
Niken bergegas masuk ke ruangan Kevin begitu mendengar teriakan Kevin.
"Iya, Pak. Apa ada masalah?" tanya Niken.
Brak!
Niken terkejut karena tiba-tiba saja Kevin memukul meja.
"Di mana foto keluarga Saya?" tanya Kevin.
Niken tampak bingung. Foto apa pikirnya?
"Jangan memasang wajah tak tahu! Kamu baru saja merapikan meja Saya bukan? Kenapa bingkai foto pernikahan Saya dan Melika tak ada di meja?" ucap Kevin.
Niken menelan air liurnya. Dia melupakan sesuatu.
"Maaf, Pak. Saya lupa meletakannya kembali di meja. Foto itu ada di laci meja Bapak," ucap Niken.
Kevin membuka lacinya dan mengambil foto itu. Dia menyimpannya kembali di atas meja.
"Keluar dari ruangan Saya!" ucap Kevin.
"Maaf, Pak. Saya benar-benar tak sengaja melakukannya," ucap Niken menyesal. Sungguh dia berniat hanya merapikan meja Kevin, karena bingkai itu sedikit mengganggu dan dia letakan terlebih dahulu di dalam laci. Sayangnya, dia lupa menyimpannya kembali di tempat di mana seharusnya berada.
"Keluar Saya bilang! Dan jangan pernah kembali lagi ke Kantor ini. Apalagi menampakan wajahmu di hadapan Saya! Saya tak sudi mempekerjakan staf yang lancang! Berani sekali kamu memindahkan barang pribadi Saya!" geram Kevin.
"Maaf, Pak. Saya sungguh menyesal. Tolong, jangan pecat Saya!" ucap Niken.
"Ini kesalahan fatal, Niken! Silahkan keluar, sebelum Saya bertindak lebih jauh dari ini!" tegas Kevin.
Jantung Niken berdegup kencang. Sial sekali dirinya, hanya karena lupa menyimpan kembali foto pernikahan Kevin sampai membuatnya kehilangan pekerjaan.
"Jangan sisakan satupun barang-barang mu! Saya tak ingin melihatnya!" tegas Kevin.
Niken keluar dari ruangan Kevin, dia benar-benar merasa sedih karena harus kehilangan pekerjaannya. Niken mengambil sebuah dus dan mengemasi barang-barangnya. Beberapa staf di saja melihat ke arah Niken. Mereka tak berani bertanya karena sudah tau apa yang terjadi. Sedikit jelasnya, mereka mendengar Kevin telah memecatnya.
Selesai merapikan barang-barangnya, Niken pamit pada Kevin. Kevin hanya diam. Namun, begitu sampai di pintu keluar, Kevin kembali membuka suara.
"Ambil pesangon mu di bagian keuangan. Dan jangan pernah kembali lagi!" ucap Kevin.
Niken hanya diam pasrah. Dia keluar dari ruangan Kevin dan pergi menuju bagian keuangan. Dia mengambil pesangonnya. Kevin pun masih berbaik hati memberikan pesangon pada stafnya yang sudah lancang melakukan hal yang diluar kapasitasnya.
Di ruangan Kevin.
Kevin menghela napas panjang. Sial sekali hari itu. Dia bahkan tak dapat mengontrol emosinya. Siapapun yang mengusik milik pribadinya, dia takan memaafkan orang itu. Dan Niken hanyalah seorang pegawainya, tetapi sudah lancang menyentuh barang pribadinya. Jika yang disentuh berkaitan dengan pekerjaan, Kevin masih memaklumi. Namun, tidak dengan milik pribadinya. Tak ada ampun bagi orang itu.
Kevin pun tak menyesal telah kehilangan sekretarisnya. Hanya saja, pekerjaannya menjadi ekstra karena dia tak memiliki sekretaris. Artinya, dia harus mencari sekretaris yang baru agar dapat membantu pekerjaannya.
Kevin menghubungi Angga, menejer di Kantor itu. Dia meminta Angga untuk merekrut calon sekretaris barunya. Angga pun melakukan perintah Kevin, dia menulis info dibukanya lowongan sekretaris di kantor Kevin melalui beberapa media online.
Sore hari.
Kevin keluar dari ruangannya. Dia menghampiri Angga.
"Bagaimana? Sudah dibuat infonya? Saya membutuhkan cepat," ucap Kevin.
"Sudah, Pak. Sudah ada beberapa yang masuk," ucap Angga.
"Cepat, ya. Ingat, cari yang sesuai kualifikasi. Kamu tahu kualifikasi sekretaris di sini seperti apa," ucap Kevin.
"Tentu, Pak. Interview akan mulai dibuka Jumat ini," ucap Angga.
"Bagus! Selesaikan pekerjaanmu dan pulanglah," ucap Kevin dan berlalu meninggalkan Angga.
Kevin pergi menuju rumahnya. Sudah dua minggu terakhir ini rumahnya tak di tiduri. Dia hanya pulang untuk mengambil baju ganti dan memilih tidur di Rumah Sakit.
Sesampainya di rumah.
Saat ini, Kevin akan mengambil beberapa baju gantinya dan baju ganti untuk Melika. Dia memasuki kamarnya. Kamar itu tampak rapi. Kamar yang di mana tempatnya memiliki banyak kegiatan bersama Melika. Ah, rindu sekali rasanya masa-masa itu.
