My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 74



Jian dan Melika telah sampai di Bali dan sudah berada di dalam kamar hotel. Kamar hotel yang terpisah tentunya. Melika membuka gorden kamarnya dan terlihat pemandangan Pantai Kuta yang berada tak begitu jauh dari hotelnya. Melika menggeser pintu menuju balkon dan menghirup udara segar. Waktu sudah melewati jam makan malam dia menanti berita besar yang Jian maksud. Entah berita besar apa? Melika pun tak tahu.


Melika teringat pada Kevin dan kembali ke kamar. Dia mengambil ponselnya dan mengabari Kevin melalui pesan bahwa dirinya sudah berada di Bali.


Melika membersihkan tubuhnya, dia berendam di ari hangat dalam bathup. Dia ingin menenangkan diri sekaligus pikirannya. Dia merasa gelisah berada jauh dari Kevin. Melika memejamkan matanya, menghirup aroma sabun yang begitu membuatnya rileks.


Dia teringat pada kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, entah dari mana dia harus mulai memperbaiki segalanya? Pikirannya terbagi dan tak dapat fokus memikirkan masalah dalam rumah tangganya.


Cukup lama Melika berendam, hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukan tepat pukul 21.00 WITA. Melika membilas tubuhnya dan memakai bathroobs. Dia pun keluar dari kamar dan memakai pakaiannya. Melika membuka handuk yang melilit rambutnya dan akan mengeringkannya, tetapi terdengar suara bel dan dia pun bergegas membuka pintu kamar hotel.


Melika mengerutkan dahinya saat melihat Jian berdiri di depan pintu kamarnya. Ekspresi Jian tampak datar melihat Melika.


"Boleh Saya masuk?" tanya Jian.


"Hah?" Melika tampak bingung dan mengangguk. Melika tak sadar bahwa dirinya hanya memakai bathroobs di depan pria asing yang bukan suaminya. Rambut Melika bahkan masih tampak basah.


Jian pun masuk setelah Melika mempersilakan dirinya masuk. Dia melihat sekeliling kamar dan pandangan tertuju pada baju yang berserakan di atas tempat tidur. Jian pun syok saat melihat pakaian dalam yang biasa dipakai untuk menutupi dada wanita yang dia yakini milik Melika. Meski bukan untuk pertama kalinya melihat pakaian dalam seperti itu, tetapi tentu saja ini adalah pertama kalinya dia melihat milik Melika.


"Yang benar saja! Kamarmu seperti kapal pecah!" kesal Jian.


Melika melihat ke arah tempat tidur dan terkejut melihat pakaiannya berserakan. Dia pun bergegas merapikannya dan begitu melewati cermin besar dia baru menyadari dirinya hanya memakai bathroobs.


"Astaga! Bapak ngapain di kamar Saya?" ucap Melika terkejut.


"Apa maksudmu? Bukannya kamu yang mengizinkan Saya masuk?" ucap Jian bingung. Jian semakin dibuat bingung saat Melika berlari ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.


Apa-apaan dia? Kenapa seperti tersadar dari mimpi buruk? gumam Jian.


"Pergilah dari kamarku! Kita bukan muhrim! Aku punya suami! Jangan sampai menimbulkan fitnah karena kita berduaan di dalam kamar hotel!" teriak Melika.


Jian membulatkan matanya. Entah apa yang ada dipikiran Melika. Jangankan berpikir macam-macam, Jian bahkan tak tertarik pada Melika.


Jian menghela napasnya dan keluar dari kamar Melika.


Dia benar-benar keterlalu! Mengizinkanku masuk, lalu mengusirku! Sebagai atasan, aku seperti tidak ada harga dirinya, dan herannya aku selalu mengikuti keinginannya, gumam Jian.


Jian adalah tipe pria yang dominan. Dia tak suka diatur, tetapi berbeda dengan Melika. Dia akan menuruti apa yang Melika katakan meski tak setiap permintaan Melika. Sebelumnya bahkan dia tak pernah seperti itu, apalagi jika wanita yang memintanya.


