My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 44



Kevin dan Melika sampai di salah satu restauran.


Layaknya pasangan yang romantis, Kevin menggandeng Melika memasuki restauran.


Beberapa pasang mata tertuju pada Kevin dan Melika, entah apa yang mereka pikirkan. Tetapi terlihat pandangan yang begitu fokus terarah pada Kevin, terutama pandangan para wanita.


Kevin membawa Melika pada salah satu meja yang berada di area outdoor restauran.


"Loh, ini semua Mas yang siapkan?" Melika melihat ke arah meja yang di mana di atasnya terdapat lilin dan sebuket bunga mawar merah.


"Iya. Maaf, kalau kamu tidak suka, aku tidak mengerti caranya bersikap romantis," ucap Kevin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


Melika tersenyum dan mengangguk.


Kevin menarik kursi untuk Melika dan Melika pun mendudukkan dirinya.


"Makasih, Mas," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan duduk berhadapan dengan Melika.


Dia memanggil pelayan dan meminta pelayan untuk menyiapkan menu yang sudah dia pesan sebelumnya saat dia reservasi meja.


"Ngomong-ngomong, aku masih bingung denganmu, Mas." Melika menatap Kevin dengan dalam.


"Kenapa begitu?" tanya Kevin.


"Kamu penuh kejutan," ucap Melika sambil tersenyum.


"Benarkah? Kamu menyukainya?" tanya Kevin.


"Iya, sangat suka," ucap Melika.


Kevin pun tersenyum dan menggenggam tangan Melika.


"Ini, tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan," ucap Kevin.


"Memangnya, apa yang aku lakukan?" tanya Melika dengan bingung.


"Kamu menyelamatkan perusahaan ku. Berkat kamu, semua karyawan tidak jadi kehilangan mata pencahariannya," ucap Kevin.


Melika tersenyum.


Dia senang bisa membantu Kevin dan melihat Kevin bahagia.


Tak lama pesanan datang, mereka pun memulai acara makan malam.


Selesai makan malam, Kevin meminta pelayan mengambil dessert yang sudah dia pesan. Dessert cake cokelat yang terlihat begitu lezat.


"Ini, untukku?" tanya Melika sambil melihat cake itu.


"Iya, makanlah," ucap Kevin.


"Aku tidak mau memakannya," ucap Melika.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Kevin dengan bingung.


"Bukan, aku hanya tidak ingin memakannya," ucap Melika.


"Tapi, aku ingin kamu memakannya," ucap Kevin dengan memelas.


Melika menghela napas, dia sedang diet sebetulnya. Jadi, dia tak ingin memakan makanan manis saat malam hari.


Namun dia juga tidak tega jika tidak menuruti keinginan Kevin, Kevin terlihat seperti anak kecil yang tengah meminta dibelikan mainan pada ibunya.


"Baiklah, sedikit saja," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan mengangguk.


Kevin melihat Melika yang sudah mulai memakan cake itu dengan seksama. Dia begitu terlihat antusias melihatnya.


Kevin mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi Melika yang terlihat biasa saja, Melika bahkan masih memakan cake itu dengan santai.


Uhuk ,, uhuk ,, uhuk ,,


Kevin terkejut saat Melika tersedak, Melika terlihat kesulitan bernapas, di tenggorokannya seperti terganjal sesuatu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Kevin dengan cemas.


Melika menggelengkan kepalanya, dia memegangi lehernya memberikan isyarat bahwa tenggorokannya terasa sakit.


Lagi-lagi Melika hanya menggelengkan kepalanya, dia tak bisa mengatakan apapun karena tenggorokannya masih terhalang sesuatu.


Kevin tersentak saat teringat sesuatu.


Dia segera bangun dari duduknya dan menghampiri Melika. Dia menundukkan paksa kepala Melika.


Bugh ..!


Tring ...


Uhuk ,, uhuk ,, uhuk ..


Melika kembali terbatuk saat sesuatu yang mengganjal tenggorokannya telah dikeluarkan dari mulutnya.


Melika membulatkan matanya saat melihat sebuah benda mungil yang keluar dari mulutnya. Sebuah cincin emas putih bermatakan berlian kecil tergeletak di atas meja.


"Maafkan aku, aku ingin membuat kejutan. Tapi, semuanya malah di luar dugaan," ucap Kevin.


