
Plak !
Plak !
Tamparan keras mendarat di pipi kiri dan kanan Prischa, membuat Prischa merasakan pipinya perih teramat sangat.
"Kurang ajar ..!" bentak Prischa.
Prischa mengangkat tangannya dan akan menampar orang itu, namun Kevin langsung menahan tangan Prischa dan mencengkram nya dengan kuat.
"Pergi dari sini !" bentak Kevin.
Prischa membulatkan matanya, matanya memerah dan dadanya naik turun. Dia sungguh merasa terinjak-injak oleh Kevin dan orang yang sudah menamparnya, yang tentu saja orang itu adalah Melika, istri Kevin sendiri.
Saat belum lama Kevin keluar dari kamar hotel, Melika mendengar ponsel Kevin berdering. Melika yang tadinya tak ada niat untuk lancang dengan membuka ponsel Kevin akhirnya terkejut saat membaca pesan WhatsApp dari Prischa. Meski Melika tak membuka pesan itu, namun pesan itu bisa terlihat karena hanya ada satu pesan yang masuk, yaitu hanya dari Prischa.
Karena rasa penasarannya lah yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk menyusul Kevin ke basemant, benar saja Melika menyaksikan langsung suaminya itu di goda oleh Prischa, mantan kekasih suaminya sendiri.
Istri mana yang tak panas melihat ada wanita lain yang mencoba menggoda suaminya? Emosi Melika tak dapat ditahan lagi begitu dia melihat Prischa mendorong Kevin. Melika pun bergegas menarik tangan Prischa dan mendorongnya hingga punggung Prischa menabrak mobil Kevin.
"Kalian keterlaluan ..!" bentak Prischa.
"Dasar murahan, untuk apa kamu memiliki wajah cantik dan pendidikan tinggi jika hidupmu hanya menjadi jalang penggoda suami orang?" ucap Melika dengan geram.
"Apa kamu bilang? Kamu bilang aku murahan?" Prischa terkekeh menatap Melika.
"Kamu yang murahan, kamu yang sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan aku dan Kevin," ucap Prischa dengan geram.
Melika melihat ke arah Kevin yang tengah memijat dahinya, terlihat sekali Kevin kebingungan menghadapi dua wanita yang kini ada di hadapannya.
"Harusnya kamu sadar diri, perempuan seperti kamu tidak pantas untuk Kevin ! Kevin bahkan tidak mencintai kamu, Kevin hanya mencintai aku !" ucap Prischa sambil tersenyum mengejek pada Melika.
Melika mengepalkan tangannya dan menatap Kevin.
"Benar begitu, Mas? Apa Mas mencintai perempuan ini?" Melika menunjuk ke arah Prischa.
"Apa Mas tidak mencintai aku?" tanya Melika.
Kevin hanya diam sambil mengusap wajahnya.
"Tolong jawab, Mas," ucap Melika.
Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.
"Baiklah dengarkan ini baik-baik," Kevin menatap Melika dan Prischa bergantian, setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku sudah tidak mencintai Prischa," ucap Kevin, dia mengepalkan tangannya.
"Saat ini, aku hanya menyayangi Melika, dia istriku dan masa depanku. Tolong, hentikan semua omong kosong ini, aku benar-benar lelah," ucap Kevin dengan masih tak ingin menatap Prischa.
Prischa tersenyum pedih mendengar ucapan Kevin, dia kecewa dan sekali lagi hatinya merasa hancur.
Plak !
Dia menampar Kevin dengan cukup keras, tamparan yang penuh kekecewaan dan seolah Prischa pun ingin menumpahkan kekesalannya melalui tamparan itu. Dia menghentakkan kakinya dan meninggalkan Kevin bersama Melika.
Melika terdiam sejenak, dia melihat Kevin sekilas yang tengah memegangi pipinya akibat rasa ngilu dari tamparan Prischa.
Melika pun meninggalkan Kevin.
Kevin mengembuskan napas lelah, dia tahu Melika kecewa mendengar jawabannya. Kevin tak bisa mengatakan dia mencintai Melika, karena dia pun belum yakin dengan perasaannya sendiri.
Kevin pun mengikuti Melika kembali ke kamar hotel.
******
Kevin memasuki kamar hotel dan melihat Melika yang tengah ganti baju . Kevin pikir Melika akan mengganti bajunya di dalam kamar mandi, nyatanya Melika justru mengganti dress nya di dalam kamar. Melika seolah tak peduli dengan keberadaan Kevin, dia bahkan tak malu pada Kevin yang terus memperhatikan nya.
