
Keesokan harinya.
Orangtua Melika tengah bersiap untuk pulang, hari ini bayi Melika sudah dapat dibawa pulang. Karena bayi itu sehat dan tak ada masalah apapun. Masa kelahirannya memang lebih cepat dari jadwal yang Dokter perkirakan. Hanya berbeda beberapa hari saja. Namun, beruntunglah kejadian terjatuhnya Melika tidak sampai membuat bayinya kehilangan nyawa.
"Aku titip bayiku di rumah Mama dulu, ya. Nanti, begitu aku nggak sibuk, aku akan menjemputnya. Saat ini, Melika sedang membutuhkanku," ucap Kevin.
"Iya, tenang saja. Tidak perlu khawatir, Mama akan menjaga cucu Mama," ucap mama Melika.
Kevin mengangguk dan kedua mertuanya itu pergi membawa sang bayi. Sebelum benar-benar pergi, Kevin mencium dahi bayinya. Dia mengusap lembut pipi sang bayi yang terus saja tidur pulas. Bayi itu tampak tenang di pangkuan sang nenek.
***
Hari ini Kevin tak akan pergi ke Kantor. Dia sudah memutuskan untuk menjaga Melika di Rumah Sakit. Tak lama masuklah suster membawakan infus water. Infus itu adalah pengganti makanan Melika. Selama Melika belum sadarkan diri, infus itulah yang akan menggantikan nutrisi yang masuk ke tubuh Melika.
Kevin hanya diam memperhatikan suster memasang infus itu. Matanya lelah, dia belum tidur sejak kembali dari Singapura kemarin. Bahkan rasa kantuk tak menghampirinya meski dia sudah tampak lelah. Dia tak bisa tidur, pikirannya tak mengajaknya untuk dapat terlelap.
Selesai memasangkan infus, suster keluar dan tinggalah Kevin di dalam ruangan itu.
Tok-tok-tok ...
Kevin melihat ke pintu, di mana di sana Jian membuka pintu dan tersenyum pada Kevin.
"Oh, Pak Jian." Kevin menghampiri Jian dan menjabat tangan Jian.
"Bagaimana keadaan Melika? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Jian.
"Belum, dia masih lelah mungkin. Belum lama mengeluarkan seorang bayi. Mungkin masih butuh istirahat," ucap Kevin tersenyum.
Jian tersenyum. Kasihan sekali melihat Melika terbaring seperti itu. Dia tak menyangka Melika akan mengalami hal naas seperti itu. Harusnya, jika Melika tak mengalami kecelakaan itu, Melika kini tengah bahagia melihat putranya.
"Di mana bayi itu?" tanya Jian.
"Belum lama di bawa pulang oleh Mertua Saya. Saya belum bisa merawatnya. Saya pikir, Melika membutuhkan Saya saat ini," ucap Kevin.
"Ya, tentu saja. Tak perlu cemas. Bayi itu bersama Nenek dan Kakeknya. Sama saja, mereka juga keluarganya," ucap Jian.
Kevin mengangguk dan tersenyum. Senyuman yang terpaksa dia sunggingkan. Hanya agar
orang lain melihatnya tampak tegar. Bagaimana pun dia tak boleh lemah, keluarganya membutuhkannya.
Satu minggu berlalu.
Pagi ini Kevin sudah berada di Kantor. Dia terpaksa meninggalkan Melika dahulu karena memang ada pekerjaan yang tak bisa dia abaikan. Sudah satu minggu dia tak pergi ke Kantor. Dia hanya menemani Melika di Rumah Sakit. Pekerjaannya menunggu untuk diselesaikan.
Kevin tampak kacau. Wajahnya pucat, matanya tampak sayu karena kurangnya istirahat. Selama Melika koma, waktu tidurnya menjadi terganggu. Dia bahkan lebih banyak terjaga.
"Permisi, Pak!"
Kevin melihat sekretarisnya yang masuk membawa sebuah paper bag.
"Ya, ada apa?" tanya Kevin.
"Saya bawakan sarapan untuk Bapak. Sepertinya, Selama Ibu Melika di Rumah Sakit, Bapak tak makan dengan baik. Bapak terlihat lebih kurus," ucap Niken.
Kevin mengerutkan dahinya melihat Niken.
"Maaf, Saya hanya merasa prihatin dengan keadaan Bapak. Saya mengerti, pasti rasanya lelah mengurus segalanya sendiri," ucap Niken.
"Tidak juga. Saya sudah biasa mengurus apa-apa sendiri. Bahkan dari sebelum Saya menikah, Saya biasa melakukan apapun sendiri. Biarkan saja Istri Saya istirahat dulu dari tanggung jawabnya sebagai Istri. Dan terimakasih untuk perhatianmu, Saya tak butuh dikasihani," ucap Kevin dingin.
"Maaf, Pak. Maksud Saya tidak seperti itu," ucap Niken menjadi tak enak hati. Sepertinya Kevin tersinggung mendengar ucapannya.
"Tidak apa-apa. Saya mengerti. Terimakasih untuk sarapannya. Ini yang pertama dan terakhir," ucap Kevin.
Mendengar ucapan Kevin, Niken sontak pamit dari ruangan Kevin.
