
"Kabar bahagia?" Kevin menatap Melika dengan tatapan penuh selidik.
"Ya, perusahaan tempatku bekerja dulu, mereka mau bekerja sama dengan perusahaan kita," ucap Melika sambil tak hentinya menyunggingkan senyum bahagianya.
Kevin semakin dibuat bingung mendengar ucapan Melika. Pasalnya, dia mengetahui perusahaan tempat Melika bekerja dulu dari riwayat kerja Melika. Namun dia tak pernah merasa mengirimkan berkas proyek ke perusahaan itu.
"Kamu sehat, kan?" Kevin menyentuh dahi Melika, dia berharap istrinya itu sedang tidak demam.
"Kamu baik-baik saja, tidak demam. Tapi, kenapa bicaramu melantur?" ucap Kevin.
Melika membulatkan matanya, dia tak menyangka suaminya itu justru mengiranya tengah sakit.
"Ihhh ,, Mas. Aku memang tidak sakit, aku sehat. Aku juga tidak sedang melantur," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.
Kevin menggidigkan bahunya. Dia tak menanggapi serius ucapan Melika.
Dia justru pergi ke kamar mandi. Entahlah, rasanya dia begitu lelah dan ingin segera melepas lelahnya dengan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Melika hanya melotot menatap punggung Kevin yang sudah polos.
Dia pun tak mengalihkan pandangannya dari Kevin, hingga Kevin benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
"Dia kenapa? Kenapa sepertinya dia tidak percaya ucapan ku?" gumam Melika.
Melika pun memilih melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu Kevin selesai mandi.
Cukup lama menunggu tetapi Kevin tidak juga keluar dari kamar mandi.
Melika pun penasaran dan mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada sahutan dari Kevin tetapi masih terdengar suara air.
Dia pun membuka perlahan pintu kamar mandi, terlihat Kevin tengah berdiri di bawah guyuran shower sambil menundukkan kepalanya dan menempelkan kedua telapak tangannya di dinding kamar mandi.
"Mas ..!" panggil Melika.
Tetap tak ada sahutan dari Kevin, Melika pun menjadi cemas pada Kevin.
Dia mematikan shower dan mengambil handuk.
"Mas kenapa? Kenapa mandinya lama sekali?" Melika memakaikan handuk pada Kevin.
Melika terkejut saat Kevin tiba-tiba memeluknya.
"Maafkan aku," lirih Kevin.
Melika mengerutkan dahinya dan melepas pelukan Kevin.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Melika dengan bingung.
"Aku gagal lagi, Mel. Aku tidak bisa mempertahankan perusahaan ku. Aku akan menjualnya, aku juga akan menjual beberapa aset milikku," ucap Kevin sambil menatap Melika dengan sendu.
Melika benar-benar dibuat bingung, dia masih belum mengerti dengan apa yang Kevin katakan.
"Mas ini bicara apa, sih? Kenapa harus menjual semua, itu?" tanya Melika.
"Karena, aku tidak bisa mendapatkan partner kerja lagi, Mel. Aku benar-benar bangkrut, Mel." Kevin mengusap wajah kasar. Dia sungguh frustrasi saat ini.
Melika terkekeh mendengar ucapan Kevin, suaminya itu benar-benar menggemaskan.
Itulah akibatnya jika tak ingin mendengar apa yang akan Melika katakan tadi.
"Kenapa kamu tertawa? Apa kamu bahagia dengan semua ini? Kamu bahagia melihat suami mu bangkrut, dan tak memiliki apapun lagi?" Kevin menatap bingung ke arah Melika.
Mana ada istri yang bahagia saat melihat kehancuran suaminya, pikirnya.
"Makanya, Mas. Kalau istri lagi ngomong itu, didengarkan dulu. Jangan langsung melengos," ucap Melika sambil masih terkekeh.
"Memangnya apa yang mau kamu katakan, tadi?" tanya Kevin dengan penasaran.
Melika menghela napas.
"Sebaiknya, kita bicara di kamar saja. Mas sudah kedinginan," ucap Melika.
Kevin mengangguk dan mengikuti Melika keluar dari kamar mandi.
Melika mengambil baju untuk Kevin dan Kevin pun langsung memakainya.
"Mau bicara sekarang, atau Mas mau makan dulu?" tanya Melika.
"Katakan saja sekarang, aku belum lapar," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan mengangguk.
