My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 48



Hai, hai, kesayangan-kesayangan Author 🥰 Mohon maaf sekali karena Author belum bisa update banyak.


Di dunia nyata, Author sedang banyak pekerjaan. Ini Author sempatkan update karena sudah beberapa hari kemarin tidak update. Author akan update normal lagi jika pekerjaan Author sudah mulai senggang.


Terimakasih untuk yang masih setia mengikuti novel-novel Author. Sekali lagi mohon maaf, ya, sayang-sayangnya aku 😘😘


Peluk dan cium jauh dari Author untuk kalian.


I love you all 🥰😘😘


*******


Melika melihat ke arah Kevin yang ternyata juga tengah melihat ke arahnya.


"Apa aku boleh bicara sebentar, dengan Mas Kevin?" tanya Melika pada Jian.


Jian melihat ke arah Kevin dan mengangguk.


"Tentu saja, silahkan. Kalau begitu, saya tunggu di ruangan saya. Kalian bicara saja, di sini," ucap Jian.


"Terimakasih, Pak," ucap Melika.


Jian dan sekretarisnya keluar dari ruang meeting, sementara tinggalah Melika dan Kevin saja di sana.


"Jadi, kapan aku sudah boleh bekerja?" tanya Melika.


"Kamu yang akan bekerja, semua keputusan ada di tanganmu," ucap Kevin.


"Bagaimana jika besok? Bagaimana, pun, juga, aku sudah sepakat untuk bekerja di Perusahaan, ini," ucap Melika.


"Iya, terserah kamu saja," ucap Kevin.


Melika pun tersenyum, dia dan Kevin pergi menuju ruangan Jian. Setelah itu, mereka pergi dari sana setelah Melika memberikan jawaban atas pertanyaan Jian.


Di perjalanan.


"Aku akan mengantarmu pulang. Setelah itu, aku akan ke Kantor," ucap Kevin.


"Iya, mau pulang jam berapa, nanti?" tanya Melika.


"Belum tahu, aku akan ke lokasi proyek, dulu," ucap Kevin.


Melika pun mengangguk.


Sesampainya di rumah, Melika keluar dari mobil Kevin, sementara Kevin langsung memutar arah untuk pergi ke kantor.


Melika memasuki rumah dengan perasaan yang lebih lega, satu masalahnya dan Kevin telah selesai.


Tinggal dia mempersiapkan diri untuk kembali menghadapi kesibukan-kesibukan di dunia kerja. Tentu saja dia sudah pernah mengalaminya, bahwa bekerja menjadi asisten pribadi tidak lah sesantai yang dibayangkan. Jian orang yang sangat pemilih dan ingin segala sesuatunya terlihat sempurna. Menjadi sekretarisnya saja, sudah membuat Melika kehilangan berat badannya beberapa kilogram, bisa dibayangkan jika dia mulai bekerja menjadi asisten pribadinya.


Melika memasuki kamarnya, dia mengganti pakaian kasualnya dengan pakaian yang lebih santai. Dia pergi menuju dapur, terlihat Bibi yang tengah memasak makan siang.


"Apa masakannya sudah masak semua?" tanya Melika.


"Belum, Bu. Apa Ibu butuh sesuatu?" tanya Bibi.


"Saya ingin minum. Tapi, saya bisa ambil sendiri," ucap Melika.


Bibi mengangguk, sementara Melika mengambil air dingin yang ada di dalam lemari es. Dia meminumnya sambil memperhatikan Bibi yang belum selesai memasak.


Tiba-tiba saja dia teringat orangtuanya, dia merindukan keluarganya.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin. Namun sayangnya Kevin tak menjawab telepon dari Melika, Melika teringat Kevin mungkin masih berada di perjalanan dan masih mengemudi.


"Oh ya, Bi. Saya akan bawa masakan, itu, ke rumah Mama," ucap Melika.


"Baik, Bu," ucap Bibi.


Melika pun kembali ke kamarnya untuk bersiap, sementara Bibi menata makanannya di sebuah tempat begitu dia selesai memasak.


Selesai bersiap, Melika kembali ke meja makan dan mengambil makanan yang sudah Bibi siapkan.


