
Kevin terkejut karena bingkisan terakhir begitu besar. Bingkisan itu terdapat pita berwarna biru di setiap sudutnya.
"Itu juga?" tanya Kevin heran.
"Iya, Pak."
"Ya sudah, langsung dimasukan ke dalam saja," ucap Kevin.
Kedua orang itu membawa bingkisan besar itu ke dalam rumah Kevin dan langsung dibawa ke salah satu kamar kosong yang tak terpakai. Kevin juga menyimpan bingkisan-bingkisan kecil lainnya di dalam bingkisan besar itu.
Setelah selesai, kedua orang itupun meninggalkan rumah Kevin.
Kevin menekan panggilan ke nomor Jian. Tak lama Jian menjawab panggilannya.
'*Sungguh membuat Anda repot, banyak sekali bingkisannya,' ucap Kevin.
'Ha-ha-ha ... Bukan masalah. Saya meminta tolong seseorang untuk menyiapkannya. Ya, Saya tak mengerti hal-hal seperti itu. Harap maklum, Saya masih singel,' ucap Jian.
'Ha-ha-ha ... Segeralah menikah, pasti akan lebih menyenangkan,' ucap Kevin.
'Hm ...' Jian tak menjawab ucapan Kevin.
'Jika ada waktu luang, kita ngopi bersama. Jangan hanya untuk urusan pekerjaan saja. Sesekali coba nikmati waktu luang dengan bersantai,' ucap Kevin.
'Tentu saja. Akan sangat menyenangkan pastinya,' ucap Jian*.
Setelah selesai bicara, panggilan itupun berakhir dan Kevin kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya.
Melika sudah selesai bersiap, dan akan pergi ke kantor. Melika memutuskan untuk tetap bekerja hingga saat mendekati waktu melahirkan, dirinya akan mengundurkan diri dan fokus mengurus bayinya.
Melika menyiapkan pakaian kerja untuk Kevin. Dia membangunkan Kevin dan perlahan Kevin terbangun dari tidurnya.
"Bangun, Mas. Kamu ke Kantor, kan?" ucap Melika.
"Hm ..." Kevin perlahan bangun, dan duduk sejenak.
"Mel!"
"Ya, Mas. Kenapa?" tanya Melika.
"Aku akan mengantarmu ke Kantor. Mulai sekarang, tidak usah membawa mobil sendiri. Kehamilanmu sudah mulai besar," ucap Kevin.
"Iya. Ya sudah Mas mandi sana. Aku tunggu dibawah. Kita sarapan," ucap Melika.
Kevin turun dari tempat tidur, dan bergegas mandi. Sedangkan Melika turun menuju meja makan dan menunggu Kevin di sana.
"Bu, semalam Bapak habis beli perlengkapan bayi, ya?" tanya bibi.
"Ah? Benarkah? Saya nggak tahu," ucap Melika heran. Kevin tak mengatakan apapun padanya.
"Iya, semalam ada dua orang memasukan box bayi ke rumah," ucap bibi. Bibi ternyata melihat orang-orang yang membawa bingkisan dari Jian. Mungkinkah sesuatu yang membuat Kevin terkejut adalah box bayi?
"Tapi, Saya nggak lihat apapun. Nggak ada box bayi, tuh," ucap Melika heran.
Beberapa menit berlalu, Kevin turun menuju meja makan dan sudah siap pergi ke kantor.
"Mas? Apa Mas beli perlengkapan bayi?" tanya Melika.
"Nggak, Mel. semalam Jian mengirimkan banyak bingkisan. Itu karena, dia nggak bisa datang kemarin di acara empat bulananmu," ucap Kevin.
"Benarkah? Di mana Mas simpan? Aku mau lihat," ucap Melika.
"Di kamar kosong, aku simpan semua di sana," ucap Kevin.
"Aku lihat sebentar." Melika pergi menuju kamar kosong dan melihat box bayi.
Dia memperhatikan box bayi itu. Merk ternama dengan kualitas terbaik.
"Jian sampai repot-repot seperti ini," ucap Melika.