Kevin membuka lemarinya, mengambil beberapa bajunya dan Melika. Dia memasukannya ke tas miliknya.
"Apa sudah ada perkembangan dengan Bu Melika, Pak?" tanya bibi.
"Belum, semoga secepatnya," ucap Kevin.
"Semoga, Pak. Pak, apa Bibi boleh memberikan saran?" ucap bibi.
"Apa itu?" tanya Kevin.
"Berikan rekaman anak Bapak pada Bu Melika," ucap bibi.
"Maksudnya? Bagaimana bisa Melika melihatnya? Dia bahkan tertidur," ucap Kevin bingung. Ada-ada saja ide asisten rumah tangganya itu, pikirnya.
"Bukan, Pak. Maksudnya, rekaman suara saat anak Bapak menangis. Rasanya, bayi sekecil itu belum bisa tertawa. Tapi dia pasti bisa menangis, kan? Rekam suara tangisnya, dengarkan di telinga Bu Melika. Mungkin, itu akan membantu Bu Melika terbangun dari komanya," ucap bibi.
Kevin masih tak mengerti maksud ucapan bibi. Bagaimana mungkin seseorang bisa tersadar dari komanya hanya karena mendengar rekaman tangisan seorang bayi.
"Karena, Bibi paham bayi sekecil itu masih rawan jika dibawa ke rumah sakit. Daya tahan tubuhnya belum kuat melawan segala kemungkinan penyakit yang ada di Rumah Sakit. Jadi, tak mungkin membawanya ke Rumah Sakit. Karena itu, mungkin rekaman suaranya akan membantu," ucap bibi.
Kevin terdiam, mencoba mencerna maksud ucapan bibi.
"Ketahuilah, Pak. Ikatan Ibu dan Anak sangatlah kuat. Bibi hanya berharap, Bu Melika cepat tersadar dari komanya dan segera kembali ke tengah-tengah Bapak juga anak Bapak. Kasihan anak Bapak, harus terpisah dari Ibunya," ucap bibi sedih.
"Saya mengerti. Terimakasih untuk sarannya," ucap Kevin tersenyum dan meninggalkan rumah.
Kevin tak langsung pergi ke Rumah Sakit, melainkan pergi menuju rumah mertuanya. Saran bibi akan coba dia ikuti. Meski dia harus menunggu bayinya menangis terlebih dahulu agar dapat merekam suaranya.
Sesampainya di rumah orangtua Melika.
Begitu memasuki rumah, Kevin mendengar bayi itu tengah menangis. Dia kembali teringat ucapan bibi dan bergegas mengambil ponselnya. Dia mendekati bayinya, yang mana di sana tengah berkumpul kedua mertuanya dan juga Melvin. Mereka bertiga tampak bingung melihat tingkah Kevin.
Tak lama bayi itu terdiam, dan Kevin mematikan rekaman audionya.
"Ada apa, Vin?" tanya papa mertua.
Kevin tersenyum dan menyimpan ponselnya ke saku celananya.
"Ini mungkin akan membantu Melika sadar dari komanya," ucap Kevin tersenyum.
Mereka saling melihat satu sama lain. Merasa bingung mendengar ucapan Kevin.
"Kalian berdoa saja, agar Melika cepat terbangun dan bisa kembali ke tengah-tengah keluarganya," ucap Kevin.
"Tentu saja. Kami selalu mendoakan yang terbaik," ucap papa mertua.
"Itu buat di dengerin ke Mbak Melika, ya, Mas?" tanya Melvin.
"Iya, kok kamu tahu?" ucap Kevin bingung. Melvin dapat menebak maksudnya.
"Aku kepikiran itu sebenarnya. Aku pernah cari tahu cara membangunkan orang koma. Aku pernah lihat video seorang Ibu yang meninggal pasca melahirkan hidup kembali begitu mendengar suara anaknya menangis. Bayi itu juga ditidurkan di pelukan Ibunya," ucap Melvin.
"Lalu, kenapa kamu nggak bilang?" tanya Kevin.
"Takutnya kalian nggak percaya. Apalah aku ini? Aku pikir, kalian lebih dewasa dan lebih paham dari pada aku yang masih unyu ini. Lagi pula, bayi itu belum bisa dibawa ke Ibunya," ucap Melvin tersenyum.
"Dasar, kamu ini!" ucap papa. Dia tak habis pikir, bisa-bisanya anak lelakinya itu bercanda.
Kevin mencium dahi sang bayi dan pamit ke Rumah Sakit.
*Di R**umah Sakit*.
Kevin mengambil ponselnya, dia memutar rekaman tangisan bayinya yang dia ambil tadi di rumah mertuanya. Di dekatkan ponselnya ke telinga Melika.
"Mel, bangun yuk! Ini bayimu, bayi kita. Ini suara tangisnya. Apa kamu nggak mau lihat dia? Memeluk dia, dan menciumnya?" ucap Kevin.
Sampai rekaman itu berakhir, tak ada respon apapun dari Melika. Melika masih tak bergeming. Membuat Kevin berpikir.
"Dia nggak bangun juga. Apa ini cara yang salah?" gumam Kevin.