
"Kenapa jadi dirimu yang berubah pikiran?" tanya Jian heran.
"Tidak apa-apa. Aku akan menghubunginya saat jam makan siang saja," ucap Melika tersenyum.
Jian menghela napas dan terdiam. Biarlah, dia tak ingin ambil pusing dengan masalah orang lain.
Jian memanggil pelayan, dan meminta secangkir kopi. Selera sarapannya sudah menghilang, dia pun memilih menikmati kopi saja.
"Sebetulnya, ada acara apa kita datang ke sini? Saya bahkan tidak tahu agenda kerja Bapak di Bali," ucap Melika.
"Saya akan bertemu teman lama," ucap Jian.
"Lalu, apa hubungannya dengan Saya? Kenapa Saya harus ikut dengan Bapak?" tanya Melika merasa bingung.
"Saya tidak mungkin mengajak seseorang jika tak ada gunanya," ucap Jian.
"Ha? Apa maksud Bapak?" tanya Melika semakin dibuat bingung.
"Tolong, jangan banyak bertanya lagi. Bersiap saja nanti sore, pukul empat. Hanya denganmu Saya menjadi boros kata. Terlalu banyak bicara, menyebalkan sekali," ucap Jian risi.
Bagaimana mungkin aku bisa diam? Dia bahkan tak memberikan alasan yang masuk akal, batin Melika.
Selesai sarapan, Melika pamit keluar.
"Mau kemana? Jangan sampai kamu dibawa lari orang dan Saya harus bertanggung jawab untuk itu," ucap Jian.
"Yang benar saja. Memangnya Saya anak kecil," ucap Melika.
"Saya mau menikmati matahari sebentar di pantai. Mau berjemur," ucap Melika tersenyum. Melika tak ingin menyia-nyiakan waktunya di Bali. Dia pun ingin menikmati waktu sejenak sebelum bekerja untuk Jian.
"Baiklah," ucap Jian dan berjalan munuju keluar hotel.
"Bapak mau kemana?" tanya Melika.
"Ke pantai," ucap Jian.
"Mau ikut?" ucap Melika.
"Saya tidak mau ada masalah karena kamu tenggelam di laut," ucap Jian.
"Astaga, siapa juga yang mau berenang ke tengah laut?" ucap Melika.
"Sudahlah, memangnya kamu saja yang ingin berjemur. Saya pun ingin berjemur. Matahari pagi sangat baik untuk kesehatan," ucap Jian.
Melika tersenyum dan berjalan menyusul Jian yang berjalan lebih dulu. Keduanya berjalan kaki menuju pantai yang berada tak terlalu jauh dari hotel.
Sesampainya di pantai, Melika begitu kegirangan sambil sesekali berlari menghampiri ombak-ombak kecil.
"Pak, boleh pinjam ponselnya!" teriak Melika.
"Untuk apa?" tanya Jian.
"Ambilkan gambar Saya. Kapan lagi Saya bisa berfoto di sini," ucap Melika.
"Apa maksudmu, kamu menyuruhku untuk mengambil gambarmu juga?" tanya Jian.
"Iya, memangnya siapa lagi? Itu ponsel Bapak, kan. Privasi. Jadi tak boleh dipegang siapapun," ucap Melika.
Dia benar-benar pintar beralasan, bilang saja ingin mengerjaiku, batin Jian.
Meski begitu, Jian tetap menuruti keinginan Melika. Dia mengambil beberapa gambar Melika.
"Sudah cukup, kita ke sini untuk berjemur," ucap Jian.
Melika tersenyum dan menghampiri Jian.
"Tolong kirim fotonya via chat ke ponsel Saya," ucap Melika.
Jian mengirimkan semua foto-foto Melika sesuai permintaan Melika. Setelah itu, mereka pun berjemur menikmati matahari pagi yang terasa hangat tetapi menyegarkan.
Di sisi lain.
Pagi-pagi sekali Kevin sudah berada di kantor. Berkali-kali dia melihat ponselnya, berharap Melika akan menghubunginya. Nyatanya, Melika tak menghubunginya sama sekali.
'Apa dia begitu sibuknya, hingga tak bisa mengabariku?' gumam Kevin.
Pikiran Kevin berkecamuk, sepertinya dia tak akan bisa fokus bekerja. Dia memikirkan Melika yang pergi hanya berdua saja dengan Jian. Meski untuk urusan pekerjaan, bagaimana pun Melika dan Jian adalah wanita dan pria yang normal, Kevin takut sampai terjadi hal yang tidak-tidak diantara mereka. Kevin pun tak tahu mereka menginap di mana, apakah mereka tinggal di kamar yang berbeda atau tidak? Kevin mencemaskan hal itu. Dia mungkin mencintai Melika, tetapi terkadang belum sepenuhnya mempercayai Melika. Apalagi saat ini hubungan keduanya tengah merenggang, Kevin khawatir Melika akan mencari pelampiasan di luar sana.
