My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 55



Meeting telah selesai, Kevin kembali ke kantornya. Ia kembali teringat pada ucapan sang papa.


Flashback.


Papa Kevin meminta Melika keluar dari ruangan itu, dia ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Kevin. Melika pun keluar dari ruangan itu, membiarkan ayah dan anak itu untuk berbicara.


"Kenapa, Pa? Ada apa?" tanya Kevin penasaran. "Bagaimana ceritanya?" tanya papa.


"Cerita apa?" tanya Kevin bingung. "Kapan kamu melakukannya?" tanya papa Kevin. "Melakukan apa?" tanya Kevin semakin dibuat bingung oleh pertanyaan sang papa.


Papa Kevin menghela napas panjang, dia memegang dadanya yang terasa sesak.


"Papa baik-baik saja?" tanya Kevin cemas. "Ya, jika kamu mengatakannya," ucap papa.


"Aku bingung, apa sebenarnya yang papa bicarakan?" tanya Kevin. Dia benar-benar tak mengerti maksud dari ucapan sang papa.


"Prischa hamil, kenapa kamu tidak memberitahu Papa? Kenapa kamu menyembunyikan segalanya?" tanya papa penasaran. Kevin mengerutkan dahinya, dia semakin bingung. Untuk apa sang papa emmbahas soal kehamilan Prischa? Itu semua bahkan tak ada hubungannya dengan Keviin.


"Aku nggak ngerti," ucap Kevin. "Tadi shubuh, Om Atma menghubungi Papa, dan memberitahukan soal kehamilan Prischa. Bertanggung jawablah, dia anakmu, darah dagingmu," ucap papa. Kevin membulatkan matanya. Dia bahkan tak pernah melakukan hubungan intim bersama Prischa, bagaimana bisa dia harus bertanggung jawab atas kehamilan Prischa?


"Apa maksud Papa? Aku bahkan nggak pernah melakukan hubungan intim dengannya, kenapa aku harus mempertanggung jawabkan seusatu yang bahkan tak pernah aku lakukan?" ucap Kevin tak terima. Ekspresi ayah dan anak itu sama-sama menegang.


Papa Kevin menghela napas dan tak sengaja melihat ke arah kaca pintu, terlihat Melika yang sepertinya tengah mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Tolong, jangan nakal seperti itu. Beri kami waktu untuk bicara," ucap papa. Melika menelan air liurnya. "Maaf, Pa. Aku permisi," ucap Melika dan kembali menutup pintu.


Kevin dan papa sama-sama menghela napas, mereka berpikir semoga Melika tak mendengar pembicaraan mereka. Papa Kevin melihat Kevin kembali.


"Jadi, menurutmu Om Atma berbohong pada Papa?" tanya papa Kevin. "Aku nggak ngerti apa maksudnya, tapi aku yakin, Prischa melakukan ini karena aku menolak untuk kembali kerjasama dengannya," ucap Kevin.


"Kerjasama apa? Apa kalian terlibat kontrak pekerjaan?" tanya papa. Kevin mengangguk dan menghela napas lelah. Pagi-pagi dia sudah dibuat pusing oleh kesalah pahaman sang papa akibat pulah Prischa.


"Sebelumnya, ya. Tapi, sekarang nggak. Dia benar-benar tidak profesional;," ucap Kevin kesal.


"Apa maksudmu?" tanya papa bingung. "Dia membatalkan kerjasama secara sepihak hanya karena membenciku. Perusahaanku hampir kolaps karena ulahnya," kesal Kevin. "Dan, kamu hanya diam? Kamu tidak memberitahu Papa?" ucap papa Kevin terkejut. Dia tak habis pikir karena putra kesayangannya itu ternyata mengalami hal sulit. Dia bahkan tak tahu apapun.


"Tenanglah, semuanya sudah baik-baik saja berkat bantuan Melika," ucap Kevin. Dia tahu papanya itu khawatir padanya, itulah sebabnya dia tak ingin memberitahukan masalah apapun pada sang papa.


"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya papa penasaran. Kevin pun menjelaskan secara detail apa saja yang sudah Melika lakukan untuk menyelamatkan perusahaannya.


"Sebenarnya, Papa pun, tidak percaya. Hanya saja, Om Atma menunjukkan sebuah bukti pada Papa," ucap papa.


"Bukti apa?" tanya Kevin penasaran. "Bukti kalian pernah menginap di salah satu hotel," ucap papa. Kevin menghela napas. Dia ingat saat itu memang pernah menginap di hotel bersama Prischa. Namun, dia ingat betul tak terjadi apapun saat itu.


"Ya, tapi tidak terjadi apapun," ucap Kevin. "Kalau begitu, selesaikan lah masalah kalian. Papa tidak ingin masalah ini sampai mengganggu rumah tanggamu dengan Melika. Kevin menghela napas dan mengangguk. Dia pun pamit keluar dari ruangan tersebut.