My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 21



Pagi hari.


Melika mengerjapkan matanya, dia melihat ke samping dan tak menemukan Kevin di sampingnya. Melika pun duduk dan terkejut saat melihat Kevin tertidur di atas sofa. Melika bergegas menghampiri Kevin dan melihat Kevin dari arah yang lebih dekat.


'Kenapa mas Kevin tidur di sofa?' gumam Melika.


Melika melihat ke arah jam dan sudah pukul enam pagi. Dia mengikat rambut panjangnya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya Melika pun turun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Pagi, Bi," sapa Melika.


"Pagi, Bu," ucap Bibi.


"Mau bikin sarapan apa, Bi?" tanya Melika.


"Mau bikin sandwich kesukaannya pak Kevin, Bu," ucap Bibi.


"Ibu mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Bibi.


"Saya mau buat sendiri saja, Bi. Punya mas Kevin juga Saya saja yang buat," ucap Melika.


"Tapi, ajarin Saya, ya, cara buatnya. Saya mau belajar buat makanan kesukaannya mas Kevin," ucap Melika.


Bibi tersenyum dan mengangguk. Bibi pun memberitahu Melika cara membuat sandwich kesukaan Kevin.


Beberapa menit kemudian Melika sudah selesai membuatkan sarapan sandwich dengan secangkir kopi susu kesukaan Kevin.


"Pagi," sapa Kevin yang baru saja menuruni anak tangga.


Melika melihat ke arah Kevin dengan dahinya berkerut.


"Mau kemana, Mas?" tanya Melika bingung saat melihat Kevin yang sudah memakai stelan jas kerjanya.


"Mau ke kantor, hari ini sepertinya aku akan sibuk di luar," ucap Kevin.


"Jadi, Mas akan pulang telat?" tanya Melika.


Kevin mengangguk dan duduk di kursi makan.


"Aku akan survei lapangan, setelah itu akan lanjut meeting. Jadi, aku akan sibuk seharian ini," ucap Kevin.


Kevin menyesap kopi susu buatan Melika.


"Tumben, kopinya beda dari biasanya, Bi," ucap Kevin seraya melihat Bibi.


Melika terdiam, apa Kevin tak menyukai kopi buatannya? Pikirnya. Sepertinya dia sudah membuat sesuai yang bibi ajarkan.


Bibi pun tersenyum melihat Melika yang tampak gelisah.


"Itu kopi, dan sarapan pertama yang dibuat bu Melika untuk Bapak," ucap Bibi.


Kevin melihat ke arah Melika yang tengah tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapinya.


"Maaf, ya, kalau nggak enak. Aku baru belajar soalnya," ucap Melika.


Melika merasa tak enak hati karena kopi yang di buat ternyata tak sesuai dengan yang biasa Kevin minum meski Melika sudah membuatnya sesuai yang bibi beritahukan. Ini pun pertama kalinya Melika membuatkan Kevin kopi karena sebelumnya atau tepatnya saat masih menjadi sekretaris Kevin, Melika tak pernah membuatkan kopi untuk Kevin. Kevin hanya meminta air putih ada di mejanya.


Kevin tersenyum seraya mengangguk. Entah apa yang Kevin rasakan tentang kopi itu, Kevin bahkan tak memberikan respon apapun setelah tahu kopi itu adalah buatan Melika.


"Aku pergi dulu," ucap Kevin saat sudah selesai sarapan.


"Tunggu, Mas," ucap Melika.


Kevin melihat ke arah Melika.


Melika tersenyum dan mencium punggung tangan Kevin.


Kevin terkejut mendapat perlakuan seperti itu, dia tak menyangka Melika akan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalan," ucap Melika seraya menyunggingkan senyum manisnya.


"Hem..." Kevin pun bergegas menuju mobilnya.


'Kenapa pagi ini sepertinya dia manis sekali?' gumam Kevin.


Kevin tersenyum dan melajukan mobilnya menuju kantor terlebih dulu. Siang nanti dia akan pergi menuju lapangan proyek yang akan segera berjalan.


***


Siang hari.


Melika bersandar di kepala tempat tidur dan memainkan ponselnya. Sungguh dia benar-benar merasa bosan. Dia pun tak tahu harus melakukan apa di rumah sebesar itu. Semua pekerjaan sudah di lakukan oleh bibi.


