My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 94



Kevin terkekeh karena jagoan kecilnya itu menyambutnya dengan aroma tak sedap. Meski begitu, Kevin tak merasa kesal. Bayi itu begitu menggemaskan meski usianya barulah satu minggu.


"Sebentar, aku panggilkan Mama," ucap Melvin.


Kevin menahan tangan Melvin. Membuat Melvin menghentikan langkahnya.


"Mas saja yang ganti popoknya. Mama sedang masak, takut mengganggu. Mas akan bawa dia ke kamar. Popoknya di kamar, kan?" ucap Kevin.


"Iya, semua perlengkapan dia ada di kamar Mbak Melika," ucap Melvin.


Dengan hati-hati Kevin mencoba menggendong bayinya. Untuk pertama kalinya dia menggendong bayi kecil itu. Sebelumnya, dia tak berani menggendong sang bayi. Takut sekali rasanya menggendong tubuhnya yang kecil. Namun, kini dia harus memberanikan diri menggendong bayi itu.


Dengan gemetar Kevin menggendong bayi itu, dia membawanya ke kamar. Ditidurkannya sang bayi di atas tempat tidur. Kevin mengambil popok dan tisu basah. Sebelumnya, dia pernah melihat mama mertuanya mengganti popok bayinya. Karena itu dia akan melakukan hal yang sama. Tak lupa Kevin juga menyiapkan minyak telon dan celana pendek untuk sang bayi.


Kevin mulai membuka popok sang bayi, dia terkejut karena ternyata bayinya tak buang air besar. Lalu, mengapa sebelumnya seperti dia mencium aroma tak sedap itu?


Kevin terkekeh saat menyadari bahwa bayi itu hanyalah buang angin, bukanlah buang air besar.


"Oke. Kamu mengujiku, Nak. Kamu ingin aku belajar mengganti popok, agar tak selalu merepotkan Nenekmu, bukan begitu, hem?" Kevin megusap gemas pipi bayinya.


Dia melap bokong sang bayi dengan tisu basah, karena sebelumnya terlihat popoknya penuh. Dia mengoleskan minyak telon ke kaki bayi itu, dan akan mulai memakaikan popoknya.


Kevin kesulitan karena harus mengangkat bayi itu terlebih dahulu dan meletakan bokong sang bayi tepat di atas popok. Setelah selesai memakai polok, bayi itu pun menangis. Membuat Kevin terkejut karena dia takut tak sengaja membuat sang bayi kesakitan.


Kevin menggendong bayi itu, tapi bayi itu masih saja menangis.


"Ada apa, Vin? Kenapa dia menangis?" tanya mama Melika tiba-tiba masuk ke kamar. Dia yang tengah memasak bergegas menghampiri Kevin begitu mendengar tangis sang bayi.


"Aku nggak tahu, Ma. Dia tiba-tiba nangis setelah aku ganti popoknya," ucap Kevin.


"Kamu ganti popoknya? Kenapa nggak minta tolong Mama?" ucap mama Melika.


"Takut mengganggu Mama, aku pikir aku pernah lihat Mama mengganti popoknya. Karena itu, aku menggantinya," ucap Kevin.


Mama melika tersenyum. Dia mengambil alih menggendong bayi itu.


"Sepertinya, dia haus, Vin. Tolong buatkan susu," ucap mama.


Kevin segera membuat susu untuk bayinya. Namun, dia kebingungan membuatnya. Tak tahu takarannya.


Kevin melihat petunjuk pembuatannya, dan dia mengikutinya. Selesai membuat susu, Kevin memberikan susu itu pada mama mertuanya. Bayi itu pun menyusu dan terdiam.


"Ma, bau apa ini, ya?" ucap Kevin saat tercium aroma gosong.


"Ya ampun. Mama sedang masak, Vin." Mama Melika tampak panik karena masakannya gosong.


"Vin ...! Tolong masakan Mama!" ucap mama.


Melvin muncul di pintu kamar.


"Mama manggil siapa?" tanya Melvin.


"Ya siapa lagi kalau bukan kamu?" ucap mama.


"Aku pikir Mas Kevin. Sama-sama Vin di ujungnya," ucap Melvin terkekeh.


"Aku nggak ngerti, Ma," ucap Melvin.


Dia tak pernah masak sebelumnya, karena itu dia tak mengerti harus bagaimana jika masakan sampai gosong.


Melvin dan Kevin pun terkekeh mendengar ucapan mama.


"Sebentar, ya." Mama Melika menidurkan bayi itu di atas tempat tidur dan kembali ke dapur. Melvin pun meninggalkan Kevin dan sang bayi.


Sesaat kemudian, bayi itu kembali menangis. Kevin langsung menggendong bayi itu sambil terus memberikan bayi itu susu.


