
Sore hari.
Kevin memarkirkan mobilnya di garasi kediaman Melika, setelah mendapatkan kabar dari Melika, Kevin pun langsung menyusul Melika ke kediaman orangtua Melika begitu semua pekerjaannya di proyek selesai.
Kevin mengerutkan dahinya saat melihat adik iparnya, yang tak lain Melvin, tengah fokus melihat ponselnya, Melvin bahkan tak menyadari kedatangan Kevin.
Puk ...
"Oh, shit!" umpat Melvin saat terkejut ada yang menepuk bahunya. Sementara Kevin justru membulatkan matanya.
"Eh, Mas. Ngagetin saja," ucap Melvin.
"Kamu lagi apa? Asyik sekali melihat ponselmu," tanya Kevin.
"Lagi nonton film blue," jawab Melvin dengan sembarang. Kevin sontakmembulatkan matanya.
Ha-ha-ha ... Melvin terbahak melihat ekspresi wajah Kevin yang terlihat begitu terkejut.
"Apanya yang lucu?" tanya Kevin bingung.
"Mas lucu," jawab Melvin. "Aku lagi main game, mana ada nonton film begituan," ucap Melvin. Kevin pun tersenyum, dan membisikkan sesuatu di telinga Melvin.
"Iya , juga, nggak apa-apa," bisik Kevin. Melvin membulatkan matanya tak percaya sambil melihat Kevin. Sementara Kevin hanya tersenyum.
"Mas suka nonton film begituan?" tanya Melvin penasaran.
"Nggak sering, tapi pernah, dan itu wajar saja bagi pria," jawab Kevin santai.
"Apaan yang pernah?" tanya Melika yang tiba-tiba saja keluar dari rumah. Kevin dan Melvin sontak melihat ke arah Melika.
"Nonton," jawab Melvin.
"Nonton apa?" tanya Melika penasaran.
"Nonton film, Sayang," ucap Kevin.
"Film apa?" tanya Melika semakin penasaran. Kevin dan Melvin saling tatap. Mereka bingung harus menjelaskan seperti apa pada Melika.
"Nonton bioskop," ucap Melvin.
"Oh, ya? Mas pernah nonton sama siapa? Mbak Prischa?" tanya Melika penasaran. Belum sempat Kevin menjawab, Melvin justru bertanya lebih dulu.
"Siapa Prischa?" tanya Melvin.
"Mantan kekasih Mas Kevin," jawab Melika.
"Benarkah? Cantik nggak?" tanya Melvin.
"Biasa saja, cantik-kan Mbak," ucap Melika.
Melvin terkekeh mendengar jawaban Melika, sementara Kevin hanya tersenyum mendengar ucapan Melika.
"Masa, sih?" tanya Melvin tak yakin.
"Iyalah. Iya, kan, Mas?" tanya Melika sambil tersenyum. Kevin pun tersenyum dan mengangguk. "Cantik, plus seksi," jawab Kevin tersenyum.
Ha-ha-ha ... "Seksi apanya? Gendut, iya," ucap Melvin sambil terbahak-bahak. Dia berpikir, mana ada seksi dengan tubuh big size seperti tubuh Melika. Melika menatap Melvin dengan tajam.
"Saat kamu mencintai seseorang, kamu akan selalu melihat dia sempurna, apapun keadaannya," ucap Kevin sambil tersenyum manis melihat Melika. Melika pun membalasnya dengan seyuman yang tak kalah manisnya.
"Ya, itu namanya cinta buta," ucap Melvin.
"Ya, begitulah cinta. Saat kamu mencintai seseorang, kamu sudah pasti akan menerima segalanya tentang pasanganmu, baik kekurangannya, maupun kelebihannya, tanpa terkecuali," ucap Kevin.
"Percuma, Mas, ngomong sama anak kecil ini. Mana dia ngerti, dia saja jomblo," ucap Melika sambil tersenyum remeh.
"Eittss ... Mbak sembarangan kalau ngomong. Mana mungkin cowok seganteng aku jomblo," ucap Melvin kesal.
"Bodo amat. Sudah, Mas. Kita masuk saja, Mas pasti capek seharian ada di luar," ucap Melika. Kevin pun mengangguk dan memilih masuk ke rumah bersama Melika. Sedangkan Melvin hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan main game nya.
Kevin menyapa kedua orangtua Melika sebelum masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Melika membantu mamanya menyiapkan makan malam. Selesai menyiapkan makan malam, Melika kembali ke kamar dan melihat Kevin keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Mas bawa baju ganti?" tanya Melika.
"Aku nggak bawa baju santai, aku hanya bawa baju ganti yang selalu aku simpan di mobilku. Tapi, itu kemeja," ucap Kevin. "Coba aku pinjam kaos Papa," ucap Melika dan akan bergegas keluar dari kamar, tetapi Kevin justru menahan tangan Melika.
"Nggak usah, aku nggak enak sama Papa," ucap Kevin.
"Iya, pakai saja yang ada. Lagi pula, kita, kan, akan pulang. Aku bisa ganti yang lebih santai saat di rumah," ucap Kevin.
"Baiklah, aku ambilkan dulu," ucap Melika dan bergegas mengambil baju Kevin di dalam mobil. Selesai mengambil baju, Kevin pun langsung memakainya dan keluar dari kamar bersama Melika. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan menunggu kehadiran Kevin dan Melika.
