
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Melika bangun lebih awal. Namun, berbeda dengan dengan beberapa hari ini. Dirinya harus merasa lemas akibat mual di perutnya. Dia terduduk lemas di atas closet, teringat ucapan bibi akan kemungkinan dirinya tengah hamil.
Melika memaksakan diri mandi, dia akan pergi ke kantor. Kemarin dia sudah tak masuk kantor. Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar mandi.
"Mel! Kamu sedang apa?" teriak Kevin dari luar kamar mandi.
Melika yang sudah selesai mandi pun, keluar memakai bathroobs-nya. Dia tersenyum menyapa Kevin.
"Kamu mandi? Apa kamu mau ke kantor?" tanya Kevin.
"Iya, Mas. Aku nggak enak, kemarin sudah nggak masuk," ucap Melika.
"Hm ... Nggak mual lagi, kan?" tanya Kevin.
"Sedikit, tapi aku baik-baik saja," ucap Melika.
"Baiklah. Tapi, kalau kamu nggak kuat, jangan dipaksakan. Nanti, aku yang akan bicara dengan Jian. Jian pasti memaklumi," ucap Kevin.
"Nggak, Mas. Aku baik-baik saja."
"Apa Mas mau mandi?"
"Ya, aku akan mandi," ucap Kevin.
"Ya sudah, aku akan siapkan baju kantor Mas,"
Kevin mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Melika pun menyiapkan pakaian kantor Kevin dan lanjut bersiap.
Beberapa menit berlalu.
Melika sudah selesai bersiap, Kevin pun sudah selesai mandi dan memakai pakaiannya. Mereka turun menuju meja makan. Melika tampak antusias. Meski dia masih merasakan sedikit mual, tetapi ada hal yang membuatnya menjadi lebih semangat dari sebelumnya. Pikirannya tentang dirinya yang memang tengah mengandung membuat dia menjadi lebih bersemangat. Baru kemungkinan saja dirinya sudah bahagia. Dia sudah tak sabar ingin memakai alat tes kehamilan agar lebih jelas.
"Aku akan bawa mobil sendiri," ucap Melika.
"Apa kamu yakin?" tanya Kevin.
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja." Melika tersenyum dan menyantap sarapannya. Meski hanya sedikit, setidaknya Melika memaksa memakannya. Kasihan sekali, jika benar dia hamil dan anak di dalam perutnya tak mendapatkan asupan gizi.
Selesai sarapan, keduanya pun pergi menuju kantor masing-masing.
****
Sebelum sampai di kantor Jian, Melika pergi ke salah satu apotek 24 Jam. Dirinya menanyakan perihal untuk mengecek kehamilan, sebaiknya apa saja yang dipersiapkan? Penjaga apotek itu pun menyarankan agar Melika membeli beberapa alat test kehamilan dengan merk berbeda. Melika menurut saja, lagi pula itu adalah pengalaman pertamanya menggunakan alat seperti itu.
"Sebaiknya, digunakan besok, di pagi hari. Begitu bangun tidur, jangan dulu memakan makanan apapun. Karena di pagi hari itu, akan terlihat lebih akurat. Urin Ibu belum terkontaminasi dengan zat makanan yang masuk ke dalam perut," ucap penjaga apotek menyarankan.
"Oh, begitu ya. Baiklah. Makasih, Mbak," ucap Melika.
"Sama-sama, Bu. Semoga mendapatkan kabar baik, sesuai yang diharapkan," ucap penjaga apotek tersenyum.
Melika pun tersenyum. Selesai membeli alat tersebut, Melika bergegas manuju kantor.
Sesampainya di kantor.
Melika memasuki ruangan, terlihat Jian sudah datang lebih dulu. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rasanya, dia belum telat karena masih belum pukul delapan. Namun, Jian sudah berada di kantor lebih dulu.
"Pagi, bagaimana keadaanmu? Kemarin kamu sakit bukan?" tanya Jian.
"Saya lebih baik, bagaimana kabar Bapak hari ini?"
"Seperti yang kamu lihat," ucap Jian. Jian tak melihat Melika, pandangannya fokus pada layar laptopnya.
"Mel, tolong periksa lagi berkas yang akan dibahas di meeting bersama client hari ini. Jangan sampai ada yang kurang, apalagi sampai tertinggal satu berkas pun," ucap Jian.
