
Melika terkejut saat mendengar Kevin membentaknya. Dia bahkan hanya ingin tahu siapa yang menghubungi Kevin? Tetapi Kevin justru membentaknya. Jika Kevin tak ingin Melika menyentuh ponselnya, tentu Kevin bisa mengatakannya dengan baik-baik dan tak perlu membentaknya.
"Maaf," ucap Kevin.
"Apa Mas ada masalah?" tanya Melika curiga.
"Tidak," jawab Kevin.
"Jangan berbohong! Selama menikah denganmu, Aku cukup tahu bagaimana dirimu saat sedang mengalami masalah," ucap Melika.
Kevin menghela napas panjang dan tersenyum.
"Maaf, ada sedikit masalah di Kantor," ucap Kevin sambil menggenggam tangan Melika.
"Masalah apa lagi?" tanya Melika bingung. Setahu Melika, perusahaan Kevin sudah dalam keadaan baik-baik saja semenjak Jian membantunya dengan menjadi salah satu investor di perusahaan Kevin.
"Bukan masalah besar," ucap Kevin.
"Benarkah?" tanya Melika.
Kevin pun mengangguk. Waktu berlalu dengan cepat, tanpa terasa mobil Kevin sudah sampai di kediamannya.
"Aku akan pulang terlambat," ucap Kevin saat Melika akan turun dari mobil. Melika pun mengangguk.
"Jika ada masalah, dan masalah itu terasa menjadi beban untuk Mas, aku adalah Istrimu, tempatmu berbagi segala keluh kesah mu," ucap Melika.
Kevin terdiam, dia ingin memberitahu Melika, akan tetapi dia sendiri bingung harus memulainya dari mana. Dia takut Melika menjadi salah paham dan tak mempercayainya.
Kevin melajukan mobilnya kembali ke kantor setelah Melika keluar dari mobil dan masuk dalam rumah. Sementara Melika langsung pergi ke kamarnya. Dia merasa bingung dengan Kevin hari ini. Sebetulnya dia merasakan perubahan sikap Kevin setelah bicara dengan papa mertuanya itu. Kevin menjadi dingin padanya.
Melika hanya takut Kevin tak bisa menerima pekerjaannya. Meski Kevin sendiri tahu pasti pekerjaan asisten pribadi memanglah amat menyita waktu. Harus siap jika atasan mengajaknya melakukan perjalanan bisnis ke negara berbeda karena itulah memang tugas asisten pribadi. Segala kebutuhan atasan disiapkan oleh asisten pribadi, dan Melika pun sudah pasti akan meninggalkan tugasnya sebagai seorang istri.
Ponsel Melika berdering, terlihat nomor sang papa yang menghubunginya. Dia pun menjawab telepon tersebut.
Hallo, Pa.
Hallo, Mel. Bagaimana keadaan Mertuamu?
Sudah membaik, Pa. Sudah pulang ke rumah. Aku dan Mas Kevin yang mengantarnya pulang.
Hm ... Bagaimana hubungan dengan Kevin? Apa semuanya baik-baik saja?
Baik, Pa. Semuanya baik-baik saja.
Syukurlah, jika terjadi sesuatu, ingatlah Kamu masih punya orangtua. Datanglah ke rumah, kapanpun rumah papa terbuka untukmu.
Doakan saja yang terbaik, Pa. Semoga pernikahan ku dan Mas Kevin baik-baik saja.
Tak ada orangtua yang tak akan mendoakan yang baik untuk anak-anaknya. Papa selalu berharap Kamu selalu bahagia dengan pernikahanmu.
Iya, Pa. Terimakasih.
Oh, ya. Kapan-kapan Papa akan datang ke rumahmu.
Datang saja, Pa. Aku dan Mas Kevin tentu senang kalau Papa mau datang ke rumah kami.
Percakapan ayah dan anak itu berakhir begitu telepon berakhir. Melika menghela napas. Dia bingung dengan ucapan sang papa saat di telepon. Bagaimana bisa sang papa bicara seperti itu? Seolah sang papa mengetahui sesuatu tentang masalah Kevin yang dia sendiri tak mengetahuinya.