
Pagi hari.
Melika terbangun saat mendengar suara alarm. Dia melihat ke arah Kevin yang masih tertidur pulas.
Dia pun beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan tubuhnya, Melika pun bersiap. Dia memakai stelan kasual. Hari ini, dia dan Kevin akan pergi ke Kantor Jian untuk melakukan penandatanganan kesepakatan kerjasama. Melika terlihat begitu bersemangat, seolah dia tak sabar untuk segera terikat kerjasama dengan Jian.
Bukan karena dia tak sabar ingin segera bekerja kembali pada Jian, melainkan dia ingin perusahaan Kevin segera terselamatkan.
Selesai bersiap, dia menyiapkan pakaian untuk Kevin. Setelah itu dia pun membangunkan Kevin agar mandi terlebih dahulu.
"Jam berapa, ini?" tanya Kevin.
"Masih jam setengah tujuh, tetapi kita tidak boleh terlambat. Jangan sampai membuat Jian menunggu lama," ucap Melika.
Kevin mengangguk dan pergi menuju kamar mandi. Sementara Melika pergi menuju dapur untuk melihat apakah sarapan sudah siap atau belum.
Selesai membantu bibi menyiapkan sarapan, Melika kembali ke atas dan melihat Kevin yang baru selesai memakai pakaiannya. Kevin terlihat sudah tampan, membuat Melika sampai menyunggingkan senyum manisnya. Dia selalu melihat pemandangan seperti itu setiap pagi. Namun berbeda dengan kali ini, Kevin terlihat lebih bersemangat dari beberapa hari yang lalu.
"Sini, aku bantu pakaikan dasi mu," ucap Melika sambil mengambil alih dasi yang sudah ada di tangan Kevin.
Kevin pun tersenyum dan membiarkan Melika melakukan apa yang diinginkannya.
"Membungkuk sedikit, aku tidak sampai," ucap Melika.
Kevin terkekeh dan membungkukkan kepalanya.
Cup.
Mata Melika membulat saat tiba-tiba Kevin mengecup bibirnya sekilas.
"Mas, nakal," ucap Melika sambil tersenyum.
"Aku nakal hanya pada Istriku," ucap Kevin.
"Awas saja jika nakal pada wanita lain," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, lah. Ada yang halal, kenapa harus nakal pada yang haram?" ucap Kevin.
Melika pun tersenyum, sesederhana itu kata yang terucap dari bibir Kevin. Namun bisa membuat dada Melika seolah tengah beterbangan ribuan kupu-kupu dengan sayap yang berwarna-warni nan indah.
Selesai membantu Kevin memakaikan dasi, mereka pun turun menuju meja makan dan memulai sarapan.
"Jian, seperti apa orangnya?" tanya Kevin disela sarapannya.
"Dia? Emmm ,,, dia pekerja keras, disiplin, dan tegas," ucap Melika.
Kevin terdiam, sepertinya dia salah sudah menanyakan tentang Jian. Dadanya terasa nyeri mendengar jawaban Melika yang seolah Melika tahu segalanya tentang Jian.
"Kamu tahu sebanyak, itu?" Kevin menatap Melika dengan tatapan curiga.
"Aku?" Melika terkekeh mendengar ucapan Kevin.
"Tentu saja aku mengenalnya dengan baik, aku pernah menjadi Sekretaris-nya, dan cukup lama. Jadi, tentu saja aku tahu banyak tentang dia. Aku bahkan tahu dengan siapa saja dia pernah berkencan," ucap Melika.
Kevin mengerutkan dahinya, dia merasa bingung karena Melika hanya menjadi sekretaris Jian, tetapi bisa tahu tentang kehidupan pribadi Jian.
"Apa dia sudah menikah?" tanya Kevin dengan ragu.
Melika menggeleng.
"Jadi, dia singel? Dan, dia memintamu untuk bekerja dengannya lagi?" tanya Kevin.
Melika pun mengangguk.
"Aku takut," ucap Kevin.
"Takut apa?" tanya Melika dengan bingung.
"Takut dia mendekatimu," ucap Kevin.
