
Kevin pergi ke kamarnya, dia membanting pintu kamar dengan keras seolah tengah meluapkan emosinya.
"Menyebalkan sekali!" geram Kevin.
Kevin tak mengerti, mengapa dia begitu kesal mengingat Melika lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan dirinya. Kevin sendiri sadar betul, profesionalitas sangat penting dalam bekerja. Dia pun tahu pasti pekerjaan asisten pribadi seperti apa. Tentunya banyak sekali tanggung jawabnya.
Perasaan apa ini? Apa aku sudah gila, mencurigai Istriku sendiri? gumam Kevin.
Kevin berpikir hal yang tidak-tidak tentang Melika dan Jian. Entah mengapa dia menjadi kepikiran dan takut Jian akan menggoda Melika dan Melika akan tergoda pada Jian. Sebagai pria saja Kevin mengakui ketampanan dan karisma Jian, bagaimana dengan pandangan wanita? Tentu dia takut Melika akan mengkhianatinya sama seperti Prischa dulu. Karena pekerjaan Prischa akhirnya tergoda pada pria lain dan meninggalkannya.
Kevin memegang kepalanya yang terasa sakit, masalah seakan tak henti menghampirinya. Dia pikir, menikah begitu menyenangkan. Nyatanya, semua tak seindah yang dibayangkan.
******
Waktu sudah menunjukan jam makan siang.
Jian menghampiri Melika dan menyuruh Melika pulanh lebih awal untuk bersiap-siap karena penerbangan ke Bali sore nanti. Melika pun pulang lebih awal dan sesampainya di rumah dia tak melihat keberadaan Kevin. Hanya bibi yang terlihat tengah sibuk di dapur.
"Apa Mas Kevin tidak pulang ke rumah?" tanya Melika.
"Pak Kevin pergi pagi tadi," ucap bibi.
Melika mengangguk. Dia pun tahu jika Kevin memang pergi keluar karena dia bertemu Kevin saat di Rumah Sakit. Namun, Melika berpikir Kevin langsung kembali ke rumah.
"Saya akan pergi untuk urusan pekerjaan, Bi. Tolong titip Bapak, siapkan segala keperluannya," ucap Melika.
"Baik, Bu," ucap bibi.
Melika pergi ke kamarnya dan bersiap-siap. Dia mengambil koper kecil miliknya dan memasukan beberapa pakaian. Meski tak akan lama di Bali, tetapi Melika perlu perisapan lebih. Tubuhnya yang berukuran besar pun kerap kali membuatnya berkeringat dan merasa tak nyaman jika tak sering ganti pakaian. Setelah selesai, Melika membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia bersiap memakai pakaiannya dan menghubungi nomor Kevin.
Melika mendengus kesal saat ponsel Kevin tak aktif sehingga dia tak dapat menghubungi Kevin.
Bagaimana aku minta izin? Di mana dia sebenarnya? Apa di Kantor? gumam Melika.
Melika menghuhungi nomor kantor Kevin, dan nyatanya sekretarisnya mengatakan bahwa Kevin tak pergi ke kantor.
Melika memotret koper miliknya, dan mengirimkan foto tersebut pada Kevin. Melika menuliskan pesan tentang keberangkatannya ke Bali untuk urusan pekerjaan dan tak bisa mengatakan pada Kevin secara langsung lantaran tak tahu Kevin ada di mana, dan ponsel Kevin pun tak aktif. Setelah ponsel Kevin aktif nanti pastinya Kevin akan menerima pesannya.
Melika menyeret kopernya keluar kamar, dia menuruni satu persatu anak tangga dan terkejut melihat Kevin ada di hadapannya dan tengah menaiki anak tangga. Dahi Kevin tampak mengerut melihat Melika bergantian dengan Kover yang ada di tangan Melika.
"Mau kemana?" tanya Kevin.
"Mas dari mana saja? Aku hubungin tapi tidak bisa," ucap Melika.
"Aku bertanya, kenapa bertanya balik?" ucap Kevin tak suka.
"Hm ... Aku akan ke Bali menemani Jian untuk urusan pekerjaan," ucap Melika.
"Oh," ucap Kevin dan berlalu melewati Melika.
