
Kevin terkejut mendengar permintaan gila dari Prischa. Ya, orang yang diam-diam mendengarkan adalah Kevin. Dia tak menyangka Prischa akan berkata seperti itu. Dia masih tetap diam di depan pintu, menunggu ucapan apalagi yang akan Prischa katakan.
"Maaf, jika maksudmu agar aku meninggalkan Mas Kevin, aku nggak bisa. Pernikahan bukan permainan yang semudah itu bisa diakhiri. Pernikahan adalah ikatan suci yang disaksikan langsung oleh Tuhan. Hanya dia yang berhak memutuskan, bukan kamu!" tegas Melika.
"Ah, sudah kuduga kamu nggak akan mau. Kalau begitu, pergilah. Kita akan bertemu di pengadilan nanti," ucap Prischa.
"Apa maksudmu?" tanya Melika terkejut.
"Apa kamu pikir aku akan diam saja menerima perlakuan Kevin terhadapku? Tentu tidak, Melika. Setiap perbuatan harus ada balasannya bukan? Dia harus dihukum atas apa yang dia lakukan terhadapku!" ancam Prischa.
"Tapi dia nggak nggak sengaja, Prischa. Aku sudah lihat rekaman cctv, di sana jelas terlihat kamu yang memaksa melepaskan tangan Mas Kevin hingga akhirnya kamu terjatuh," ucap Melika.
Melika benar-benar takut jika Prischa sampai membawa kasus tersebut ke jalur hukum. Tentu saja dia tak ingin suaminya masuk ke jeruji besi.
"Kamu tak akan pernah mengerti rasanya kehilangan anak, karena kamu tak pernah merasakannya! Dan aku bersumpah, aku membenci kalian. Aku berharap kalian tak akan pernah merasakan memiliki anak!" tegas Prischa.
"Jaga ucapanmu!" bentak Melika dan akan menampar Prischa. Namun, tangan Melika tertahan dan Kevin lah yang menahannya.
"Jangan mengotori tanganmu untuk wanita seperti dia!" ucap Kevin.
Melika menatap Kevin dalam dan melepaskan tangan Kevin.
"Dia lancang bicara seperti itu, dia tak bisa sembarangan mengatakan ucapan buruk seperti itu, Mas," ucap Melika.
"Sudahlah, drama kalian membosankan. Lebih baik kalian pergi dari sini!" kesal Prischa.
Kevin mengenggam tangan Melika dan menatap Prischa.
"Aku minta maaf. Aku sungguh menyesali kejadian ini. Aku tahu sakitnya kehilangan, karena itu aku tak akan mengatakan apapun. Jika kamu mau menuntutmu, lakukan saja. Aku akan menunggunya," ucap Kevin dan menuntun Melika keluar dari ruangan itu.
Prischa mengepalkan tangannya, dia pun menangis. Hatinya sakit melihat Kevin begitu membela Melika, dia bahkan sesak melihat cinta di mata Kevin untuk Melika.
Kevin terkejut saat tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria. Pria yang cukup tampan, dan Kevin mengenal pria itu. Pria yang menyebabkan hubungannya dengan Prischa berakhir. Pria itulah yang saat itu memiliki hubungan terlarang dengan Prischa, di saat dirinya masih menjadi kekasih Prischa.
"Beraninya datang ke sini!" pria itu terlihat kesal dan menarik baju Kevin. Membuat Kevin sedikit terkejut. Melika pun membantu Kevin dengan melepaskan paksa tangan pria itu.
"Hentikan! Apa urusanmu?" tanya Melika bingung.
"Dia suamimu? Heh, dia sudah membunuh anakku!" geram pria itu.
Melika mengerutkan dahinya. Kevin pun terkejut, ternyata anak yang Prischa kandung adalah anak pria itu. Tentu saja itu menjadi kabar baik bagi dirinya untuk membuktikan pada papanya dan juga orangtua Prischa, bahwa dia tak pernah menghamili Prischa. Jangankan menghamili, dia bahkan hanya menyentuh Prishca hingga sebatas ciuman saja, itupun terjadi ketika mereka masih memiliki hubungan.
Kevin pun tersenyum membuag pria itu mengerutkan dahinya merasa bingung.
"Lihat saja, kamu tak akan bisa hidup tenang!" geram pria itu dan masuk ke ruang rawat Prischa.