Kevin menelan air liurnya saat Melika membuka dalaman atasnya, sesuatu di bawah perutnya seketika menjadi menegang melihat pemandangan itu.
"Mel !" panggil Kevin.
Melika tak menyahut panggilan Kevin, membuat Kevin sampai melangkah mendekati Melika.
"Aku mau --"
Kevin membulatkan matanya saat Melika langsung merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya.
"Selamat tidur, Mas. Aku lelah," ucap Melika.
Kevin menghela napas perlahan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.
Dia pun merebahkan tubuhnya di samping Melika.
Kevin melihat punggung Melika yang terlihat, dia pun tersenyum dan mendekati Melika.
"Aku tahu kamu belum tidur," bisik Kevin.
Melika menghela napas perlahan, dan membalikkan tubuhnya menghadap Kevin.
Cup.
Kevin tak sengaja mencium bibir Melika, membuat keduanya sama-sama terkejut.
"Ehheumm ... Aku tidak sengaja," ucap Melika dan bergegas mendudukkan tubuhnya.
Namun tidak dengan Kevin, Kevin justru langsung memeluk perut Melika.
"Mas ngapain?" Melika mencoba mendorong kepala Kevin, namun Kevin justru mengeratkan pelukannya.
"Empuk, kayak bantal," ucap Kevin sambil tersenyum.
Melika tersenyum tipis, dia pun membiarkan Kevin memeluk perutnya.
"Maafkan aku," ucap Kevin.
"Untuk apa?" tanya Melika dengan bingung.
Kevin melepaskan pelukannya dan mendudukkan dirinya bersandar di samping Melika.
"Untuk kejadian di basemant tadi," ucap Kevin.
Melika hanya diam dan terus menatap Kevin yang juga terus menatapnya.
"Kamu percaya, kan, sama aku? Aku tidak memiliki perasaan pada Prischa," ucap Kevin.
Melika tersenyum tipis dan mengangguk.
"Aku percaya, tapi --"
Melika menghentikan ucapannya dan mengerucutkan bibirnya.
"Tapi apa?" Kevin menatap Melika dengan penasaran.
"Aku tetap kesal, karena Mas memeluk wanita itu," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan aku, apa kamu cemburu?" tanya Kevin.
Melika menatap Kevin sekilas dan mengalihkan pandangannya.
"Apa ada istri yang tidak cemburu melihat suaminya memeluk wanita lain?" tanya Melika.
Kevin tersenyum dan mencium pelipis Melika.
"Aku tahu, aku salah. Karena itu, tolong maafkan aku. Aku tidak ada maksud apapun, sungguh." Kevin menatap Melika dengan tatapan meyakinkan.
Melika pun mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong-ngomong, aku baru sadar akan satu hal," ucap Kevin.
"Apa?" tanya Melika.
"Aku baru menyadari kalau istriku ini selain gemuk ternyata juga seksi," ucap Kevin sambil tersenyum penuh arti.
Melika tersipu malu mendengar ucapan Kevin.
"Aku senang kamu tidak malu-malu lagi di depanku," ucap Kevin.
"Tentu saja aku membuang rasa malu ku, tapi itu hanya di depan Mas. Mana berani aku seperti itu di depan orang asing," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan mengangguk.
"Aku pun tidak mengizinkan mu tidak tahu malu di depan orang lain. Hanya aku yang berhak atas dirimu," ucap Kevin.
Melika pun tersenyum lebar, dia sungguh senang melihat Kevin yang memperlakukannya dengan baik meski Melika tahu Kevin belum mencintainya.
"Apa kamu beneran lelah?" tanya Kevin.
"Heumm ... Kenapa?" tanya Melika.
"Kamu sudah membangunkannya, apa kamu tidak mau bertanggung jawab?" tanya Kevin.
Melika menatap Kevin dengan tatapan bingung, dia melihat sekeliling dan tak ada siapapun di kamar itu selain mereka berdua.
"Membangunkan siapa maksudnya?" tanya Melika.
"Membangunkannya." Kevin menunjuk ke arah bawah perutnya, membuat Melika sampai membulatkan matanya.
"Kan sudah kemarin malam," ucap Melika.
"Memangnya kenapa kalau dia mau lagi?" tanya Kevin.
"Tidak apa-apa, hanya saja apa harus setiap hari?" tanya Melika dengan bingung.
"Iya, harus," ucap Kevin.
