My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 32



Melika dan Kevin keluar dari kamar dan menghamppiri sang papa yang tengah duduk santai di taman belakang.


"Pagi, Pa," sapa Kevin dan Melika.


"Pagi menjelang siang," ucap sang papa sambil menyunggingkan senyum penuh arti.


Kevin tersenyum dan memegang bahu Melika.


"Maaf, kami bangun terlambat, Pa," ucap Melika.


"Tidak masalah, Papa mengerti," ucap papa.


"Apa rencana kalian hari ini? Kamu tidak ke kantor, Vin?" tanya papa.


"Tidak, aku dan Melika akan berbulan madu," ucap Kevin.


"Benarkah? Itu ide bagus," ucap papa.


"Ya, aku juga ingin merefresh kepalaku, rasanya penat sekali dengan pekerjaan di Kantor," ucap Kevin.


"Baguslah, karena hidup ini tak hanya tentang bekerja dan uang. Kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri, apalagi sekarang sudah punya Istri, jangan sampai Istrimu merasa terabaikan," ucap papa.


Kevin tersenyum dan mengangguk.


Tring ,,, tring ...


Kevin mengerutkan dahi saat melihat nomor kantor menghubunginya.


"Halo," ucap Kevin.


"Halo, selamat siang, Pak," ucap Karin, sekretaris baru Kevin.


"Ada apa?" tanya Kevin.


"Maaf, Pak. Pak Atma Wijaya ingin bertemu dengan anda," ucap Karin.


"Apa kamu tidak memberitahunya bahwa saya sedang dalam masa cuti?"


"Sudah, Pak. Tapi, beliau ingin membicarakan sesuatu dengan anda," ucap Karin.


Kevin terdiam sejenak, entah untuk apa lagi papanya Prischa itu ingin bertemu dengannya. Padahal semua proyek sudah di alihkan kepada Prischa, lagi pula saat ini pun Kevin sedang dalam masa cuti, dan seharusnya clientnya itu bisa membicarakan masalah pekerjaan dengan sekretarisnya saja.


"Bagaimana, Pak? Beliau meminta anda untuk datang ke Restauran yang berada di Ancol pukul tujuh malam nanti," ucap Karin.


Kevin menghela napas perlahan, ia melihat jam yang ada di ponselnya. Setidaknya masih ada banyak waktu untuk menuju malam nanti, dan lagi pula ini hanya sehari saja.


"Baiklah, sampaikan pada beliau, saya akan datang," ucap Kevin.


"Baiklah, Pak. Selamat siang," ucap Karin.


Telepon itu pun terputus.


"Kenapa, Vin?" tanya papa.


"Client aku ingin bertemu," ucap Kevin.


"Benarkah? Lalu, bagaimana dengan rencana bulan madumu?" tanya papa.


"Ini hanya nanti malam, Pa. Setidaknya setelah ini, aku punya waktu beberapa hari ke depan," ucap Kevin.


"Baguslah, bagaimana jika kamu mengajak Melika saja?"


Melika membulatkan matanya, mana mungkin suaminya itu akan mau mengajaknya bertemu dengan clientnya.


"Ide bagus, sesekali kita nikmati suasana pantai," ucap Kevin.


"Apa? Mas serius? Mas tidak malu?" Melika menatap Kevin dengan tatapan penasaran.


"Biasa saja," ucap Kevin dengan santai.


Melika pun mengangguk, jantungnya semakin tak dapat terkendali begitu melihat senyum manis suaminya itu.


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita beli dress dulu untukmu, Mel," ucap Kevin.


"Serius, Mas?"


Melika pun mengangguk dan bergegas bersiap.


******


Setelah jam makan siang.


Kevin dan Melika memasuki sebuah butik dari perancang ternama.


Melika langsung mencoba beberapa dress, dan saat dia mencoba sebuah dress berwarna hitam bertali kecil, Kevin pun tersenyum dan mengangguk yang artinya dia menyukai dress itu di pakai oleh Melika.


"High heels or wedges?" tanya sang designer.


"Wedges, aku takut terkilir jika memakai high heels," ucap Melika.


Kevin dan designer itupun terkekeh, sepertinya Melika memang tak biasa memakai high heels.


"Carikan dia wedges yang nyaman, dan tak melukai kakinya," ucap Kevin.


"Sip, kebetulan kami ada stok wedges juga di sini," ucap Designer.


"Tunggu dulu ..!" ucap Melika.


"Kenapa?" tanya Kevin.


Melika mendekati designer itu dan membisikkan sesuatu, designer itu pun terkekeh.


"Ayolah, suamimu ini sangat kaya, mana mungkin dia tak sanggup membelikanmu wedges yang mahal," ucap designer.


"Jangan keras-keras bicaranya," ucap Melika.


Kevin mengerutkan dahinya, dia merasa heran dengan kedua orang yang kini ada di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Kevin.


"Kamu akan membayar belanjaan istrimu ini, kan?" tanya designer.


"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Kevin dengan bingung.


"Dia ketakutan kamu tak akan membayarnya, dia memintaku untuk memberinya wedges yang murah," ucap designer itu sambil tak hentinya terus terkekeh.


Melika menyengir menampilkan gigi rapi miliknya saat Kevin menatapnya dengan tatapan tajam.


"Baiklah, istriku yang akan membayarnya, pakai uangnya sendiri," ucap Kevin.


"Sungguh?" tanya designer.


Kevin pun mengangguk dengan santai, sedangkan Melika menelan air liurnya.


"Berapa totalnya?" tanya Kevin.


"Sebentar," ucap designer, dia pun mengambil wedges yang paling murah yang ada di butiknya.


"Ini wedges yang diinginkan istrimu, dengan dress tadi, totalnya menjadi dua belas juta rupiah," ucap designer.


Melika membulatkan matanya, bisa habis tabungannya jika dia harus membayar sebanyak itu.


"Mas, kita beli di toko langgananku saja, yuk," ucap Melika.


Kevin terkekeh dan mencubit gemas pipi Melika.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, heum? Mana mungkin aku membiarkan istriku ini membayar sendiri, Kamu sudah menjadi tanggunganku sekarang," ucap Kevin sambil mengeluarkan debit cardnya.


"Istrimu ini benar-benar polos, Vin," ucap designer.


Kevin pun masih terkekeh sambil memegangi perutnya yang terasa ngilu.


Tentu saja uang itu tidaklah seberapa baginya, dia masih sanggup membayarnya.


Designer itu pun mengganti wedges Melika dengan Wedges yang lebih bagus dan lebih mahal.


Setelah selesai, mereka pun pergi dari butik itu.