My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 81



Bibi bergumam dalam hati. Tuannya itu benar-benar membuatnya bingung.


Tak lama terdengar suara langkah seseorang dari atas tangga. Rupanya Melika dan Kevin yang turun.


"Anda mau minum apa, Pak?" tanya bibi mencoba mengalihkan pembahasan sebelumnya. Dari pada membuatnya bingung sendiri, lebih baik tak perlu dibahas lagi, pikirnya.


"Teh hangat saja, berikan madu sebagai pengganti gula," ucap papa Kevin.


"Baik, Pak." bibi pun permisi dan membuatkan minuman untuk papa Kevin.


"Kalian sudah selesai?" tanya papa saat Kevin dan Melika sudah mendekat.


Kevin dan Melika saling tatap dan tersenyum.


"Ngobrolnya, maksud Papa. Atau Papa pulang saja? Mungkin kalian butuh waktu berdua," ucap sang papa.


"Tidak, Pa. Papa baru saja datang, jangan buru-buru pulang. Bagaimana kalau kita sarapan bersama?" ucap Melika.


"Papa sudah sarapan, hanya ingin minum teh saja. Kalian saja yang sarapan," ucap papa.


"Aku juga sudah. Kamu saja," ucap Kevin.


Melika mengiyakan. Dia pun memilih sarapan karena sebelumnya belum sempat sarapan. Di pesawat pun dirinya tumben sekali tak berselera menikmati sarapan. Rasanya sudah tak berselera dengan hanya mencium aromanya saja. Sementara ayah dan anak itu pergi menuju kolam renang, duduk bersama menikmati secangkir minuman hangat yang bibi bawakan.


"Selamat, Vin," ucap papa tiba-tiba.


"Untuk?" tanya Kevin.


"Kalian sudah berbaikan, Papa harap kalian tetap dalam keadaan baik-baik saja. Tak terjadi lagi kesalahpahaman apapun," ucap papa tersenyum.


"Terimakasih, Pa. Semua berkat doa Papa," ucap Kevin tersenyum.


"Orangtua akan mendoakan yang terbaik untuk anaknya," ucap papa.


"Lalu, bagaimana? Apa sudah bicara dengan Melika, soal saran Papa agar kalian pergi menikmati waktu bersama?" tanya papa.


"Ya, nanti malam kami akan makan malam di luar," ucap Kevin tersenyum senang. Akhirnya, dia memiliki waktu bersama Melika.


"Baguslah, nikmatilah waktu kalian. Urusan lain, jangan dipikirkan dulu," ucap papa.


"Iya, Pa. Apa Papa mau ikut?" tanya Kevin mencoba berbasa-basi menawarkan pada sang papa. Padahal dalam hatinya, dia berharap sang papa menolak untuk ikut.


"Hm ... Carikan Papa pasangan, barulah Papa akan ikut makan malam di luar bersama kalian. Jika tidak, Papa hanya akan menjadi nyamuk jomblo yang melihat kalian bermesaraan," ucap papa terkekeh.


"Benarkah? Apa sudah mulai tertarik dengan wanita lain? Sedang dekatkah?" tanya Kevin.


"Hm ... Apakah Papa masih pantas dekat dengan wanita?" tanya papa.


"Tentu saja, Papa sehat dan bugar. Papa pun menjaga pola hidup dengan baik, wajah Papa tak jauh beda denganku, tampak muda. Aku yakin, banyak gadis yang mau dengan Papa," ucap Kevin terkekeh.


Ha-ha-ha ...


Papa Kevin pun tertawa. Lucu sekali mendengar perkataan anaknya.


"Tidaklah, Papa bahagia meski hidup sendiri," ucap papa.


"Apapun yang terbaik menurut Papa, aku akan mendukung Papa sama seperti Papa selalu mendukungku. Aku takan melarang Papa untuk menikah lagi," ucap Kevin.


"Apa kamu menyuruhku untuk mengkhianati Mamamu?" tanya papa Kevin heran. Dia tak habis pikir karena Kevin bisa bicara seperti itu.


"Seseorang yang sudah tiada, dia sudah bahagia di kehidupannya, di alam lain sudah tenang. Tidak ada yang merasa dikhianati jika Papa memutuskan menikah lagi, sebab yang pergi takan pernah kembali. Seseorang yang masih bernapas, butuh teman dalam hidupnya. Teman untuk berbagi dalam segala hal, teman untuk bercerita. Aku menyadari, aku tak bisa selalu ada untuk Papa," ucap Kevin.


Jika kebanyakan seorang anak tak akan mengizinkan orangtuanya untuk menikah lagi, berbeda dengan Kevin. Kevin menyadari, papanya pria normal, pria sehat dan masih sanggup dalam hal sekss.


"Hm ... Untuk saat ini belum, entahlah Papa belum kepikiran," ucap papa.


"Tapi, aku punya permintaan. Jika ada wanita yang dekat dengan Papa, pastikan dia memang menyayangi Papa dengan tulus, bukan karena maksud tertentu," ucap Kevin.


"Ya ... Ya ... Tidak perlu membahas ini lagi, lebih baik berikan saja Papamu ini cucu," ucap papa terkekeh.