Kevin membuka paper bag yang Niken berikan dan ada kotak makan di sana. Kevin mengambil kotak makan itu dan isinya adalah nasi goreng. Kevin mengambil sendok yang ada di dalamnya, dia memakannya.
"Lihatlah, Mel. Sekretarisku membawakanku sarapan, semoga kamu tak marah melihat ini. Aku hanya menghargai pemberian bawahanku," ucap Kevin. Kevin berbicara sendiri, membayangkan Melika jika tahu bahwa ada yang memberikan suaminya sarapan. Jika Melika tahu kenyataannya, mungkin Melika akan marah.
Kevin menghabiskan nasi goreng itu. Rasanya lumayan cocok di lidahnya. Entah Niken membuatnya sendiri atau membelinya.
Jam makan siang.
Kevin keluar dari ruangannya. Dia menghampiri Niken.
"Saya akan makan siang di luar. Jika ada yang mencari Saya, bilang saja Saya sibuk," ucap Kevin.
"Baik, Pak," ucap Niken.
Kevin pergi dari Kantornya. Dia menuju Rumah Sakit untuk menemui Melika. Sementara begitu Kevin pergi, Niken masuk ke ruangan Kevin. Dia tak bermaksud untuk lancang karena masuk ke ruangan Kevin ketika Kevin tak ada di dalamnya. Dia berniat melihat kotak makan yang tadi pagi dia berikan pada Kevin. Dia berpikir, Kevin tak mungkin memakannya jika mengingat respon Kevin tadi pagi.
Niken mengerutkan dahinya melihat kotak makan itu ada di atas meja kerja Kevin. Dia mengambil kotak makan itu, rasanya ringan seperti tak ada isinya seperti tadi pagi. Niken membuka tutup kotak makan itu, dan tersenyum kemudian. Ternyata dia sudah salah sangka pada Kevin. Nyatanya, Kevin tetap memakannya meski responnya dingin tadi pagi.
Niken menyimpan kotak makan itu ke dalam paper bag. Dia membawanya ke mejanya.
Di perjalanan menuju Rumah Sakit.
Kevin membeli makanan terlebih dahulu, dia membawanya menuju Rumah Sakit. Dia akan makan siang dengan Melika. Ya, meski Melika tak bisa ikut makan dengannya, setidaknya Melika menemaninya makan siang meski dengan posisi terlelap.
Sesampainya di Rumah Sakit, Kevin melihat Melika yang masih memejamkan matanya. Rindu sekali melihat senyum Melika. Entah kapan dia dapat melihat senyum Melika yang manis baginya itu.
Kevin membuka makanan yang tadi dia beli. Dia melihat Melika.
"Aku akan makan, Mel. Aku nggak boleh sakit juga kan? Siapa yang akan menjaga anak kita, dan kamu? Aku akan usahakan selalu sehat untukmu, untuk anak kita. Oh, ya. Aku belum memberinya nama, aku pikir nanti saja. Begitu kamu bangun, kamu yang harus memberinya nama. Karena itu, jangan tidur terlalu lama. Kasihan bayi kecil itu," ucap Kevin tersenyum.
Kevin memakan makan siangnya. Begitu selesai, dia tak kembali ke Kantor. Dia pergi ke rumah mertuanya. Di mana di sana ada bayinya juga.
Sejak pulang dari Rumah Sakit, bayi Kevin terpaksa tinggal di rumah orangtua Melika. Itu karena Kevin tak bisa mengurusnya sendiri. Dan dia tak percaya pada orang lain selain keluarganya.
Sesampainya di Rumah orangtua Melika, Kevin melihat sang bayi yang tengah terbangun. Dia tengah berada di box bayi di ruang keluarga. Di sana tampak Melvin mengajak bicara bayi kecil itu.
"Vin!"
Melvin melihat Kevin dan tersenyum.
"Mas ke sini? Nggak kerja, Mas?" tanya Melvin.
"Kerja, dari Rumah Sakit aku langsung ke sini. Rindu bayi kecil itu," ucap Kevin tersenyum melihat ke arah bayinya.
Melvin tersenyum.
"Dia manja banget, Mas. Masa nggak mau ditinggal sama Omnya," ucap Melvin.
"Benarkah? Apa dia menyusahkanmu?" tanya Kevin.
"Nggak lah, Mas. Mana ada Keponakan menyusahkan Omnya," ucap Melvin tersenyum. Senang sekali rasanya mendapat teman baru. Rumahnya terasa lebih ramai karena tangisan bayi. Semenjak Melika menikah dan tinggal di rumah Kevin, Melvin memang merasa kesepian karena tak ada teman yang bisa ajak bicara ataupun dia jahili.
"Hm ... Di mana Mama?" tanya Kevin.
"Di dapur, lagi masak buat makan malam kayaknya. Kalau Papa biasa, dia dinas," ucap Melvin.
Kevin mengangguk, dia mendekati bayinya dan tersenyum. Rasanya bertemu setiap hari, tetapi bayi itu bukan seperti seorang bayi yang usianya satu minggu. Bayinya besar sekali.
Kevin mengendus adanya aroma tak sedap. Dia melihat Melvin seolah menanyakan bau apa itu?
"Dia pup jangan-jangan, Mas," ucap Melvin terkekeh.
"Ya ampun! Papamu baru sampai, sudah disambut dengan aroma itu, Nak," ucap Kevin ikut terkekeh.