My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 46



Halo, kesayangan-kesayangan Author 😍 Author kembali.


Mohon maaf karena beberapa hari ini Author tidak update. InsyaAllah akan Author usahakan update secepatnya.


Terimakasih untuk yang masih setia menunggu dan mengikuti kisah Melika dan Kevin.


Cium dan peluk jauh dari Author untuk kalian semua 😘😘😍😍


I love you all 💞💞💞


*******


Melika dan Kevin kembali ke rumah setelah selesai makan malam. Selama di perjalanan, Kevin tak mengatakan apapun. Sungguh membuat Melika merasa canggung dan tak tahu harus berbuat apa.


Dia mengerti Kevin ragu untuk membiarkannya kembali bekerja pada Jian, tetapi tawaran Jian pun memang tak ada salahnya. Hanya saja, Kevin merasa keberatan jika Melika menjadi alasan terbentuknya sebuah kesepakatan tersebut.


Kruyuk ...


Kevin tersentak saat mendengar suara perut Melika. Dia pun sontak melihat ke arah Melika.


"Apa kamu masih lapar?" tanya Kevin.


Melika tak menjawab ucapan Kevin, dia hanya tersenyum canggung. Perutnya benar-benar tak dapat diajak kompromi.


Melika tengah melakukan diet, karena itu dia makan malam hanya sedikit. Ditambah lagi dengan menyantap menu dessert, membuat perutnya kembali merasakan lapar. Jika kebanyakan orang akan merasa kenyang saat makan manis. Namun berbeda dengan Melika, makanan manis setelah makan berat, justru mengurangi rasa kenyang-nya.


"Kenapa kamu makan sedikit, tadi? Dessert mu, juga, tidak habis," Kevin masih terus fokus mengemudi dan melihat ke depan jalanan.


"Aku sedang diet, Mas," ucap Melika dengan pelan. Namun masih bisa terdengar oleh Kevin, karena kebetulan di dalam mobil tidak ada suara musik.


"Untuk apa diet? Untuk siapa?" tanya Kevin dengan bingung, Kevin melihat sekilas pada Melika.


Melika menghela napas sejenak, dia tak sengaja melihat ke arah warung jualan bakso. Entah mengapa dia jadi kepikiran untuk mengajak Kevin makan bakso.


"Aku mau makan bakso," ucap Melika sambil menunjuk ke arah warung bakso tersebut.


"Apa? Kenapa? Tidak jadi diet?" tanya Kevin dengan bingung.


"Jadi, hanya saja, untuk sekarang aku akan membatalkan diet ku dulu," ucap Melika.


Kevin mengerutkan dahinya, istrinya itu memang ada-ada saja tingkahnya.


"Baiklah, kita akan makan bakso," ucap Kevin.


Kevin memarkirkan mobilnya, dan berhenti di depan warung bakso.


Melika dan Kevin pun turun dari mobil, lalu Kevin memesan satu mangkuk bakso.


"Tidak, dua mangkuk," ucap Melika.


"Apa? Apa kamu yakin? Apa perutmu masih sanggup menampungnya?" tanya Kevin dengan penasaran.


"Tidak, yang satunya untuk Mas," ucap Melika.


"Apa? Aku tidak mau, aku sudah kenyang," ucap Kevin.


"Please, Mas. Temani aku makan bakso, kali ini saja," ucap Melika sambil memasang wajah memelas.


Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan-nya perlahan, sepertinya dia tak bisa menolak keinginan Melika.


"Baiklah. Tapi, jika tidak habis, aku tidak bisa memaksa untuk menghabiskannya," ucap Kevin.


"Iya, iya." Melika dan Kevin duduk sambil menunggu pesanan bakso mereka datang.


"Tunggu sebentar." Melika beranjak dari duduknya dan menghampiri Abang jualannya.


"Berikan sambal, tiga sendok makan saja," ucap Melika.


Abang jualan bakso mengangguk dan melakukan apa yang Melika perintahkan.


Setelah selesai, dia membawa dua mangkuk bakso itu ke meja Melika dan Kevin.


Mereka pun mulai menyantap bakso itu.


Uhuk ,, uhuk ,, uhuk ...


Kevin tersedak saat memulai suapan pertamanya, hidungnya terasa perih dan sakit karena sambal yang begitu menyengat dan terasa pedas di mulutnya.


"Mas baik-baik saja?" tanya Melika dengan cemas dan langsung memberikan air minum pada Kevin. Kevin pun langsung menenggak air minumnya hingga tak tersisa.


