My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 31



Melika menelan air liurnya, entah mengapa dia masih saja tak terbiasa dengan sentuhan Kevin.


"Maaf, Mas, perut aku mulas," ucap Melika dan bergegas keluar dari kamar mandi, dia pun pergi menuju toilet. Sedangkan Kevin hanya bisa menghela napasnya, sungguh dia tak mengerti caranya bersikap romantis. Baru saja dia akan mulai mencobanya, namun istrinya itu justru meninggalkannya.


Tak ingin ambil pusing, Kevin pun memilih mandi saja, tubuhnya pun sudah benar-benar lengket karena seharian terus bekerja meski di ruangan ber-AC.


Kurang lebih lima belas menit Kevin sudah selesai mandi, namun Melika tak kunjung keluar dari toilet, bisa terlihat dari Melika yang tak berada di kamar.


"Mel ..!" panggil Kevin sambil mencoba mengetuk pintu toilet.


"Iya," sahut Melika.


"Lama banget, sakit banget perut kamu, ya?" tanya Kevin.


"Sebentar lagi selesai," ucap Melika.


"Ya sudah." Kevin pun memilih memakai pakaiannya dan duduk santai di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Beberapa saat kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Melika yang sudah selesai mandi dengan memakai bathrobes nya.


Dengan langkah ragu dia mulai mendekati lemari pakaian yang berada tak jauh dari Kevin, dia takut Kevin akan menuntutnya untuk melakukan kewajibannya seperti kemarin malam.


"Kenapa seperti ketakutan begitu?" tanya Kevin sambil melihat bingung ke arah Melika.


Melika pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, cepat pakai baju kamu, dan tidurlah, sudah malam." ucap Kevin.


Melika mengangguk dan bernapas lega, akhirnya Kevin tak meminta haknya untuk malam ini. Melika masih belum siap jika harus melakukannya lagi.


Dia masih teringat bagaimana Kevin melakukannya dengan agak kasar sehingga baginya yang baru pertama kali membuatnya sedikit tak terbiasa, meskipun sejujurnya dia juga menikmatinya.


Selesai berpakaian dan mengeringkan rambutnya, Melika pun naik ke atas tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya. Dia segera memunggungi Kevin saat Kevin mulai merebahkan tubuhnya.


Melika membulatkan matanya saat Kevin memeluknya dari belakang.


"Keinginan aku masih belum hilang," bisik Kevin.


Tubuh Melika mendadak menjadi demam, dia benar-benar tak habis pikir, karena suara suaminya itu begitu seksi jika sedang berbisik.


"Tapi, jangan seperti semalam, ya. Aku kesakitan, Mas," ucap Melika.


Kevin pun mengangguk dengan cepat, dan mulai melancarkan aksinya.


Cukup lama mereka bergumul dan saling berkeringat, tetapi Kevin masih belum selesai dengan hasratnya. Ini bahkan sudah yang kesekian kalinya Kevin mengeluarkan benihnya di rahim Melika, dia hanya istirahat sebentar saja sebelum akhirnya melanjutkan kembali apa yang dia inginkan.


"Sudah, Mas, aku capek." ucap Melika dengan memelas.


Sungguh tubuhnya seperti sudah kehilangan nyawa karena Kevin tak berhenti sejak tadi, ini bahkan sudah pukul setengah dua dini hari.


"Sebentar lagi, ya, Sayang," ucap Kevin dengan napasnya yang masih terdengar berat.


Pipi Melika memerah mendengar Kevin memanggilnya dengan sebutan sayang, ini adalah pertama kalinya Kevin memanggilnya dengan sebutan sayang.


Tak lama Kevin pun ambruk di atas tubuh Melika setelah Kembali menanam benihnya di rahim Melika, dia masih mengatur napasnya dan sesaat kemudian dia pun tersenyum.


Sungguh gila pikirnya, dia bisa kecanduan tubuh istrinya itu. Padahal jika dipikir-pikir, Tubuh Melika bahkan tak semenarik dan seseksi mantan kekasihnya dulu.


******


Melika membuka matanya saat terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


"Masuk," ucap Melika.


Tak lama masuklah seorang asisten rumah tangga dengan membawa sarapan.


"Maaf, Bu, ini sarapannya," ucap bibi.


"Kenapa dibawa ke atas? Saya bisa pergi ke bawah untuk sarapan," ucap Melika.


"Maaf, Bu. Sebetulnya, sudah sejak tadi tuan besar menunggu Ibu dan Pak Kevin untuk sarapan, tetapi tuan besar tak ingin membangunkan kalian," ucap bibi.


"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Melika.


"Sudah jam sembilan pagi, Bu," ucap bibi.


Melika membulatkan matanya, dia tak sadar bahwa dia bangun kesiangan. Sungguh memalukan pikirnya, baru pertama kali menginap di rumah mertua sudah bangun kesiangan.


"Apa Papa marah, Bi? Kita bangun kesiangan soalnya," ucap Melika.


Bibi pun tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Tidak, tuan besar meminta saya mengantarkan sarapan kalian ke kamar, karena tuan besar berpikir kalian mungkin kelelahan, karena itu kalian telat bangun," ucap bibi.


"Hhmmm ... Ya sudah, Bi. Silahkan keluar kalau sudah selesai," ucap Kevin yang sudah mulai terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik.


Bibi pun meletakkan sarapan itu di meja dan bergegas keluar dari kamar.


"Aku mau mandi dulu." Melika bergegas turun dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Kevin kembali memejamkan matanya, tubuhnya terasa remuk akibat pergumulannya bersama Melika semalam.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya, Melika mencoba membangunkan Kevin yang masih saja tertidur.


"Mandi dulu, Mas," ucap Melika.


Dengan malas Kevin pun bangun dan duduk sejenak.


"Oh ya, ayo hari ini kita pergi ke suatu tempat," ucap Kevin.


"Kemana?"


"Ke mana saja, pekerjaanku setidaknya sudah ada yang menghandle untuk beberapa hari ke depan, kita bisa lakukan bulan madu, mungkin," ucap Kevin.


"Loh, bukannya Mas sedang sibuk-sibuknya, ya?"


Kevin pun mengangguk.


"Aku lelah, aku juga butuh istirahat. Aku sudah mendapatkan sekretaris baru, biarkan saja dia yang mengatasinya," ucap Kevin.


"Apa Mas yakin dia bisa mengerjakan semuanya?"


"Ya, dia lulusan terbaik, dan pengalaman kerjanya cukup banyak." ucap kevin.


Melika pun mengangguk, sedangkan Kevin langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang benar-benar terasa lengket.