Bayi itu kembali terdiam, matanya terpejam. Kevin memandang wajah lelap bayi itu, dia tersenyum. Benar-benar semuanya mirip dengannya. Tak ada yang kurang satupun. Mata bayi itu, hidungnya, alisnya, bahkan bibirnya mirip dengan Kevin. Jika disandingkan dengan foto kecil Kevin, sudah jelas seperti pinang dibelah dua.


"Waktu hamil dirimu, Mamamu sepertinya begitu membenciku. Kamu benar-benar mirip denganku. Aku pernah dengar, jika wanita hamil membenci seseorang, maka kemungkinan bayinya akan mirip dengan orang yang dia benci. Dan kamu mirip sekali denganku," ucap Kevin tersenyum.


Begitu susunya habis, Kevin mencoba menidurkan bayinya di tempat tidur. Namun, bayi itu kembali menangis.


"Baiklah, aku akan terus menggendongmu," ucap Kevin tersenyum. Kevin seolah mengerti, bahwa bayi itu tak ingin lepas darinya.


Kevin duduk di tempat tidur. Sesak sekali rasanya memakai pakaian kantornya, lalu menggendong bayi itu cukup lama. Kevin menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur sambil masih menggendong bayinya. Perlahan Kevin pun tertidur. Mengurus bayi ternyata cukup melelahkan. Meski baru sebentar menggendong sang bayi, tetapi ini adalah hal baru baginya. Dia belum terbiasa dengan itu.


...*****...


Dua minggu sudah Melika terbaring di Rumah Sakit. Belum ada tanda-tanda dia akan siuman. Kevin pun masih selalu menemani Melika. Bahkan Kevin tidur di Rumah Sakit menemani Melika.


Dan siang ini, dari Kantor Kevin langsung menuju Rumah Sakit. Kevin melihat tubuh Melika, Melika tampak kurusan. Dia berpikir, itu karena Melika kini sudah tak lagi mengandung, dan mungkin juga karena hanya infus water itu yang masuk ke tubuhnya. Karena itu, Kevin melihat Melika tampak tak segemuk sebelumnya.


Kevin duduk di kursi, di dekat Melika. Dia menatap lekat wajah Melika. Tangannya mengusap lembut pipi Melika.


"Bangun, Mel. Lama sekali kamu tidur. Apa melahirkan begitu melelahkan? Sampai kamu butuh waktu lebih lama untuk istirahat?" ucap Kevin.


Kevin bicara seolah Melika tengah mendengarkannya.


"Maaf, Mel. Tapi, aku lelah melakukan apapun sendiri. Aku membutuhkanmu," ucap Kevin sedih.


Entah kapan Melika akan siuman. Kevin tak sabar menunggu hari itu tiba.


Jika Melika siuman, Kevin berpikir hal pertama yang akan dia lakukan adalah memeluk Melika, dan berterimakasih pada Melika karena sudah memberinya malaikat kecil yang begitu tampan mirip dengan dirinya. Kelak, bayinya lah yang akan menggantikan dirinya. Mengambil alih perusahaannya dan dia akan duduk manis ketika saat itu tiba. Dia akan menikmati masa tuanya bersama Melika tanpa harus pusing memikirkan urusan pekerjaan.


Setelah itu, Kevin pergi dari Rumah Sakit dan kembali ke Kantornya.


Di Kantor.


Kevin memasuki ruangannya dan terkejut melihat Niken ada di ruangannya.


"Sedang apa kamu?" tanya Kevin.


Lancang sekali pikirnya, di saat dia tak ada di ruangan itu tetapi Niken justru ada di dalam ruangan itu.


Niken tampak salah tingkah melihat Kevin.


"Maaf, Pak. Saya hanya merapikan meja Bapak. Berkas-berkas di meja ini sebelumnya berantakan," ucap Niken.


"Hm ... Ya sudah. Kamu bisa keluar!" ucap Kevin.


Niken melangkah keluar dari ruangan Kevin. Kevin pun mendekati mejanya dan duduk di kursi kebesarannya.


Kevin mencari sesuatu di atas mejanya. Dia tampak syok karena sesuatu itu menghilang dari mejanya. Harusnya, barang itu ada di atas meja kerjanya, dan Kevin dapat melihatnya kapan saja.


"Niken!" Kevin berteriak memanggil Niken.


Teriakannya yang begitu kencang hingga membuat staf lainnya menjadi kebingungan melihat Niken. Pasalnya, selama mereka bekerja di perusahaan itu, mereka tak pernah mendengar atasannya itu berteriak seperti itu. Meski tengah marah pada stafnya, Kevin akan memanggil stafnya dan bicara secara pribadi.