Kevin memanggil Abang yang jualan bakso itu, dan akan memarahinya. Namun Melika langsung menahan tangan Kevin, meminta Kevin untuk tidak melanjutkan apa yang akan dia lakukan.


"Aku yang menambahkan sambal ke dalam bakso Mas," ucap Melika.


Kevin terkejut mendengar ucapan Melika.


"Apa? Kenapa? Kamu ingin balas dendam, karena kamu hampir menelan cincin?" tanya Kevin dengan bingung.


"Tidak, aku hanya ingin mencairkan suasana saja. Mas diam saja sejak kita pulang dari restauran. Aku pikir, jika Mas memakan pedas, maka, pikiran Mas akan terbuka, dan Mas tidak akan mendiamkan ku lagi," ucap Melika.


Melika sungguh tak nyaman melihat Kevin jadi pendiam karena masalah Jian yang memintanya untuk kembali bekerja di perusahaannya. Melika juga menjadi tak enak hati pada Kevin, karena itu dia ingin mencairkan suasana. Melika berpikir, orang yang tengah sulit memutuskan sebuah pilihan, akan memiliki jalan keluar setelah makan pedas.


Kevin menghela napas berat setelah mendengar penjelasan dari Melika, entah Melika dapat teori dari mana tentang semua itu.


"Tolong, maafkan aku," ucap Melika sambil menunjukkan wajah bersalahnya.


"Sudahlah, aku mau pulang," ucap Kevin. Kevin pun pergi ke mobil terlebih dahulu.


******


Sesampainya di rumah, Kevin masih tetap mendiamkan Melika, membuat Melika benar-benar merasa bersalah.


Melika bingung harus memulai pembicaraan dari mana, dia tak nyaman jika Kevin mendiamkannya.


Kevin memasuki walk in closet untuk mengganti pakaiannya, sementara Melika memilih pergi menuju kamar mandi.


Selesai mencuci wajahnya, Melika keluar dari kamar mandi dan melihat Kevin tengah terbaring di tempat tidur sambil memejamkan matanya.


Melika pun menghela napas, suaminya itu sepertinya sengaja menghindarinya.


Melika merebahkan tubuhnya di samping Kevin.


Kevin tersentak saat Melika memeluknya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat Mas kesal," ucap Melika.


Kevin menghela napas, dia pun kembali memejamkan matanya.


"Tolong, bicaralah. Jangan sampai masalah ini berlanjut sampai esok hari," ucap Melika.


Melika memang terbiasa menyelesaikan masalahnya hari itu juga. Jika dia memiliki masalah dengan seseorang, maka dia akan mencoba membicarakannya dan menyelesaikannya dengan segera. Dia tak ingin masalahnya terus berlarut.


"Aku tidak marah," ucap Kevin.


Melika mendongak dan menatap Kevin yang masih memejamkan matanya.


"Benarkah? Apa Mas melantur?" tanya Melika dengan bingung. Pasalnya, Kevin masih saja memejamkan matanya.


"Aku tidak marah, aku hanya merasa bingung untuk mengatakan ini," ucap Kevin.


"Mengatakan apa?" tanya Melika dengan penasaran.


"Sepertinya, memakan bakso yang pedas, cukup membuka pikiranku yang sebelumnya tersendat," ucap Kevin.


Melika merubah posisinya menjadi tengkurap dengan tangan yang menopang tubuhnya.


"Maksudnya, bagaimana, Mas?" tanya Melika dengan bingung.


"Ya, aku mengizinkanmu bekerja," ucap Kevin.


Melika membulatkan matanya, dia tak menyangka Kevin akan menyetujui permintaan dari Jian.


"Benarkah? Apa Mas yakin?" tanya Melika dan mencoba memastikan bahwa Kevin tak salah mengambil keputusan.


Kevin pun mengangguk.


"Aku hanya minta satu hal padamu," ucap Kevin.


"Apa, itu?" tanya Melika.


"Jangan lupakan kewajiban mu sebagai Istri, maka kamu bebas melakukan apapun yang kamu inginkan. Tentunya, harus dalam batas kewajaran," ucap Kevin.


"Tentu saja, aku janji," ucap Melika dengan antusias.


Entah mengapa Melika menjadi bersemangat. Dia teringat janji Jian yang akan memberikan Prischa pelajaran atas perbuatannya.


Melika bukan orang pendendam, tetapi apa yang Prischa lakukan memang sudah keterlaluan, dan Prischa memang harus mendapatkan pelajaran.