Dia menjelaskan apa yang sudah dia lakukan tadi pagi sampai akhirnya mantan perusahaan tempat dia bekerja dulu mau bekerjasama dengan perusahaan milik Kevin.
Kevin tertegun, dia terdiam untuk sesaat. Dia tak menyangka diam-diam istrinya itu ternyata sudah melakukan sesuatu yang besar untuk perusahaannya.
"Jadi, mereka mau berkas kerjasamanya dua hari lagi, Mas," ucap Melika.
Kevin masih tak bergeming, dia menatap Melika dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ya Tuhan, dia benar-benar luar biasa. Dia memang tak sesempurna wanita di luaran sana, tetapi dia begitu sempurna untuk menjadi seorang istri," batin Kevin.
Kevin memeluk Melika dengan erat, seolah Melika adalah boneka beruang besar.
Melika pun tersenyum dan membalas pelukan Kevin.
Cukup lama mereka saling memeluk satu sama lain, Kevin pun melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata Melika.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Kevin.
Melika mengerutkan dahinya.
"Kenapa dia? Apa dia habis terbentur tembok? Kenapa dia jadi hilang ingatan?" batin Melika.
Melika berpikir kepala Kevin terbentur tembok saat sedang mandi tadi, sehingga Kevin menjadi lupa kepadanya.
"Tatap aku, Mas. Lihat aku dengan seksama. Aku ini Istrimu, bagaimana bisa kamu melupakanku? Apa kepala kamu habis terbentur? Apa kamu menjadi hilang ingatan? Ya Tuhan, kita harus periksa ke Dokter, Mas." Melika menarik tangan Kevin menuju keluar kamar. Namun belum sampai mereka di pintu keluar, Kevin langsung menahan tangan Melika.
"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Mana mungkin aku melupakanmu," ucap Kevin.
"Lalu? Kenapa Mas bertanya siapa aku?" tanya Melika dengan bingung.
Kevin terkekeh sambil mengusap wajahnya.
Istrinya itu benar-benar polos sekali.
"Maksudku, kamu ini wanita macam apa, ha? Kenapa begitu banyak kejutan dalam dirimu?" ucap Kevin sambil memegang gemas bahu Melika yang berukuran cukup besar.
"Aku tidak mengerti," ucap Melika.
Kevin menghela napas pelan. Dia mengajak Melika untuk duduk di samping tempat tidur.
"Kamu tahu? Selama aku hidup bersama kamu, banyak sekali hal yang tak terduga terjadi dalam hidupku. Kamu memiliki banyak sekali kelebihan dalam diri kamu," ucap Kevin.
"Kelebihan? Maksudnya, kelebihan lemak?" tanya Melika dengan polos.
Melika berpikir, maksud Kevin adalah tentang lemak tubuhnya yang berlebihan.
Hahahaha ...
Kevin tertawa keras mendengar ucapan Melika. Melika benar-benar konyol, pikirnya.
"Sudahlah. Intinya, aku sangat beruntung menikahi mu. Selain menjadi Istri yang baik, kamu juga menjadi penyelamat perusahaan. Jika yang menjadi Istriku bukan kamu, belum tentu dia bisa melakukannya," ucap Kevin.
Melika tersenyum, dia senang mendengar ucapan Kevin. Dia juga bahagia bisa melihat Kevin tersenyum tanpa beban bahkan tertawa lepas.
Seolah tak ada beban apapun yang terlihat di raut wajah Kevin, berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Kevin benar-benar terlihat muram.
"Ngomong-ngomong, aku benar-benar bersemangat. Dan --"
Kevin menghentikan ucapannya, dia menatap Melika dengan tatapan so cute.
"Dan, apa?" tanya Melika.
"Aku lapar sekali," rengek Kevin.
Melika membulatkan matanya.
"Apa Mas sehat? Kenapa jadi manja begini?" tanya Melika sambil memegang dahi Kevin.
Kevin pun kembali terkekeh.
"Aku mau makan," ucap Kevin.
Melika mengangguk dan mengajak Kevin pergi menuju meja makan.
Mereka pun makan malam bersama.
******
Pukul sembilan malam.
Kevin tengah menghubungi pengacaranya, dia meminta pengacaranya menyiapkan berkas kerjasama. Sedangkan Melika tengah merapikan tempat tidurnya.
"Untuk apa dirapikan? Nanti juga berantakan lagi," bisik Kevin.
Bugh ..!
