My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 69



Kevin terkejut saat Melika menamparnya. Tamparan yang cukup kuat membuat pipinya seketika terasa perih dan meninggalkan bekas tangan Melika yang tercetak jelas di pipi putihnya.


"Pria macam apa kamu ini, ha? Kamu tahu dia hamil sejak awal, tetapi kamu justru menyeretnya seperti itu? Setidaknya, kamu bisa mengusirnya dengan cara lain!"


Melika marah bukan main. Dia tak menyangka Kevin mengetahui kabar kehamilan Prischa sejak awal tetapi jelas terlihat dalam rekaman cctv bahwa Kevin menyeret Prischa keluar dari kamarnya yang menyebabkan Prischa sampai terjatuh dari tangga. Meski Melika membenci Prischa, tetapi hati nuraninya sebagai seorang wanita tetap merasa sakit. Dia membayangkan jika dirinya berada dalam posisi Prischa.


Kevin terdiam, dia tak tahu mau mengatakan apa lagi. Melika benar, pria macam apa dirinya yang tega menyeret wanita yang sedang hamil?


Tetapi Kevin pun tak tahu jika Prischa benar-benar tengah hamil, selama ini dia berpikir Prischa hanya berpura-pura hamil. Kevin pun tak mengerti mengapa Prischa bisa hamil dan justru menduduhnya menghamili Prischa, sementara dia tak pernah menyentuh Prischa melebihi batas. Hubungannya dengan Prischa pun sudah berakhir sejak lama.


"Aku kecewa padamu, Mas! Kamu keterlaluan!" kesal Melika dan keluar dari kamarnya. Dia meninggalkan Kevin dengan kemarahan. Begitu melewati tangga, Melika melihat bibi yang terlihat takut menatapnya.


"Di Rumah sakit mana Prischa di rawat?" tanya Melika pada bibi.


Bibi menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak tahu, Bu. Mungkin, di Rumah Sakit terdekat, Bu. Karena saat itu, Bapak terlihat panik," ucap bibi.


Melika tak mengatakan apapun lagi dan pergi ke dapur. Dia menenggak segelas air, dadanya masih terasa sesak mengingat ucapan Kevin dan kejadian yang terekam dalam cctv. Entah mengapa, dia pun menjadi ikut sedih mendengar kabar Prischa kehilangan bayinya, bagaimanapun semua itu pasti menyakitkan untuk Prischa. Karena sudah jelas, tak akan ada ibu yang rela kehilangan anaknya. Entah hasil apa anak tersebut, tetapi itu sudah menjadi hukum alam. Nurani seorang ibu, akan timbul alami terhadap anaknya.


Melika pergi menuju kamar tamu, dia tak ingin tidur satu kamar dengan Kevin. Dia masih marah pada Kevin.


Sementara di kamar Kevin, Kevin terlihat frustrasi. Belum selesai masalahnya dengan Prischa, kini dia harus menghadapi kebencian Melika. Dia menyesal, seharusnya dia mengatakan semuan,a sejak awal pada Melika, mungkin dengan begitu kejadiannya tidak akan seperti saat ini.


Kepalanya terasa pusing, berbagai masalah menimpa dirinya. Ketenangan tak bisa dia rasakan, perasaan bersalah terhadap kedua wanita itu menjalar di hatinya. Bagaimana dia akan menghadapi kemarahan dua wanita sekaligus? Rasanya dia ingin teriak melepaskan semua bebannya.


Kevin teringat pada Gerry, dia menghubungi nomor Gerry dan mengajak Gerry bertemu di klub tempat dia dan Gerry biasa datang. Sebetulnya, semenjak mengenal Melika, Kevin tak pernah lagi datang ke sana, tetapi hari ini dia benar-benar merasa kacau, dia ingin melampiaskan segala kekesalannya.


Sesampainya di klub.


Kevin menghampiri Gerry yang sudah datang lebih dulu dan tengah duduk di depan bar. Dia langsung memesan minuman yang biasa dia pesan sebelumnya.


"Apa kamu tidak jadi taubat? Kenapa kembali lagi ke sini?" tanya Gerry sambil terkekeh. Gerry tak tahu masalah besar tengah menimpa Kevin, karena itu Gerry justru mengejek Kevin.


"Prischa masuk Rumha Sakit," ucap Kevin.


"What? Kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Gerry terkejut.


Kevin mengangguk.


"Bagaimana bisa? Bagaimana isterimu?" tanya Gerry tak habis pikir pada temannya itu.


"Melika marah besar padaku," ucap Kevin.


"Jelas saja, mana ada Istri yang rela Suaminya masih berhubungan dengan mantannya," ucap Gerry.


"Melika marah karena aku menyebabkan Prischa kehilangan bayinya," ucap Kevin.


"Astaga! Prischa hamil? Bagaimana bisa? Apa dia mengandung anakmu?" tanya Gerry penasaran.


Kevin menggelengkan kepalanya.


"Seumur hidupku, hanya satu wanita yang menyentuhku, dan itu Melika," ucap Kevin.


"Lalu, apa hubungannya dengan kemarahan Melika? Aku tak mengerti," ucap Gerry bingung.


"Akulah yang menyebabkan Prischa kehilangan bayinya, dan Melika marah besar padaku," ucap Kevin.


Kevin terus menenggak minumannya. Dia meminta lagi dan lagi minuman itu pada bartender, pikirannya benar-benar kacau.