Melika membuka beberapa bingkisan yang terbungkus kertas kado, di sana ada baju-baju bayi, perlengkapan mandi, bahkan mainan bayi.
"Ya ampun, dia belum menikah tetapi tahu perlengkapan bayi seperti ini, Aku bahkan tak tahu sampai sedetail ini," ucap Melika.
Apa yang Jian berikan begitu lengkap, bahkan rasanya mungkin tak ada yang kurang satupun.
Selesai melihatnya, Melika kembali menuju meja makan. Dia senyum-senyum membuat Kevin merasa heran.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Aku hanya bingung pada Jian. Dia mengerti hal-hal seperti itu. Itu lengkap lho, Mas. Kita nggak perlu belanja perlengkapan bayi lagi," ucap Melika terkekeh.
Kevin tersenyum.
"Mas! Apa aku boleh membawa sarapan untuk Jian? Dia begitu baik, aku akan berikan sepotong sebagai ucapan terimakasih," ucap Melika.
"Bawakan saja," ucap Kevin.
"Benarkah? Mas nggak keberatan?" tanya Melika.
"Keberatan kalau gendong kamu," ucap Kevin terkekeh.
"Ah, seperti tahu saja. Mas bahkan nggak pernah gendong aku," ucap Melika.
"Ya maklum saja. Aku bukan superhero yang memiliki kekuatan super," ucap Kevin.
"Menanggung beban dalam hidup, bahkan dalam rumah tangga, aku mungkin akan sanggup. Tapi beban berat badanmu? Hm ... Ha-ha-ha ..." Kevin tertawa geli membayangkannya.
"Mas! Aku Istrimu. Jangan Bully aku!" tegas Melika.
"Siapa yang bully? Aku bercanda," ucap Kevin terkekeh.
"Sejak kapan Mas suka bercanda?" tanya Melika.
"Sejak mengenal wanita aneh sepertimu," ucap Kevin.
"Yang benar saja," ucap Melika.
*****
Selesai sarapan, Kevin mengantarkan Melika ke Kantornya. Tak lupa Melika membawakan roti untuk Jian yang sudah di siapkan sebelumnya.
Sesampainya di Kantor, Kevin langsung pergi ke Kantornya. Sedangkan Melika pergi ke ruangannya.
Seperti biasa, sudah ada Jian di sana.
"Selamat pagi," sapa Melika.
"Pagi, Mel," sahut Jian.
Melika menyodorkan kotak makanan pada Jian. Jian melihatnya tampak bingung.
"Untuk Bapak. Terimakasih untuk semua bingkisannya. Bapak cukup handal memilih perlengkapan bayi, meski masih jomblo," ucap Melika terkekeh.
Jian tersenyum dan mengambil kotak makanan itu. Dia membukanya.
"Apa Saya harus memakannya?" tanya Jian saat melihat roti itu ditata dengan beberapa garnish yang membuat roti itu layaknya tersenyum padanya.
"Tentu saja harus. Saya sudah menyiapkannya sebaik mungkin," ucap Melika.
"Kenapa Saya tak tega untuk memakannya? Manis sekali bentuknya," ucap Jian terkekeh.
"Sama seperti yang buat," ucap Melika tersenyum.
Jian terkekeh dan Melika pergi ke mejanya. Jain memakan roti itu.
"Terimakasih, Mel," ucap Jian.
"Saya yang berterima kasih. Bapak sungguh pengertian. Saya dan Kevin jadi tidak perlu membeli perlengkapan bayi," ucap Melika.
Jian pun tersenyum. Roti yang Melika berikan benar-benar tak tersisa. Melihat itu, Melika pun merasa senang. Sedikit demi sedikit, Jian sudah mulai menunjukan sikap ramahnya. Buktinya, Jian sudah mulai terbiasa tersenyum. Sepertinya, Jian merasa lebih baik setelah menceritakan beban hatinya pada Melika saat di Bali waktu itu.
Satu minggu berlalu.
