.


Kevin menepuk jidatnya saat dia terpikirkan sesuatu.


"Apa Melika marah karena uangnya di pakai untuk belanja bulanan?" tanya Kevin.


"Bibi tidak tahu, Pak. Tapi, sepulang belanja tadi, Bibi lihat wajah Ibu seperti sedang kesal, padahal sebelumnya wajahnya masih ceria." ucap Bibi.


"Benarkah?" Kevin mencoba memastikan dan Bibi pun mengangguk yakin.


Tak lama Kevin pun langsung menyantap makanan yang sudah Bibi siapkan hingga habis tak tersisa.


Setelah selesai makan malam, Kevin beranjak dan pergi menuju kamarnya.


Begitu sampai di dalam kamar, terlihat Melika yang tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Kevin melangkah menuju walk in closet sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.


Dia melihat sekilas ke arah Melika kemudian masuk ke dalam kamar mandi, berada seharian di luar membuat tubuhnya terasa lengket oleh keringat.


Apalagi seharian ini dia menghabiskan waktu lebih banyak berada di lapangan.


Setelah beberapa saat, Kevin pun selesai membersihkan tubuhnya.


Dia melihat sekilas ke arah Melika yang masih memainkan ponselnya dan pergi mengambil bajunya kemudian memakainya.


Dia teringat akan ucapan Bibi, bahwa Melika menggunakan uangnya untuk belanja kebutuhan rumah tangga.


Dia mengambil dompet, dan mengambil salah satu kartu debit miliknya.


"Ehhemm ..." Kevin berdehem dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur bersama Melika.


Melika tak peduli dengan deheman Kevin, dia bahkan tak melihat Kevin sama sekali.


"Ini," Kevin memberikan kartu debit itu pada Melika dan Melika pun mengambilnya.


"Makasih." ucap Melika.


Melika pun beranjak dan menyimpan kartu debit itu di dalam dompet miliknya, kemudian pergi untuk mengganti piyama tidurnya, sementara Kevin hanya memperhatikan hingga Melika benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Kevin menghela napas perlahan dan mengambil laptop miliknya, dia tengah mesearching sesuatu di sana.


Pandangan Kevin beralih saat melihat Melika yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sudah menggunakan dress tidurnya, dress tidur dengan tali kecil berwarna merah yang sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih.


Ini pertama kalinya Kevin melihat Melika memakai pakaian terbuka yang memperlihatkan leher dan bahunya.


Kevin menelan air liurnya saat melihat ke arah dada Melika.


Meski Melika memiliki tubuh yang besar, namun dia memiliki dada yang tak sebesar kebanyakan orang yang bertubuh besar, dan itu membuat Melika terlihat seksi di mata Kevin.


Jantung Kevin berdegup kencang saat melihat Melika memakai body lotion di kulit tangan dan kakinya sambil duduk di depan meja riasnya, seketika harum mawar tercium di ruangan tersebut membuat tubuh Kevin menghangat dan meremang dan tak disangka di bawah sana tengah bereaksi.


Dengan cepat Kevin mengetik sesuatu di laptopnya, sesuatu yang sudah sejak kemarin malam membuatnya gelisah.


Ya, dia tengah mencari tahu tentang bagaimana caranya memulai malam pertama, dia benar-benar tak memiliki pengalaman apapun dalam hal seperti itu.


Sebetulnya, bukannya Kevin tak ingin menyentuh Melika, hanya saja dia tak mengerti bagaimana harus memulainya.


Jantung Kevin semakin berdegup kencang saat Melika kembali duduk di sampingnya, Kevin mencoba mengatur napasnya dan akan membuka pembicaraan, namun Melika langsung merebahkan tubuhnya.


Kevin mengerutkan dahinya saat Melika memunggunginya.


"Apa masih marah?" batin Kevin.


"Dasar, nggak peka," gumam Melika.


Melika benar-benar tak habis pikir, Kevin benar-benar tak memiliki kesadaran untuk membujuknya.


"Apa dia nggak bisa lihat kalau aku sedang marah?" gumam Melika.


"Terserah." ucap Melika.


"Arrgghhh ..." Melika memekik terkejut saat tiba-tiba Kevin memeluknya.


"Kenapa teriak?" bisik Kevin tepat di telinga Melika, membuat Melika meremang dan menelan air liurnya.


Jantungnya benar-benar berdegup kencang.


Apa malam ini akan menjadi malam pertama baginya dan Kevin? Pikirnya.


Kevin masih tetap memeluk Melika, Kevin memeluknya dengan erat seolah Melika adalah boneka beruang besar. Kevin pun meletakkan kepalanya di bahu Melika.


"Mas mau ngapain?" tanya Melika dengan gugup.


"Relaks saja, jangan gugup." ucap Kevin.


Kevin bisa merasakan detak jantung Melika yang berdegup tak beraturan, bahkan terdengar cepat.


"Bisa-bisanya bilangin orang, aku sendiri gugupnya setengah mati." batin Kevin.


Sekuat tenaga Kevin mencoba relaks dan tak menunjukkan kegugupannya di dekat Melika.


Berulang kali dia menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.


"Maaf." ucap Kevin.


"Maaf untuk apa?" tanya Melika.


"Untuk uang belanja yang sudah kamu keluarkan." ucap Kevin.


Melika membulatkan matanya, dia pikir suaminya itu akan meminta maaf karena telah bertemu dengan Prischa.


Hah, benar, Kevin memang tidak peka, pikir Melika.


"Bukan masalah." ucap Melika.


"Hem ... Mulai sekarang, kamu bisa pakai debit card itu untuk keperluan rumah tangga dan keperluan kamu." ucap Kevin.


Melika pun mengangguk.


Melika menggeliat saat sudah merasa tak nyaman, Kevin sudah cukup lama memeluknya sehingga dia merasakan sesak dan tubuhnya mulai berkeringat meski AC di kamar menyala.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Panas, Mas." ucap Melika.


"Benarkah? Kalau gitu, jangan pakai apa-apa." ucap Kevin.


Melika membulatkan matanya, wajahnya memanas mendengar ucapan Kevin.


Jantungnya semakin tak dapat di kendalikan lagi.


Melika pun hanya diam dan tak merespon ucapan Kevin.


"Kenapa diam?" bisik Kevin di telinga Melika.


Wajah Melika semakin memanas, bahkan tubuhnya ikut memanas.


"Astaga, apa yang dia lakukan? Kenapa harus seseksi itu suaranya?" batin Melika.


Melika baru pertama kalinya sedekat ini dengan Kevin, tentu saja dia akan merasa gugup. Dia bahkan belum mempersiapkan segalanya, terutama mentalnya untuk menuju tahap itu.


Meski dia menginginkan Kevin menyentuhnya, mamun ternyata tak semudah yang di bayangkan.


Jantungnya benar-benar terasa ingin meledak.


Tanpa Melika ketahui, Kevin tengah mengatur napasnya, sungguh jantungnya pun tak jauh beda dengan jantung Melika.


Benar-benar berdegup tak beraturan, tubuhnya bahkan sudah mulai berkeringat.


*****


Hai, kesayangan Author, tolong bantu support vote My Lovely Fat Wife, ya 😊


Terimakasih untuk kalian semua yang sudah mengikuti karya Author sampai sejauh ini.


Dari little wife, istri jelekku, istri jelekku season 2 dan my lovely fat wife.


Kalian luar biasa, love kalian pokoknya ❤️❤️❤️