
Siang hari.
Melika dan Kevin tengah berada di salah satu Mall yang masih berada di daerah Jakarta Barat.
Mereka tak membawa banyak baju ganti, karenanya dari pada harus pulang ke rumah mereka pun memilih untuk membeli baju terlebih dahulu sebelum pergi ke Pulau Seribu.
Melika membeli beberapa dress santai selutut bertali kecil, dan Kevin juga membeli beberapa pakaian santai.
"Mel !" panggil Kevin.
"Ya, kenapa, Mas?" Melika pun menghampiri Kevin.
"Kamu lihat lingerie itu?" Kevin menunjuk ke arah lingerie berukuran jumbo dan transparan berwarna putih yang terlihat begitu seksi.
"Kenapa?" tanya Melika dengan bingung.
"Aku mau kamu memakainya untukku," ucap Kevin.
"Apa? Tapi, Mas --"
"Tidak mau, ya? Ya sudah, tidak apa-apa," ucap Kevin sambil memasang wajah sedih.
Melika menghela napas, suaminya itu sudah seperti anak-anak yang tak mendapatkan keinginannya. Wajahnya terlihat menyedihkan.
"Baiklah, Mas belikan itu untukku. Pakai uang, Mas. Jangan pakai uangku," ucap Melika.
Kevin tersenyum lebar dan mengangguk. Dia tak peduli istrinya itu perhitungan, yang jelas dia hanya ingin keinginannya tercapai dan bisa melihat istrinya itu memakai lingerie berukuran jumbo tersebut.
Dia pun meminta penjaga departemen store untuk membungkus lingerie yang dia inginkan.
Selesai membayar seluruh belanjaan, Kevin mengajak Melika untuk makan siang terlebih dahulu.
"Senangnya punya suami," ucap Melika dengan polos.
"Benarkah?" tanya Kevin.
"Iya, lihat saja belanjaan ku sebanyak ini, tapi tidak mengeluarkan uang. Semuanya dibayarkan oleh suamiku," ucap Melika sambil tersenyum lebar.
Kevin pun tersenyum.
"Memangnya sebelumnya bagaimana?" tanya Kevin.
"Tentu saja aku harus membayarnya sendiri, barang-barang ku barang-barang murahan semua. Tidak seperti yang sekarang aku beli," ucap Melika.
"Kenapa begitu?" tanya Kevin.
"Ya, karena aku tidak punya uang untuk membeli barang-barang mewah dan mahal. Gaji ku mana cukup untuk membeli semua itu," ucap Melika dengan polos.
Kevin tersenyum dan mengangguk. Istrinya itu benar-benar sangat polos.
******
Keesokan harinya.
Melika dan Kevin sudah berada di atas kapal menuju Pulau Harapan.
Sepanjang perjalanan, tak hentinya Melika memotret pemandangan laut bahkan dia juga mencuri beberapa foto Kevin.
"Aku bisa menuntut mu karena mengambil gambar ku diam-diam," ucap Kevin.
Melika membulatkan matanya.
"Apa ada suami yang tega menuntut isterinya hanya karena mengambil gambar?" Melika mengerucutkan bibirnya.
Kevin mengangkat bahunya.
"Entahlah, tapi aku akan menuntut mu," ucap Melika.
Melika terdiam sejenak, dia pun menyeringai memikirkan suatu rencana.
"Baiklah, tuntut saja. Tapi, tidak ada jatah malam Selasa, malam Jum'at dan malam Minggu," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.
Kevin terkekeh dan merangkul bahu Melika.
"Aku hanya bercanda. Sini, berikan ponselmu," Kevin merebut ponsel Melika dan memotret dirinya bersama Melika menggunakan kamera depan.
"Lain kali, kalau mau foto jangan hanya sendiri. Kita bisa lakukan bersama," ucap Kevin dan memberikan ponsel itu pada Melika.
Melika pun tersenyum dan mengangguk.
Sesampainya di Pulau Harapan, Kevin dan Melika kini sudah berada di dalam penginapan.
Penginapan itu terlihat begitu besar.
"Besar sekali penginapan ini, Mas," ucap Melika.
Kevin mengangguk dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aku sengaja memilih penginapan yang besar, aku khawatir kamu tidak nyaman jika aku memilih penginapan yang kecil," ucap Kevin.