Melika terkejut dan memukul wajah Kevin dengan bantal.
Entah sejak kapan suaminya telah selesai bicara di telepon.
Kevin terkekeh dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Terimakasih," ucap Kevin sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Melika tersenyum dan duduk di samping Kevin.
"Kamu tahu? Tidak ada kata terimakasih antara Suami dan Istri. Seorang Istri tidak akan mungkin diam saja melihat Suaminya kesulitan. Begitupun sebaliknya," ucap Melika.
"Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu, itu, mengurangi tahun kelahiran mu," ucap Kevin.
"Maksudnya?" Melika menatap Kevin dengan bingung.
"Iya. Karena, pemikiran kamu begitu dewasa. Kamu benar-benar pengertian," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan menghela napas.
"Kedewasaan seseorang tidak selalu tergantung usianya, Mas," ucap Kevin.
"Ya, kamu benar, dan aku bahagia menikahi mu. Jujur, dulu aku menikahi mu karena merasa bersalah telah mengambil ciuman pertamamu. Tetapi, aku bersyukur, karena ternyata Tuhan tak hanya mengirimkan rasa bersalah itu di hatiku sebagai jalanku untuk menikahi mu. Sekarang aku mengerti, Tuhan mengirimkan kamu di kehidupanku untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Maafkan aku, jika aku belum bisa memberikan kamu cinta yang seutuhnya. Aku pernah terluka, dan itu membuatku terkadang merasa takut untuk jatuh cinta. Aku menyayangimu Melika, aku ingin kita memulai segalanya dari awal. Dengan segala perasaan yang baru, aku sudah melupakan Prischa sejak dia kembali menghancurkan kehidupanku. Aku ingin belajar mencintaimu," ucap Kevin.
Mata Melika memerah, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Kevin yang Melika sendiri memahami maksud Kevin, dia tahu Kevin belum bisa mencintainya. Entah mengapa, rasanya tak ada rasa sakit saat mendengar ucapan Kevin. Dia justru merasa senang karena Kevin mau belajar untuk mencintainya.
Kevin menghela napas dan menggenggam tangan Melika. Kevin menatap Melika dengan tatapan sulit di artikan. Entah tatapan seperti apa. Namun tatapan itu memang terlihat berbeda dari biasanya, setidaknya itulah yang Melika lihat.
"Karena itu, Mel. Apa kamu mau menjadi kekasihku?" tanya Kevin.
Melika mengerutkan dahinya.
Dia baru pertama kali mendengar seorang suami meminta istrinya untuk menjadi kekasihnya.
"Kita sudah menikah, Mas. Untuk apa Mas memintaku menjadi kekasih Mas?" Melika menatap Kevin dengan tatapan bingung.
Kevin tersenyum dan memegang bahu Melika.
"Kamu tahu, kita menikah tanpa saling mengenal satu sama lain. Kita bahkan diberi waktu satu bulan untuk saling mengenal, dan ternyata itu tidak cukup untukku. Begitu banyak yang belum aku ketahui tentang dirimu. Kamu begitu spesial dan berbeda. Karena itu, aku ingin menjadi suami sekaligus kekasihmu," ucap Kevin.
Melika benar-benar bingung mendengar ucapan Kevin.
Apa ucapan orang dewasa serumit itu? Pikir Melika.
Kevin dan Melika memang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh.
Sembilan tahun jarak usia mereka yang tentunya Melika lebih muda dari Kevin. Meski begitu, jodoh tak mengenal usia.
Meski tak mengerti maksud Kevin, Melika tetap mengangguk tanda menyetujui keinginan Kevin.
Kevin tersenyum lebar dan memeluk Melika.
"Aku menginginkannya," bisik Kevin.
Melika membulatkan matanya dan mendorong tubuh Kevin.
"Jadi, Mas bicara manis seperti tadi, karena ada maunya?" Melika menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik.
Sementara Kevin justru dibuat bingung mendengar ucapan Melika. Dia tak mengerti mengapa Melika justru menganggapnya seperti itu.
"Tidak, aku tulus bicara seperti tadi," ucap Kevin.
Melika menatap malas pada Kevin, dia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ayolah, mana pernah aku berbohong. Aku benar-benar tulus, Mel." Kevin mencoba membujuk Melika.
Melika tersenyum tipis tanpa Kevin ketahui. Entah mengapa dia jadi ingin mengerjai Kevin.
"Apa buktinya kalau Mas tulus?" tanya Melika.
