My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 37



Keesokan harinya.


Kevin dan Melika sudah bersiap.


Kevin tetap tampan meski hanya memakai baju snorkling.


Sesuai yang sudah direncanakan semalam, mereka akan pergi snorkling di tempat yang berada tak jauh dari tempat mereka menginap.


Kevin membantu memakaikan Melika perlengkapan untuk snorkling.


Kevin terkekeh saat baju snorkling Melika tak muat di tubuhnya.


"Sepertinya kamu harus diet," ucap Kevin.


"Aku sedang melakukannya," gumam Melika.


"Apa?" Kevin tak begitu mendengar jelas ucapan Melika.


"Tidak," Melika pun tersenyum menatap Kevin.


Kevin pun meminta baju yang lain.


"Coba yang ini," pemandu wisata memberikan baju lain pada Melika dan ternyata cukup di tubuh Melika.


Setelah selesai memakai perlengkapan, Kevin, Melika dan pemandu wisata itupun pergi menuju tempat yang akan menjadi tempat snorkling.


Kevin menggenggam tangan Melika.


"Duh, seharusnya si bos memberikanku teman untuk menemaniku di jalan. Jika seperti ini, jiwa jomblo ku akan terus menjerit melihat sepasang suami isteri ini," batin pemandu wisata😁


Melika tersenyum lebar begitu melihat pemandangan indah.


Rasa lelahnya seolah hilang saat melihat pemandangan indah tersebut.


"Kamu suka?" tanya Kevin.


"Suka sekali, Mas. Rasa lelahku hilang begitu sampai di sini," ucap Melika.


"Baguslah," ucap Kevin.


Melika melangkah dan memasukkan kakinya ke dalam air.


"Wow, dingin sekali," ucap Melika.


Melika seperti anak kecil saat bermain air, terlihat begitu bahagia. Dan Kevin ikut bahagia melihatnya.


Kevin mengambil kameranya dan merekam kegiatan Melika, dia terkekeh saat melihat Melika terpeleset dan membuat Melika sampai tercebur ke dalam air.


Bukannya kesakitan, Melika justru tertawa.


"Tolong rekam kegiatan kami," ucap Kevin sambil memberikan kameranya pada pemandu wisata itu.


Kevin pun ikut masuk ke dalam air dan mengulurkan tangannya agar Melika bangun.


Byurrrr ...


Hahahaha.


Melika tertawa saat melihat Kevin terjatuh ke dalam air karena dia menarik tangan Kevin.


"Duh, jahilnya kamu, ya," ucap Kevin dan mencubit gemas pipi gembil Melika.


"Kitakan sudah sampai di sini, akan rugi jika tak memanfaatkan kesempatan ini," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan membasahi rambutnya.


"Seharusnya, kita ke sini hanya berdua saja. Tidak perlu pemandu wisata itu ikut bersama kita," ucap Kevin.


"Memangnya kenapa?" tanya Melika.


"Karena, aku kasihan melihatnya. Sepertinya dia seorang jomblo," ucap Kevin.


Melika terkekeh dan mencubit lengan Kevin.


"Dasar, sok tahu," ucap Melika.


Kevin pun tersenyum.


"Mas ..! Tolong ambilkan gambar kami, ya," teriak Kevin.


Pemandu wisata itu mengangguk dan mengalihkan kamera itu ke mode foto, dia pun mengambil gambar Kevin dan Melika cukup banyak.


Cukup lama mereka bermain air, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


Kevin dan Melika pun menghentikan kegiatan mereka.


Kevin dan pemandu wisata itu langsung memasang tenda di pinggir pantai, Kevin memang memesan penginapan, tetapi untuk malam ini dia dan Melika memilih tidur di tenda.


Sementara Melika mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk.


Beberapa saat menunggu, tenda pun  sudah selesai di pasang.


"Ganti baju dulu di dalam, kita gantian," ucap Kevin.


Melika mengangguk dan masuk ke dalam tenda.


Sementara Kevin membantu pemandu wisata memasang tenda untuk pemandu wisata itu tempati.


Selesai memasang tenda, pemandu wisata itu mulai menyusun kayu bakar. Sementara Melika sudah selesai mengganti pakaiannya dan Kevin pun masuk ke dalam tenda untuk mengganti pakaiannya.


********


Waktu pun berlalu, sudah saatnya untuk makan malam.  Melika menghangatkan makanan instan yang sudah dia bawa sebelumnya dan memberikannya pada Kevin juga pemandu.


Mereka pun makan dengan tenang.


Selesai makan malam, Kevin menyuruh pemandu wisata itu untuk istirahat terlebih dulu, sementara Kevin dan Melika masih duduk menikmati api unggun.


Kevin menggenggam tangan Melika dan memasukkannya ke kantong jaketnya.


Melika mengerutkan dahinya saat memegang sesuatu yang berbentuk persegi panjang di kantong jaket Kevin.


"Ambil lah," ucap Kevin.


Melika mengambilnya dan lagi-lagi dibuat bingung saat melihat sesuatu tersebut.


"Apa ini?" tanya Melika.