"Iya, Bu. Hati-hati di jalan," ucap Bibi.


Melika pun pergi menuju garasi dan melajukan mobilnya ke kediaman orangtuanya.


*******


Sesampainya di kediaman orangtuanya, Melika melihat Melvin yang tengah mencuci motornya di garasi rumah.


Melvin diam saja begitu mobil Melika sampai di depan pintu pagar kediaman orangtuanya, dia masih terus fokus mencuci motornya.


Melika mengerutkan dahinya begitu turun dari mobil, dia merasa aneh karena adiknya itu seperti tak menyadari kedatangannya.


Melika terpikir sesuatu, dia jadi ingin mengerjai adiknya itu.


"Dor ..!"


Plak.


"Aargghhhh ..!" Melika menjerit saat Melvin tak sengaja berbalik dan melemparkan lap yang ada di tangannya ke wajah Melika. Melvin terkejut bukan main karena Melika memukul bahunya.


"Dasar, adik durhaka ..! Bisa-bisanya lap di lempar ke wajah cantik kakakmu, ini ..!" geram Melika.


Melvin terkekeh saat melihat wajah Melika yang penuh dengan busa.


"Apa? Malah tertawa, lagi. Seperti tidak punya dosa," ucap Melika dengan nada kesal.


"Mbak lebih cantik seperti, itu," ledek Melvin.


Melika mengerutkan dahinya, dia memutar kaca spion motor Melvin dan bercermin.


"Arrgghhh ,,, astaga ..! Wajah cantik dan mulus ku menjadi rusak," ucap Melika.


Melika segera menarik selang yang ada di tangan Melvin dan membersihkan busa di wajahnya.


"Dasar ..!" Melika menyemprotkan air ke tubuh Melvin dan membuat Melvin terkejut. Dia melihat bajunya yang basah kuyup karena semprotan air dari Melika.


"Ya Tuhan, kalian apa-apaan, sih? Kenapa malah main air, begini?" sang Mama keluar dengan ekspresi terkejutnya saat melihat Melika dan Melvin justru sibuk bermain air.


"Melvin, Ma. Dia duluan siram aku," ucap Melika dengan kesal.


"Aku, kan, enggak sengaja. Lagian, salah sendiri ngagetin orang. Giliran kena karma, enggak mau," ucap Melvin dengan kesal.


"Dasar, anak kecil jawab saja," ucap Melika dengan nada kesal.


"Waduh, coba bilang sekali lagi ..!" Melvin menatap Melika dengan tatapan tak suka. Dia tak suka Melika menyebutnya anak kecil.


"Memang iya, kan? Apalagi kalau bukan anak kecil?" kesal Melika.


"Ow ,, ow ,, sepertinya, Mbak lupa, anak kecil ini yang sudah menjadi tim sukses dalam hubungan kalian," ucap Melvin dengan bangga.


"Apa maksudmu?" tanya Melika dengan bingung.


"Iya, aku yakin, lingerie yang aku berikan untuk Mbak, sukses membuat hubungan Mbak dan Mas Kevin menjadi lebih intiim," ucap Melvin.


Melika membulatkan matanya, dia tak menyangka adiknya akan bicara seperti itu.


"Dasar ..! Sejak kapan kamu berubah menjadi nakal, ha? Melika menjewer cukup keras telinga Melvin, membuat Melvin memekik kesakitan


"Aku, kan, belajar biologi, juga, di Sekolah. Jadi, aku mengerti hal seperti, itu. Dan--" Melvin menggantung ucapannya, membuat Melika dan sang Mama mengerutkan dahinya sambil melihat ke arah Melvin.


"Aku sangat menyukai pelajaran, itu. Sama halnya saat melihat gadis-gadis seksi, aku sangat suka," ucap Melvin.


Melika dan sang Mama membulatkan matanya.


Melika akan menyiram kembali tubuh Kevin dengan air di selang yang ada ditangannya. Namun belum sempat menyiramnya, Melvin pun bergegas masuk ke dalam rumah sambil tertawa keras.


Dia senang mengerjai kakaknya itu, apalagi melihat ekspresi Melika saat marah, benar-benar sangat lucu.