My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 56



Kevin menghela napas panjang, dia tak mengerti dengan Prischa yang justru memfitnahnya dengan tuduhan kejam seperti itu. Dia bahkan tak pernah menyentuh Prischa meliebihi batasan wajar. Dia pun tak habis pikir, jika motifnya adalah, karena Prischa masih mencintainya, bukankah sejak awal Prischa sendiri yang meninggalkannya? Jika saja Prischa tak pernah mengkhianatinya, dia pun tak akan menikah dengan wanita lain, sudah jelas dia akan menikahi Prischa.


Dulu Prischa wanita yang menyenangkan,  wanita yang baik, hingga membuat Kevin sampai jatuh hati. Namun, dia tak menyangka Prischa memiliki sisi kejam dibalik semua itu. Sifat manusia memang bisa berubah kapan saja, terlebih saat dirinya merasa kecewa. Namun, kekecewaan yang Prischa rasakan adalah akibat dari perbuatannya sendiri, dan ada sebuah pribahasa yang mengatakan, apa yang kau tanam, maka itulah yang akan kau tuai. Jika kau melakukan keburukan, maka keburukan itu sendiri yang akan kau dapat suatu saat nanti.


Kevin mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor Prischa, dia mengajak Prischa untuk bertemu sore ini di salah satu restoran tempat mereka biasa bertemu saat masih menjadi sepasang kekasih. Dia ingin tahu apa maksud Prischa melakukan semua ini? Dia pun ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Prischa. Jika perlu, dia tak ingin lagi berurusan dengan Prischa.


Berurusan dengan masa lalu memanglah sangat rumit, apalagi jika kita sudah memiliki kehidupan baru bersama orang lain. Maka, jangan pernah melibatkan masa lalumu dalam kehidupan masa depanmu, semua itu hanya akan menghambat kebahagiaan di masa depanmu. Tutuplah masa lalumu, jika perlu hindari. Apapun bentuknya, masa lalu tetaplah masa lalu, dia tak seharusnya menjadi bagian dari masa depanmu.


*****


Sore hari.


Kevin memasuki sebuah restoran. Dia melihat sekeliling dan ingatannya tertuju pada salah satu meja yang berada di area outdoor, di mana terdapat salah satu meja yang menjadi tempat favorit Prischa. Benar saja, Prsicha sudah duduk di sana dengan senyumnya yang merekah dengan pandangan mengarah pada Kevin yang tengah berjalan menghampirinya.


"Kamu masih ingat tempat ini? Tempat favorit kita," ucap Prischa tersneyum sambil mengingat saat-saat indahnya bersama Kevin.


"Aku nggak mau berbasa-basi," ucap Kevin sambil menarik kursinya dan duduk berhadapan dengan Prischa.


"Hei, itu bukan kursi favoritmu. Kursi favoritmu, di sebelahku," ucap Prischa sambil menunjuk ke kursi yang ada di sebelahnya.


"Ayolah, Pris. Keluarlah dari dunia mimpimu itu," ucap Kevin kesal.


"Mimpi? Ini bahkan bukan mimpi. Sentuh tanganku, maka kamu akan sadar kalau ini nyata," ucap Prischa sambil akan menarik tangan Kevin agar menyentuh tangannya. Namun, Kevin langsung menjauhkan tangannya hingga tak sempat tersentuh oleh tangan Prischa.


Prischa tersenyum, dia memanggil pelayan dan memesankan minuman untuknya juga Kevin. Dua minuman cocktail kesukaannya juga Kevin.


"Aku nggak mau minum itu, Aku mau mineral water aja," ucap Kevin. Prischa mengerutkan dahinya.


"Kamu yakin, Sayang? Ini minuman kesukaanmu yang Aku pesan," ucap Prischa.


"Sekarang tidak lagi. Aku mengikuti saran Istriku, bahwa air putih lebih sehat," ucap Kevin. Dia sungguh muak dengan panggilan sayang yang Prischa ucapkan.