"Kalian akan menginap, kan?" tanya papa Melika. Melika dan Kevin saling tatap.
"Kami akan pulang, Pa," jawab Melika.
"Kenapa? Kalian belum pernah menginap semenjak kalian menikah," ucap papa Melika. Belum sempat Melika menjawab, Kevin menahan tangan Melika dan tersenyum.
"Sepertinya, kami akan mengiap saja. Papa benar, kami belum pernah menginap," ucap Kevin.
"Mas yakin?" tanya Melika memastikan. "Iya," jawab Kevin tersenyum.
"Baguslah, Papa jadi ada teman bergadang," ucap papa Melika tersenyum. Kevin tersenyum dan mengangguk. Mereka pun melanjutkan acara makan malam.
******
Pukul sembilan malam.
Kevin dan papa Melika tengah asyik berbincang di teras rumah.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya papa.
"Lancar, Pa," jawab Kevin.
"Syukurlah. Bagaimana hubunganmu dengan Melika?" tanya papa lagi.
"Baik-baik saja," ucap Kevin tersenyum.
"Perasaanmu, maksudnya," ucap papa.
"Maksudnya?" tanya Kevin bingung.
"Ya, Papa tahu, kamu tidak mencintai Melika saat menikahinya," ucap papa sambil menatap Kevin datar. Kevin pun tersenyum. "Papa lihat seperti itu?" tanya Kevin. "Ya, sangat terlihat jelas, matamu tak bisa berbohong," ucap papa. "kenapa papa bisa berpikir seperti itu?" tanya Kevin penasaran.
"Karena, Papa juga laki-laki. Papa tahu," ucap papa. Kevin pun kembali tersenyum.
"Ya, awalnya. Sekarang, aku mencintai Melika," ucap Kevin.
"Benarkah?" ucap papa. "Ya, bahkan sangat," ucap Kevin dengan yakin.
"Apa yang membuat kamu begitu yakin mencintai Melika?" tanya papa.
"Entahlah, mungkin karena terbiasa," ucap Kevin. Papa pun mengangguk.
"Baguslah kalau begitu. Papa hanya pesan, jangan kecewakan Melika, dan jagalah pernikahan kalian, apapun yang terjadi. Dalam sebuah pernikahan, kalian tidak akan selalu merasakan manisnya, akan banyak hal yang terjadi dalam pernikahan kalian seiring berjalannya waktu. Papa bukannya mendoakan yang tidak-tidak, tentu setiap orangtua ingin pernikahan anaknya bahagia, hanya saja, kalian harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Kalian cukup saling mengerti, bekerja sama menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Masalah sekecil spspun, berusahalah untuk menyelesaikannya saat itu juga. Karena, meski itu masalah kecil sekalipun, jika tak diselesaikan dengan segera, lambat laun akan menjadi masalah besar. Cobalah saling terbuka satu sama lain," ucap papa. Kevin hanya diam mendengarkan dengan seksama ucapan mertuanya itu.
"Aku akan berusaha untuk itu. Lagi pula, aku ingin ini menjadi pernikahan kami sekali dalam seumur hidup," ucap Kevin. "Baguslah, selalu ingat ucapanmu itu," ucap papa. Kevin mengangguk dan tersenyum. Sebelumya, dia berpikir mertuanya itu adalah orang yang keras, tetapi dibalik apa yang dia pikirkan, dia justru menemukan kehangatan dalam diri papa Melika.
******
Waktupun berlalu, udara luar semakin terasa dingin. Mereka terlalu asyik berbincang, Kevin bahkan melupakan bahwa esok harinya dia ada pertemuan pagi hari bersama Jian. Mereka memang baru saja memulai kerjasama, banyak hal yang perlu mereka bicarakan tentang pekerjaan dan juga kerjasama mereka demi tercapainya sebuah keinginan bersama.
"Eeuuggghhh ..." papa melihat Kevin saat terdengar suara sendawa dari mulut Kevin. Kevin pun tersenyum sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya papa. "Sepertinya, aku masuk angin, perutku nggak enak" ucap Kevin tersenyum.
"Benarkah? Ya sudah, istirahatlah," ucap papa. "Papa yakin? Nggak apa-apa aku tinggal istirahat duluan?" tanya Kevin memastikan.
"Ya, lagi pula, besok kamu harus bekerja bukan?" ucap papa.
Kevin membulatkan matanya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia begitu terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Ya Tuhan! Aku melupakan sesuatu," ucap Kevin. "Apa itu?" tanya papa penasaran.
"Aku ada meeting bersama klien ku, besok," ucap papa.
"Ya sudah, kita istirahat saja," ucap papa. Kevin mengangguk dan mengikuti papa ke dalam rumah. Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
Kevin terkejut saat melihat posisi tidur Melika yang terlihat begitu menggoda, dia menarik napas dalam dan mengusap wajahnya.
Jangan sekarang, aku harus istirahat. Aku hanya punya waktu sedikit untuk istirahat, gumam Kevin. Dia sebenarnya ingin sekali menerkam Melika, hanya saja dia harus mengesampingkan keinginannya terlebih dulu. Disamping dia ada pekerjaan esok pagi, dia pun tak ingin mengganggu tidur Melika. Kevin memilih masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh awajahnya, setelah itu dia pun merebahkan tubuhnya dan tertidur di samping Melika.