Jian kembali ke kamarnya. Dia memainkan ponselnya tanpa tahu akan berbuat apa pada ponselnya. Pikirannya menjadi tak karuan mengingat Melika yang hanya memakai bathroobs dengan rambut yang tampak basah.


Sial! Apa yang menarik dari tubuhnya? Dia bahkan tak seksi. Lagipula, aku tahu Melika wanita seperti apa. Dia bukan wanita yang bisa tidur dengan pria mana saja, batin Jian.


Jian mengusap wajahnya dan menghubungi nomor Melika. Rupanya ada jawaban dari Melika.


'Nyalakan tv! Sebentar lagi kamu akan tahu berita besar yang kumaksud!' ucap Jian dan mematikan ponselnya.


Jian pergi menuju balkon kamarnya dengan memegang segelas minuman yang dia ambil sebelumnya. Tatapannya tertuju pada langit malam yang tampak tanpa hiasan bintang maupun bulan. Dia menyesap minumannya. Entah apa yang dia pikirkan, memikirkan masalah rasanya tak mungkin. Hidupnya bahkan tampak terlihat sempurna. Dia bahkan bisa memilih wanita mana saja yang diinginkannya.


"Mau masuk atau tidak? Atau mau bicara di luar karena kamu berpikir kita bukan muhrim?" ucap Jian. Melika menghela napas dan meletakan kedua tangannya di pinggangnya.


"Jangan sampai Bapak memikirkan yang tidak-tidak!" tegas Melika.


"Astaga! Yang benar saja! Jika Saya ingin, Saya bisa memilih wanita cantik dan seksi. Bukan dirimu yang berlebih seperti ini! Entah apa yang ada dipikiran Suamimu, bisa tertarik pada wanita sepertimu!" tegas Jian.


"Hah! Yang benar saja! Cinta tak memandang fisik," ucap Melika.


"Hah! Yang benar saja. Kejantanan Suamimu berarti patut dipertanyakan!" ucap Jian.


"Apa maksud Bapak?" tanya Melika bingung.


"Karena pria sejati akan melakukan apapun sesuai logikanya, bukan hatinya," ucap Jian dan berlalu ke dalam kamar.


Melika masih memikirkan ucapan Jian dan terus berdiri di depan pintu kamar Jian. Tanpa Melika sadari, Jian tampak tersenyum. Dia merasa heran pada Melika. Ucapan Jian termasuk kasar, tetapi Melika justru tak merasa sakit hati dan malah memasang ekspresi bingung.


Melika tersadar saat sesuatu menyentuh dahinya. Sontak dia menangkap sesuatu tersebut yang ternyata sebuah permen.


"Mau masuk atau tidak? Saya tahu ada yang ingin kamu tanyakan," ucap Jian.


Melika teringat kembali pada maksud awalnya menghampiri Jian. Dia pun masuk ke kamar Jian dan membiarkan pintu kamar terbuka.


"Tutup pintunya!" ucap Jian.


"Tidak!" ucap Melika.


Jian mengerutkan dahinya.


"Aku takut," ucap Melika.


Brak!


Melika terkejut saat Jian melemparkan ponselnya ke atas meja.


"Mau bicara atau tidak, ha?! Jika kamu mau bicara, maka tutup pintunya! Saya tak akan mau menjawab pertanyaanmu di depan umum!" tegas Jian.


Melika tak mengerti maksud Jian. Bahkan mereka hanya berdua saja.


"Jangan terlalu banyak berpikir, Melika! Sebelum Saya berubah pikiran! Berapa lama kamu mengenal Saya, ha? Masih tidak mengerti juga, Saya tidak suka membicarakan hal pekerjaan ataupun pribadi di tempat terbuka!" tegas Jian.


Melika mengehela napas. Dia mengerti maksud Jian. Melika menutup pintu kamar Jian dengan terpaksa. Dia memang membutuhkan jawaban Jian karena itu dia menuruti keinginan Jian. Sebetulnya, Melika percaya Jian tak akan berani berbuat macam-macam, karena di sendiri sadar bahwa Jian tak pernah tertarik pada wanita yang sudah memiliki pasangan.


"Apa itu semua ulah Bapak?" tanya Melika tanpa basa basi.


"Ya!" ucap Jian.