My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 24



Kevin mengecup tengkuk Melika, membuat tubuh Melika bergetar.


Sungguh, ini adalah pertama kalinya bagi Melika mendapatkan sentuhan seperti itu.


Jantungnya pun benar-benar berdegup kencang.


"Apa kamu siap melakukannya sekarang? " bisik Kevin.


Melika menelan air liurnya, dia tak berani tidur menghadap Kevin.


"Kenapa diam?" bisik Kevin lagi, namun tak ada jawaban dari Melika.


"Diamnya kamu, aku anggap kamu mau." ucap Kevin.


Kevin melepaskan pelukannya dan membuka kaso yang dia kenakan, dia pun turun dari tempat tidur dan akan mengganti lampu kamarnya dengan lampu malam yang agak redup.


Kevin mengerutkan dahinya saat melihat Melika tengah memejamkan mata.


"Mel," panggil Kevin.


Tak ada sahutan dari Melika, membuat Kevin sampai sedikit mengguncangkan tubuh Melika.


"Ya ampun, jangan-jangan--" Kevin menghentikan ucapannya saat teringat Melika pingsan di acara lamaran karena terlalu gugup.


"Mel bangun, kamu tidur atau pingsan?" Kevin menepuk pipi Melika, namun Melika tetap tak membuka matanya.


Dia menghembuskan napas agak kasar dan tersenyum getir.


"Kenapa pakai pingsan segala, sih?" gumam Kevin.


Kevin pun beranjak menuju kamar mandi.


"Huh, apa-apaan, ini? Mau malam pertama pakai pingsan segala." gumam Kevin dengan sedikit kesal.


Dia kesal karena usahanya untuk menggoda Melika sia-sia, dia bahkan sudah di buat jantungan karena gugup saat mendekati Melika, namun nyatanya Melika justru pingsan karena saking gugupnya.


*******


Keesokan harinya.


Kevin menuruni anak tangga, dia sudah memakai kemeja kerjanya dengan rapi.


Dia melihat Melika tengah menyiapkan sarapan di dapur.


"Pagi, Pak," sapa Bibi.


"Pagi, Bi," sahut Kevin.


Kevin pun duduk di kursi dan langsung menyantap sarapannya tanpa bicara dengan Melika, Kevin bahkan tak melihat Melika walau hanya sekilas.


Melika yang melihat Kevin diam saja pun menjadi tak enak hati.


Dia pun jadi teringat kejadian semalam, mendadak wajahnya memanas.


Melika juga tak enak hati karena dia harus pingsan semalam dan gagal menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Setelah selesai sarapan, Kevin beranjak dari tempat duduknya dan akan berangkat ke kantor.


"Mas," panggil Melika.


Kevin mengurungkan langkahnya.


"Hhmmm ..." Kevin berdehem tanpa melihat ke arah Melika.


"Maaf untuk semalam." ucap Melika dengan ragu.


Kevin mengembuskan napas kasar dan menatap lekat wajah Melika yang tampak memerah.


"Sepertinya, kamu harus ke dokter." ucap Kevin.


Melika mengerutkan dahi dan menatap Kevin dengan tatapan heran.


"Kenapa? Aku nggak sakit." ucap Melika.


"Karena, kamu harus mengobati kebiasaan buruk kamu itu, kamu harus menyembuhkan kebiasaan pingsan di saat gugup." ucap Kevin dan berlalu meninggalkan Melika yang masih diam tanpa mengatakan apapun.


Melika pun menghela napas perlahan dan menggelengkan kepalanya.


"Aku sehat, kok, ngapain juga meski ke dokter." gumam Melika dengan santai.


Dia pun memilih pergi menuju kamarnya.


******


Di perjalanan menuju kantor.


"Ya ampun, kenapa aku harus bilang seperti itu? Dia kan, nggak sakit. Kenapa aku suruh dia ke dokter?" gumam Kevin.


"Semoga dia nggak tersinggung." ucap Kevin.


Kevin merasa tak enak hati telah berbicara seperti itu pada Melika, dia takut Melika merasa tersinggung.


Sesampainya di kantor.


Kevin langsung berkutat dengan pekerjaannya, namun di tengah pekerjaannya, Kevin kembali teringat akan ucapannya terhadap Melika, seketika dia pun menjadi gelisah dan takut Melika tersungging dengan ucapannya.


Kevin mendongak saat pintu ruangannya terbuka dan terlihat Angga yang memasuki ruangan dengan membawa berkas di tangannya.


"Pagi," sapa Angga sambil menyunggingkan senyumnya.


"Pagi juga," sahut Kevin sambil tersenyum tipis.


"Ini berkas yang harus kamu cek ulang, kalau ada yang perlu diperbaiki, beri tahu aku, aku akan memperbaiki nya." ucap Angga.