"Semuanya butuh usaha bukan?" ucap Kevin.
"Usaha?" Melika lagi-lagi dibuat kebingungan.
Kevin pun mengangguk.
"Iya, untuk mendapatkan Kevin atau Melika junior, tentu butuh usaha bukan? Tidak mungkin kita hanya diam saja dan mereka akan tumbuh di rahimmu," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan mencubit gemas perut Kevin, membuat Kevin sampai mengeluarkan lenguhan.
"Terlalu sering juga tidak baik, Mas," ucap Melika.
"Siapa bilang?" tanya Kevin.
"Aku yang bilang, apa Mas tidak tahu? Jika terlalu sering, benih Mas justru akan memiliki kualitas yang kurang baik, dan itu justru akan menghambat proses pembuatan Kevin atau Melika junior," ucap Melika.
"Benarkah?" Kevin mengerucutkan bibirnya, Melika pun terkekeh dibuatnya.
"Jadi, yang bagus bagaimana?" tanya Kevin.
"Setidaknya, satu minggu tiga kali. Itu lebih baik," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan memeluk Melika.
"Baiklah, berarti jatahku setiap malam Selasa, malam Jum'at dan malam Minggu, gimana?" Kevin menatap Melika sambil me-naik turunkan alisnya.
Melika pun terkekeh dan mengangguk.
"Makasih, ya. Menikah benar-benar mengubah hidupku. Pacaran setelah menikah benar-benar lebih menyenangkan. Kita bebas melakukan apapun," ucap Kevin dan kembali memeluk Melika.
Melika pun tersenyum dan memeluk Kevin.
Melika merasa senang karena Kevin mau menerima segala kekurangannya, dia sadar betul dia bukanlah wanita yang sempurna. Terkadang melihat Kevin yang begitu sempurna di matanya membuatnya merasa takut sendiri dan merasa tak percaya diri. Tapi sebisa mungkin Melika tak menunjukkan rasa ketidak percayaan dirinya di hadapan Kevin.
Tak lama mereka pun memilih tidur dan beristirahat, masih ada hari esok yang tentunya bisa mereka habiskan bersama karena Kevin pun sudah mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan.
*******
Pagi hari.
Melika membuka matanya saat mendengar suara berisik.
"Pagi," sapa Kevin sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Maaf, aku membangunkan mu," ucap Kevin.
"Jam berapa ini?" tanya Melika.
"Jam setengah enam, aku mau jogging ke pantai, kamu mau ikut?" tanya Kevin.
"Boleh, aku akan cuci muka sebentar," ucap Melika.
Kevin mengangguk dan Melika pun memasuki kamar mandi.
Selesai mencuci mukanya, Melika ke luar dan mengganti pakaiannya. Dia menggunakan tanktop dan switer rajut dengan celana pendek.
"Untung aku bawa baju lebih," gumam Melika.
"Yuk, Mas," ajak Melika dan Kevin pun menuntun Melika keluar dari kamar hotel.
Mereka keluar dari hotel dan berlari kecil menuju pantai.
Kevin terkekeh saat melihat Melika ngos-ngosan, Melika jarang berolahraga, membuatnya cepat merasa lelah meski hanya berlari kecil.
"Kamu lelah?" tanya Kevin.
Melika tersenyum dan mengangguk.
"Aku sudah lama sekali tidak berolahraga, jadi gampang lelah," ucap Melika.
"Kalau begitu, aku akan mengingatkan mu mulai sekarang. Olahraga itu penting, sehat itu mahal," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan mengangguk.
Kevin menuntun Melika menuju warung kecil yang terdapat beberapa kursi di sana.
"Mau minum apa?" tanya Kevin.
"Mineral water saja, yang dingin," ucap Melika sambil duduk di kursi.
"Biasa, oke," ucap Kevin.
Melika menghela napas dan mengangguk.
"Kenapa nanya kalau gitu?" batin Melika.
Kevin pun membeli dua mineral water yang tidak dingin untuknya dan Melika.
Kevin membukakan tutup botol mineral water Melika dan memberikannya pada Melika.
"Makasih, Mas," ucap Melika.
Kevin mengangguk dan menenggak mineral water miliknya.
"Setelah ini, kita mau ngapain?" tanya Melika.
Kevin berpikir sejenak.
"Sepertinya, kita tidak bisa berbulan madu ke tempat yang jauh, masa cuti ku hanya tersisa Empat hari," ucap Kevin.
"Empat hari?" Melika menatap Kevin dengan tatapan bingung.