"Sebetulnya, kita cukup menyewa yang sederhana saja," ucap Melika.
Kevin menatap Melika dan tersenyum.
"Aku juga menginginkan tempat yang nyaman untukku, uang tak jadi masalah selama aku mampu," ucap Kevin.
"Ya, ya," ucap Melika yang akhirnya mengalah.
Percuma juga bicara dengan suaminya itu, penginapan itupun sudah di pesan dan dibayar.
Karena hari sudah sore, Melika pun memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Sementara Kevin keluar kamar dan menghampiri penjaga penginapan.
Dia pun meminta penjaga penginapan untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Melika. Kevin meminta makan malamnya di siapkan di area outdoor yang menghadap ke pemandangan laut.
Kevin kembali ke kamar saat urusannya sudah selesai.
Kevin membuka kaosnya dan merebahkan tubuhnya, dia membuka ponselnya kemudian menyalakan musik di ponselnya. Dia pun memutar lagu kesukaannya dan tak terasa rasa kantuk mulai dia rasakan.
Dia melihat ke arah pintu kamar mandi, Melika masih saja belum selesai mandi.
Kevin pun bangun dan pergi menuju kamar mandi. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat Melika tengah tertidur di dalam bathub.
Dia menanggalkan pakaian yang tertinggal di tubuhnya dan ikut masuk ke dalam bathub.
Melika terperanjat saat merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam bathub nya.
Brugh !
"Auuwww ..." Kevin dan Melika memekik saat Kevin tak sengaja terpeleset dan menindih paha Melika.
"Ya ampun, Mas ! Apa yang Mas lakukan? Mas mau membunuhku?" tanya Melika sambil masih meringis kesakitan sambil memegangi pahanya yang tertindih tubuh Kevin.
"Maaf, kamu mengagetkanku. Karena itu aku terkejut dan tidak sengaja terpeleset," ucap Kevin.
"Lagian gimana aku tidak kaget saat sesuatu tiba-tiba masuk ke dalam bathub? Aku pikir ada binatang yang masuk," ucap Melika dengan kesal.
"Iya, maaf. Lain kali aku akan bilang dulu kalau mau masuk," ucap Kevin.
Beruntunglah bathub itu memiliki ukuran besar, sehingga cukup menampung dua orang.
Dugh !
"Auwww ... Kenapa aku ditendang?" tanya Kevin sambil memegang area sensitifnya saat Melika tiba-tiba menendangnya.
"Mas mau apa, sih, lagian?" tanya Melika.
Tentu saja Melika terkejut saat tiba-tiba Kevin menyentuh paha polosnya.
Kevin tak menjawab ucapan Melika, dia masih memegangi area sensitifnya yang masih terasa sakit dan ngilu.
"Mas? Apa Mas baik-baik saja?" tanya Melika yang mulai cemas melihat ekspresi kesakitan di wajah Kevin.
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Kamu menyakitinya, ya ampun. Padahal aku hanya ingin mengecek paha mu yang tadi aku tindih,"ucap Kevin sambil masih memasang wajah kesakitan.
"Maaf, Mas. Aku tidak sengaja," ucap Melika sambil memasang wajah bersalah.
"Iya, ya sudah tidak apa-apa. Tapi, tolong ganti air ini dengan yang lebih hangat. Aku butuh menghangatkannya, ini benar-benar kesakitan," ucap Kevin.
Melika mengangguk dan keluar dari bathub. Dia mengganti air yang ada di bathub dengan air yang lebih hangat dan membiarkan Kevin berendam di dalamnya.
"Apa masih perlu sesuatu?" tanya Melika.
Kevin pun mengangguk dan menyuruh Melika untuk masuk kembali ke dalam bathub.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Melika.
"Mandikan aku," ucap Kevin.
"Apa? Kenapa Mas tidak mandi sendiri?" tanya Melika dengan bingung.
"Mana bisa, aku kesakitan begini," ucap Kevin.
Melika mengerutkan dahi dan menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik.
"Apa Mas mengerjai ku?" tanya Melika.
"Tidak, mana mungkin," ucap Kevin beralasan.
"Benarkah?"
"Apa ini masih sakit?" tanya Melika.