"Bukalah," ucap Kevin.


Melika membukanya dan terkejut saat melihat sebuah gelang.


"Apa ini untukku?" tanya Melika.


Kevin tersenyum dan mengangguk.


"Kapan Mas membeli ini?" tanya Melika.


"Saat kita di Mall," ucap Kevin.


Melika tersenyum.


Cup.


Kevin terkekeh saat Melika mencium pipinya.


"Makasih, ya. Aku suka," ucap Melika sambil mengambil gelang itu.


Melika terkejut saat melihat ukuran gelang itu yang terlihat seperti kalung bukannya gelang.


"Sini, aku pakaikan." Kevin mengambil gelang itu dan memakaikannya di pergelangan tangan Melika.


"Gelang ini terlalu besar," ucap Melika sambil menggerakkan gelang itu di tangannya.


Kevin terkekeh dan menggaruk kepalanya yang bahkan tak gatal sama sekali.


"Bisa dikecilkan nanti, aku sengaja memilih yang lebih besar, karena takut kekecilan di tanganmu," ucap Kevin.


"Ya ampun, kan bisa di kira-kira," ucap Melika.


Kevin tersenyum.


"Maaf ya, niatnya mau romantis, tapi ternyata salah strategi," ucap Kevin.


Melika terkekeh dan menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.


"Tidak apa-apa, aku suka," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan mengangguk.


Seharian ini sungguh hari yang melelahkan, meski begitu mereka tetap menikmatinya.


*******


Dua hari kemudian.


Melika dan Kevin sampai di hotel pukul lima sore. Kevin merebahkan tubuhnya dan mengaktifkan ponselnya. Sementara Melika langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Sudah sejak dua hari yang lalu ponsel Kevin tak ada jaringan, karena itu dia memilih mematikan ponselnya.


Kevin mengerutkan dahinya saat melihat notifikasi dari Karin sekretarisnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Karin. Tak hanya itu, ada banyak panggilan tak terjawab juga dari Angga.


Kevin membulatkan matanya saat membaca pesan dari Angga, dia syok dan terperanjat setelah membaca pesan itu.


"Apa-apaan ini?" gumam Kevin.


Kevin segera menekan panggilan untuk nomor Angga, tak lama Angga pun menjawab telepon Kevin.


"Halo, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kevin.


"Kita harus bertemu, aku tak bisa menjelaskannya lewat telepon," ucap Angga.


Angga pun memberitahukan tempat janjian mereka.


Kevin mengembuskan napas kasar dan memutuskan telepon itu.


Dia mengusap wajah kasar, dia sudah menduga semua ini akan terjadi mengingat masalah yang terjadi dua hari lalu di basemant saat Melika mendorong dan menampar wajah Prischa.


Kevin mengepalkan tangannya, bahkan di saat dia cuti pun masih saja waktunya terganggu oleh masalah pekerjaan.


Kevin melihat ke arah kamar mandi saat terdengar suara pintu terbuka, terlihat Melika yang sudah selesai mandi.


"Aku ada urusan sebentar, aku akan pergi bertemu Angga. Ada sedikit masalah di Kantor," ucap Kevin.


"Apa serius?" tanya Melika.


"Bukan apa-apa," ucap Kevin sambil tersenyum mencoba menyembunyikan kegelisahannya.


Kevin memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan pergi menuju basemant.


Dia pun melajukan mobilnya menuju tempat janjiannya dengan Angga.


Beberapa menit kemudian dia sampai di salah satu restauran yang berada tak begitu jauh dari hotel tempat dia menginap.


Terlihat Angga sudah berada di restauran tersebut.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kevin.


"Mereka membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita," ucap Angga.


"Bagaimana bisa mereka memutuskan kerja sama secara sepihak? Pasalnya jelas tertulis jika mereka sampai melanggar perjanjian, kita bisa menuntut mereka," ucap Kevin.


"Aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi di malam itu? Aku dengar dari sekretaris mu, kamu bertemu dengan Pak Atma Wijaya dan Putrinya? Kenapa setelah pertemuan itu mereka bisa sampai membatalkan kerjasama?" tanya Angga.


Kevin mengusap wajah kasar dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Melika mendorong dan menampar putrinya," ucap Kevin.


"Apa? Kamu serius?" Angga begitu terkejut mendengar ucapan Kevin.


"Ya, wanita itu mencoba merayuku, dan membuat Melika marah," ucap Kevin.


"Ya ampun," Angga mengusap wajahnya, ini benar-benar masalah besar mengingat sudah banyak uang yang mereka keluarkan untuk proyek kerjasamanya bersama perusahaan Atma Wijaya.


"Aku akan menuntut perusahaannya, mereka berani memutuskan kerjasama secara sepihak. Mereka bisa terkena pinalti," ucap Kevin.


Angga mengangguk.


Dia ikut pusing memikirkan masalah ini, dia bisa kehilangan pekerjaannya jika perusahaan Kevin sampai bangkrut karena kehilangan proyek di tengah jalan.


Proyek itu bahkan sedang berjalan, jika sampai terputus sudah pasti proyek itu akan berhenti di tengah jalan.


