
Melika keluar dari kamar mandi dan bersiap. Dia memakai stelan kerja rok hitam sedikit di bawah lutut dan blazer yang dia kancingkan satu bagian bawah. Rambutnya yang bergelombang dia biarkan terurai indah. Wajahnya dia poles sedikit make-up agar wajahnya tak terlihat pucat.
Kevin yang sebelumnya tertidur pun tercengang saat tak sengaja membuka matanya dan melihat ke arah Melika yang masih berada di depan cermin. Kevin memperhatikan lekukan tubuh gemuk Melika dari belakang. Istrinya itu benar-benar seksi, pikrinya.
Mungkin, bagi orang lain. Melika tak terlihat seksi, tetapi bagi Kevin Melika terlihat seksi apalagi saat memakai stelan kerja seperti itu.
Kevin menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba terlintas di pikirannya bayangan tubuh Melika jika langsing. Sudah dapat dipastikan Melika akan lebih terlihat seksi.
Apa-apaan aku ini? Jangan sampai aku kurang bersyukur. Dia istri yang cantik, kok. Baik pula, aku tak peduli dengan bentuk tubuhnya, gumam Kevin.
Kevin merasa, bagaimana pun bentuk tubuh Melika, dia harus tetap bersyukur karena dibalik kekurangan Melika, Melika memiliki hati yang baik.
Kevin segera memejamkan matanya saat Melika berbalik mengarah padanya. Dia berpura-pura seakan masih tetap tertidur.
Cup ...
Melika mengecup pipi Kevin membuat Kevin tersentak dan menghentikan pura-pura tidurnya. Melika pun sontak terkejut melihat Kevin tiba-tiba membuka matanya.
"Mas, kok, bangun?" ucap Melika terkejut.
"Aku terkejut saat kamu menciumku. Aku merasa seperti putri tidur, yang terbangun saat pangerannya menciumnya," ucap Kevin sambil terkekeh.
Melika pun ikut terkekeh. Suaminya itu ada-ada saja.
"Mana ada seorang putri yang gagah seperti Mas," ucap Melika sambil menggelengkan kepalanya.
Kevin bergegas bangun dari tidurnya, dan duduk di tepi tempat tidur.
"Seumur hidupku, baru kamu yang mengatakan aku gagah," ucap Kevin.
Melika kembali terkekeh, apalagi saat melihat ekspresi Kevin yang terlihat sangat lucu. Kevin seperti terlihat senang saat Melika mengatakan dirinya gagah.
"Mungkin, karena mereka tidak tahu dalamnya kamu, Mas," ucap Melika.
Kevin membulatkan matanya. Dia tak menyangka istrinya itu ternyata bisa bicara vulgar seperti itu.
Melika mengerutkan dahinya melihat ekspresi Kevin yang terlihat terkejut.
"Maksudku, kekuatan dalam yang kamu miliki," ucap Melika.
Kevin memicingkan matanya, membuat Melika menjadi merasa bodoh dan bingung harus seperti apa menjelaskan maksudnya.
"Maksudku--" ucapan Melika terhenti saat Kevin mengecup dahinya.
"Iya, aku mengerti maksudmu," ucap Kevin sambil tersenyum.
Melika pun membalas dengan senyuman.
Sesampainya di dapur, Melika mengikat rambutnya dengan bentuk cepol atas, kemudian memakai apron dan mulai menyiapkan bahan-bahan dari dalam lemari es.
"Mas mau sarapan apa?" tanya Melika.
Kevin hanya diam dan terus memperhatikan Melika. Sungguh, Melika terlihat lebih cantik saat rambutnya terikat cepol seperti itu.
"Mau sandwich, nggak?" tanya Melika.
Lagi-lagi Kevin hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Melika.
"Mas!" Melika tak sengaja membentak Kevin, membuat lamunan Kevin menjadi buyar.
"Kenapa bengong, sih? Lihat apa?" tanya Melika kesal.
"Lihat kamu," jawab Kevin sambil tersenyum.
Melika menggelengkan kepalanya.
"Aku akan buatkan sandwich saja untuk Mas. Harus dihabiskan, jangan sampai ada yang tersisa," ucap Melika.
Kevin tersenyum sambil terus saja memperhatikan Melika yang mulai membuatkan sandwich untuknya.
"Kamu seperti seorang Ibu yang tengah membuatkan anaknya sarapan," ucap Kevin.
Melika pun tersenyum.
"Mel!" panggil Kevin.
"Ya," sahut Melika tanpa melihat ke arah Kevin.
"Sepertinya, sarapan akan lebih menyenangkan jika meja makan ini penuh dengan anak-anak," ucap Kevin.
Melika menghentikan kegiatannya dan melihat Kevin.
"Akan ada saatnya," ucap Melika tersenyum.
Kevin mengangguk setuju dengan apa yang Melika katakan. Dia tak ingin menuntut keturunan secepatnya dari Melika. Dia tak ingin Melika menjadi kepikiran dan justru membuat Melika stress. Lagipula, pernikahan mereka baru seumur jagung, tentu dia pun ingin melewatkan banyak waktu berdua dengan Melika. Apalagi, mereka menikah tanpa menjalin hubungan terlebih dahulu dan dapatkan dikatakan pertemuan mereka sangat singkat hingga akhirnya memutuskan untuk pernikahan.
Selesai membuatkan sarapan, Melika pun ikut sarapan berasama Kevin. Setelah itu dia pamit pergi ke kantor. Jarak antara rumahnya menuju kantor cukup memakan waktu, Melika tak ingin datang terlambat mengingat jalanan Ibukota selalu terbiasa padat.
*****
Sesampainya di kantor Jian.
Melika melangkahkan kaki menuju ruangannya. Ruangannya berada di satu ruangan dengan Jian, karena dia bekerja sebagai asisten pribadi Jian. Dengan santai Melika membuka pintu ruangan Jian. Belum sempat dia melangkah masuk sepenuhnya, dia justru tak sengaja memekik karena terkejut melihat sebuah aktivitas yang terjadi di dalam ruangan Jian.