Malam ini tepat malam resepsi pernikahan Prischa. Melika dan Kevin sudah selesai bersiap, mereka akan datang karena diundang oleh Prischa. Meski pernah kesal pada Prischa, tetapi Melika berpikir dengan Prischa menikah, artinya Prischa sudah mulai bisa membuka hatinya untuk orang lain. Dengan begitu, Prischa tak akan mengganggu rumah tangganya dengan Kevin lagi.
Kevin menggandeng Melika memasuki ballroom, sudah banyak tamu undangan di sana. Oh ya, akad nikah sebelumnya sudah dilaksanakan di pagi harinya. Prischa tampak cantik dengan dibalut gaun berwarna gold. Prischa bak seorang ratu. Pada dasarnya, Prischa memang sudah cantik, ditambah memakai gaun pengantin membuatnya terlihat lebih cantik.
"Prischa cantik, ya, Mas?" ucap Melika.
"Biasa saja," ucap Kevin.
"Ah yang benar saja. Aku saja sebagai perempuan, melihat Prischa begitu cantik," ucap Melika.
Kevin hanya diam dengan pandangan tak lepas dari Prischa. Dia akui Prischa memang cantik, tapi tak mungkin dia mengakui kecantikan Prischa dihadapan Melika. Bagaimana pun, dia mencoba menjaga perasaan Melika.
"Kevin! Kevin, kan?"
Seorang pria dengan stelan formal menghampiri Kevin, melihat Kevin dengan senyum lebar. Seolah tak percaya bisa bertemu Kevin di sana.
Kevin mengerutkan dahinya melihat orang itu. Pria itu adalah temannya Prischa. Ya, Kevin ingat karena saat bersama Prischa dulu, dia pernah dikenalkan oleh Prischa.
"Wah, menjadi tamu undangan? Aku pikir, kamu yang akan mendampingi Prischa di pelaminan. Kalian bahkan dulu bagaikan kertas surat dengan pranko, tak bisa terpisahkan," ucap pria itu.
Kevin tersenyum.
"Bukan jodoh. Aku pun sudah menikah," ucap Kevin.
"Oh, ya? Kapan? Di mana Istrimu?" tanyanya.
"Ini Istriku." Kevin merangkul bahu Melika. Melika tersenyum dan menyodorkan tangannya.
Pria itu tampak heran melihat Melika. Bahkan tangan Melika tak disambutnya.
"Yang benar saja! Aku tak habis pikir, kamu meninggalkan Prischa dan menikah dengannya?" ucap pria itu.
"Memangnya apa yang salah?" tanya Kevin.
"Kamu membuang berlian, demi sesuatu yang tak bernilai? Apa kamu sudah gi--" ucapan pria itu terhenti saat Kevin langsung menyelanya.
"Berlian memiliki beberapa grade. Ayolah, jangan seperti orang bodoh! Coba beritahu padaku, ada grade apa saja dalam berlian?" ucap Kevin.
Pria itu tampak diam, tak mengerti mengapa Kevin justru menanyakan grade berlian?
"Berlian tak selalunya memiliki niali tinggi. Kamu sendiri tau, hanya yang memiliki grade terbaik yang memiliki nilai jual tinggi. Dan kamu bilang apa, tadi? Aku membuang berlian demi sesuatu yang tak berharga?" ucap Kevin.
Pria itu diam, masih bingung dengan maksud Kevin.
"Hm ... Aku tak suka berlian cacat, sehingga hilang keindahannya. Tidak apa, Istriku tak seperti berlian, karena berlian masih bisa dicari dan dibeli dengan uang, bahkan berapa pun harganya, meski jutaan Dollar sekalipun untuk kualitas terbaik dan langka sekalipun, orang dengan kekayaan luar biasa akan sanggup membeli berlian itu. Tapi tidak dengan Istriku, dia hanya ada satu di dunia ini, dan siapapun tak akan sanggup mengukurnya dengan uang. Bahkan aku tak yakin, ada wanita sebaik dan sesempurna dia lagi di dunia ini," ucap Kevin tersenyum menatap Melika.