
Melika histeris membuat Kevin dan Dokter merasa cemas.
"Kamu tenang, ya. Nggak usah takut. Kamu hamil ada Suami, kok. Aku akan bertanggung jawab, dan akan mengurus kamu juga anak kita," ucap Kevin mencoba menenangkan Melika. Kevin berpikir Melika belum siap hamil untuk saat ini sehingga menjadi panik.
Melika menggelengkan kepalanya. Dia pun menangis.
Kevin menarik Melika kepelukannya, mengusap lembut punggung Melika. Tak peduli di sana masih ada Dokter, Kevin hanya berusaha membuat Melika tenang.
"Kehamilan bagi seorang Istri itu sangatlah wajar. Bagaimana pun dia darah daging Ibu. Harus disyukuri, dijaga baik-baik. Bayangkan, banyak di luar sana yang menginginkan keturunan, tetapi Tuhan masih belum memberikannya. Ibu adalah wanita yang beruntung," ucap Dokter tersenyum.
Melika lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Dia masih menangis hingga Kevin tak tahu lagi harus berbuat apa.
Beberapa saat kemudian, Melika pun berhenti menangis. Dia tersenyum penuh haru.
"Aku bahagia, Mas," ucap Melika.
"Ha?" Kevin tampak bingung.
"Jadi kamu bukan sedih?" tanya Kevin.
"Aku bahagia, mana mungkin sedih," ucap Melika.
"Ah syukurlah. Aku pikir kamu sedih, habisnya nangis sudah seperti orang yang tersakiti," ucap Kevin tersenyum lega.
"Ya ampun. Aku menangis bahagia, bukan sedih," ucap Melika.
Bisa-bisanya Kevin berpikir sejauh itu.
Dokter pun ikut tersenyum dan meresepkan beberapa vitamin ibu hamil.
"Sekali lagi selamat, ya Bu. Di kehamilan terimester pertama. Biasanya Ibu akan mengalami fase mengidam, dan itu wajar. Di sinilah peran Suami penting untuk mendampingi. Apalagi ibu hamil memiliki perubahan hormon, jadi benar-benar harus dijaga perasaannya. Ibu hamil lebih sensitif. Mungkin akan terjadi hal-hal yang di luar kebiasaan sebelumnya. Di masa trimester pertama juga, Ibu hamil tidak boleh terlalu lelah. Hindari berpikir yang berat-berat ya, Bu," ucap Dokter.
"Nah, Mel. Dengarkan saran Dokter. Mulai sekarang, Mas yang akan mengurus kamu. Kamu nggak perlu mengurus Mas lagi. Kita gantian," ucap Kevin.
Melika tersenyum. Senangnya dia diperhatikan seperti itu.
Setelah itu Kevin dan Melika pergi menebus vitamin-vitamin itu dan kembali ke rumah.
*****
Sesampainya di rumah, Kevin meminta Melika untuk istirahat. Melika tak boleh beranjak dari tempat tidur selama Kevin tak mengizinkannya. Melika bahkan diwanti-wanti agar tak kerja terlalu berat, apalagi berpikiran berat.
"Aku keluar dulu, jangan turun dari tempat tidur, Oke." Kevin bergegas keluar dan menghubungi sang papa juga mertuanya. Mengundang mereka untuk datang makan malam ke rumahnya. Dia akan memberitahukan kabar bahagia tentang kehamilan Melika. Sudah pasti keluarganya pun akan ikut bahagia.
Selesai menghubungi keluarganya, Kevin memberitahu bibi agar masak banyak untuk malam ini. Dia tak hentinya tersenyum. Sungguh sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, dia benar-benar bahagia akan menjadi seorang ayah. Kevin mungkin pernah berpikir untuk tak cepat memiliki anak, tetapi hatinya tak dapat dia bohongi ketika tahu Melika hamil. Dia bahagia luar biasa.
Waktupun berlalu.
Sudah seharian Melika tak keluar kamar. Kevin bahkan mengantar makan siang untuk Melika dan mengambilkan apa saja yang Melika butuhkan. Itu semua benar-benar membuat Melika merasa bosan. Yang benar saja, dia tak biasa berada di kamar selama itu, tubuhnya merasa tak nyaman karena tak melakukan kegiatan apapun seharian ini. Kevin pun tak pergi ke kantor karena menemani Melika di rumah. Biarlah saja urusan kantor bukanlah lagi prioritasnya, saat ini Melika lebih membutuhkan perhatiannya.