Kevin sungguh merasa bersalah karena cincin itu hampir saja tertelan oleh Melika, niat dia hanya ingin memberikan kejutan seperti di film-film. Di mana si pria memberikan kejutan kepada pasangannya dengan memasukan sebuah cincin di dalam cake nya dan saat si wanita itu memakannya akan terlihat terkejut saat melihat cincin itu. Namun sayangnya Melika justru hampir menelan cincin itu. Rencana untuk memberikan kejutan justru bisa berakhir dengan membunuh Melika.


Melika menghela napas pelan, dia menatap Kevin dengan tatapan tajam.


"Kalau begini, bukan kejutan namanya, Mas hampir membunuhku," ucap Melika.


"Tolong, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi pula, kenapa yang suapan terakhir tadi, kamu tidak mengunyahnya? Jadilah, cincin, itu, hampir tertelan," ucap Kevin.


"Aku tidak tahu jika ada cincin di dalamnya, jika aku tahu, aku tidak akan memakannya," ucap Melika dengan kesal.


Bukannya dinner romantis, dia bahkan hampir berakhir di liang lahat.


Kevin tersenyum canggung, dia seperti orang bodoh karena tak tahu caranya memberikan kejutan pada seorang wanita.


"Jangan marah, aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Kevin sambil memasang wajah menyesal.


"Sudahlah. Jadi, cincin ini untukku?" tanya Melika sambil menunjuk ke arah cincin yang masih berasa di atas meja dan dipenuhi cream cokelat.


Kevin mengangguk.


"Ya sudah, pakaikan." Melika mengulurkan jarinya kehadapan Kevin.


Kevin pun tersenyum dan membersihkan cincin itu terlebih dahulu, dia pun memakaikan cincin itu pada Melika.


"Kok, tidak muat, ya?" Kevin menatap bingung ke arah cincin yang hanya masuk setengah jari ke jari manis Melika yang satunya selain yang terpasang cincin pernikahan mereka. Padahal Kevin ingat betul ukuran cincin Melika saat menikah.


Melika menatap malas pada Kevin, suaminya itu benar-benar tidak peka. Melika memang merasa berat badannya bertambah akhir-akhir ini. Namun sepertinya Kevin tidak menyadarinya. Melika pun teringat saat Kevin memberikannya sebuah gelang yang justru terlalu besar saat dipakai. Tiba-tiba saja dia terkekeh mengingat semua itu, Kevin telah gagal memberikan kejutan untuk kedua kalinya.


"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Kevin dengan bingung.


"Iya. Waktu itu, Mas salah memberikan ku gelang, ukurannya terlalu besar, dan sekarang cincin ini terlalu kecil saat aku pakai," ucap Melika.


Kevin tersenyum, dia berpikir memberikan kejutan pada seorang wanita ternyata memang tak semudah yang dia lihat saat di film-film.


"Maafkan aku, aku akan menukarnya," ucap Kevin.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tetap menyukai kejutan darimu," ucap Melika.


"Terimakasih, sudah menjadi Istri yang penuh pengertian," ucap Kevin sambil menggenggam tangan Melika.


Melika pun tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih juga, sudah menjadi Suami yang romantis. Meski selalu tidak sesuai ekspektasi," ucap Melika sambil terkekeh.


"Ya, ternyata tidak mudah menjadi pria yang romantis. Aku tidak bisa seperti pria-pria romantis di luaran sana," ucap Kevin sambil memasang wajah muram.


"Aku tidak memintamu seperti pria-pria di luaran sana, aku lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri. Karena, setiap orang memiliki sisi romantis yang berbeda-beda. Tidak mungkin setiap kepala memiliki pemikiran yang sama," ucap Melika.


"I love you," ucap Kevin sambil menatap Melika dengan dalam.


Melika terdiam, dia tercengang mendengar pengakuan Kevin.


"A-apa? Mas bilang apa, barusan?" tanya Melika. Dia mencoba memastikan bahwa apa yang dia dengar tidaklah salah.


"Aku mencintaimu," ucap Kevin.


Jantung Melika berdegup kencang, akhirnya dia bisa mendengar kata-kata itu dari mulut Kevin sendiri.


"Aku juga mencintaimu, Mas," ucap Melika sambil tersenyum.