Wajah Prischa memerah, dia merasa malu mendengar ucapan Kevin yang mengucapkan kata Istriku. Pelayan itu pun terlihat terkejut sambil melihat Prischa. Entah apa yang ada dipikirannya melihat seorang wanita memanggil seorang pria dengan sebutan sayang, yang ternyata pria itu sudah memiliki seorang istri.


"Oke, ganti mineral water," ucap Prischa. Pelayan itupun pergi setelah Prischa selesai memesan.


Untuk beberapa saat Kevin dan Prischa saling diam tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut keduanya.


"Apa kamu sadar, Vin?" tanya Prischa. Kevin melihat Prischa seolah mempertanyakan maksud dari pertanyaan Prischa.


"Kamu mempermalukan Aku di depan pelayan tadi," ucap Prischa dengan nada kesal. Kevin pun terkekeh, membuat Prischa merasa bingung.


"Bahkan kamu yang mempermalukan dirimu sendiri, Aku hanya bicara apa adanya," ucap Kevin. Prischa mengepalkan tangannya.


"Berapa kali Aku bilang? Aku nggak suka kamu bawa-bawa dia saat kita sedang berdua," ucap Prischa.


"Apa hak mu melarangku? Dia Istriku, dan ini mulutku. Apapun yang Aku katakan, Aku hanya mengatakan kebenaran. Tidak sepertimu, pembohong!" ucap Kevin.


Prischa terkekeh, dia mengerti arah pembicaraan Kevin mengarah kemana.


"Jadi, kapan kita akan menikah?" tanya Prischa dengan percaya diri.


Ha-ha-ha ...


Kevin tertawa keras mendengar pertanyaan Prischa. Sungguh konyol pikirnya. Jangankan menikahi Prischa, Kevin bahkan sangat membenci Prischa. Tak lama pelayan datang membawakan pesanan, saat pelayan itu akan pergi, Kevin pun menahan pelayan itu dan membuka tutup mineral water yang dia pesan tadi.


"Kamu dengar, apa yang dikatakan wanita ini?" tanya Kevin pada pelayan itu. Kevin yakin pelayan itu sempat mendengar pertanyaan Prischa tadi. Pelayan itu melihat Prischa dan kembali melihat Kevin.


"Maksudnya, Pak?" tanya pelayan itu bingung. Prischa pun menjadi ikut bingung melihat Kevin yang justru bicara pada seorang pelayan.


"Kamu sudah menikah?" tanya Kevin. "Sudah, Pak. Maaf, ini maksudnya apa, ya, Pak?" tanya pelayan itu semakin bingung.


"Coba bayangkan, jika suamimu di ganggu oleh wanita lain, dan wanita itu meminta suamimu untuk menikahinya, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan diam saja?" tanya Kevin.


"Tentu saja tidak, Pak. Mana ada Istri yang akan diam saja, melihat suaminya digoda oleh wanita lain," ucap pelayan itu. Pelayan itu seketika mengerti maksud ucapan Kevin. Dia melihat Prischa, Prischa menatap tajam pelayan itu.


"Kenapa masih disini?" Pergilah, lakukan pekerjaanmu. Kamu dibayar, bukan untuk ikut campur urusan orang lain bukan? Jangan menjadi parasit, yang hanya bermalas-malasan tetapi ingin mendapatkan gaji. Dasar, pelayan rendahan!" kesal Prischa. Pelayan itu membulatkan matanya, dia tak terima dengan apa yang Prischa katakan.


Kevin tersenyum dan memberikan mineral water di tangannya pada pelayan itu. Kevin memberikan isyarat seolah mengatakan pada pelayan itu, bahwa pelayan itu bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, dan Kevin tak merasa keberatan.


Byur ...


Beberapa pengunjung yang berada di area outdoor pun melihat ke meja Kevin dan Prischa.