"Lagi suntuk?" tanya Angga.


Kevin tersenyum tipis tanpa menjawab ucapan Angga.


"Apa ada masalah, di rumah?" tanya Angga.


Kevin lagi-lagi menghela nafas, dia pun mengangguk pelan.


"Jangan dibawa ke dalam lingkungan pekerjaan, karena takut mengganggu pekerjaanmu. Sebaiknya, masalah di rumah selesaikan juga di rumah." ucap Angga.


Kevin bangun dari duduknya dan melangkah mendekati jendela kaca yang menampilkan hiruk-pikuk jalanan ibukota Jakarta.


" Aku bingung memulainya." ucap Kevin.


Anggak mengerutkan dahi dan mendekat ke arah Kevin.


"Bingung memulai apa, maksudnya?" tanya Angga.


Kevin menatap Angga dan mengembuskan napas kasar.


"Aku bingung memulai semuanya bersama Melika, kamu tahu aku tidak terlalu, bahkan tidak berpengalaman dalam hal semacam itu." ucap Kevin.


"Hal apa maksud kamu?" tanya Angga.


"Ayolah, masa kamu nggak ngerti." ucap Kevin sambil memutar bola matanya merasa mulai gemas karena temannya itu tak juga mengerti.


Angga menghela napas perlahan, sungguh dia tak mengerti apa yang temannya itu katakan.


"Oke, oke. Kalau kamu nggak mau kasih tahu, aku akan lanjutkan pekerjaanku." ucap Angga.


Angga pun akan melangkah menuju pintu keluar.


"Ngga, gimana caranya membuat wanita tidak gugup saat berada terlalu dekat dengan kita?" tanya Kevin.


"Apa? Apa ini tentang Melika?" tanya Angga penasaran.


Kevin pun mengangguk.


"Dia memiliki kebiasaan pingsan saat sedang gugup." ucap Kevin.


"Apa? Serius? Perempuan sekonyol dia bisa gugup?" tanya Angga dengan nada tak percaya.


Kevin membulatkan matanya.


"Konyol?" ucap Kevin dengan bingung.


"Ya, maksud aku, Melika adalah perempuan yang sangat percaya diri, aku agak terkejut mendengar dia punya kebiasaan seperti itu." ucap Angga.


"Jadi, gimana caranya?" tanya Kevin dengan penasarana.


Sungguh dia tak ingin Melika sampai pingsan lagi karena merasakan gugup.


"Jadi, kamu minta saran aku?" tanya Angga.


"Anggap saja begitu. Kamu terlalu banyak pertanyaan." ucap Kevin dengan nada kesal.


Angga terkekeh dan mengangguk.


"Buatlah suasana seromantis mungkin." ucap Angga.


"Maksudnya?"


"Ya, buatlah suasana yang romantis. Misalnya, ajak dia untuk dinner romantis terlebih dahulu, bawa dia ke tempat-tempat indah, dan buatlah dia melupakan segalanya saat sudah berada di dalam kamar, apalagi saat sudah berada diatas tempat tidur. Dengan begitu, dia tak akan gugup lagi." ucap Angga.


"Maksudnya?" Kevin semakin kebingungan mendengar ucapan Angga.


"Astaga, masa kamu nggak ngerti." ucap Angga.


"Bahasa orang yang sudah menikah sungguh rumit." ucap Kevin.


"Ayolah, kamu saja sudah menikah, apanya yang rumit?" ucap Angga.


"Sudahlah, aku semakin pusing." ucap Kevin dengan kesal.


Angga terkekeh dan menepuk bahu Kevin.


"Buatlah dia merasa di cintai dan di inginkan. Dengan begitu, dia akan menyerah dengan sendirinya." ucap Angga dan berlalu meninggalkan Kevin yang hanya diam tanpa mengatakan apapun lagi.


"Bagaimana caranya?" gumam Kevin.


"Astaga, aku seperti orang bodoh hanya karena memikirkan masalah ini." gumam Kevin.


Dia menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.


Dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


*******


Hai, hai, kesayangan Author 😊


Adakah kalian yang tinggal di Jabodetabek? Author akan mengadakan me time dengan readers karya-karya Author dan mungkin kalian ada yang mau ikut gabung.


Rencananya akan di adakan di daerah Jakarta, untuk info lebih lanjut lagi kalian bisa menghubungi nomor 081382885340.


Untuk tanggal dan tempatnya masih akan di bicarakan, namun rencananya akan di adakan pada awal bulan februari.


Sebetulnya, ide ini muncul dari salah satu readers yang setia mengikuti karya-karya Author.


Terimakasih untuk kalian yang sudah mengikuti karya-karya Author selama ini, jangan lupa vote, ya 😊