My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 27



Kevin bangun dari duduknya dan bersandar di kepala tempat tidur.


"Bagaimana dengan kamu?" tanya Kevin.


Melika mengerutkan dahi dan ikut bersandar bersama Kevin.


"Apa maksud Mas?" tanya Melika.


"Ya, bagaimana dengan kamu? Apa kamu mencintai aku?" tanya Kevin.


Melika menelan air liurnya, dia bingung harus menjawab apa. Dia memang merasa nyaman dekat dengab Kevin. Namun, entah itu karena cinta atau mungkin hal lainnya Melika masih meragukannya. Pasalnya, hubungan mereka baru seumur jagung, mereka bahkan baru sebentar saling mengenal dan sudah memutuskan untuk menikah.


"Kamu sulit menjawabnya, karena kamu masih ragu dengan perasaan kamu sendiri," ucap Kevin sambil melihat ke arah Melika.


"Mas benar, aku masih ragu dengan perasaanku sendiri. Entah ini cinta atau bukan, tetapi aku merasa nyaman di dekat Mas. Hanya saja, semakin aku merasa nyaman, semakin aku tak percaya diri," ucap Melika.


"Kenapa? Bukannya kamu memiliki tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata, ya?" ucap Kevin.


"Karena aku tak sesempurna wanita-wanita di luar sana, tentu aku sadar akan hal itu, Mas," ucap Melika.


Kevin mengerutkan dahi dan merubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Melika.


"Maksud kamu?" tanya Kevin.


"Aku nggak seseksi mantan kekasih Mas yang model itu," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan mengusap dahinya.


"Kamu lebih seksi," ucap Kevin.


Melika mengerutkan dahi seraya menatap Kevin.


"Ya, kamu lebih seksi dari Prischa. Lihat saja, kamu memiliki banyak kelebihan," ucap Kevin.


"Apa maksud Mas? Apa Mbak Prischa cacat?" tanya Melika.


Kevin terkekeh dan memegang bahu Melika.


"Dia tidak cacat, tapi dia tidak seperti kamu," ucap Kevin.


Melika semakin di buat bingung mendengar ucapan Kevin.


"Apa kamu mau aku menjelaskan maksud aku?" tanya Kevin.


Melika mengangguk dengan cepat, membuat Kevin semakin terkekeh.


"Baiklah, aku akan beritahu kamu, tapi kamu harus tutup mata," ucap Kevin.


"Kenapa begitu? Mas nggak akan aneh-aneh 'kan?" tanya Melika cemas.


"Aneh-aneh gimana? Memangnya apa yang akan aku lakukan? Aku hanya ingin menjelaskan supaya kamu cepat mengerti maksud aku," ucap Kevin.


Melika berpikir sejenak, dia langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa ditutup?" tanya Kevin.


"Aku malu, Mas. Aku hanya pakai lingerie seperti ini," ucap Melika.


"Tidak apa-apa, jangan ditutup. Aku suami kamu, tidak usah malu," ucap Kevin.


"Jadi, apa yang harus aku jelaskan?" tanya Kevin.


"Aku mau tahu, apa maksud Mas tadi?" ucap Melika dan matanya kini tertutup.


"Aku akan beritahu, tapi kamu jangan bergerak, oke!" ucap Kevin.


Melika mengangguk.


Kevin menelan air liurnya melihat dada Melika yang begitu jelas terlihat putih dan mulus.


"Jangan melakukan apapun, cukup diam saja," ucap Kevin.


Melika menelan air liurnya, entah mengapa dia pun tak bisa menolak permintaan Kevin dan hanya mengangguk saja.


"Kamu tahu." Kevin berbisik di telinga Melika.


"Kamu berbeda dengan wanita yang pernah dekat dengan aku, kamu tahu kenapa?"


Melika menggelengkan kepalanya.


"Karena kamu adalah kamu, bukan mereka. Dan, apa kamu tahu? Kamu memiliki banyak kelebihan yang membuatku begitu tertarik," bisik Kevin.


Tubuh Melika mendadak memanas merasakan gembusan napas Kevin di pundaknya, membuatnya benar-benar merinding.


Lagi-lagi Melika menggelengkan kepalanya.


"Kamu memiliki banyak kelebihan. Kamu pintar, kamu percaya diri, kamu cantik, dan--"


Melika membulatkan matanya saat tiba-tiba Kevin menyentuh dadanya, dan Melika benar-benar di buat terkejut saat tahu ternyata tali lingerie yang dia gunakan sudah turun dari bahunya dan sudah memperlihatkan sebagian dadanya.


"Mas mau apa?" tanya Melika gugup.


"Sstt... Kamu tahu, ini juga sangat menarik," ucap Kevin seraya memainkan tangannya di area tersebut.


Belum sempat Melika mengatakan sesuatu, Kevin langsung menarik tengkuk Melika dan ******* kasar bibir Melika membuat Melika sampai kesulitan untuk bernapas. Sudah sejak tadi Kevin menahan hasratnya, bagaimana pun juga dia seorang pria normal. Di tambah lagi Melika berpenampilan seperti itu dan lagi pula Melika adalah istrinya, tentu saja Melika sah untuk dia sentuh.


Cukup Kevin menanggalkan lingerie yang Melika kenakan di susul dengan dia yang juga menanggalkan kaos yang dia kenakan.


"Aku mau hakku sekarang," ucap Kevin seraya menatap Melika dengan tatapan sayu penuh gairah.


Melika menelan air liurnya, jantungnya benar-benar berdegup kencang.


"Tapi, Mas, Aku--"


Kevin mendorong tubuh Melika dan kini tubuhnya berada di atas Melika dengan tertopang oleh tangannya.


"Apa kamu tak mau melakukannya?" tanya Kevin.


"Bukan begitu, aku hanya--"


"Baiklah, aku akan menuntaskan ini sendiri," ucap Kevin seraya mencoba bangun. Namun, Melika menahan tangan Kevin.


"Baiklah. Tapi, tolong pelan-pelan," ucap Melika malu.


Kevin tersenyum dan mengangguk. Dia pun mulai memposisikan dirinya dengan Melika dan perlahan mulai melakukan penyatuan. Kevin terkejut saat melihat Melika menutup matanya, dan satu lagi yang membuat Kevin lebih terkejut, Melika menangis. Untuk pertama kalinya Kevin melihat Melika menangis.


"Apa ini sakit?" tanya Kevin.


Melika pun mengangguk.


Kevin mengecup dahi Melika, membuat Melika membuka matanya dan menatap wajah Kevin yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Maaf, tapi aku tak bisa menghentikannya. Apa kamu tahu? Malam ini, kamu benar-benar menjadi milikku," ucap Kevin.


Wajah Melika memanas, entah mengapa rasa sakit yang dia rasakan seketika hilang mendengar ucapan Kevin.


"Mau lihat? Darah kamu cukup banyak," ucap Kevin.


Melika membulatkan matanya.


"Apa aku datang bulan? Apa rasa sakit tadi, bukan karena--"


Kevin membungkam mulut Melika dengan bibirnya sebelum Melika menyelesaikan ucapannya.


"Itu bukti, bahwa kegadisanmu telah menjadi milikku," ucap Kevin di sela ciumannya.


Jantung Melika lagi-lagi berdegup kencang, malam ini dia benar-benar sudah memberikan kegadisannya pada Kevin, suaminya sendiri.