Kevin menggeleng dan mendongak menatap langit-langit kamar mandi.
"Itu enak, lanjutkan," ucap Kevin.
Melika membulatkan matanya.
"Ouuhhh ,,, apa yang kamu lakukan?" Kevin menatap Melika dengan tatapan tajam saat miliknya diremass dengan kuat oleh tangan Melika.
"Rasakan ! Siapa suruh ngerjain istri sendiri," ucap Melika dengan kesal dan keluar dari bathub.
"Loh, mau kemana? Ini tanggung, loh. Belum selesai," ucap Kevin.
"Tuntaskan saja sendiri, aku kesal," ucap Melika dan bergegas membilas tubuhnya.
Kevin pun tersenyum dan mengusap wajahnya.
Dia berpikir tingkahnya begitu konyol hanya karena ingin mencari perhatian Melika, padahal jika dia menginginkannya, dia tinggal minta saja pada Melika. Sayangnya dia sudah terlanjur mengatakan bahwa jatahnya hanya tiga kali dalam seminggu, dan dia sudah melakukannya kemarin malam.
********
Jam makan malam.
Kevin menuntun Melika menuju meja yang sudah di set untuk makan malamnya dengan Melika.
Makan malam dengan lilin dan menu kesukaan Melika juga dirinya.
Melika begitu cantik menggunakan dress putih selutut bertali kecil dengan rambut tergerai.
Sementara Kevin memakai kaos putih polos dengan celana jeans panjang berwarna hitam.
"Besok kita akan ke mana?" tanya Melika.
"Kamu maunya kemana?" tanya Kevin.
"Aku tidak tahu sekitar sini," ucap Melika.
"Kalau begitu, kita akan snorkling saja, underwaternya benar-benar indah," ucap Kevin.
"Apa itu underwater yang ada hantunya?" tanya Melika dengan polos namun penuh penasaran.
Kevin terkekeh mendengar ucapan Melika, istrinya itu benar-benar ada-ada saja.
"Memangnya ada underwater yang berhantu? Kamu ini ada-ada saja," ucap Kevin.
"Ada, dan itu banyak hantunya," ucap Melika.
Kevin mengerutkan dahinya dan meminum minumannya.
"Benarkah? Dari mana kamu tahu?" tanya Kevin.
"Aku pernah melihat filmnya," ucap Melika.
Lagi-lagi Kevin terkekeh, dia pun menggelengkan kepalanya.
"Itu semua hanya film," ucap Kevin dengan santai.
"Aarggghhhh ..." Melika menjerit saat tiba-tiba lampu mati dan seketika semua menjadi gelap. Hanya mejanya yang masih mendapatkan penerangan karena adanya lilin di meja.
"Mas, jangan-jangan hantunya merasa terganggu, karena kita baru saja membicarakannya," ucap Melika sambil merinding.
"Tidak ada, semua itu tidak ada. Jangan percaya dengan hal-hal seperti itu," ucap Kevin mencoba menangkan Melika sambil menggenggam tangan Melika di atas meja.
"Aku akan menghubungi penjaga penginapan," Kevin mengeluarkan ponselnya dan tak menemukan sinyal di ponselnya.
"Tidak ada jaringan di ponselku," ucap Kevin.
"Tuh, kan, Mas. Aku yakin hantunya ada di sini," ucap Melika dengan sembarang.
Kevin menghela napas dan mengeratkan genggamannya.
"Sudahlah, tenang saja. Ada aku," ucap Kevin.
Melika tak bisa tenang, dia sungguh takut berada di kegelapan.
Dia mengambil gelas miliknya dan akan minum.
"Aarrggghhh ..."
Byurrrr ...
Melika terkejut saat tiba-tiba lampu hidup kembali dan melihat penjaga penginapan tengah berdiri di sampingnya, dia pun tak sengaja menyiram air yang ada di gelas miliknya ke arah penjaga penginapan itu.
"Ya ampun, maaf. Tolong maafkan istri saya," ucap Kevin sambil memberikan tisu pada penjaga penginapan itu.
Penjaga penginapan itu mengangguk sambil memasang ekspresi datar. Sedangkan Melika masih mengatur napasnya. Dadanya sungguh akan meledak.
