My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 62



Pukul sembilan malam.


Melika duduk di ruang makan. Dia tengah menunggu Kevin pulang dari kantor. Kevin benar-benar pulang terlambat. Melika mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Kevin. Namun Kevin tak menjawab teleponnya. Melika pun menjadi cemas, apalagi Kevin sedang dalam keadaan tak baik-baik saja karena masalah pekerjaannya. Melika teringat pada Niken. Namun salahnya dia tak memiliki kontak Niken sehingga tak bisa mencari tahu tentang keadaan Kevin.


Melika menguap, dia mulai merasakan kantuk. Besok adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan Jian, tentu dia tak boleh datang terlambat. Dia tak ingin memberikan kesan yang buruk di hari pertamanya bekerja. Melika pergi menuju kamarnya dan beristirahat. Dia akan menunggu Kevin di kamar saja. Dia pun tak tahu kapan Kevin akan pulang? Teleponnya bahkan tak Kevin jawab.


Melika merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya, matanya mengantuk tetapi pikirannya tak tenang. Dia berusaha tetap membuka matanya sambil menunggu Kevin.


Melika mengerutkan dahinya kala melihat sebuah pesan status milik Melvin. Melvin memosting fotonya bersama seorang perempuan. Melika pun mengirim pesan pada Melvin.


*Apa-apaan ini? Anak kecil ini suda kenal perempuan ternyata. *tulis Melika di pesan yang dia kirimkan pada Melvin.


*Orangtua komentar aja, *balas Melvin.


Melika membulatkan matanya. Adiknya itu benar-benar kurang ajar karena mengatainya orangtua.


*Adik durhaka! *balas Melika.


*Apanya yang salah? Memang Mbak lebih tua dari Aku, kan? Mbak bukan hanya Mbak buat Aku, tapi Mbak juga sudah seperti orangtua buat Aku. Mbak terbaik. *balas Melvin.


Melika yang sebelumnya merasa kesal pun akhirnya menyunggingkan senyumnya.


*Ouw ... Mbak benar-benar merasa terharu, *balas Melika.


*Tapi bohong, ha-ha-ha ... *balas Melvin.


*Dasar! Ngeselin! *balas Melika.


Melvin pun ngerimkan sebuah *emoticon *tertawa dan mereka asik dengan saling membalas pesan satu sama lain.


Udah tidur sana, Mbak. Kasihan Mas Kevin dianggurin,


*Mas Kevin belum pulang, *balas Melika. Tak lama masuk sebuah panggilan dari Melvin, dan Melika pun menjawabnya.


Kok, Mas Kevin belum pulang, Mbak? Ini, kan, udah mau jam sepuluh.


*Tadi, sih, bilangnya pulang telat, *ucap Melika.


Wah, telatnya kebanyakan, Mbak. Hati-hati nyangkut, ucap Melvin..


*Nyangkut gimana, sih? *tanya Melika bingung.


*Ya, nyangkut di rumah cewek lain, *ucap Melvin dengan sembarang dan sesaat kemudian tertawa.


*Ish ... Kamu apa-apaan, sih? Ngomong sembarangan aja, *ucap Melika kesal. Adiknya itu tak berpikir dulu saat bicara, membuat Melika menjadi cemas sendiri memikirkannya.


Melika mendengus kesal karena Melvin hanya tertawa.


Jangan bicara sembarangan! Jangan sampai ucapan mu itu manjadi doa. Apa Kamu mau Kakak mu ini menderita? ucap Melika.


Aku, kan, hanya bercanda, Mbak. Jangan dimasukan ke hati, ucap Melvin sambil tertawa. Melvin benar-benar konyol. Dia tak menyadari kecemasan Melika akibat ucapannya yang sembarangan.


Bercanda mu keterlaluan! kesal Melika dan menutup teleponnya. Dia benar-benar kesal pada adiknya itu. Dia bahkan menjadi cemas memikirkan ucapan Melvin.


Bagaimana jika benar? gumam Melika. Sesaat kemudian Melika menggelengkan kepalanya, dia mencoba menepis pikiran buruknya tentang Kevin. Bagiamanapun dia harus yakin bahwa Kevin hanya mencintainya dan tak mungkin mengkhianatinya. Kevin tak akan setega itu padanya.