Waktu sudah menunjukan jam makan malam, Melika pun keluar dari kamar karena tak melihat Kevin membawakan makan malam. Melika merasa mudah lapar semenjak hamil. Meski terkadang dia mengalami fase mengidam, tetapi makannya tetap banyak, bahkan lebih banyak dari sebelumnya.
Begitu keluar dari kamar, Melika mendengar suara berisik di bawah. Seperti banyak orang tengah berbincang dan tertawa kecil.
Selesai menuruni anak tangga, ternyata sudah banyak orang di sana. Mereka orangtua dan juga mertua Melika.
Ada apa ini? batin Melika.
Kevin menuntun Melika membuat Melika masih merasa bingung. Di meja makan bahkan ada banyak sekali menu makanan.
"Ini ada acara apa, ya? Kalian semua kumpul," ucap Melika heran.
Semuanya tampak tersenyum dan memberikan selamat atas kehamilan Melika.
"Mas sudah kasih tahu semuanya? Kapan?" tanya Melika bingung. Pasalnya, Kevin tak mengatakan apapun tentang acara makan malam ini.
"Belum lama. Lihatlah wajah mereka yang terlihat bahagia akan mendapatkan cucu," ucap Kevin bahagia.
Melika tersenyum, dia bahagia melihat keluarganya kumpul.
Mereka pun memulai acara makan malam. Sesekali tawa kecil menghiasi suasana di meja makan. Ah indahnya kebersamaan.
Selesai makan malam.
Semua keluarga berkumpul sambil berbincang di ruang keluarga.
"Apa kamu mengidam, Mel?" tanya mama.
"Kayaknya begitu, Ma. Aku selalu mual di pagi hari. Kadang mau makan sesuatu. Di kepalaku terbayang makanan itu akan lezat sekali," ucap Melika tersenyum.
"Itu wajar. Dan Nak Kevin, usahakan apapun yang Melika inginkan selalu dia dapat. Karena jika tidak, nanti anak kalian ngeces terus, lho," ucap mama tersenyum.
"Apa iya, Ma?" tanya Kevin.
"Mamanya Melika dulu waktu hamil Melika benar-benar merepotkan," ucap papa Melika.
"Wah, kenapa itu?" tanya papa Kevin.
"Mamanya Melika tak ingin didekati, bahkan Saya disuruhnya tidur di luar. Katanya tubuh Saya bau tak enak. Yang benar saja. Selama hamil Melika, entah berapa banyak parfum yang habis," ucap papa Melika.
Semua orang tertawa. Miris sekali nasib papa Melika saat itu.
"Ya itukan bukan keinginan Mama, Pa. Semua karena keingin Melika saat di perut," ucap mama Melika.
"Seram juga ya, Mel. Keinginanmu saat di perut," ucap Kevin terkekeh.
"Mana aku sadar, Mas. Aku bahkan nggak tahu apapun saat di perut," ucap Melika tersenyum.
"Kalau Mamanya Kevin saat mengandung Kevin dulu, cukup merepotkan juga, sih. Soalnya, Dia selalu ingin didekat Saya. Dan kebiasaannya pun menjadi aneh. Dia yang awalnya tak suka belanja ke pasar tradisional, jadi senang belanja di pasar tradisional. Bahkan Saya harus mengantarnya ke pasar. Katika itu Saya yang sedang sibuk meeting, dan langsung dimintanya pulang cepat. Saya pikir ada masalah darurat, nyatanya Saya hanya diminta untuk mengantar dia membeli cabai di pasar," ucap papa Kevin terkekeh.
Semua orang lagi-lagi tertawa. Ah benar-benar lucu pengalaman para papa-papa itu menghadapi istri-istri yang mengidam.
"Kalau waktu hamil aku gimana, Ma?" tanya Melvin.
"Waktu mama hamil kamu, kamu senang memancing keributan," ucap Melika.
"Ha? Masa iya? Apa maksudnya Mama selalu ngajak orang duel, gitu?" tanya Melvin tak mengerti.
"Ya bukan begitu. Aku ingat sekali meski masih kecil saat itu. Mama senang membuat keributan di dapur. Mama senang banget masak waktu mengandung kamu. Sampai di dapur berantakan panci, dan wajan di mana-mana," ucap Melika tertawa.
Semua orang pun lagi-lagi tertawa. Melvin bahkan tertawa sambil menggelengkan kepalanya.