Melika sontak teringat, Jian memang ada jadwal meeting di luar kantor hari ini, beruntung lah dirinya masuk kerja. Jika tidak, Jian akan kerepotan menyiapkan semua berkas sendirian.
"Baik. Akan Saya periksa sekarang," ucap Melika dan bergegas memeriksa beberapa berkas yang akan dibawa nanti. Sesekali Melika merasakan mual, tetapi dia tahan sebisa mungkin. Dia harus bersikap profesional, dan tak ingin membuat keributan di dalam ruangan Jian karena memang belum pasti dirinya hamil.
Waktu pun berlalu.
Tepat jam makan siang, Melika dan Jian keluar dari kantor. Menggunakan mobil Jian, mereka pergi menuju restoran yang akan dijadikan tempat meeting bersama client. Masih ada waktu hingga jam makan siang selesai dan meeting akan dimulai. Kini, mereka akan makan siang terlebih dahulu.
Sesampainya di restoran.
Melika memesan beberapa menu makanan. Persis saat makan malam di sebuah restoran bersama Kevin waktu itu, ada beberapa menu makanan yang Melika pesan.
"Mel, apa kamu baik-baik saja?" tanya Jian bingung. Jian pernah beberapa kali makan bersama Melika, tetapi tak sebanyak yang dipesan saat ini.
"Ya, apa ada masalah?" tanya Melika.
"Tidak," jawab Jian. Jian pun tak banyak bertanya. Mungkin, orang gemuk memang mampu menampung makanan sebanyak itu, pikirnya.
Beberapa menit menunggu, makanan pun sudah terhidang di meja. Keduanya lanjut menikmatinya. Melika tampak antusias memakan makanan yang dipesannya. Sesekali Jian melihat ke arah Melika sambil berpikir, Melika kuat sekali makan. Jian pun kembali fokus menyantap makan siangnya.
Eurg ...
Jian membulatkan matanya ketika tepat dirinya selesai makan siang, Melika justru sendawa. Jian sontak melihat Melika dan ternyata makanan yang dipesan Melika habis tak tersisa.
"Maaf, keceplosan," ucap Melika tersenyum malu.
Jian menggelengkan kepalanya dan melap mulutnya menggunakan tissu. Dia tak sengaja melihat bekas saus di pinggir mulut Melika dan memberikan dua lembar tissu pada Melika.
"Lap mulutmu, jangan sampai client melihatnya," ucap Jian.
Melika pun mengambil tissu itu dan melap mulutnya. Setelah itu, sebagaimana kebiasaan wanita, Melika pun melakukan touch-up lipstik di bibirnya. Makan siang barusan, membuat lipstiknya sedikit terhapus. Jian pun hanya diam saja, wajar saja wanita melakukan itu, sebab lipstik adalah nyawa dari seluruh make-up, tanpa lipstik bibir akan terlihat pucat dan wajah pun menjadi terlihat pucat.
Setelah itu, Melika meminta pelayan membersihka mejanya, beberapa menit lagi client datang dan meeting akan dimulai. Dan benar saja, bahkan sebelum jam meeting, client sudah datang. Ada sepasang, diantaranya wanita dan pria, yang Melika yakini wanita itu adalah sekretarisnya dari pria itu.
Jian dan client-nya itu tampak tak ada basa basi. Bahkan setelah memesan minuman, keduanya pun langsung membahas pekerjaan. Sedangkan Melika membantu Jian menyiapkan satu persatu berkas yang akan Jian bahas bertahap, begitupun dengan wanita itu.
Tak lama, pesanan minuman datang. Tercium aroma harum American Coffee. Namun, di hidung Melika tercium aroma aneh dan seketika dirinya merasakan mual. Namun, Sebisa mungkin Melika menahan rasa mual itu, meski napasnya sudah terasa kembang kempis karena tak tahan mencium aromanya.
Hoek ...
*****
Hai, teman-teman. Follow ig aku yuk @dania_zulkarnaen. Di sana aku selalu tulis info tentang novel-novelku. Kalian bisa lihat di sana untuk setiap info dari karya aku. Atau, kapan aku update, aku selalu tulis di sana. Ada info novel baru juga yang akan rillis bulan November nanti. Pastinya, Insyaa Allah setelah novel My Lovely Fat Wife dan Istri Jelekku Season 2 tamat.
Terimakasih🤗