Dia sungguh terkejut saat tiba-tiba melihat penjaga penginapan dengan rambutnya yang panjang tanpa diikat, padahal penjaga penginapan itu seorang pria.
"Maafkan atas ketidak nyamanannya, tadi ada perbaikan sebentar," ucap penjaga penginapan.
Kevin pun mengangguk dan penjaga penginapan itu langsung pergi ke dalam penginapan.
"Ya ampun, kenapa wanita itu terlihat ketakutan melihatku? Apa aku menyeramkan?" batin penjaga penginapan. Dia pun tak ingin ambil pusing dan memilih pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang basah.
Sementara disisi lain, Kevin terkekeh melihat Melika.
"Kenapa tertawa?" tanya Melika dengan bingung.
"Kamu lucu sekali, masa penjaga penginapan itu sampai kamu siram," ucap Kevin.
"Aku kaget, Mas. Lihat saja rambutnya panjang begitu. Dia juga tak bisa melihat kondisi, harusnya dia mengikat rambutnya, jangan di biarkan tergerai begitu," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.
Kevin terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu terlalu parno, sudah aku bilang jangan simpan pikiran aneh-aneh itu," ucap Kevin.
"Ya, baiklah," ucap Melika.
"Mana ada sih suami yang menertawakan istrinya saat sedang ketakutan. Benar-benar menyebalkan," batin Melika.
Dia pun melanjutkan makan malamnya.
Selesai makan malam, Kevin dan Melika kembali ke kamar.
Melika tersenyum melihat Kevin mematikan ponselnya yang artinya dia tak ingin orang lain mengganggunya.
Kevin berjalan menuju kopernya dan mengambil lingerie yang tadi dia belikan untuk Melika.
"Nih, pakai sekarang. Aku mau lihat," ucap Kevin sambil memberikan lingerie itu pada Melika.
"Apa harus sekarang?" tanya Melika.
"Ya, aku hanya ingin melihatmu memakainya," ucap Kevin.
Melika mengangguk dan pergi menuju kamar mandi untuk memakai lingerie itu. Selesai memakai lingerienya, Melika pun keluar dari kamar mandi.
Kevin tersenyum sambil melihat intens tubuh gempal Melika, Melika terlihat sangat lucu.
"Sudah ya, sudah lihat, kan? Aku mau ganti lagi," ucap Melika dan akan masuk kembali ke kamar mandi.
Namun Kevin segera berlari dan berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Siapa bilang sudah selesai? Aku masih mau lihat, dan aku mau lihat sepanjang malam ini," ucap Kevin.
"Apa?" Melika membulatkan matanya, suaminya itu sudah mengerjainya.
"Dosa loh, membantah keinginan suami," ucap Kevin.
Melika menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.
"Baiklah, tapi kita langsung tidur, ya. Aku lelah sekali," ucap Melika.
Kevin pun mengangguk dan menyusul Melika naik ke atas tempat tidur.
Melika menghela napas lelah saat Kevin mulai menggerayangi punggungnya.
"Mas !" panggil Melika.
"Ya," sahut Kevin.
"Tidur, Mas," ucap Melika.
"Ya, tidurlah. Aku masih belum mengantuk," ucap Kevin.
Melika pun memejamkan matanya, namun tak lama kemudian dia membuka matanya kembali saat Kevin terus memperdalam kegiatannya. Tangan Kevin bahkan sudah sampai di dada Melika dan bermain-main di sana.
Melika mengembuskan napas agak kasar dan membalik tubuhnya menghadap Kevin. Kevin pun tersenyum lebar sambil tak hentinya tangannya menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh Melika.
"Boleh, ya?" tanya Kevin sambil memasang wajah penuh harap.
"Dasar modus, nyuruh istrinya pakai lingerie katanya mau lihat doang, tahunya ada maksud lain," ucap Melika.
Kevin hanya menyengir kuda dan mengubah penerangan kamarnya dengan lampu tidur.
Dia pun mulai melancarkan aksinya, sementara Melika yang sudah merasa lelah pun akhirnya menyerah karena Kevin mampu membangkitkan gairahnya.
Mereka pun akhirnya bergumul kembali, dan seperti biasa Kevin tak akan cukup dengan hanya menanam benihnya satu kali saja. Mereka pun melakukannya sampai beberapa ronde😁