Melika tampak bingung melihat ekspresi datar Kevin. Kevin bahkan hanya mengatakan kata sesingkat itu.
"Apa hanya itu? Apa tidak ada yang ingin Mas katakan?" tanya Melika.
"Tidak," ucap Kevin singkat.
"Mas!" panggil Melika. Melika menjadi tak enak hati dan kepikiran soal ucapan Kevin tadi pagi, yang mana Kevin nyatanya tak suka dia bekerja.
"Aku tidak bisa bicara terburu-buru. Pergilah!" ucap Kevin.
"Profesional lah dalam bekerja. Jian menunggumu," ucap Kevin.
"Aku hanya ingin memelukmu sebelum aku pergi," ucap Melika.
"Memelukku hanya akan menyia-nyiakan waktumu," ucap Kevin dan pergi ke kamarnya.
Melika menggelengkan kepalanya. Kevin mungkin terlihat biasa saja, tapi ucapan Kevin bagaikan sindirian secara halus untuk Melika.
Melika melihat ponselnya saat ada telepon masuk. Terlihat nama Jian di layar ponselnya. Melika pun menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Pak," ucap Melika.
"Saya sudah di depan rumah kamu," ucap Kevin.
Melika mengerutkan dahinya. Entah dari mana Jian mengetahui alamat rumahnya.
"Saya ke sana, tunggu sebentar," ucap Melika dan mematikan telepon tersebut.
Melika bergegas mengahampiri Jian, dan tanpa sadar Kevin mencuri dengar obrolan Melika dengan Jian.
Kevin mengusap wajah kasar. Hatinya benar-benar tak rela Melika pergi bersama pria lain meski untuk urusan pekerjaan.
"Gila! Ini gila!" kesal Kevin saat menyadari bahwa dia memang cemburu melihat Melika dekat dengan Jian.
Kevin menyalakan ponselnya dan masuklah pesan dari Melika. Dia pun membuka pesan itu dan hanya diam tanpa ekspresi. Pikirannya kacau, pekerjaannya terbengkalai karena masalah akhir-akhir ini yang terus saja berdatangan. Sebetulnya, Kevin tak butuh apapun. Dia hanya butuh Melika berada di dekatnya dan mendukungnya. Sayangnya, Melika tak memiliki cukup waktu dan justru menghakiminya atas masalah yang terjadi. Dia mungkin bersalah karena tak jujur sejak awal, tetapi bukan tanpa alasan dia melakukan semua itu. Dia hanya ingin menjaga perasaan Melika, tetapi Melika justru menyalah artikan maksudnya.
Di sisi lain.
Mobil Jian tengah melaju menuju Bandara dengan dikemudikan oleh sang supir. Jian dan Melika duduk di kursi penumpang. Keduanya tampak diam dan tak bicara.
"Akan ada berita besar malam nanti," ucap Jian.
"Apa?" Melika menoleh ke arah Jian yang bicara dengan pandangan mengarah ke depan.
"Apa?" tanya Jian balik sambil melihat Melika.
"Bapak bicara pada siapa?" tanya Melika bingung. Melika mencoba memperhatikan Jian dengan seksama dan Jian pun tak sedang bicara di telepon.
"Menurutmu?" tanya Jian sambil mengerutkan dahinya.
Melika menunjuk dirinya sendiri sedangkan Jian mengusap wajahnya.
"Ya, padamu. Memangnya pada siapa lagi?" ucap Jian.
"Bapak bicara tanpa melihat Saya, mana saya tahu?" ucap Melika.
"Ya, kesadaran diri sajalah. Di sini hanya ada kita berdua," ucap Jian.
Melika melihat ke arah supir yang ternyata melihatnya dibalik kaca spion depan. Tampak supir Jian seperti tengah menghela napas.
Apa dia tidak sadar, bahwa ada supir juga di dalam mobil ini? Dia anggap apa supirnya? batin Melika.
"Jadi, berita besar apa, Pak?" tanya Melika.
"Lihat saja nanti," ucap Jian tanpa ekspresi.
Melika pun terdiam sambil memikikan berita besar yang Jian maksud. Entah berita besar apa maksudnya?