"Kenapa main masuk saja? Tahu sopan santu atau tidak, ha!" bentak Kevin saat Niken memasuki ruangannya.
"Maaf, Pak. Saya sudah mengetuk pintu sebelumnya," ucap Niken.
Nyatanya, Niken sudah mengetuk pintu sebelumnya. Hanya saja Kevin tak mendengarnya karena terlalu sibuk memikirkan tentang Melika.
"Hm ... Ada apa?" tanya Kevin.
Dengan sedikit takut Niken memberikan beberapa berkas pada Kevin. Niken sendiri tak biasanya melihat Kevin tak fokus. Niken merasa ada hal yang tak benar pada atasannya itu.
"Tinggalkan saja, dan jangan masuk jika tidak Saya panggil! Siapapun, Saya tak ingin ada yang mengganggu Saya!" tegas Kevin.
"Baik, Pak. Saya permisi." Niken pun keluar dari ruangan Kevin.
Hidup orang kaya terlalu rumit, gumam Niken dan kembali ke ruangannya.
Kevin mengabaikan berkas-berkas yang diberikan Niken. Dia benar-benar tak semangat melakukan apapun. Dia membutuhkan sesuatu.
Kevin mengambil ponselnya dan keluar dari ruangannya. Dia pergi dari kantornya menuju sebuah tempat di mana dia berharap bisa sedikit lebih tenang.
*****
Tak berapa lama melakukan perjalan, Kevin pun sampai di salah satu gedung perkantoran. Dia memasuki gedung itu dan pergi menuju salah satu ruangan.
"Woh ... Ada angin apa kedatangan tamu tak diundang?" ucap seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Rupanya, Kevin datang menemui Jerry di kantornya.
"Suntuk," ucap Kevin dan duduk di sofa. Layaknya ruangan sendiri, Kevin tampak santai.
"Ayolah, jangan bekerja terlalu berat. Ajak istrimu liburan," ucap Jerry.
"Dia sibuk," ucap Kevin.
"Sibuk apa? Sibuk bersih-bersih rumah? Atau sibuk rebahan di ranjang?" ucap Jerry terkekeh.
"Sialan! Dia, kan, sibuk bekerja sekarang," ucap Kevin.
"Oh iya, aku lupa itu," ucap Jerry.
"Jadi, kamu kekurangan perhatian darinya, karena itu merasa suntuk," ledek Jerry.
"Hm ... Hanya suntuk karena tak ada teman bicara," ucap Kevin.
"Yang benar saja, aku selalu menjadi pelampiasanmu," kesal Jerry.
Kevin terkekeh. Dia tahu temannya itu hanya bercanda sok kesal. Bersama teman memang seperti itu. Tak perlu terlalu tegang.
Jerry membuka laci di meja kerjanya dan mengambil sebuah botol minuman juga dua buah gelas.
"Kesukaanmu," ucap Jerry menghampiri Kevin dan meletakan botol itu di atas meja di hadapan Kevin. Jerry pun duduk di dekat Kevin.
"Aku sudah lama tak minum," ucap Jerry.
"Ini enak, kamu tahu itu," ucap Jerry.
"Ayolah, jangan menggodaku, Blis," ucap Kevin.
"Blis?" Jerry tampak bingung mendengar kata 'Blis.'
"Iblis," ucap Kevin terkekeh.
"Sialan!" umpat Jerry.
Ha-ha-ha ... Keduanya pun tertawa.
"Terkadang, aku rindu masa-masa kita sebelumnya," ucap Jerry tersenyum.
"Hm ... Carilah wanita, agar kamu tak selalu merindukanku," ucap Kevin.
"Ha-ha-ha ..." Jerry pun kembali tertawa.
Kevin tersenyum dan melihat botol itu. Dia membukanya dan menuangkan sedikit di gelasnya juga di gelas Jerry.
"Kita bisa mengenang masalalu," ucap Kevin mengambil gelas tersebut dan memberikan gelas satunya pada Jerry.
"Are you sure?" tanya Jerry.
"Ya, untuk kali ini saja. Aku kasihan melihatmu yang sulit sekali move-on dariku," ucap Kevin terkekeh.
Mendengar ucapan Kevin, Jerry pun menjadi bersemangat dan mengambil gelas itu. Mereka pun bersulang.
"Apa ada yang lebih gila dari minum di pagi hari seperti ini?" tanya Kevin. Gila pikirnya karena minum alkohol di pagi hari.
"Tentu saja ada," ucap Jerry.
"Misalnya apa?" tanya Kevin.
"One night stand," ucap Jerry.
Uhuk-uhuk-
Kevin tersedak mendengar ucapan Jerry.