Melika terkekeh, suaminya itu benar-benar konyol, pikirnya. Dia tahu betul tipe wanita idaman Jian, mana mungkin dia yang memiliki tubuh gemuk termasuk di dalamnya.
"Dia menyukai wanita cantik dan seksi, sedangkan aku jauh dari kata itu," ucap Melika.
"Benarkah? Apa aku termasuk wanita pintar?" tanya Melika.
"Ya, jika ada kata yang melebihi dari kata itu, aku akan mengatakannya untukmu," ucap Kevin.
Melika tersenyum, semakin hari suaminya itu makin pintar menggombal.
"Aku tidak menyangka, keahlian menggombal Mas semakin hari, semakin meningkat," ucap Melika.
"Aku tidak menggombal, selama kita menikah, aku belajar banyak darimu. Kamu masih muda, cantik, dan pintar. Terserah orang di luar sana mau bilang apa, tapi akulah yang tahu dirimu," ucap Kevin.
"Terimakasih, sudah mau menerimaku apa adanya," ucap Melika.
"Untukmu juga," ucap Kevin.
Melika terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukkan di angka 07.30 wib.
"Sudah jam segini, sepertinya kita terlalu asyik mengobrol," ucap Melika.
"Ini masih pagi, Bos tidak akan datang lebih awal ke Kantornya," ucap Kevin.
"Mas salah, dia datang ke Kantor jam delapan pagi," ucap Melika.
"Baiklah-baiklah, kita selesaikan dulu sarapan kita, setelah itu, kita berangkat ke Kantor," ucap Kevin.
Mereka pun melanjutkan sarapan, dan pergi ke Kantor Jian setelahnya.
*******
Sesampainya di Kantor Jian, Kevin dan Melika langsung di sambut oleh sekretaris Jian. Mereka pun dibawa ke ruang meeting.
"Apa Pak Jian masih belum sampai?" tanya Melika.
"Pak Jian, tadi, menelpon saya, dia mungkin akan terlambat. Jalanan cukup padat," ucap sekretaris Jian.
Melika mengangguk, dia tak sengaja melihat ke arah Kevin yang tengah melihat sekeliling ruang meeting.
"Untuk pertama kalinya aku masuk ke Perusahaan, ini. Perusahaan ini lebih besar dari milikku," ucap Kevin.
"Mau besar atau kecil, itu tetaplah kerja kerasmu, Mas. Kamu patut bangga dengan itu," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, aku bangga dengan hasil kerja kerasku sendiri," ucap Kevin.
Melika pun tersenyum.
Cukup lama mereka menunggu Jian, sampai akhirnya Jian dan sekretarisnya mulai memasuki ruang meeting.
"Maafkan saya, saya datang terlambat," ucap Jian sambil menjabat tangan Kevin bergantian dengan Melika.
"Tidak masalah, kami mengerti. Ibukota memang selalu padat," ucap Kevin dengan santai.
"Anda benar, baiklah, kita mulai sekarang saja meeting-nya." Jian pun duduk di kursi utama.
"Saya sudah mendengar penjelasan dari Melika tentang proyek anda, dan saya tertarik dengan itu," ucap Jian.
"Apa berkas kerjasamanya sudah siap?" tanya Jian.
"Sudah, Pak. Ini berkas kerjasamanya, silahkan Bapak baca terlebih dahulu," ucap Melika.
Jian meminta sekretaris-nya untuk membacakan berkas kerjasama itu, selesai mendengar isi dari berkas itu, Jian pun meminta pulpen pada sekretaris nya dan menandatangani berkas tersebut.
"Senang bekerja sama dengan anda," ucap Kevin begitu melihat Jian menutup berkas itu setelah sebelumnya menandatanganinya.
"Saya juga, semoga kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik," ucap Jian.
"Tentu, saya harap, begitu," ucap Kevin sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Jadi, kapan kamu bisa mulai bekerja?" tanya Jian pada Melika.
Biasanya, seorang calon staf yang akan menanyakan hal itu pada calon atasannya. Namun tidak dengan Jian, Jian sudah mengenal Melika dengan baik, karena itu dia menghargai Melika. Apalagi dia yang meminta Melika bekerja di perusahaan nya.