Prischa mendengus sebal melihat pria itu dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Bagaimana keadaanmu? Aku harap, kamu baik-baik saja, dan tak terlalu memikirkan masalah ini. Ikhlaskan bayi kita, jangan lagi bersedih," ucap pria itu yang Prischa kenal hampir dua tahun lalu karena sebuah kontrak kerjasama. Prischa adalah model yang pria itu pakai jasanya kerjanya. Pria itu adalah Bryan William, siapa yang tak mengenal pria itu? Pria yang malang melintang di dunia enterntaint itupun terkenal di Indonesia.
Prischa terkekeh dan mengusap air matanya yang masih sedikit membasahi pipinya karena menangis sebelumnya.
"Siapa yang sedih? Aku bahkan bersyukur kehilangan anak itu. Aku tak pernah menginginkan anak itu, jadi beruntung sekali dia lenyap," ucap Prischa.
Bryan terkejut mendengar ucapan Prischa.
"Apa maksudmu? Wanita macam apa kamu ini, kehilangan anak, tetapi kamu malah bersyukur?" ucap Bryan tak habis pikir. Bagaimana bisa ada wanita yang dengan tega bicara seperti itu? pikirnya.
"Aku tak pernah mencintaimu! Apa yang terjadi diantara kita, adalah sebuah kesalahan. Aku menyesal mengkhianati Kevin dulu. Jika bukan karena kontrak itu, aku tak akan mau berhubungan denganmu. Aku hanya membutuhkan popularitas, dan aku tak peduli denganmu, dengan perasaanmu. Lagipula, pertemuan kembali kita adalah petaka, dan terjadilah kesalahan di malam itu. Aku tak sudi berurusan dengan pria ******** seperti dirimu! Pria brengsekk yang mengambil keuntungan dari wanita yang tak berdaya!" geram Prischa.
Bryan menghela napas. Dia tak pernah menginginkan kejadian malam itu terjadi. Suatu ketika, dirinya pernah bertemu dengan Prischa di sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu manajemen dunia entertaint, dalam sebuah pesta tentu akan ada aroma alkohol, keduanya sama-sama mabuk dan menyebabkan petaka itu terjadi. Bryan memang mencintai Prischa, dia menginginkan Prischa tapi tak pernah mencoba mengambil keuntungan di malam itu. Semua itu terjadi murni karena sebuah kecelakaan. Keduanya sama-sama sedang tak sadar. Keesokan hariny, mereka pun syok karena berada di.kamar yang sama serta di ranjang yang sama dalam keadaan tubuh polos yang hanya terbalut selimut saja.
Semenjak mengetahui dirinya hamil, Prischa mengambil segala bukti itu untuk memfitnah Kevin di depan orangtuanya. Dia berikan rekaman cctv yang menampakan Bryan dan dirinya saat memasuki kamar hotel. Perawakan Bryan yang mirip dengan Kevin, menguatkan asumsi orangtua Prischa, bahwa memang Kevin lah yang sudah menghamili Prischa.
"Aku tak pernah mengambil keuntungan apapun, semua terjadi atas kemauan kita berdua," ucap Bryan.
Prischa mengepalkan tangannya. Dia tak terima mendengar ucapan Bryan, bagaimana bisa dia pun menginginkannya, bahkan dia saja dalam keadaan tak sadar?
"Pergilah! Aku muak melihatmu!" geram Prischa.
"Aku akan pergi, tapi nanti setelah aku bertemu orangtuamu!" ucap Bryan.
"Untuk apa menemui orangtuaku? Urusanmu denganku, bukan dengan mereka!" ucap Prischa.
"Aku akan menikahimu, tentu saja aku membutuhkan restu kedua orangtuamu," ucap Bryan.
"Apa?" Prischa terkejut mendengar ucapan Bryan. Yang benar saja Bryan ingin menikahinya, jika begitu dia tak akan memiliki kesempatan untuk menikahi Kevin.
"Jangan bermimpi!" ucap Prischa sambil terkekeh geli. Dia bahkan tak menginginkan hidup bersama Bryan.
"Kamu tak memiliki pilihan lain, Prischa. Aku bisa jamin, tak akan ada pria yang menginginkan wanita yang sudah tak suci lagi. Seharusnya kamu bersyukur, karena aku masih memiliki hati dan mau bertanggung jawab, jika tidak, aku akan membuangmu seperti sampah!" tegas Bryan.
Prischa mengepalkan tanganya. Dia sungguh kesal mendengar ucapan Bryan. Mengingatkannya pada kenyataan, bahwa Bryan lah pria yang sudah mengambil harta berharganya.