"Sepertinya, masalahmu benar-benar rumit kali ini," ucap Gerry.


Kevin terdiam, benar masalahnya terlalu rumit hingga dia sendiri merasa tak memiliki jalan keluarnya.


"Aku takut," ucap Kevin.


"Kenapa?" tanya Gerry.


"Aku takut Melika meninggalkanku sama seperti Prischa dulu meninggalkanku," ucap Kevin.


"Apa kamu mencintai Melika?" tanya Gerry.


Kevin mengangguk.


Kevin mengembuskan napas kasar. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Aku tak tahu harus melakukan apa? Kepalaku buntu," ucap Kevin putus asa.


"Ayolah, kamu pasti bisa menyelesaikan semua masalahmu. Cobalah cari tempat yang tenang, agar kamu bisa berpikir," ucap Gerry.


Kevin tak mengatakan apapun lagi, entahlah mungkin ucapan temannya itu ada benarnya.


Keesokan harinya.


Melika bergegas melajukan mobilnya. Dia pergi tanpa pamit pada Kevin. Dia pun mendengar dari bibi bahwa Kevin semalam pergi dan di tak ingin memikirkan hal itu saat ini. Dia hanya ingin tahu keadaan Prischa saat ini.


Waktu masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi, jam besuk belum dimulai, tetapi dia tak tahan lagi menunggu. Masih ada waktu sebelum dia ke kantor.


Melika mencoba mencari Rumah Sakit terdekat, jujur saja dia tak tahu di mana Prischa di rawat? Dia pun tak ingi bertanya pada Kevin karena masih merasa kesal.


Pandangan Melika tertuju pada Rumah Sakit swasta yang cukup besar, dia pun menghentikan mobilnya dan bergegas menghampiri resepsionis. Dia menanyakan nama Prischa, dan benar saja Prisha di rawat di sana.


Melika tak di izinkan masuk karena ada pesan dari keluarga Prischa agar tak ada yang boleh menjenguk Prischa kecuali pihak keluarga.


"Dia temanku dan aku mencemaskannya. Tolonglah, biarkan aku masuk. Aku kenal baik dengan keluarganya," ucap Melika bohong. Melika melakukan itu terpaksa agar dia dapat melihat keadaan Prischa.


Dengan berpikir cukup lama, akhirnya Melika di izinkan menjenguk Prischa. Kebetulan Prischa dirawat di ruang vvip sehingga kerabat pasien dapat menjenguk kapan saja.


Melika bergegas menuju ruang rawat Prischa dan perlahan membuka pintu ruangan itu. Terlihat Prischa sudah siuman. Dia tengah di temani oleh wanita yang terlihat tak lagi muda. Sepertinya, itu adalah ibu dari Prischa.


Prischa terkejut saat melihat keberadaan Melika dan meminta sang mama untuk meninggalkan mereka berdua.


"Jika kamu ingin menertawakanku, sebaiknya pergi saja!" ucap Prischa lemah.


"Tidak, aku kesini untuk melihat keadaanmu, aku mencemaskanmu, ucap Melika.


Prischa mengerutkan dahinya mendengar ucapan Melika.


"Apa ada orang yang mencemaskan musuhnya?" tanya Prischa tak habis pikir. Bukankah hubungan mereka tak baik sejak awal? Lalu, mengapa Melika justru merasa cemas padanya?


"Aku tidak pernah menganggapmu musuhku," ucap Melika.


Prischa terdiam.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya Melika.


"Fisikku mungkin baik, tetapi tidak dengan hatiku," ucap Prischa.


"Aku mengerti, aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu. Aku sungguh menyesal semua ini bisa terjadi," ucap Melika.


"Heh ... Kenapa kamu yang meminta maaf? Kemana Kevin? Harusnya dia yang datang ke hadapanku dan meminta maaf padaku!" tegas Prischa.


"Dia mungkin akan menemuimu, tetapi karena aku isterinya, dan akupun menyesal atas kejadian ini," ucap Melika.


Prischa terkekeh mendengar ucapan Melika.


"Pembohong! Sebaiknya kamu pergi dari hadapanku!" tegas Prischa.


"Tolong, jangan seperti ini. Kita sama-sama wanita, dan aku benar-benar prihatin padamu," ucap Melika.


"Aku tak butuh rasa kasihanmu. Jadi, jangan omong kosong! Lagipula, aku tak akan memaafkan perbuatan Kevin padaku. Dia begitu tega memperlakukanku dengan kasar dan membuatku kehilangan bayiku!" kesal Prischa.


Melika menghela napasnya. Terlihat jelas kebencian di mata Prischa dan Melika mengerti hal itu. Tentu saja apa yang Prischa alami bukanlah sesuatu yang mudah.


"Aku berharap, suatu saat kamu bisa memaafkan suamiku," ucap Melika dan akan meninggalkan ruangan itu.


"Aku hanya akan memaafkannya, jika dia juga kehilangan orang yang dia sayangi!" tegas Prischa dan membuat langkah Melika terhenti.


"Jika dia kehilanganmu, aku akan memaafkannya!" tegas Prischa.


Melika membulatkan matanya. Tak hanya itu, seseorang yang diam-diam mendengar percakapan Prischa dan Melika dari balik pintu pun begitu terkejut mendengar ucapan Prischa.