
Tak lama setelah perdebatan Prischa dan Bryan, orangtua Prischa pun masuk dan merasa bingung saat melihat pria asing di depannya.
Dengan sopan Bryan menjabat tangan papa Prischa dan memperkenalkan dirinya.
"Kalian sudah mengenal saling lama?" tanya papa Prischa.
"Cukup lama, Om, dan Saya menyesalkan kejadian ini sampai terjadi," ucap Bryan.
"Ya, memang betul. Ini semua karena pria tidak bertanggung jawab itu, yang bahkan tega sekali melenyapkan anaknya sendiri," kesal papa Prischa. Papa Prischa masih berpikir bahwa anak yang saat itu dikandung Prischa adalah anak Kevin.
Bryan mengerutkan dahinya. Dia bahkan tak pernah melakukan apapun.
"Maksud Om, apa pria yang tadi datang ke sini?" tanya Bryan penasaran.
"Sudahlah, untuk apa membahas masalah ini," ucap Prischa mencoba menghentikan pembahasan soal Kevin. Dia tak ingin papanya sampai tahu bahwa Bryan sebenarnya adalah ayah dari janin yang sudah tiada itu.
"Apa benar, tadi Kevin datang ke sini?" tanya papa Prischa.
"Ya, dan aku bertengkar dengannya," ucap Prischa.
"Lalu, kenapa tidak panggil Papa? Papa akan hajar anak itu," ucap papa Prischa.
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi, aku muak dan ingin istirahat!" tegas Prischa.
"Baiklah, istirahat saja. Sebaiknya Papa keluar dulu," ucap papa Prischa.
"Saya juga, Om," ucap Bryan.
Bryan dan papa Prischa keluar dan Bryan pun memanggil papa Prischa.
"Ada yang ingin Saya katakan," ucap Bryan.
"Katakan saja," ucap papa Prischa.
"Saya akan menikahi Prischa," ucap Bryan.
"Apa? Apa maksudmu? Kenapa ingin menikahi Prischa?" tanya papa Prischa terkejut.
"Saya mencintai anak Om, dan Saya akan menjaganya," ucap Bryan.
"Tapi Prischa--" papa Prischa terdiam, dia berpikir apa benar Bryan mencintai Prischa dan ingin menikahi Prischa? Bahkan setelah tahu keadaan Prischa yang sebenarnya.
"Saya tidak peduli," ucap Bryan.
"Apa kamu sudah membicarakan ini pada Prischa?" tanya papa Prischa.
"Ya, dan dia menyetujuinya. Kami akan menikah secepatnya," ucap Bryan.
Papa Prischa semakin syok, bagaimana bisa Prischa menyetujui pernikahan itu sedangkan dia tahu Prischa memiliki perasaan terhadap Kevin.
Papa Prischa terdiam sejenak, dia pun menghela napas panjang.
"Baiklah, jika ini yang terbaik untuknya, Om akan merestui kalian. Ini mungkin lebih baik untuk Prischa. Hanya satu pesan Om, jangan pernah sakiti dia, dia sudah cukup menderita," ucap papa Prischa.
"Tentu saja," ucap Bryan tersenyum penuh arti.
Mungkin kalian pernah mendengar kata-kata ini, Dekati dan dapatkan hati orangtuanya, maka kau akan mendapatkan hatinya anak.
Bryan pun berjanji akan mempersiapkan segalanya sendiri dan meminta papa Prischa untuk tak memberitahukan masalah ini pada Prischa dengan alasan ingin memberikan kejutan pada Prischa. Karena tak tahu apapun, papa Prischa pun mengiyakan saja.
*****
Di sisi lain.
Kevin dan Melika sampai di parkiran, Kevin pun memaksa Melika ikut masuk ke mobilnya.
"Aku bawa mobil!" ucap Melika.
"Aku tahu," ucap Kevin.
"Ya sudah, ngapain Mas mau aku masuk ke mobil Mas?" tanya Melika bingung.
"Karena kita perlu bicara," ucap Kevin.
"Aku akan terlambat ke Kantor," ucap Melika.
"Apa urusan pekerjaanmu lebih penting dari pada masalah kita saat ini?" tanya Kevin tak habis pikir.
"Mas tolong, jangan memperkeruh keadaan. Aku harus bersikap profesional terhadap pekerjaanku," ucap Melika.
"Dan aku Suamimu, aku hanya ingin bicara denganmu, apa aku salah?" ucap Kevin mulai kesal.
"Ada apa denganmu? Apa kamu lupa, aku juga Istrimu! Apa kamu menganggapku? Apa kamu berbagi segalanya denganku? Tidak! Kamu bahkan menyembunyikan masalah sebesar ini padaku!" kesal Melika.
"Aku sudah minta maaf," ucap Kevin melembut.
"Dan aku ingin ke Kantor sekarang! Aku ada meeting," ucap Melika beralasan.
"Baiklah, masalah kita mungkin tak terlalu penting untuk dibahas," ucap Kevin pasrah.
"Tolong jangan kekanakan, Mas. Masalah sebaiknya dibicarakan di rumah, bukan ditempat umum!" tegas Melika.
"Kamu mengajariku?" tanya Kevin tak habis pikir. Bisa-bisanya Melika terus menjawab ucapannya sehingga menimbulkan perdebatan. Bahkan sebelumnya Melika tak pernah seperti itu.
"Aku sudah terlambat, tolong mengertilah," ucap Melika.
"Turunlah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Pekerjaanmu memang lebih penting, tidak usah pedulikan aku," ucap Kevin.
"Apa sebenarnya yang ada dipikiranmu? Apa sebetulnya kamu tidak ingin aku bekerja? Apa kamu merasa keberatan aku bekerja? Jika iya, katakan sa--"
"Iya! Aku keberatan!" tegas Kevin.
Melika bahkan belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Kevin justru sudah lebih dulu menyahut.
Dengan kesal Melika turun dari mobil Kevin dan masuk ke mobilnya.
"Menyebalkan sekali. Jika dia tidak rela aku bekerja, kenapa sejak awal mengizinkan ku bekerja?" kesal Melika. Melika pun langsung melajukan mobilnya menuju kantor Jian. Sebetulnya hanya tak siap bicara dengan Kevin, hatinya masih terasa sakit atas ketidak terbukaan Kevin. Dia bahkan akan mendukungnya seberat apapun masalah Kevin.
Sedangkan Kevin pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman sang papa. Kepalanya terasa berat, dia butuh teman untuk bercerita dan dia tau, hanya sang papa lah yang dapat mengerti dirinya. Memaksa Melika untuk tetap tinggal bersamanya, nyatanya hanya sia-sia. Dia bahkan hanya ingin semuanya cepat selesai agar tak ada lagi kesalahpahaman tetapi Melika lebih memikirkan pekerjaannya.