Melika beranjak dari tempat tidur dan melihat sekeliling kamar. Sejak kedatangannya kemarin, dia belum terlalu memperhatikan setiap inci kamarnya itu. Melika melangkah menuju meja kerja Kevin, di mana di sana terdapat tumpukan berkas pekerjaan Kevin. Melika membuka beberapa berkas dan tersenyum melihat beberapa contoh design interior juga eksterior yang Kevin buat.


Melika lanjut membuka laci kerja Kevin, bukan maksud hati ingin lancang tetapi dia ingin lebih mengetahui tentang suaminya itu. Karena itu, sekecil apapun informasi tentang Kevin tentunya akan sangat berharga bagi Melika mengingat Melika memang belum lama mengenal Kevin sampai akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Kevin.


Melika mengerutkan dahinya saat melihat kotak kado berwarna merah maroon di dalam laci kerja Kevin, Melika ingat itu adalah kotak kado yang Prischa berikan saat malam resepsi pernikahannya dengan Kevin. Melika terdiam sejenak dengan jari telunjuk yang dia tempelkan di dagunya. Ada rasa penasaran yang dia rasakan, ingin sekali rasanya dia membuka kotak kado itu.


Melika menghela napas pelan dan menutup kembali laci itu. Dia mengurungkan niatnya untuk membuka kotak kado itu dan melangkah menjauhi meja kerja Kevin. Dia pun berniat untuk merapikan lemari Kevin saja. Melika membuka Lemari Kevin dan tak sengaja melihat kotak dus yang berukuran sedang, lagi-lagi dia di buat penasaran.


'Di sana, sini, ada kotak. Apa, sih, isinya?' gumam Melika.


Sungguh Melika di buat penasaran. Dia mengambil kotak dus itu dan duduk di tepi tempat tidur.


'Yang ini, sepertinya bukan pemberian orang. Ini pasti punya mas Kevin. Aku buka saja, deh, dari pada sepanjang hari di buat penasaran,' gumam Melika.


Melika membuka kotak dus bertuliskan nama seorang designer terkenal itu. Pertama kali Melika melihat ada kotak kecil berwarna merah yang biasa di pakai sebagai tempat perhiasan. Melika pun mengambil kotak itu. Pandangannya melihat ke arah kain hitam, Melika mengambil kain hitam itu dan membukanya.


Melika mengerutkan dahinya saat melihat ternyata kain hitam itu adalah sebuah gaun yang bagian atasnya sedikit terbuka.


'Gaun siapa, ini?' gumam Melika. Gaun itu sudah jelas bukan untuknya karena ukurannya sangatlah jauh berbeda dengan ukuran yang biasa dia pakai.


"Apa, ini? " Melika membulatkan matanya saat tiba-tiba teringat pada Prischa. Entah mengapa, dia merasa gaun itu adalah seukuran tubuh Prischa. Melika pun bergegas membuka kotak kecil berwarna merah itu dan benar saja ada sebuah cincin di sana. Cincin emas putih bermatakan berlian tak terlalu besar tetapi juga tak terlalu kecil. Namun, bukanlah cincin seorang wanita, melainkan seperti cincin untuk pria.


'Cincin siapa ini? Apa inj cincin mas Kevin?' gumam Melika.


Melika kembali teringat akan kotak dus yang Prischa berikan pada Kevin. Dia pun bergegas mengambil kotak itu untuk mencari tahu tentang rasa penasarannya.


Jantung Melika seketika terasa berhenti berdetak saat melihat ada sebuah cincin emas putih bermatakan berlian yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Kali ini, cincin itu adalah cincin untuk wanita.


Melika meletakkan secara bersamaan cincin Kevin dan cincin Prischa. Dia membulatkan matanya, cincin itu adalah cincin couple yang biasa di pakai orang untuk pertunangan atau pernikahan.


Melika melihat ada sebuah surat di sana, dia pun membuka surat itu.


Separuh cintaku ada bersama cincin itu. Sekarang, aku kembalikan cintaku yang sebelumnya telah kau hadirkan. Aku mengembalikannya padamu, aku mengembalikan separuh rasa yang ada di hatiku. Di sini, di hatiku, aku akan berusaha membuang separuh rasa cintaku yang tersisa.


Prischa.


"Kamu lagi apa?"


Melika membulatkan matanya saat tiba-tiba terdengar suara Kevin.


'Mati, aku,'batin Melika.