"Oh ya, Vin. Bukankah mereka juga kehilangan banyak uang karena proyek ini? Kenapa kita tak menemui mereka saja untuk membicarakan masalah ini?" tanya Angga.


Kevin terdiam, dia memikirkan sesuatu.


Benar apa yang Angga katakan, perusahaan Atma Wijaya sudah pasti akan kehilangan banyak uang jika mereka memutuskan kerjasama itu. Namun Kevin lah yang paling di rugikan. Meski perusahaan Atma Wijaya sudah membayar 25% untuk bahan-bahan proyek itu, dan Kevin sudah membayarkan 25% uang itu di tambah dengan 25% uang perusahaannya, jadi 50% sudah dia bayarkan kepada perusahaan bahan-bahan bangunan properti langganannya. Jika Kevin kehilangan proyek itu, tentunya perusahaannya harus membayar sisanya yang 50% karena semua bahan-bahan sudah dia pesan sesuai jumlah yang diperlukan.  Sedangkan 50% itu bukanlah uang yang sedikit. Dia bisa saja kehilangan perusahaannya untuk menutupi segala biaya bahan-bahan itu. Dia juga bisa kehilangan kepercayaan dari perusahaan langganannya itu, sudah pasti perusahaannya akan kesulitan untuk mencari partner yang dapat diajak kerja sama.


"Besok aku akan ke perusahaan Atma Wijaya, aku akan membicarakan masalah ini. Untuk sementara, hentikan dulu kegiatan di lapangan," ucap Kevin.


Angga mengangguk dan Kevin pun kembali ke hotel.


Dilihatnya Melika yang tengah memainkan ponselnya.


"Apa Mas sudah makan malam?" tanya Melika.


"Sudah," ucap Kevin berbohong.


Kevin sedang tak berselera makan, dia benar-benar pusing memikirkan masalah kantornya.


"Yah, aku belum makan malam. Tadinya aku menunggu Mas," ucap Melika.


"Maaf ya, kamu pesan saja makan malam, aku mau mandi dulu," ucap Kevin dan masuk ke kamar mandi.


Melika melihat Kevin berbeda, beberapa jam yang lalu Kevin masih  terlihat bahagia, namun kini Melika tak melihat kebahagiaan yang dia lihat di wajah Kevin saat beberapa jam yang lalu.


"Ada apa sebenarnya?" batin Melika.


Kruyuk.


Melika memegang perutnya saat rasa lapar kembali dia rasakan, dia pun memesan makan malam.


Beberapa saat kemudian makanan datang, Kevin pun sudah selesai mandi.


"Makan yuk, Mas," ucap Melika.


"Ya, kamu saja," ucap Kevin.


"Mas serius sudah makan?" tanya Melika mencoba memastikan.


Kevin mengangguk tanpa mengatakan sesuatu.


Kruyuk.


Melika terkejut saat mendengar suara perut Kevin.


"Mas bohong, ya? Mas belum makan malam, kan?" tanya Melika.


"Sudah," ucap Kevin.


"Pasti Mas bohong. Sudahlah, ayo makan bersamaku." Melika menyodorkan sendok berisi makanan ke hadapan Kevin.


"Aku tidak lapar," ucap Kevin.


"Ayolah, jangan menyiksa cacing-cacing di perutmu. Mereka akan berisik sepanjang malam," ucap Melika masih sambil menyodorkan sendok itu.


"Ya ampun, Melika ..! Sudah aku bilang aku tidak mau ..! Aku tidak lapar, kenapa kamu tidak mengerti juga, ha?" Melika terkejut setengah mati, dia syok dengan apa yang baru saja dia lihat, Kevin membentaknya.


"Kenapa kamu marah?" tanya Melika dengan ragu, dia menjadi ketakutan melihat kemarahan Kevin.


"Kalian para wanita benar-benar membuatku pusing," geram Kevin.


Brak !


Kevin keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras.


Kevin bergegas menuju basemant dan melajukan mobilnya menuju Klub langganannya.


Dia butuh pelampiasan untuk kemarahannya.


"Sial ! Kenapa jadi Melika yang kena sasaran marahku?" kesal Kevin.


Kevin kesal dengan masalah kantornya, dia kesal dengan dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol emosinya di hadapan Melika. Kebiasaan Kevin saat ada masalah di kantornya, dia akan melampiaskan kemarahannya pada siapa saja yang tertangkap oleh pandangannya.


Kevin meremass stir, dia benar-benar muak mengingat wajah Prischa.


Sudah pasti Prischa mengatakan yang tidak-tidak pada papanya, sehingga papanya sampai membatalkan kerjasama mereka.


"Aku tidak akan membiarkan perusahaan ku hancur begitu saja, aku menghabiskan banyak waktu dan uangku untuk mendirikan perusahaan itu. Ada banyak karyawan juga yang menggantungkan hidup mereka di sana," gumam Kevin.


"Prischa benar-benar keterlaluan. Semakin berumur bukannya semakin dewasa. Ini justru semakin kekanakan," geram Kevin.