
Melika terus memperhatikan pintu ruang rawat itu, tetapi tak juga ada tanda-tanda Kevin akan keluar dari ruangan tersebut, entah masalah apa yang tengah ayah dan anak itu bicarakan. Tak lama bibi datang membawakan minuman juga makanan dan memberikannya pada Melika. Melika menjadi terpikir, apa sebenarnya yang membuat mertuanya itu sampai mengalami serangan jantung ringan? Sedangkan yang dia lihat, papa mertuanya itu selalu terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat sehat.
"Bi!" panggil Melika. "Iya, Bu," sahut bibi. "Sini, duduk dekat Saya!" pinta
Melika. Bibi mengangguk dan duduk di dekat Melika. "Papa kenapa? Kok, bisa terkena serangan jantung?" tanya Melika penasaran. "Saya nggak tahu, Bu. Saya nggak sengaja lewat ke kamarnya saat akan bersih-bersih, tetapi tiba-tiba Tuan kesakitan, dan Saya penasaran, jadi, Saya masuk saja ke kamarnya," ucap bibi. "Tapi, makan Papa dijaga, kan, ya?" tanya Melika. "Iya, Bu. Tuan besar makannya sehat-sehat, kok. Pak Kevin selalu ingatkan Saya agar menjaga Tuan besar," ucap Bibi.
Melika terdiam, dia masih larut dalam pikirannya. Dia pun merasa bingung, entah apa yang sebenarnya terjadi. Dia yakin betul ada yang tidak beres, mengingat ekspresi wajah mertua juga suaminya saat dia masuk tadi. Perhatian Melika teralihkan saat mendengar suara ruangan itu terbuka, tampak Kevin keluar dengan wajah memerah, tangannya bahkan terkepal. Melika pun bergegas menghampiri Kevin.
"Mas baik-baik saja?" tanya Melika cemas. "Aku mau sendiri. Sepertinya, Aku nggak ke Kantor hari ini, tapi Aku ada meeting dengan Jian," ucap Kevin. "Meeting penting?" tanya Melika. Kevin pun mengangguk. "Apa nggak bisa Niken yang tangani dulu? Aku rasa, Mas nggak enak badan," ucap Melika. Kevin tersenyum tipis dan memijat dahinya. "Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing, karena nggak tersalurkan," ucap Kevin. "Maksudnya?" tanya Melika bingung. "Sudahlah, jangan dibahas," ucap Kevin. Melika mengerucutkan bibirnya, dia tak suka Kevin menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku ke toilet dulu," ucap Kevin dan diangguki oleh Melika. Kevin pergi menuju toilet, dia membasuh wajahnya. Kepalanya terasa ingin pecah, Bukan karena masalah yang dibicarakan oleh sang papa, tetapi karena suatu kebohongan nyawa sang papa bisa saja terancam. Kevin bahkan tak memiliki siapapun selain sang papa, dari kecil sang papa lah yang merawatnya, menjadi ayah skaligus ibu untuknya. Selesai membasuh wajahnya, Kevin kembali menemui Melika dan pamit ke Kantor. Dia mengurungkan niatnya untuk tak pergi ke Kantor, bagaimana pun, dia memiliki tanggung jawab terhadap perusahaannya, tentu masalah seberat apapun yang di hadapinya, dia tetap harus profesional. Sedangkan Melika menemani sang papa di Rumah Sakit.
"Mel!" panggil papa. "Iya, Pa?" Melika mendekati sang papa dan duduk di sampingnya. "Kamu sehat?" tanya papa. "Iya, Pa. Aku sehat," ucap Melika. "Kamu tidak ada riwayat penyakit jantung, kan?" tanya papa. Melika mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan pertanyaan papa mertuanya itu. "Emangnya kenapa, Pa?" tanya Melika penasaran, "Tidak, Papa hanya bertanya," ucap papa. "Aku sehat, kok, Pa. Biarpun badanku seperti ini, tapi Aku sehat," ucap Melika. Papa hanya tersenyum, dia pun memakan makanannya dengan disuapi oleh Melika.
******
Di salah satu Restauran.
Kevin tengah melakukan meeting bersama Jian, beberapa kali dia terlihat diam tak fokus dengan apa yang Jian bicarakan. "Anda baik-baik saja?" tanya Jian. "Hm ... Saya baik-baik saja," ucap Kevin. "Baiklah, apa kita bisa fokus membahas meeting ini?" tanya Jian. "Tolong, maafkan Saya," ucap Kevin. "Tidak masalah, hanya saja, jika ada masalah, tolong kesampingkan dulu, jangan dilibatkan dalam pekerjaan. Saya tahu, Anda orang yang profesional," ucap Jian, "Tidak, Saya hanya sedikit pusing saja," ucap Kevin. "Tidak tersalurkan, kah?" tanya Jian sembarang smabil tersenyum. Kevin tersenyum tipis dan menghela napas. "Anda seperti paranormal, tapi, Saya rasa, tidak perlu membahas masalah pribadi Saya, bukan? Kita fokus kembali ke pekerjaan," ucap Kevin. Jian hanya tersenyum, dan melanjutkan meeting kembali.