"Kamu mau bukti apa? Aku bisa melakukannya," ucap Kevin.
Melika semakin tak tahan melihat ekspresi wajah Kevin yang terlihat memelas. Namun sebisa mungkin dia menahan tawanya, dia masih ingin mengerjai Kevin.
"Aku ingin merasakan digendong oleh Mas," ucap Melika.
Kevin membulatkan matanya.
Permintaan istrinya itu benar-benar sangat konyol.
"Ta-tapi kenapa? Aku --" Kevin menelan air liurnya saat melihat Melika menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Tidak mau?" tanya Melika.
"Bukan begitu, aku hanya tidak yakin. Kamu lihatlah tubuhku ini? Apa menurutmu aku akan sanggup menggendong mu?" tanya Kevin.
"Kalau Mas serius, pasti sanggup," ucap Melika.
Kevin menghela napas, kenapa istrinya itu malah membuatnya dalam keadaan sulit? Pikirnya.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Kevin dengan ragu.
Kevin menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.
"Jangan tiduran kamu nya. Berdiri dulu, aku akan menggendong mu," ucap Kevin.
Melika sebisa mungkin menahan tawanya, dia pun bangun dari tidurnya dan berdiri di atas tempat tidur.
Kevin menatap Melika, dan mulai memeluk pinggang Melika. Wajahnya tepat berada di dada Melika.
Kevin menyeringai, seketika dia terpikirkan sesuatu untuk mengalihkan keinginan Melika.
Kevin mencium pucuk dada Melika, membuat Melika tersentak dan melihat ke arah Kevin yang masih melanjutkan kegiatannya.
Dia menelan air liurnya, suhu tubuhnya mendadak menjadi terasa panas.
Melika terkejut saat Kevin memasukkan tangannya ke balik bajunya dan meremas dadanya.
Dengan cepat dia mendorong kepala Kevin.
Brugh !
Melika terjengkang karena kehilangan keseimbangan akibat goyangan dari tempat tidurnya.
Tak hanya itu, Kevin pun ikut terjatuh di atas tubuh Melika.
Beruntunglah tempat tidur itu memiliki kualitas terbaik, sehingga tidak sampai patah akibat hentakkan tubuh Melika.
"Aduhh ,, sakit," ringis Melika saat merasakan punggungnya terasa sakit meski tempat tidurnya begitu empuk.
"Kamu baik-baik saja?" Kevin menatap Melika dengan cemas.
"Mas apa-apaan, sih? Punggungku sakit," ucap Melika.
Kevin tersentak saat sadar dia masih berada di atas tubuh Melika.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Kevin sambil mencoba bangun.
Melika masih meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya.
"Apa masih sakit?" tanya Kevin yang mulai cemas melihat keadaan Melika.
"Sakit banget, Mas. Tulang punggungku. Duhhh ,,, rasanya akan patah," ringis Melika.
"Tunggu sebentar." Kevin berlari keluar kamar dan memanggil bibi.
Dengan tergesa-gesa bibi menghampiri Kevin karena teriakan Kevin terdengar seperti telah terjadi kebakaran. Benar-benar menggemparkan.
"Ada apa, Pak?" tanya bibi cemas.
"Tolong, panggilkan tukang pijit. Ingat, harus perempuan," ucap Kevin.
Bibi mengerutkan dahinya.
"Apa terjadi sesuatu, Pak?" tanya bibi.
"Iya, Ibu mengalami patah tulang," ucap Kevin.
Bibi pun terkejut.
Tak hanya itu, Melika yang juga mendengar ucapan Kevin pun tak kalah terkejut. Dia tak mengerti apa yang ada dipikiran suaminya itu, dia bahkan tak mengatakan tulangnya patah. Dia hanya mengatakan tulangnya rasanya akan patah😑😑😑
*******
Halo, kesayangan-kesayangan Author 🥰
Mohon maaf, akhir-akhir ini Author sedang ada pekerjaan lain. Jadi, sepertinya Author akan update dua hari sekali. Tetapi tenang saja, setiap update akan author usahakan update dua bab kalau bisa lebih.
Untuk Istri Jelekku Season dua juga, sepertinya akan sama. Author akan update dua hari sekali.
Sekali lagi mohon maaf, ya.
Jangan marah, ya, kesayangan-kesayangan ku 🥺
Nih bonusnya 🍭 Author kasih lollipop 🥰🥰
Love you all🥰🥰🥰