Kevin mengangguk.
"Apa mau ke pulau seribu? Di Kepulauan Seribu Utara ada yang namanya Pulau Harapan. Kita bisa ke sana kalau kamu mau," ucap Kevin.
"Apa Mas sedang mengharapkan sesuatu, karena itu Mas mau ke sana?" tanya Melika sambil tersenyum.
"Mungkin, dari sini kita tinggal nyebrang menggunakan kapal," ucap Kevin.
"Lalu? Kita tidur di mana nantinya? Apa kita akan tidur di hutan dan memakai tenda?" tanya Melika.
Kevin terkekeh, dia sungguh gemas melihat kepolosan istrinya itu.
"Tentu saja di penginapan, kita akan menyewa penginapan di sana. Tapi, kalau kamu mau tidur di tenda, itu tidak masalah," ucap Kevin.
"Setelah aku pikir-pikir, jika kita ke luar negeri, waktunya akan terasa singkat. Jika aku bisa cuti dua mingguan, barulah kita bisa bulan madu keluar negeri," ucap Kevin.
Melika pun mengangguk.
"Aku terserah Mas saja. Lagi pula, Mas yang akan membayar semua transportasinya," ucap Melika dengan polos.
"Apa, kenapa begitu?" tanya Kevin.
"Jadi, apa aku juga akan ikut membayarnya?" tanya Melika.
"Tentu saja, kita kan menikmatinya berdua, tentu saja kita akan patungan," ucap Kevin.
Melika membulatkan matanya, dia menghitung perkiraan biaya menyewa kapal dan biaya menyewa penginapan selama empat hari.
"Ya ampun, bisa habis tabunganku," batin Melika.
"Gimana kalau kita tidak usah pergi ke sana? kita diam saja di rumah," ucap Melika.
"Kenapa begitu?" tanya Kevin.
"Karena, aku tidak punya uang," ucap Melika sambil menundukkan kepalanya.
Melika menyeringai saat teringat sesuatu.
"Oh iya, aku istrimu, kan?" tanya Melika.
"Iya, lalu?" Kevin menatap Melika dengan tatapan bingung.
Melika menyodorkan tangannya ke hadapan Kevin.
"Apa?" tanya Kevin.
"Sebagai istrimu, aku berhak atas uangmu, bukan? Dan, aku masih ingat ucapan Mas saat kita baru menikah. Bahwa apa yang Mas miliki adalah milikku juga," ucap Melika.
"Wow, istriku ini sudah mulai perhitungan ternyata," ucap Kevin sambil terkekeh.
"Bukan begitu, aku tidak punya uang untuk patungan. Jadi, aku meminta hak ku sebagai istrimu," ucap Melika.
Lagi-lagi Kevin terkekeh, dia mengambil dompetnya dan memberikannya pada Melika.
"Itu, pegang lah semuanya," ucap Kevin.
"Apa? Aku tidak mau, aku hanya akan mengambil satu debit card untukku pribadi. Untuk uang bulanan rumah, kan, Mas sudah memberikan kartu lain, waktu itu," ucap Melika.
Kevin menggelengkan kepalanya dan semakin dibuat gemas dengan tingkah polos istrinya itu. Dia hanya ingin menjahili istrinya, tetapi istrinya itu justru menganggapnya serius. Bagaimana mungkin dia akan menyuruh istrinya mengeluarkan uang sendiri untuk menyewa kapal dan juga penginapan? Kevin masih sanggup untuk membayarnya, dia bahkan sanggup untuk membeli sebuah penginapan pribadi jika dia mau.
"Kamu terlalu polos, dan aku suka itu," ucap Kevin sambil tersenyum.
"Aku bukan polos, aku hanya lola," ucap Melika.
"Apa itu lola?" tanya Kevin dengan bingung.
"Loading lama, hehe." Melika pun menyengir sambil menatap Kevin.
Kevin pun tertawa mendengar ucapan Melika.
Entah wanita seperti apa yang sudah dia nikahi, namun menikahi Melika nyatanya bukanlah suatu hal yang buruk. Kevin bahkan selalu merasa terhibur dengan tingkah konyol Melika. Melika sungguh berbeda dengan wanita yang pernah dekat dengannya. Melika bahkan sungguh jauh berbeda dengan Prischa. Prischa begitu manja padanya, bahkan ke salon saja Prischa selalu ingin di temani oleh Kevin. Meski begitu Kevin pun tak merasa keberatan saat itu.