
Sudah dua hari papa Kevin dirawat di Rumah Sakit, dan siang ini dia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Melika sudah selesai membantu papa Kevin bersiap-siap, tinggal menunggu kedatangan Kevin yang rencanannya hari ini akan menjemput di Rumah Sakit.
Cukup lama papa Kevin dan Melika menunggu kedatangan Kevin, membuat Melika sampai harus menghubungi nomor Kevin. Pasalnya, dia tak enak hati pada papa Kevin karena harus menunggu Kevin cukup lama.
Melika menghela napas saat tak ada jawaban dari Kevin.
"Sepertinya, Mas Kevin masih di perjalanan. Dia nggak jawab telepon Aku, Pa," ucap Melika.
"Kita tunggu saja. Ini jam makan siang, perjalanan mungkin macet," ucap papa Kevin. Melika mengangguk dan akan duduk di sofa, tetapi dia mengurungkan niatnya saat Kevin tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu.
"Maaf, kalian harus menunggu lama," ucap Kevin.
"Tidak apa-apa, Vin. Istirahatlah dulu," ucap papa Kevin.
"Aku masih ada pekerjaan, Pa. Kita pulang sekarang saja," ucap Kevin.
Papa Kevin mengangguk dan meninggalkan ruangan tersebut bersama Melika dan Kevin.
Papa Kevin mengerutkan dahinya kala melewati ruang pemeriksaan khusus Ibu hamil dan anak. Dia melihat seseorang yang tak asing, Prischa memasuki ruangan tersebut.
Apa dia benar-benar hamil? Lalu, anak siapa jika bukan anak Kevin? batin papa Kevin.
Papa Kevin menyentuh tangan Kevin dan mengarahkan pandangannya ke arah ruangan yang baru saja dimasuki oleh Prischa.
"Ada apa, Pa?" tanya Kevin. Melika melihat papa Kevin dan Kevin bergantian.
"Tidak apa-apa. Papa ingin cepat sampai rumah," ucap papa Kevin. Kevin mengangguk.
Papa Kevin tak mungkin mengatakan soal keberadaan Prischa di depan Melika. Dia tak ingin Melika menjadi salah paham.
*****
Sesampainya di kediaman papa Kevin. Melika membantu papa Kevin istirahat di kamarnya. Sementara Kevin tengah menerima sebuah telepon.
"Terimakasih sudah merawat Papa selama di Rumah Sakit," ucap papa Kevin. Melika pun tersenyum.
"Sudah menjadi tanggung jawab anak-anaknya untuk merawat orangtuanya," ucap Melika. Papa Kevin tersenyum, Melika sungguh baik dan dia beruntung mendapatkan menantu seperti Melika. Sungguh dia tak akan terima jika Kevin sampai hati melukai hati Melika. Meski Kevin anak kandungnya, tetapi dia tak akan pernah mau membela Kevin jika benar Kevin sampai melakukan perbuatan bejat itu pada Prischa.
Sesaat kemudian terdengar dering ponsel Melika, terlihat nama Jian di sana. Dia pun izin pada papa Kevin untuk menjawab telepon terlebih dahulu dan keluar dari kamar papa Kevin.
Halo, Pak.
Hallo, Mel. Apa kabar? tanya Jian.
Kabar baik, Pak. Saya harap Bapak juga begitu. ucap Melika.
Hm ... Apa Kamu sudah bisa mulai bekerja? tanya Jian.
Iya, Pak. Tentu. Jawab Melika.
Baiklah, besok Saya tunggu di Kantor. Jian menutup telepon itu bahkan sebelum Melika menjawab ucapan Jian. Dia menghela napas, bagaimana bisa dia bisa bekerja besok, sedangkan papa mertuanya masih dalam masa pemulihan?
Melika tersentak saat Kevin menepuk bahunya.
"Telepon siapa?" tanya Kevin.
"Pak Jian," jawab Melika.
Kevin mengerutkan dahinya.
"Ngapain dia?" tanya Kevin.
"Dia minta Aku bekerja di kantornya besok," ucap Melika.
"Lalu, bagaimana denganmu? Kamu mau?" tanya Kevin. Melika mengangguk.
"Tapi, Mas. Bagaimana dengan Papa? Papa baru pulang dari Rumah Sakit," ucap Melika.
"Ada Bibi. Papa juga akan mengerti," ucap Kevin. Melika pun mengangguk.
"Aku akan balik ke Kantor. Sebelum itu, Aku akan antar Kamu pulang," ucap Kevin.
Melika mengangguk. Kevin dan Melika pamit pada sang papa dan kembali ke rumah.
*****
Di perjalanan menuju rumah.
Terdengar dering ponsel Kevin, Kevin pun mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya. Kevin menghela napas saat melihat nama kontak orang yang menghubunginya. Dia pun menyimpan ponselnya di atas dashboard.
Melika mengerutkan dahinya saat mendengar dering ponsel Kevin lagi, tetapi lagi-lagi Kevin tak menjawab telepon itu.
"Mas, ada telepon," ucap Melika.
"Biarkan saja," ucap Kevin.
"Memangnya dari siapa?" tanya Melika.
"Bukan siapa-siapa," jawab Kevin.
Setelah telepon itu berhenti berdering, lagi-lagi terdengar dering untuk ketiga kalinya. Melika yang merasa heran pun akan mengambil ponsel Kevin. Namun, Melika sungguh terkejut saat Kevin menghempaskan tangannya dengan cukup keras.
"Jangan menyentuh ponselku!" bentak Kevin.