"Aku akan berusaha, Pa. Tenang saja, aku akan rajin membuatnya," ucap Kevin terkekeh.


Ha-ha-ha ... Mereka pun tertawa, lucu sekali rasanya membahas masalah seperti itu.


*****


Melika masih bersiap, sedangkan Kevin sibuk memainkan ponselnya. Mencoba mencari tahu restoran bernuansa romantis di Jakarta. Dia memang bukanlah pria yang terbiasa bersikap romantis, karena itu dirinya tak mengerti hal seperti itu.


Kevin tersenyum saat menemukan restoran yang menjanjikan nuansa romantis. Terlihat dari beberapa review pengunjung yang merasa puas dengan pelayanan di sana. Di sana pun terdapat ruang vvip yang menyajikan tempat dansa jika pengunjung ingin menikmati waktu untuk berdansa.


***


Melika sudah selesai bersiap, dia tampak anggun dengan gaun panjang hitam berlengan panjang dan memiliki belahan samping dari ujung kakinya hingga di atas lutut. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan tak luput sepasang heels berukuran 5 centimeter melengkapi penampilannya. Dia terlihat tampak percaya diri.


"Mau pergi sekarang?" tanya Kevin. Melika mengangguk dan Kevin pun menggandeng Melika menuju mobil. Mereka pun pergi menuju restoran yang sudah Kevin cari sebelumnya.


Sesampainya di restoran.


Kevin menggandeng Melika masuk ke sebuah gedung layaknya perkantoran. Di sana bukanlah sebuah Mall, melainkan memang sebuah gedung perkantoran di mana di dalamnya juga terdapat restoran mewah yang cocok sekali jika setiap pasangan ingin dinner romantis.


Mereka memasuki lift dan menekan lantai paling atas yang ada di gedung tersebut. Tak lama pintu lift terbuka, masuklah dua orang pria ke dalam lift.


Melika menutup hidungnya saat mencium bau menyengat dari tubuh kedua pria itu. Entah mengapa, kepalanya terasa pusing mencium aroma parfum kedua orang tersebut yang begitu tajam di indera penciumannya. Padahal, sebelumnya dia tak memiliki masalah apapun dengan berbagai jenis aroma parfum, termasuk parfum yang dirinya dan Kevin pakai saat ini. Melika tak merasa terganggu. Kemarin bahkan dirinya tak mengalami masalah dengan bau parfum Jian.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Kevin heran.


Melika mengangguk dan tak mengatakan apapun.


Sesampainya di lantai yang dituju, Melika dan Kevin masuk ke restoran dan pergi menuju sebuah ruang vvip. Benar sekali, disana suasananya tampak romantis, meski Kevin tak memintanya tetapi di sana sudah tersedia meja dengan setting yang begitu romantis.


"Wah, romantis sekali suasananya," ucap Melika tersenyum.


"Kamu suka?" tanya Kevin.


"Tentu saja, sangat suka," ucap Melika tersenyum.


Kevin menarik sebuah kursi dan meminta Melika duduk. Dia pun ikut duduk di hadapan Melika. Tak lama seorang pelayan menghampiri dan memberikan sebuah buku menu.


Melika melihat-lihat setiap gambar menu yang ada, terlihat menarik sekali.


"Saya mau ini, ini, ini juga, ya Mas. Saya mau sup sirip hiu juga, ya." Melika tampak memesan beberapa menu makanan. Kevin pun hanya diam saja karena memaklumi orang bertubuh besar, ukuran lambungnya pun mungkin memiliki ruang yang besar. Karena itu makanan yang masuk dapat tertampung banyak.


"Apa ada nasi putih?" tanya Melika.


"Ada, Bu," ucap pelayan.


"Berikan Saya satu rice bowl, ya," ucap Melika.


"Oh ya, berikan Saya minuman yang asam manis segar, dan mineral water biasa," lanjut Melika.


"Kamu yakin, akan makan sebanyak itu?" tanya Kevin. Pasalnya, wajar saja jika memesan banyak menu, tetapi apa tidak keterlaluan jika harus makan nasi juga?


"Kenapa? Semuanya terlihat menarik dan enak, aku mau memakannya," ucap Melika.


"Hm ... Baiklah, tapi habiskan, ya," ucap Kevin.


Melika mengangguk dan tersenyum.


Kevin memesan makanan porsi sewajarnya menurutnya dan minuman. Setelah itu pelayan itupun pergi.


*****


Beberapa saat menunggu, Melika pun izin ke toilet.


Tak lama semua makanan datang bersamaan. Meja pun tampak penuh dengan makanan. Lilin dan hiasan bunga yang menghiasi meja makan pun akhirnya disingkirkan agar memiliki ruang untuk piring makanan lainnya. Kevin hanya menghela napas, dinner-nya di luar perkiraan, menunya banyak sekali. Dia bahkan tak yakin Melika akan menghabiskannya.


Tak lama Melika pun kembali, dia tersenyum dari kejauhan.


Kevin tersenyum dan tak tahan untuk meminum minumannya, dia pun meminumnya sambil menunggu Melika mendekat.


Hoek !!!


Uhuk-uhuk ... Kevin terkejut dan tersedak minumannya.